
Garret meminta Trisia agar berhenti bersandiwara, dia terlalu lelah menghadapi sekelumit masalah keluarganya, Garret tidak ingin Trisia masuk lagi dalam kehidupannya lalu membuat ulah.
"Pulanglah, sebelum saya bertindak tegas kepada kalian," ucap Kenras mewakili Garret.
Bu Manner menarik tangan Trisia agar kembali berdiri, ia tidak ingin harga dirinya dipermalukan dihadapan para Staf Kerajaan.
"Tapi, Bu... Aku ingin meminta maaf," kata Trisia enggan entah dari hadapan Raja Garret.
Bu Manner mencubit lengan anaknya, dia memberikan isyarat kemarahan terhadap Trisia. Namun tetap saja Trisia ngotot tetap ditempat. Bu Manner menarik paksa Trisia keluar dari ruangan Raja, bahkan pengawal istana ikut menyeret Trisia.
"Hei, kalian jangan kasar kepada anakku, kasta dia lebih tinggi daripada kalian! Protes Bu Manner.
Para pengawal itu malah tertawa, " Kasta kami tidak setinggi Ibu dan keluarga, tapi kami memiliki rasa hormat dan empati."
Bu Manner dan Trisia ternganga, sungguh merasa direndahkan oleh pihak kerajaan. Bu Manner menarik ganggu Trisia masuk ke dalam mobil. Trisia tak henti menggerutu, amarahnya bercampur tangis, ini kesekian kalinya rencananya gagal menjebak Garret.
"Kita gagal lagi, Bu.."
"Sudah, nanti kita pikirkan di rumah," kata Ibunya menasehati.
Sementara Garret duduk menyenderkan kepala di kursi kebesarannya, ada pesan khusus dari Raja Haryyan agar tetap kuta menghadapi situasi apapun. Ketika hendak keluar dari ruangannya, ada rombongan Kenras yang mencegat langkah Garret.
"Ada apa?" tanyanya.
Kenras meminta agar Garret ke ruangan pengintai khusus kerajaan. Segala rekaman kamera pengawas dari Istana hingga penjuru Canai di siapkan agar Raja Garret menontonnya secara langsung.
"Kami akan putar secara langsung yang mulia," ujar bagian intelijen kerajaan.
Betapa terkejutnya Garret melihat berbagai isi rekaman kamera pengawas, ada banyak keterkejutannya setelah mengetahui kebenaran. Perjuangannya tidak sia-sia, semua jalan kemudahan mengiringi langkahnya. Kenras mengangguk-angguk karena yakin dengan semua infromasi yang mereka lihat. Salah satu rekaman itu menunjukkan Trisia menyogok resepsionis klinik agar menceirtakan keberadaan Aliza.
"Siapkan semuanya," titah Garret.
Kenras keluar dari ruangan kerajaan, dia tak berpapasan dengan Ifa, adik Aliza itu melemparkan senyuman ramah kepada Kenras. Bahkan Ifa memberikannya sapaan, saat itu Ifa baru saja membuat kue, dia berniat mengantarkan kue itu ke ruangan Raja.
__ADS_1
"Tidak ada Raja di ruangannya," ujar Kenras. Dia mengontrol dirinya agar tidak terlihat konyol dihadapan Ifa.
"Padahal aku membuat kue untuk Kakak Ipar, bisakah kau mengantarkan untuknya? kau tahu, hanya kuangang dapat menemui beliau dengan keadaan genting."
Kenras mengiyakan, dia meminta pelayan itu mengikutinya, namun Ifa mencegahnya untuk segera enyah. Dia baru saja mendengar kasak-kusuk tentang Trisia yang pernah menjahati Aliza.
"Ternyata para pelayan di istana ini sering mengulas informasi, haa.. aku baru tau itu," kata Kenras melirik ke pelayan pribadi Ifa.
Kelima pelayan yang mantan manusia itu tertunduk, Kenras tidak marah, hanya saja dia takut jikah hal-hal yang belum patut disebarluaskan, diumbar begitu saja tanpa ada izin dari Raja.
"Hei, aku bertanya kepadamu," Ifa membuyarkan lamunan Kenras.
"Maaf, aku tadi terbayang-bayang dengan ulah para pelayan, aku takut jika mereka melakukan kesalahan."
Ifa menarik tangan Kenras untuk menepi, pria itu terhenyak karena disentuh oleh keluarga pihak kerajaan. Ia takut jika ada yang melihatnya lalu menilai buruk dirinya.
