
Bu Maner ke klinik tahanan, dia mengajak ngobrol perawat, sedikit basa-basi agar tidak mencurigai, matanya celingukan ke dalam jajaran ruangan perawatan.
"Ada pasien namanya Aliza di sini?" tanya Bu Maner. Dia tidak ingin membuang waktu, secepatnya ingin menjalankan rencana Trisia.
Perawat itu mencari nama Aliza di komputer, tetapi tak ada nama daftar pasiennya seperti itu.
"Maaf, Nyonya. Tak ada nama Aliza di sini," sahut resepsionis.
Bu Maner tersentak, dia mendekatkan wajahnya ke resepsionis itu., menatap tajam sembari bertanya,
"Jangan bohong, dimana Aliza di rawat? Katakan?"
Resepsionis itu mengerutkan alis, kebingungan dengan sikap wanita yang aneh di hadapannya. Resepsionis itu memanggil teman sejawatnya, dia meyakinkan lagi Bu Maner bahwa tak ada nama Aliza di klinik mereka.
"Kalian itu bohong! Dimana perempuan itu?!" Bu Maner tidak tahan dengan semua orang yang bersekongkol menghancurkan anaknya.
Mendengar teriakan Bu Maner, dokter Khael keluar mengecek kondisi, resepsionis itu mengatakan Bu Maner memaksa mereka mencari seseorang yang tidak diketahui.
"Tidak ada nama Aliza disini, Bu."
"Jangan bohong, kalian kenapa sih ikut berbohong?" tanya Bu Maner.
"Silahkan Ibu pergi dari sini, kami tidak mengetahui siapa yang Ibu Maksud, saya pengelola klinik ini, saya berhak mengusir Ibu," kata dokter Khael kesal karena Bu Maner menghina para perawatnya.
Bu Maner keluar dari klinik tahanan sembari mengumpat, namun dia tidak akan putus asa, Trisia memiliki seribu cara untuk membunuh Aliza. Dia keluar dari istana untuk mencari informasi keberadaan Aliza.
Dokter Khael geleng-geleng kepala, sebelumnya ia tidak pernah bertemu Bu Maner, tentu ia terkejut dengan sikap Bu Maner yang mengaku dirinya sebagai keluarga pihak kerajaan.
"Kalian harus lebih teliti lagi menerima tamu, kali saja ada orang jahat yang berniat buruk terhadap pasien-pasien kita," pesan dokter Khael.
Pria berkulit putih itu pamit sejenak pulang ke rumahnya, dia ingin memeriksa keadaan Aliza, dokter Khael berinisiatif untuk merawat Aliza di rumahnya karena ia takut jika ada yang ingin mencelakakan gadis ia juluki 'Miracle' itu.
Alat-alat medis masih melekat di tubuh Aliza, cukup lama pemulihan itu akan berlangsung. Dokter Khael akan sabar mengawasi perkembangannya, ada seorang perawat wanita yang ia sediakan untuk menjaga Aliza di rumahnya.
__ADS_1
"Tadi tangannya sempat bergerak sedikit, dok." Kata perawat itu.
"Benarkah? Berarti otaknya sudah mampu merespon."
Dokter Khael duduk di samping Aliza, dia melihat pergerakan jari Aliza sedikit demi sedikit, ternyata benar Aliza sudah siuman.
"Hai Miracle," sapa dokter Khael pelan.
Namun Aliza belum dapat membuka matanya, di sela kelopak matanya yang tertutup, ada air mata menetes, Aliza menangis di alam bawah sadarnya. Di alam mimpinya dia bertemu Dominic dan Garret.
"Dia menangis dokter," ujar perawat itu.
Dokter Khael melihat dengan teliti, "Mungkin dia melihat momen sedih di hidupnya, ini sudah biasa."
Perawat itu keluar untuk menyiapkan obat-obatan lagi, sementara dokter Khael masih menemani Aliza. Dia tahu Aliza sedang melihat semua kenangannya di masa lalu. Air mata itu tak henti membasahi wajah Aliza. Saat itu Aliza melihat dirinya di peluk olelh Garret, perpisahan mereka kala di hotel di dunia manusia, melihat tangisan Dominic yang berpisah dengannya.
"Miracle, kau melihat apa?" tanya dokter Khael berbisik.
