
Garret membawa kedua pemuda itu ke salah satu restoran terdekat, raut wajah keduanya tegang dan seolah kehilangan kesadaran, Garret tahu itu efek dari hipnotis dari penjaga Gapura. Mereka di hipnotis agar tak memberontak saat di akan menjalani hukuman.
Mata Garret sesekali melirik ke kaca spion tengah, tercetus di benaknya agar memanfaatkan kesempatan itu. Bisa saja dua pemuda itu adalah utusan dari keajaiban dari Tuhan untuknya.
Setiba di restoran, kedua pemuda itu diajak masuk ke ruang private yang dipesan oleh Garret. Setelah lebih nyaman, Garret membuka hipnotis keduanya. Mereka tersadar, terperangah dengan keadaan disekitarnya.
"Bayu, kita dimana?" tanya salah satu dari mereka.
"Gua gak tau, Rif."
Mereka terheran karena saat itu ada pria tampan di hadapannya, di tamba lagi suasana perkotaan yang dari dalam kaca jendela terlihat begitu mewah.
"Kalian sudah melanggar pantangan di gapura," ujar Garret.
Bayu dan Arif menyadari kesalahannya, mereka hanya menundukkan wajah sembari meminta maaf. Namun dipikiran keduanya bergelut tanda tanya dengan keberadaan mereka saat itu.
"Kalian berasal dari kota apa?" tanya Garret.
"Kami dari Jakarta, ini dimana? kami ingin pulang, tolong," ucap Arif memohon.
"Kami hanya melakukan eksperimen dari Kampus, kami tidak bermaksud mengusik gapura itu," Bayu menambahkan.
Garret tertawa mengejek, remaja itu sangat lugu, menganggap enteng sesuatu yang tak nampak secara fisik.
"Kalian sudah masuk dalam wilayah Canai, dan tidak mungkin akan bisa kembali ke dunia kalian, terimalah hukuman itu." Garret berkata dengan tatapan dingin.
Bayu dan Arif bertekuk lutut, mereka memohon pada Garret agar dilepaskan dari dimensi Canai. Garret malah membuang pandangannya, dia tak memiliki akses untuk mengeluarkan dua anak manusia itu. Sementara Bayu dan Arif berlinang air mata, sesekali suara lirihnya memanggil nama Ibunya masing-masing.
"Kebiasaan manusia selalu menganggap remeh aturan kami, sama seperti kalian, kami pun ingin di hargai. Jika datang bertamu, setidaknya berlakulah dengan baik, jangan menantang, kalau sudah begini yang rugi siapa?"
__ADS_1
Bayu dan Arif bungkam, kesalahan terbesarnya ialah penasaran dengan hal-hal gaib, tetapi berakibat buruk bagi mereka. Garret menunggu permintaan maaf itu lagi, dia akan memanfaatkan ucapan maaf Batu dan Arif sebagai barter untuk rencananya.
"Kami minta maaf, tolong bantu kami keluar, kami tidak mau di hukum," ucap Bayu.
Garret melirik di sekelilingnya, ia rasa tak ada yang menguping kala itu. Bayu dan Arif di ajak kembali duduk. Garret menjelaskan berbagai aturan Canai serta hukuman yang berlaku untuk manusia yang mengusik. Garret hanya bisa memberikan pilihan, bukan membantunya.
"Kamu sudah mengerti 'kan?" tanya Garret.
Bayu dan Arif gemetaran, mereka memahami penjelasan Garret, namun tetap saja naluriah kemanusiaannya takut mengahadapi kenyataan itu. Mereka tidak ingin menikah dengan perempuan penghuni Canai. Kehidupan manusia lebih layak ketimbang harus hidup dimensi Canai, meskipun kemewahan di suguhkan untuk keduanya.
"Kami tidak ingin menikah, masa depan kami masih panjang di dunia kami, kami mahasiswa," jelas Arif.
Garret terenyuh, dia mengerti kondisi perasaan Bayu dan Arif, tapi resiko telah di ambil keduanya. Tidak semudah itu hanya dibayar oleh kata maaf.