"Nona, mereka nanti bisa salah paham kepadaku," ucap Kenras.
"Salah paham apa? aku hanya mencari informasi tentang wanita yang ada tadi."
Aliza bangun dari tidurnya, terhenyak mendapati Khael tidur disampingnya, Aliza meraba sekujur tubuhnya, tak ada tanda-tanda ia sudah melakukan hubungan intim dengan Khael. Aliza perlahan turun dari ranjang, dia menjauh dari Khael. Perasaannya sungguh tak berpihak kepada dokter tampan itu.
"Maafkan aku, Khael.. perasaan tidak dapat dipaksakan," ucap Aliza pelan.
Aliza ingin keluar dari kamar untuk mencari udara segar, namun ketika memutar gagangan pintu, Aliza terhenyak karena pintu itu terkunci.
"Apakah pintu ini di kunci dari luar," gumamnya.
Aliza tak henti menggedor-gedor pintu itu, berharap Kakek dan Nenek Khael membukakan pintu kamar itu. Namun tak ada satupun dari mereka yang merespon, Aliza bahkan mengeluh karena lelah berteriak. Khael terbangun, dia memang sengaja mengunci pintu kamarnya karena tak ingin Aliza lolos begitu saja.
"Pintu ini terkunci, Khael."
"Aku tidak sengaja tadi merusaknya, maafkan aku, Kakek ku sedang mencari orang untuk memperbaikinya," ujar Khael. Ia mulai menutupi kebohongannya demi kebohongan yang lain.
__ADS_1
Aliza berkeluh kesah, Khael mendekatinya, dia menciumi kening Aliza.
"Aku mencintaimu Miracle, kau harus janji tetaplah bersamaku."
"Kamu kenapa? bukankah kau selalu bersamamu? kau lelah? istirahatlah lagi, aku akan tetap disini," sahut Aliza.
Khael duduk lalu menarik tubuh Aliza untuk dipangku, memeluk Aliza dadi belakang. Hembusan nafasnya berbeda, Khael dikuasai oleh birahi.
"Kita sudah sama-sama dewasa, bolehkah aku melakukan itu padamu?" tanyanya.
Aliza terhenyak, dia ingin melepaskan diri dari Khael namun pria itu memeluknya sangat erat. Tangan Khael meraba seluruh tubuh Aliza.
"Khael.. jangan.." pinta Aliza. Ia merasa tidak nyaman dengan perlakuan Khael.
"Lagipula kita akan menikah, aku ingin kita melakukannya sekarang," ucap Khael. Dia sengaja ingin menjadi Aliza agar Garret tak lagi ingin bersama Aliza.
Aliza mencoba melepaskan diri, Khael malah menjadi-jadi, memasukkan tangannya ke dalam baju Aliza.
"Khael! Berhentilah!"
"Tidak, aku mencintaimu, kau juga akan mencintaiku, aku sangat ingin melakukan itu denganmu, aku ingin berbagi cinta dengan mu," ucap Khael. Nafasnya memburu, tangannya tak henti meraba seluruh tubuh Aliza.
Aliza membukul-mukul tangan Khael, tapi tangan kekar itu tak sebanding dengan kekuatan Aliza. Khael mengangkat tubuh Aliza ke kasur, merenggangkan kedua tangan ibu satu anak itu.
"Lihat aku! Apakah aku pria jahat? Aku hanya seorang pria yang mencintaimu, aku ingin kamu, Miracle, " kata Khael. Sangat jelas dimatanya ada ketakutan bila kehilangan Aliza.
Aliza kebingungan, ingatannya hanya dapat mengingat tentang Khael saja. Pria itu sudah sangat baik terhadapnya, selama ini Khael juga bersikap sopan, Aliza berpikir mungkin yang terjadi adalah jiwa lelaki yang tak dapat dibendung lagi?
"Kau ingin melakukannya? aku butuh jawabanmu saat ini," tanya Khael.
Aliza mengalihkan tatapannya, sulit menolak keinginan Khael. Karena kebingungan, Aliza malah menitikkan air mata, Khael tak tega melihat Aliza bersedih.
"Apa permintaan ku melukai hatimu?"
__ADS_1
Aliza tak bergeming, dia tetap menangis karena sedih memikirkan nasib hati Khael yang sulit terbalas olehnya.
"Selama ini aku sibuk dengan karirku, malam itu ada keajaiban datang di klinik, keajaiban itu membuatku jatuh cinta, itu kau Miracle, kau mengingatkan aku dengan Ibuku," ucap Khael.