"Berhentilah melihat itu Miracle," bisik dokter Khael.
Mendengar suara dokter Khael, ingatan kesedihan itu berhenti. Aliza kembali tenang, meskipun belum sadar dari komanya, tangannya dapat menyambut genggaman Khael.
"Saya Khael, akan menemanimu Miracle, tenanglah .." Ucap dokter Khael lagi.
***
Makanan di letakkan di hadapan ketiga anak manusia itu, Benny yang lapar sigap mengambil makanannya. Ifa dan Ita enggan makan, mereka kepikiran tentang orang-orang tentang jika makan di dunia gaib, katanya makanan mereka berupa kotoran manusia yang dipungut dan di olah menjadi makanan. Stigma di masyarakat itu melekat di benak Ifa dan Ita.
"Kalian tidak makan?" tanya Benny.
Ifa dan Ita menggelengkan kepala, Benny tertawa, dia merampas jatah makanan kedua adik Aliza itu.
"Ya sudah, biar aku saja yang makan."
__ADS_1
Penjaga tahanan gapura itu marah besar, "Kau manusia serakah!"
Benny mengeluarkan seluruh makanan dari mulutnya, dia meminta maaf atas ulahnya, tetapi penjaga itu mengeluarkannya dari sel, dia di hukum menjadi budak pekerja di salah satu pembangunan tower. Benny di berangkatkan hari itu juga, dia akan menjalani hukuman kerja bersama para tahanan pria lainnya.
"Kak Benny," Ita memanggilnya.
"Biarkan saja, lebih baik dia pergi, kali aja bisa bertemu Kak Aliza," sergah Ifa penuh harap.
Benny di bawah ke asrama, di asrama pria pekerja itu terdapat jin dan manusia lainnya yang melanggar aturan Canai. Asrama itu sangatlah kotor, Benny yang termasuk anak konglomerat di dunia manusia tentu jijik. Dia enggan berbaur dengan teman-teman barunya.
"Kau manusia baru disini?" tanya salah satu penghuni asrama itu.
"Iya, saya manusia, bagaimana caranya keluar dari dunia ini, aku ingin kembali," ujar Benny.
Pria yang bertanya itu malah tertawa mendengarnya, dia menepuk-nepuk pundak Benny agar bersabar menerima kenyataan.
"Aku juga manusia sama seperti mu, tapi karena meragukan keberadaan Canai, aku malah menantang penjaga gapura untuk membuka dimensinya, akhirnya aku dua puluh tahun tinggal di sini," cerita pria itu.
"Apa? Dua puluh tahun?" Benny terkejut. Apakah dirinya akan bernasib sama dengan pria itu? batinnya.
Pria itu mengajak Benny berkeliling di sekitar kamar asrama, dia memperkenalkan manusia-manusia yang terjebak berpuluh-puluh tahun di dimensi Canai.
"Lihatlah, mereka sudah tiga puluh tahun disini, itu di sana sepuluh tahun, dan kau akan menjalani hal serupa," jelas pria itu.
Benny tidak ingin, dia panik ketakutan, mana mungkin dia mengabdikan dirinya menjadi budak di dimensi jin, doa tidak ingin seperti itu. Baginya tidak adil, sebab manusia-manusia lainnya bisa hidup sejahtera di dunia Canai, seperti Aliza contohnya.
"Tapi kenapa ada manusia yang hidup sejahtera disini? Bukankah itu tidak adil?" tanya Benny. Ada banyak manusia yang hidup bahagia di Canai, itu cerita Aliza kepada Ita.
Pria itu terkekeh mendengarnya, bahkan seluruh penghuni asrama itu ikut tertawa.
"Jika kita manusia yang baik, tentu tidak akan berada disini, perilaku manusia buruk akan terdeteksi sendiri oleh dimensi Canai, Jiak hatimu kotor, nasibmu akan buruk, jika hatimu dipenuhi kebaikan dan ketulusan, semua akan menjadi baik disini, ini bukan dunia manusia yang penuh kepalsuan," jelas pria itu.
Benny duduk dilantai menangisi takdirnya. Meskipun penjelasan pria itu menyinggungnya karena memiliki niat buruk, tetapi Benny tetap bertahan ingin keluar dari Canai.
__ADS_1