
Kakek Latua dan Nenek Satia menunggu di teras penginapan, dia menunggu kepulangan Aliza yang pergi tanpa pamit. Kakek Latua juga merasa sejak awal ada yang aneh dengan gadis yang mereka tolong.
"Kenapa Mbak Aliza belum pulang ya, Mbok?" tanya Nenek Satia khawatir.
Kakek Latua tak dapat menjawab itu, dia bahkan sudah memikirkan bahwa gadis yang ia tolong adalah makhluk yang jahat, makhluk yang menginginkan Aliza.
"Mbak Aliza pergi pasti dengan keadaan darurat atau bahaya, barang-barangnya masih ada di kamar, tidak ada alasan dia untuk tidak pamit dari kita," lanjut Nenek Satia.
Kakek Latua berinisiatif akan ke Gapura menanyakan hal itu, namun sebelum itu dia dan para masyarakat Desa Kunan akan menelusuri hutan Canai, mereka takut jika Aliza diculik dedemit.
"Kuta akan cari besok, tapi tidak untuk hari ini, hari ini Jum'at, pohon-pohon dan binatang sedang gelisah, kita tidak boleh semakin membuat mereka gelisah, yang ada bukan petunjuk yang kita dapat, melainkan bahaya," jelas Kakek Latua.
Kakek Latua ke balai Desa, dia mengumpulkan beberapa kuncen untuk membantunya menerawang keberadaan Aliza.
***
Trisia kembali lagi ke rumah Garret, semakin memiliki nyali untuk mendekati Ayah Dominic itu. Kelemahan Garret adalah Aliza, bila dikhianati oleh Aliza, tentu rasa cinta Garret akan berkurang, terlebih lagi dengan Dominic, anak kecil itu akan merasa tidak disayangi oleh Ibunya sebab mengabaikan terus-menerus pertemuan mereka di gapura.
"Aku ingin bertemu Garret, dia ada di dalam?" tanya Trisia pada pengasuh Dominic.
Pengasuh Dominic itu enggan membawa Trisia masuk ke rumah, dia tahu Garret akan marah besar bila mengetahuinya.
"Maaf Nona Trisia tidak boleh masuk, ini perintah Tuan Garret," sahutnya.
Trisia menarik baju pengasuh Dominic, mimik wajah Trisia seakan ingin menerkam.
"Kau jin berasal dari mana? Jin gelandangan? atau kamu dari Sarajana? Uwentira? Aku tahu wajah kamu hanya jin gelandangan yang masuk di Canai, beraninya kau mengatakan seperti itu pada anak pejabat besar di Canai?"
Pengasuh itu memang bukan penghuni Canai asli, dia hanya jin biasa dari hutan biasa, yang berasal dari hutan Pulau Jawa. dia salah stau karyawan Garret di pabrik.
__ADS_1
"Aku ingin bertemu Garret, panggil dia sekarang atau aku yang masuk secara paksa?!" Trisia tetap ngotot.
Garret yang ada di lantai atas mendengar keributan itu, dia turun menyelusuri tangga dengan memandangi Trisia dari kejauhan.
"Apa yang membuat mu kemari? Belum cukup penolakan ku?" tanyanya.
Trisia belum melepas cengkeramannya, pengasuh itu hanya menundukkan wajahnya.
"Lepaskan dia, masuk Baiha jangan gubris dia," kata Garret pada pengasuh anaknya.
Trisia menarik nafas panjang, mengatur kestabilan emosinya, baru kali ini dia dihadapkan situasi yang sulit, penolakan Garret menjadi tantangan menarik baginya, meskipun harga dirinya semakin rendah karena mengejar cinta pria beristri.
"Kamu wanita picik, kamu tidak memiliki ketulusan, kau hanya menginginkan segala ambisi mu harus tercapai, dan itu langkah yang salah, Trisia .. Aku tidak menyukai wanita yang merendahkan dirinya hanya demi cinta, itu tidak berkelas," ujar Garret panjang lebar.
Trisia mengepalkan tangan, dia mendengar semua kalimat Garret, menimbulkan bukit dendam yang kian besar terhadap Aliza.
