Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 36


__ADS_3

Dominic bertemu permaisuri di istana, dia berterimakasih.atas kebaikan permaisuri yang secara diam-diam membantunya mempertemukan dirinya dan Aliza. Permaisuri pun menceritakan bahwa salah satu bentuk kebaikannya itu karena ia pernah merasakan hal yang sama dengan Aliza.


"Tak ada yang tahu siapa saya sebenarnya, Garret. Yang tahu jati diriku hanyalah yang mulia Raja," ucapnya.


Garret tidak mengerti yang dimaksud oleh permaisuri Canai, dia hanya mengerutkan alis menunggu kalimat permaisuri selanjutnya.


"Saya dulu seorang manusia, Garret ..sama seperti kamu dan Aliza, makanya saya tidak bisa menjadi Ratu karena saya keturunan manusia," tuturnya.


Garret tertegun, dia seperti mendapat kejutan dari permaisuri karena kejujuran itu. Permaisuri menundukkan wajahnya, dia menahan kesedihan yang teramat mendalam.


"Ada rasa sakit yang aku tinggalkan di dunia kita," ujarnya.


Ada kenangan di dunia manusia yang sulit ia lupakan, salah satunya ialah anak kandungnya yang mungkin telah wafat. Mengingat dirinya sudah terjebak saat masa kerajaan Majapahit, dia berlari ke hutan bersama anaknya, tetapi demi melindungi anaknya, permaisuri menitipkan anaknya pada sepasang suami-istri yang saat itu mengendarai kuda, sedangkan Ia memilih berjalan kaki.


Permaisuri menghindar dari kawanan penjajah memburunya hingga dia berlari masuk ke hutan belantara, ternyata hutan itu memiliki pintu dimensi, permaisuri masuk ke dalamnya tanpa sadar lalu dia terperangkap dalam dimensi Canai.


Permaisuri diselamatkan oleh keluarga yang terpandang di Canai, keluarga itu mengangkatnya sebagai anak, yang tak lain adalah Kakek dan Nenek dari Trisia, sehingga permaisuri memiliki hubungan keluarga dengan Trisia.


"Sampai detik ini, saya tidak pernah lagi bertemu anakku. Saya tahu, anakku memang sudah meninggal karena umurnya sudah tua ketimbang kita yang yang awet di Canai, tetapi saya sering berpindah dimensi karena mencari makamnya, saya seorang Ibu yang merindukan anaknya, Garret .. sama seperti Aliza," jelas Permaisuri dengan tangis tersedu-sedu.


Garret ketakutan jika Raja Canai sampai tahu, permaisuri mengungkapkan rahasia kerajaan itu. Dia tak ingin permaisuri yang sudah ia anggap sebagai Ibu mendapatkan bahaya karena aturan kerajaan.


"Yang mulia Ratu tenangkan diri dulu, saya akan membantu bila waktunya tiba, saya dan Aliza juga akan baik-baik saja, biarlah seperti ini untuk sementara waktu, jangan terlalu libatkan diri yang mulia Ratu," kata Garret khawatir.


Permaisuri mengangguk-anggukkan kepala, dia sudah terlalu sedih untuk mengucapkan kalimat lagi. Penderitaan yang ia tanggung selama ratusan tahun sangat membekas dihatinya. Berpisah dari anak tanpa mengucapkan pamit adalah hal terberat bagi seorang Ibu.

__ADS_1


Garret keluar dari istana, saat dihalaman dia berpapasan dengan Trisia, mata gadis itu menatap tajam padanya. Tatapan yang menyimpan setumpuk dendam. Garret mengacuhkan Trisia, dia masuk ke dalam mobil bersama Dominic.


"Liat saja nanti, kau dan perempuan itu akan menderita," gumam Trisia.


Trisia masuk ke dalam istana, dia menuju ke ruang permaisuri dengan hati yang teramat dongkol. Trisia menyelonong begtu saja, tanpa meminta izin pada dayang istana. Permaisuri terkejut dengan kehadiran Trisia di ruang pribadinya.


"Uty, kenapa ada berita Garret sudah bertemu perempuan itu lagi?" tanya Trisia dengan nada protes.


Permaisuri seolah-olah tidak tahu-menahu akan hal itu, dia berpura-pura terkejut dengan pertanyaan Trisia. Cara itu dia anggap baik karena kebaikan keluarga Trisia padanya.