"Kalian harus paham apa yang saya jelaskan tadi, aku menunggu jawaban, setelah itu aku akan menjelaskan semuanya lagi lebih detail."
***
Aliza di paksa berdandan oleh Ifa dan Ita, saat itu ada pesta syukuran butik Ifa. Usaha adiknya itu membuka cabang di beberapa titik Kota lainnya. Merasa harus berperan sebagai Ibu, Aliza menuruti permintaan adiknya untuk ikut serta dalam syukuran itu.
Aliza di dandani dengan sangat cantik, raut wajahnya berseri karena separuh aura penghuni Canai telah melekat di tubuhnya. Seluruh pasang mata yang melihatnya terpukau dengan kecantikan Aliza. Tak terkecuali, Benny, kakak dari teman Ita yang hadir dalam acara itu pula.
Aliza yang duduk di meja paling sudut di hampiri Benny, pria bermata sipit itu menyapanya, dia memperkenalkan dirinya kepada Aliza.
"Selamat untuk Ifa, kamu luar biasa mendidik adik-adik mu," puji Benny.
Ita seringkali menceritakan perjuangan Aliza menyekolahkan mereka lada siapa saja, termasuk Benny. Ungkapan kebanggaan pada Kakaknya yang banyak berkorban demi kebahagiaan mereka.
Aliza tak bergairah berbicara dengan siapapun, dia hanya membalas Benny dengan senyuman singkat. Sikap Aliza yang cuek menjadi tantangan tersendiri bagi Benny, dia kian penasaran dengan sosok Aliza yang terkenal cerdas.
__ADS_1
Benny menawarkan minuman dingin pada Aliza, namun saat itu Aliza tak bergeming, raganya ada di pesta itu, namun pikiran dan jiwanya melayang ingin menebus Canai. Dia terlihat linglung dalam keramaian.
"Kau memiliki trauma?" tanya Benny. Dia seorang ahli psikologi sehingga mampu membaca kondisi pikiran Aliza dari raut wajahnya.
"Dari mana kau tahu?" tanya Aliza yang sudah terpancing.
Benny membuka dompetnya, dia memperlihatkan identitasnya sebagai ahli psikologi, Aliza mengangguk, dia paham bahwa Benny sosok manusia yang tai dapat dibohongi.
"Kau tertekan karena penyesalan yang lalu, kau bisa datang konsultasi dengan ku," ujar Benny.
Aliza menarik nafas panjangnya, "Aku tidak butuh psikolog, aku masih baik-baik saja, aku hanya butuh dua nama yang aku inginkan bersama denganku," jelasnya. Wajah juteknya ia tampakkan begitu jelas agar Benny enyah didekatnya.
Dari jauh Ifa, Ita, juga adik Benny mengawasi pergerakan keduanya, berharap Aliza dapat merespon Benny dengan baik.
"Terserah kamu, tapi kamu pasti juga sadar bahwa kamu sedang tidak baik-baik saja," tutur Benny lagi.
Aliza menahan kesal, dia meremas jemarinya sendiri. Semenjak tak berpisah dengan anak dan suaminya, Aliza lebih sensitif, emosinya gampang meledak, semua hal bercanda disulap menjadi amarah bila tak masuk akal.
"Jangan sok tahu, aku memiliki kehidupan yang tak kau ketahui," timpal Aliza menyunggingkan senyum miring. Dia memutar mata malas.
Benny tertegun, jawaban Aliza tersampaikan padanya bahwa perempuan itu memiliki imajinasi yang tak biasa. Benny kembali mengetes tingkat depresi Aliza dengan melayangkan pertanyaan.
"Kau bahagia dengan dunia mu?"
Aliza tersenyum, anggukan kepalanya menunjukkan keyakinan penuh dengan bahagia.
"Bahkan Dunia ini tak sebanding dengan dunia baruku, mereka semua tulus dan berlaku baik," jawab Aliza. Yang dimaksud ialah dimensi Canai yang mewah dan memiliki penghuni yang sangat baik.
Benny mengerutkan alisnya, dia belum mengerti dengan dunia yang dimaksud oleh Aliza, Benny pikir semua itu halusinasi yang harus Aliza buyarkan lalu tinggalkan.
__ADS_1