Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 23


__ADS_3

Setahun Kemudian..


Pintu kamarnya diketuk oleh Ifa, seperti biasa, kedua adiknya bergantian memanggil Kakaknya untuk keluar makan. Semenjak kematian Ibunya, Aliza lebih banyak mengurung diri di dalam kamar, tak melakukan aktivitas apapun. Uang yang diberikan oleh Garret diserahkan ke kedua adiknya untuk merintis usaha.


"Kak, makan dong .." Ifa menyeru dari luar.


Aliza hanya duduk melamun di atas ranjang. Rutinitasnya hanya membayangkan wajah Garret dan Dominic. Sedih yang tak berkesudahan, dia tak memiliki foto satupun untuk mengenang kerinduannya, sebab dimensi fisik dunia manusia tak dapat di tembus oleh dimensi jin.


"Kak, kita nunggu nih, makan bareng yuk," ucap Ifa sekali lagi.


"Kakak masih kenyang, kalian makan saja."


Matanya bengkak, hari-harinya hanya menangis, dan memanjatkan doa agar dipertemukan lagi dengan suami dan anaknya. Aliza yakin, Dominic tumbuh dengan pesat. Garret merawat buah cinta mereka dengan sangat baik.


Ingin rasanya Aliza bertandang lagi ke Desa Kunan, berharap pintu dimensi dapat terbuka, namun akses jalur transportasi menuju pulau itu sudah di tutup, dikarenakan banyak wisatawan yang hilang di pulau itu. Belum ada informasi kapan di buka kembali, Aliza tak henti mencari informasi tentang perkembangan berita di Pulau Kunan.


"Kak, ada orang yang mencari Kakak," suara Ifa lagi. Namun Aliza enggan bertemu seseorang itu.


"Kakak tidak ingin bertemu dengan siapapun."


"Kak, di luar ada Ibu Sania," papar Ifa.


Deg!


Jantung Aliza berdegup kencang, semenjak hilangnya Sania di Desa Kunan, Aliza sudah tidak pernah lagi bertemu dengan Ibu Sania. Bergegas merapikan rambut dan pakaiannya, Aliza keluar dari kamar untuk menemui Ibunda Sania itu.


"Aliza," sapa Bu Sarmi, Ibu kandung Sania.

__ADS_1


Aliza di peluknya dengan erat, tangisannya pecah di pelukan sahabat anaknya itu. Aliza ingin menguatkan Bu Sarmi, namun saat itu dia juga sedang rapuh, sekaligus kehilangan Ibu, suami, anak, juga sahabat karibnya.


"Sania masih hidup," tutur Bu Sarmi.


"Ha? Maksud Tante? Sania sudah pulang?" tanya Aliza yang masih gagal paham.


Ifa dan Ita saat itu mengintip dibalik tembok, mereka menguping. Bu Sarmi tak henti menangis, sedangkan Aliza menunggu jawabannya.


"Tante, Sania masih hidup? Maksudnya dia kembali?" tanya Aliza.


Mengatur nafas dan emosi, Bu Sarmi menyusun kata, tangannya merogoh ke dalam tas, ada secarik kertas kusam yang ia keluarkan dari dalam tasnya.


"Ini surat dari Sania, Tante yakin ini beneran Sania," kata Bu Sarmi yang disusul tangisan.


Sebelum membaca isi surat itu, Aliza mengamati gaya penulisan Sania, tulisan di kertas itu mirip dengan tulisan Sania, bahasanya pun dalam mengolah kata identik dengan Sania.


"Benar, ini gaya tulisan Sania," gumam Aliza.


"Apa kabar Ibu? Baik-baik saja 'kan?


Sania minta Maaf, baru memberi kabar. Jangan khawatir, Sania disini baik-baik saja. Sania hidup sehat dan bahagia di sini, bahkan berat badan ku naik drastis.


Ibu tidak usah menanyakan ke siapapun tentang keberadaan ku, atau menebak-nebak dimana aku sekarang hidup, cukup Ibu tahu aku bahagia dan Aku tahu Ibu Sehat juga dan bahagia.


Di dunia yang kupilih sekarang ini adalah tempat yang aku cari, dimana aku dihargai, tak disakiti oleh orang-orang yang suka bully aku. Aku dihargai sebagai perempuan, aku dinikahi pria yang baik, hidupku sangat berkecukupan, dan aku baru saja di karuniai anak pertama, perempuan.


