
Aliza termangu, dia tidak berani menatap wajah Khael. Hatinya sungguh tidak tertuju kepada Khael, ada seseorang yang membuatnya tertarik, yang gaknlain Garret, suaminya sendiri. Telpon genggam Khael berdering, dia berhenti menghimpit tubuh Aliza, menepi di sudut kamar mandi menjawab telepon Resi.
"Ada apa, Resi?"
"Dmana posisi mu sekarang? serahkan istriku secara baik-baik, mungkin kau juga sudah tahu itu," sahut suara dibalik telepon. Dia adalah Garret, rombongan pihak kerajaan datang menciduk Resi, dia diancam agar menceritakan segala yang terjadi dengan Aliza.
"Dia bukan Aliza yang mulia, dia Miracle, Aliza sudah mati," ujar Khael. Dia bersikukuh untuk menampilkan jati diri Aliza sebagai Miracle.
"Dia istriku, dia Aliza, dimana posisi mu sekarang, ku peringatkan kau Khael sebagai adik, jangan sentuh istriku, dia adalah Ratu Canai."
Khael mengepalkan tangannya, dia sangat tidak suka mendengar kata dari Garret menyebut Aliza sebagai "Istriku".
" Tampaknya kau sudah mencintai istriku, tapi dia milikku Khael, beritahu di mana posisimu, aku akan menjemputnya," ucap Garret sekali lagi.
Khael menutup panggilan tanpa berucap sepatah katapun, dia bergegas kembali ke Aliza dengan mimik yang panik.
"Kamu ikut aku," ucap Khael menarik paksa tangan Aliza.
Aliza menolak, ia tetap ingin dikamar saja, Aliza sudah mulai takut dengan perlakuan Khael yang aneh. Namun Khael tetap memaksanya, dia menggedong Aliza seperti seorang Ayah memaksa putrinya.
"Khael, kamu kenapa sih, turunkan aku!"
Khael tetap membawa Aliza, pria muda itu membawa Aliza ke bawah ruang bawah tanah tempat Kakek dan Neneknya menyimpan hasil taninya. Aliza tetap memberontak, ia sudah ketakutan karena ulah Khael.
"Aku mencintaimu, Miracle.. Aku tidak bisa kehilangan mu, mengertilah.." kata Khael.
Aliza terenyuh, "Aku akan berusaha mencintaimu, cinta itu tidak boleh dipaksa untuk tumbuh sekarang juga. Pasti akan butuh proses Khael."
Khael tetap ingin menyembunyikan Aliza, yang ia hadapi adalah penguasa Canai, Garrer memiliki kekuatan di negeri Canai, tentu memudahkannya menemukan Aliza.
"Ini berbeda, apakah kau akan mencintai ku walaupun kau tetap mengetahui masa lalumu? hem?" tanya Khael.
Aliza terhenyak, dia menebak jika Khael telah mengetahui kisah masa lalunya, namun Aliza tidak ingin Khael semakin panik karena jawabannya. Dia menurut kali ini untuk dikurung dibawah tanah, Aliza ingin tahu yang akan terjadi, siapa sebenarnya yang ditakutkan oleh Khael.
__ADS_1
"Kita akan tetap disini," ujar Khael.
Sementara Garret dan rombongan kerajaan tiba di Desa Kakek Khael, dengan tiga helikopter besar, Garret dikawal oleh Kenras dan beberapa prajurit lainnya. Para penduduk Desa terkejut dengan kehadiran Rajanya yang secara tiba-tiba. Para detektif mencari jejak terakhir Khael melalui maps mobilnya.
"Hanya sekitar seratus meter dari sini, berarti mobil itu disana," kata detektif itu menunjuk ke rumah Kakek Khael.
Kenras melaporkan itu kepada Raja Garret, mereka bersiap untuk mengepung rumah Kakek Khael yang nampak sepi itu. Kenras dan beberapa prajurit masuk ke halaman, mereka mengetuk pintu pelan. Tampaknya dibalik pintu ada Nenek Khael yang kebingungan dengan kehadiran tamu yang begitu banyak.
"Nenek, apa Khael ada didalam?" tanya Kenras.
"Tidak ada, dia baru saja pergi tadi," sahut Nenek Khael.
Kenras melirik ke prajurit lain, mereka ingin bertindak tegas namun adab kepada yang lebih tua masih diutamakan. Nenek Khael itu pamit, ketika hendak menutup pintu, kaki Kenras dibawah mencegat pintu agar tidak tertutup.
