Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 45


__ADS_3

Kakek Latua dan Ahli spiritual itu terkejut, mereka semua mengalihkan ke arah Benny. Kepala penjaga murka terhadap pria bermata sipit itu. Benny bergegas mematikan kameranya, nihat itu Kakek Latua geleng-geleng kepala, ia berpasrah yang akan terjadi, dia sudah memperingati keempat tamunya, jika ada yang melanggar itu sudah di luar tanggungjawabnya sebagai juru kunci.


"Ampuni saya .." Ucap Benny bersujud. Ita dan Ifa membuka matanya, mereka memberanikan diri melihat keindahan Canai.


Kepala penjaga saat itu tidak dapat mengampuni, tiupan angin dimensi mendekati mereka, mengepulkan awan hitam, suara teriakan minta tolong Benny terdengar keras, disusul suara Ita dan Ifa. Kakek Latua saat itu menundukkan badannya, dia membaca mantra agar tetap terlindungi dari hukuman penjaga gapura.


Pusaran angin itu lenyap, hutan kembali hening, Kakek Latua perlahan membuka matanya, memeriksa keadaan sekitarnya, kakek berusia tujuh puluh tahun itu ternganga karena hanya mendapati pria ahli spiritual itu.


"Mereka di seret?" tanya ahli spiritual itu pada Kakek Latua.


"Itu konsekuensi karena tidak mematuhi aturan, kita segera pergi dari sini, sepertinya kepala penjaga gapura sedang murka," ujar Kakek Latua.


Kakek Latua dan ahli spiritual kembali ke penginapan, barang-barang ketiga anak muda itu di bawanya. Mereka ketakutan pula sebab nyawa mereka juga terancam bila tidak segera enyah dari gapura.


Sementara di pintu dimensi, pusaran angin itu melemparkan tubuh ketiga anak manusia yang di bawanya. Benny, Ita, dan Ifa kesakitan sebab tubuh mereka terjatuh di tanah Canai. Perlahan mereka mengamati keadaan disekelilingnya, mereka ternganga dengan puluhan prajurit Canai. Bangunan perbatasan dimensi dilapisi perak, dari jauh keindahan kota Canai sudah nampak luar biasa. Kini mereka percaya dengan yang dikatakan Aliza.


"Aku takut, Kak." Ita menggenggam tangan Ifa.


Kepala penjaga memukul-mukul tongkatnya ke tanah. Pertanda memanggil prajuritnya.


"Kalian bawa mereka ke tahanan perbatasan, pasung mereka," titah kepala penjaga.


Mereka akan disembunyikan di penjara perbatasan, tidak ingin siapapun sampai tahu, ada manusia lagi yang mereka tangkap, firasat kepala penjaga, ketiga anak manusia itu memiliki hubungan dengan istri Garret.


"Tolong keluarkan kami dari sini," pinta Benny memohon.


"Manusia yan masuk ke Canai tidak dapat kembali ke dunianya, kau telah sengaja melanggar aturan, dan bagi kami itu sesuatu yang mengolok-olok," jelas prajurit itu.


Benny sangat menyesali perbuatannya, ingin rasanya dia mengulang kembali waktu agar mematuhi aturan yang diwanti-wanti oleh Kakek Latua.


"Semua karena Kak Benny," kata Ita protes.


Benny malah marah kepada Ita dan Ifa, dia tidak peduli lagi dengan tanggapan kedua adik Aliza itu. Yang dipikirkan ialah keselamatannya seorang diri.

__ADS_1


"Persetan dengan kalian, aku menyesal ikut campur dengan masalah kalian, tidak ada gunanya, malah membuat hidupku sial, kalian pembawa sial!"


Ita dan Ifa tercengang dengan respon Benny, ini kali pertama mereka mendengar kata kasar Benny, mungkinkah itu sifat asli Benny yang belum pernah ditunjukkan kepada mereka Ifa menelaah bahwa Benny memang pria yang kasar.


"Kau telah menunjukkan sifat aslimu!" Ifa menimpali.


"****! Gue gak mau tau, gue harus keluar dari sini, gue gak mau jadi santapan jin!" Benny lagi-lagi mengatakan kalimat pantangan. Seketika petir Canai menyambarnya, Benny kesakitan teramat sangat, Ifa dan Ita saat itu hanya jadi penonton karena keangkuhan Benny.


"Aku takut, Kak .." lirih Ita.