Kami hidup bahagia. Maaf, Ibu. Sania dan keluarga kecil Sania tidak dapat mengunjungi Ibu, kita sudah berbeda tempat, dan tidak mungkin aku keluar meninggalkan itu semuanya.

__ADS_1


jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku juga sementara mencari Aliza karena kami hidup di dunia yang sama."


Aliza lunglai, dia menjatuhkan diri di sofa, sahabat karibnya telah memutuskan untuk hidup selamanya di dimensi metafisik. Dimana kehidupan abadi hingga akhir zaman. Kehidupan yang Sania jalani mirip dengan dirinya saat bersama Garret dulu.


"Aliza, Tante tidak mengerti maksud surat Sania? Kampung tempat tinggalnya jauh ya?" tanya Bu Sarmi.


Aliza memandang Bu Sarmi, wanita dengan garis keriput di wajahnya itu menunggu jawaban kejujuran Aliza, namun di sisi lain dia tak ingin menceritakan kisah-kisah di dimensi jin. Lagipula Bu Sarmi tidak akan percaya dengan ceritanya, semua yang dia alami dengan Sania di luar nalar manusia.


"Aliza, jawab Tante," desak Bu Sarmi padanya.


Aliza bingung, dia mengulang kembali membaca surat Sania. Pernyataan Sania secara gamblang bahwa di hidup di dunia yang berbeda dengan Ibunya, dia tak dapat kembali lagi ke dunianya. Tentu itu suatu penerangan bahwa Sania sudah tak dapat kembali lagi di dunia manusia, karena memutuskan untuk selamanya di dimensi jin.


"Aliza, jelaskan pada Ibu, dia menyebut nama kamu loh di dalam surat itu, kalian hidup di dunia yang sama, sementara kamu ada di sini, apakah Sania ada di sekitar kita?" Bu Sarmi mengguncangkan tubuh Aliza, dia mendesak anak Bu Ati itu untuk menjelaskan yang terjadi pada anaknya.


Aliza terlebih dulu menenangkan Bu Sarmi, dia mengajaknya duduk dengan pikiran dan hati yang tenang.


"Aku akan jelaskan, Tante. Tapi sebelum itu janji, jangan memotong pembicaraan ku," kata Aliza.


Bu Sarmi mengangguk, menghapus lelehan air matanya segera. Aliza hanya berharap penjelasannya dapat di cerna baik-baik oleh Bu Sarmi, agar Ibu sahabatnya itu terkejut karena keputusan Sania adalah meninggalkan keluarganya untuk selama-lamanya.


"Sania sudah di alam yang berbeda, di alam yang sempat aku tinggal juga. Tepatnya di dimensi jin. Dia menikah dan hidup di sana. Kehidupan di dimensi jin hampir sama dengan kehidupan kita manusia, mereka memiliki aktivitas dan kehidupan pribadi seperti menikah. Sania menemukan jodohnya di sana, dan manusia yang menikah harus memutuskan untuk tinggal menetap di dimensi itu." Aliza mejelaskan begtu pelan. Bu Sarmi ternganga dengan cerita Aliza.


"Apakah dia masih hidup? Apakah dia bisa kembali?" tanya Bu Sarmi. Jawaban yang paling ia tunggu-tunggu adalah kondisi kehidupan anaknya.


Aliza menunjukkan raut wajah gelisah, jika ia mengungkapkan semuanya pada Bu Sarmi, maka Ibu sahabatnya itu lebih terkejut lagi, Aliza takut jika itu mempengaruhi kesehatan Bu Sarmi.


"Sania sudah bukan manusia, dia sudah memutuskan hidup di sana, tak akan bisa kembali lagi. Bisa dibilang, Sania sudah meninggal di dunia manusia," papar Aliza sejujurnya.

__ADS_1


Bu Sarmi berdiri dari tempat duduknya, menghempaskan tangan Aliza yang tadi ia genggam. Bu Sarmi terlihat menahan amarahnya.


"Kamu sahabat Sania, kenapa bicara seperti itu?" tanya Bu Sumarni keberatan saat Aliza mengatakan bahwa Sania telah meninggal dunia.


__ADS_2