"Kami pihak kerajaan mencari Kenras, tolong kerjasamanya Nenek, atau akan ada yang lebih parah daripada hanya sekedar menghukum mati."
Nenek Khael bergetar mendengar itu, dia belum mengetahui kesalahan yang dibuat cucunya, namun sesalah apapun Khael, dia akan melindungi cucunya.
"Cucuku salah apa?" tanya Neneknya.
"Berjanjilah jangan menyakiti cucuku, dia sejak. kecil tidak memiliki orangtua, hanya kami yang dia punya, ku mohon berjanjilah.."
Kenras mengangguk, Nenek Khael terpaksa membawa Kenras masuk seorang diri, Kakek Khael terkejut melihat tindakan istrinya yang memperbolehkan seseorang menemui Kenras.
"Dia ada di ruang gudang kami," tutur Nenek Khael.
Kakek Khael memohon agar Kenras tidak melihat Khael, namun Khael menenangkannya.
"Jangan takut, kami hanya ingin berbicara baik-baik dengannya," ujarnya.
Kenras turun ke gudang bawah tanah, dia mengetuk-ngetuk pintu itu berulang kali, Khael yang ada didalam beranjak membukanya, dia terkejut dengan kehadiran Kenras yang memakai seragam hitam kerajaan. Kenras sejenak melirik ke Aliza yang duduk lesuh.
"Berhentilah bersembunyi, mari bicara baik-baik," ucap Kenras mengajak Khael berbicara empat mata dengan Raja Garret.
__ADS_1
Tak ada pilihan lain lagi, Khael menaati perintah dari pihak kerajaan. Aliza dibiarkan seorang diri di gudang, Ibu satu anak itu pun tidak ingin bertanya, Aliza hanya menunggu hasil karena sampai saat itu dia belum tahu yang terjadi terhadap Khael.
Kenras membawa Khael ke helikopter, ada Garret disana menunggu. Khael diminta untuk masuk menemui Garret. Khael menurut lagi, di dalam helikopter itu hanya ada Garret seorang diri. Dia memang menantikan kehadiran Khael. Bola mata birunya memandangi Khael penuh amarah, namun itu ia kesampingkan.
"Kau merasa ini tidak adil?" tanya Garret.
"Iya, yang mulia. Aku sudah merancang kebahagiaan ku," sahut Khael dengan jujur.
Garret tetap tenang, dia juga kebingungan peristiwa istrinya. Namun Garret tetap ingin membawa Aliza bersamanya.
"Aku akan mencarikan mu gadis lain, dia itu istriku, Ibu dari anakku, Dominic."
Khael menghela nafas, menundukkan kepala berpikir, dia tahu watak Garret yang bisa tegas da berprilaku.
"Yang mulia akan menghancurkan hatiku, Miracle itu," belum sempat Khael menyempurnakan kalimatnya, Garret memotongnya.
"Aliza, bukan Miracle, itu nama manusianya, dan tetap menjadi Aliza, Ratu Aliza.."
Khale menelan salivanya. Merasa kalah mendengar Garret terang-terangan menyebutkan Aliza sebagai Ratunya. Tangan Khawatir mengepal, Garret dapat melihat itu.
"Ada dua pria membutuhkan Aliza, sejak kecil Domonic merindukan Ibunya, saat itulah aku mengerahkan tenaga mencari istriku," sambung Garret.
Khael tak bergeming, dia memejamkan matanya mendengar seksama penuturan Garret.
"Kami menikah sudah lama, kami terkadang dipisahkan oleh orang-orang yang jahat, kau pasti paham itu," jelas Garret.
Khael memendam amarah, kesedihan, dan kecewa. Sulit berdamai dengan keadaan, hatinya tidak mampu melepaskan Aliza.
"Aku tidak bisa yang mulia, lagipula dia sudah tidak mengingat apapun, dia hanya mengingat momen saat-saat bersamaku," kata Khael.
Kekeselan Garret mencuat, merasa sudah memberikan kelonggaran atas kesalahan Khael, namun dokter muda itu tetap saja ingin memiliki Aliza.
"Tunjukkan dimana istriku sekarang?" tanya Garret mulai meninggikan suaranya.
__ADS_1
Keneas dan prajurit lain bersiap-siap ingin menghampiri Daja Garret dan Khael di helikopter. Namun ada suara perempuan yang memanggil namamu Garret. Dia Aliza, berdiri tegak di depan pintu.