"Uty tidak tahu itu sayang, memangnya kamu dengar berita itu dari mana?"


Trisia berdecik, dia membuang badan ke sofa.


"Ramai yang berkata di Gapura, aku hanya mendengarnya sepintas."


"Kau kenapa tidak mencari pria lain saja? Di keluarga kerajaan banyak yang juga tampan dan belum memiliki anak," usul Permaisuri.


Trisia tetap kukuh pada kemauannya, dia tak dapat berpindah hati dari Garret, pria itu teramat istimewa di mata perempuan mana saja sebab dia memiliki hati yang baik serta tulus.


"Banyak yang tampan, tapi yang seperti Garret hanya Garret yang kulihat, tak ada yang sama dengannya," sahut Trisia.


Permaisuri berwajah masam, didalam hatinya mengecam perbuatan Trisia yang ingin merebut hak Aliza. Sebagai seorang perempuan, Permaisuri tidak ingin melukai hati Aliza. Dia hanya menjalankan dua perannya karena menginginkan yang terbaik bagi orang yang baik sesungguhnya, seperti Aliza dan Garret.


"Kita harus lebih keras lagi bertindak, Uty .." Trisia ingin memberi usulan.

__ADS_1


Permaisuri hanya mendengarkan saja, namun jauh di lubuk hatinya dia ingin Aliza merasa aman selama di Desa Kunan.


"Kita akan buat gadis itu mati secara perlahan-lahan," kata Trisia mengungkapkan rencana kejahatannya terhadap Aliza.


Permaisuri mengikuti permainan Aliza, dia akan mengikuti terlebih dulu, setelah itu dia akan bertindak secara diam-diam menggagalkan rencana Trisia.


"Aku mau dia masuk ke dalam Canai dengan menjebak dia meminum Kapuar Sinam, bagaimana Uty?"


Permaisuri tersentak, keponakan angkatnya itu memiliki sebagian darah Iblis. Tak mendapatkan jawaban dari Permaisuri, Trisia menepuk tangan Bibinya.


"Bagaimana Uty, bagus kan rencana ku? Kakak Uty liat caraku saja dan liat hasilnya," kata Trisia.


"Iya, itu sangat bagus," sahut Permaisuri seadanya.


Trisia akan menjalankan rencananya setelah Garret lengah, dia akan menenangkan diri untuk sementara waktu, tak ingin memancing ikan di air keruh lagi, tak ingin gegabah bertindak dengan rencana yang kurang matang. Trisia akan membuat Garret terkejut karena ulahnya, pria itu akan menyesali karena sudah menolaknya.


Trisia keluar dari ruangan Permaisuri, dia melewati beberapa dayang istana dengan wajah antagonisnya. Trisia sangat tidak bersikap sopan pada pelayan istana, selalu mengandalkan dirinya sebagai keponakan dari permaisuri Raja Canai.


Trisia menarik dua prajurit istana, dia menyodorkan berbagai tawaran kenaikan jabatan.


"Kalian akan mendapatkan jabatan tinggi dari Permaisuri jika mengamati pergerakan Garret, lakukan itu secara diam-diam, " pintanya.


Kedua prajurit itu enggan melakukannya, mereka tak terbiasa menjadi pengkhianat, selain mengenal Garret, mereka pula tak ingin berbuat curang di kerajaan Canai.


"Brengsek kalian!" Trisia mengumpat, dia kecewa karena tawarannya malah di tolak mentah-mentah oleh kedua prajurit itu.

__ADS_1


Sementara Garret yang sedang menyetir mobil membayangkan tangisan Aliza tadi, setidaknya dia sudah dana akan melihat Aliza setiap harinya. Wajah istrinya itu tak berubah, tetap saja sangat cantik paripurna di matanya.


Dominic yang lelah tertidur di mobil, Garret merogoh kantong celana anaknya itu, kantong berlian yang untuk Aliza telah tiada, Garret pun tersenyum, ternyata anaknya menjalankan rencana mereka dengan baik. Dominic diam-diam memberikan kantong berlian itu kepada Ibunya. Garret menyiapkan itu agar Aliza dapat menjualnya pada penduduk Desa Kunan, uang hasil dari berlian itulah Aliza dapat menyambung hidup di Desa Kunan.


__ADS_2