Trisia tertawa, cara paling mujarab untuk tidak terlihat menyedihkan di hadapan Garret. Trisia tertawa sembari menepuk tangan. Dia menyilangkan kedua tangannya, dadanya sungguh sesak karena ucapan Garret. Ingin rasanya Trisia menangis saat itu.
"Bagus, kau memang pria baik bagi suami, tapi apakah Aliza kayak menjadi istri? Jika dia mencintaimu, mengapa dia dulu memilih Ibunya? Mengapa dia tega meninggalkan mu dan Dominic yang masih kecil, hmm?"
Garret melirik ke jam tangannya, dia hampir terlambat ke kantor petinggi Canai, jika terus-menerus berargumentasi dengan Trisia, waktunya akan terbuang percuma.
"Pergilah, aku sudah tegaskan, carilah pria lain, karena kita bersatu, itu tidak akan terjadi," ucap Garret. Saat hendak menutup pintunya, kaki Trisia menghalau di bawah..
"Kau tahu 'kan, aku wanita yang sangat ambisius, aku akan melakukan berbagai cara untuk membuat seseorang patuh dan tunduk padaku, bahkan membalaskan dendam ku, membuat orang lain terluka, bahkan terbunuh!"
Garret hanya tersenyum miring, obsesi cinta Trisia memang mengerikan, tapi untuk Garret dia menganggap remeh segala perbuatan Trisia.
"Pergilah, atau kau akan kena sanksi karena datang membuat obat di rumah salah satu menteri!!" Garret kehilangan rasa sabar. Dia mendorong tubuh Trisia agar menjauh dari pintu.
__ADS_1
Mendapat perlakuan demikian dari orang yang ia cintai, Trisia teramat terluka, dia benar-benar rendah di mata Garret. Trisia sesak nafas, bila kemarahannya tidak terlampiaskan dia akan menjadi gila. Trisia membanting seluruh pot bunga di depan rumah Garret.
"Brengsek! Lihat saja kalian akan menyesal!"
Trisia kembali masuk ke dalam mobil, air mata kemarahan dan sedih bercucuran di kedua pipinya. Memukuli kemudi mobilnya dengan keras, mengumpat nama Garret dan Aliza.
"Tunggu saja, kalian membayar sakit hatiku, aku memiliki orang tua hebat, semuanya, aku tidak layak diperlakukan seperti ini."
Trisia melancong ke istana penjara, dia ingin menebus perbuatan Garret dengan menyiksa Aliza. Trisia akan menyiksa Aliza dengan memfitnah istri Garret itu. Dia akan membuat cerita agar para algojo istana mengizinkannya menyiksa Aliza.
"Nona Trisia, apa yang bisa saya bantu kan?" tanya anak buahnya.
"Fitnah Aliza, kau harus masuk ke ruangannya, lalu gambar ini di tembok ruang selnya," titah Trisia.
Kedua anak buahnya itu terkejut dengan bentuk yang akan mereka gambar. Kedua pria botak itu akan memfitnah Aliza, seolah Aliza yang menggambarnya. Trisia duduk di restoran Istana, dia menunggu hasil kerja anak buahnya.
Kedua anak buah itu membawa makanan untuk Aliza, itu cara yang tepat agar mereka lebih leluasa ke penjara bawah tanah. Langkah mereka begitu cepat, sebagai anak Buha Trisia mereka memiliki akses untuk bertemu Aliza.
"Hai cantik, kami datang lagi," sapa anak buah Trisia pada Aliza.
Mata Aliza bengkak, dia tak berhenti menangis, dia yakin Garret dan Dominic menunggunya di pintu dimensi.
"Makanlah, kami membawa ini untuk mu cantik," ucap pria itu. Dia bertingkah kurang ajar dengan mengelus pipi Aliza. Membelai rambutnya, serta mengusap punggung Aliza.
Cuihh!
Aliza meludahinya, dia marah karena kehormatannya sebagai perempuan juga seorang istri dilecehkan oleh anak buah Trisia. Spontan anak buah Trisia itu menjambak rambut Aliza.
"Hei, kita bisa kena sanksi kalau penjaga tahu," kata salah satu temannya memperingatinya.
__ADS_1