"Jangan berucap sepatah katapun tentang Canai, tenang, ada Kak Aliza dan suaminya di Canai, dia akan menyelamatkan kita jika tahu kita sudah ada disini," ujar Ifa.


Kepala penjaga saat itu masuk ke kantornya, dia memanggil beberapa prajuritnya. Kepala penjaga menyusun rencana agar keberadaan ketiga manusia itu tidak diketahui siapapun, termasuk Garret. Ini awal akan terungkapnya rahasia bila ketiga anak manusia itu ditemukan oleh Garret.


"Jika manusia itu sampai ketahuan ada disini, habis kita. Saya tahu ini sudah mengkhianati kerajaan Canai, tapi kita sudah terlanjur masuk ke dalam rahasia Trisia, kita sudah terjebak jadi sebisa kita harus menutupinya."


Prajurit itu memahami maksud dari Kepala penjaga, Tampa unsur kesengajaan, Trisia melibatkan mereka untuk menyembunyikan Aliza. Semua terjadi begitu saja. Mereka juga takut bila terlalu banyak komplain.


***


"Hei kalian! Aku tidak bisa makan di tempat kumuh seperti ini!"


Makanan itu diinjak-injak oleh Trisia, Aliza geleng-geleng kepala dengan tabiat keponakan permaisuri Canai itu.


"Kau boleh marah pada mereka, tapi jangan melampiaskan kepada makanan," ketus Aliza.


Trisia berbalik ke arahnya, hati Trisia kian memanas, dia melemparkan piring ke Aliza.


"Aku tidak butuh nasehat mu! Ini semua karena kamu!"


Trisia maju menumpahkan makanan Aliza yang saat itu sedang makan, membuat kesabaran Aliza habis, istri Garret itu berdiri dari tempat duduknya.


"Kau selalu aku biarkan berkata semaumu, tapi aku paling tidak suka di ganggu pada saat makan."

__ADS_1


Plak!


Aliza menampar Trisia, Ibu satu anak itu tak mempergunakan kesabarannya lagi. Trisia saat itu juga mengumpat, dia menjambak rambut Aliza hingga tersungkur ke lantai. Aliza mengepal tangannya, Ibu satu anak itu berdiri menarik rambut Trisia, keduanya menggelinding di lantai, saling menyerang satu sama lain.


Aliza memiliki tenaga yang kita sebab ia selalu makan, sementara Trisia yang menolak makanan itu kekurangan tenaga.


Plak!


"Ini tamparan buat kamu! Karena kamu telah menganggu suamiku!


Plak!


"Ini tamparan untuk kamu yang memfitnah aku!" Lanjut Aliza lagi.


"Aku akan membunuhmu!" Trisia mengucapkan sembari meraba barang-barang yang dapat ia gapai.


"Karena kau, aku kehilangan kesempatan untuk menemui anakku, kau perempuan terjahat di Canai!" Ucap Aliza.


Trisia megambil gelas kaca di sampingnya, dia menghantam kepala Aliza dengan gelas kaca itu. Aliza kesakitan, dia menjatuhkan tubuhnya ke lantai, kepalanya mengeluarkan darah, gelas itu pecah karena hantaman kuat dari Trisia.


Trisia tersenyum puas, dia membiarkan Aliza meringis kesakitan seraya memegang kepalanya. Trisia melangkah perlahan, dia menginjak kaki Aliza.


"Kau berani menamparku?!"


Trisia menaruh kakinya lagi ke dada Aliza, istria Garret itu kesulitan bernafas. Kepalanya tak henti mengeluarkan darah. Pandangan Aliza sudah kosong, namun masih bisa mendengar jelas perkataan Trisia.


"Kau lihat aku akan membunuhmu saat ini juga!" Trisia mengambil rantai di yang terikat di kaki Aliza.


Rantai itu di lilitkan ke leher Aliza, perlahan ia jepit hingga Aliza kesulitan bernafas. Kaki Aliza sudah meronta-ronta dibawah sana, Trisia semakin mengencangkan lilitan rantai itu. Dia sudah bertekad membunuh Aliza.


"Hei! Apa yang kau lakukan?!" Tiba-tiba kepala penjaga datang mengecek kondisi mereka.


"Lepaskan tahanan rantai itu, atau kau kami akan tembak." Penjaga penjara bawah tanah sudah bersiap-siap menembak Trisia.

__ADS_1


Trisia melepaskan lilitan rantai itu dari Aliza.


__ADS_2