Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 27


__ADS_3

Aliza tetap mengabaikan Benny, pertanyaan-pertanyaan pria itu dianggap angin lalu, pikirannya tak berfokus pada acara yang berlangsung. Benny memutar otak agar mengalihkan perhatian Aliza, dia sudah terlanjur tertarik pada perempuan berparas cantik itu.


"Aku tahu maksud kamu itu apa, aku akan membantumu," ujar Benny seolah-olah mengetahui permasalahan Aliza.


Aliza memalingkan wajahnya ke Benny, namun tetap saja hatinya tak yakin menerima bantuan itu. Aliza beranjak ke meja lain, menghindar dari Benny. Aliza melirik tajam ke Ita dan Ifa, lirikan agar adiknya itu membiarkannya segera pulang. Dia tak sanggup lagi berada di acara itu. Namun kedua adiknya tak bertindak apapun, mereka ingin memberi ruang agar Benny tetap berkomunikasi dengan Aliza.


Benny menghampiri Ifa dan Ita, pria bermata sipit itu ingin menanyakan asal mula Aliza bisa mengalami depresi ringan. Aliza bahkan sangat menutup diri bagi lawan bicaranya.


"Lain kali aja deh, Kakak lu susah banget di ajak akrab, di udah punya dunianya sendiri," keluh Benny.


Kedua adik Aliza itu menghela nafas, Benny yang seorang ahli psikologi saja mengeluh menghadapi sikap Aliza. Tentu itu tidak mudah bagi mereka untuk menyembuhkan Kakaknya menjadi normal kembali.


"Ya udah, besok Kak Benny ke rumah, kita buat Kak Aliza lebih akrab lagi," pinta Ita.


Benny mengiyakan itu, dia pikir memang harus lebih agresif lagi bila menangani Aliza. Saat mereka berbalik melihat keadaan Aliza, wanita berambut panjang itu sudah tak ada di tempatnya, Aliza menghilang, tepatnya pergi tanpa pamit.


"Kayaknya Kakak pulang deh," kata Ifa. Berkali-kali Ifa menelpon Aliza, tetap saja panggilannya terabaikan.


"Semoga saja dia gak berbuat nekad," ujar Benny.


"Kakakku bukan orang yang gampang putus asa, dia hanya sangat mencintai suaminya," ketus Ita keceplosan.


Mata Ifa seketika melotot tajam ke arahnya. Di sekitar mereka tak ada yang mengetahui pernikahan Aliza dengan pria berbeda dimensi, mereka semua mengira Aliza masih berstatus lajang.


"Maksudnya? Aliza udah nikah?" tanya Benny terheran.


"Lupakan, dia hanya bercanda," sergah Ifa berkelit.

__ADS_1


Aliza saat itu memilih pulang menggunakan taksi, di tengah perjalanan, dia melihat hotel yang pernah ia singgahi bersama Garret. Hotel tempat mereka terakhir memadu kasih sebelum Garret pergi tanpa pamit. Aliza meminta sopir taksi itu untuk berhenti. Dia memutuskan untuk menginap di hotel itu dengan nomor kamar yang sama.


Aliza berkaca-kaca melihat tampilan kamar itu, kenangannya masih teringat jelas di pelupuk matanya. Aliza tidur meringkuk di atas ranjang. Tubuhnya peluh, terisak tangis.


"Aku rindu kalian, kenapa perpisahan ini menyakitkan, aku seorang Ibu, seorang istri, aku ingin mengabdikan diri ku pada suami dan anakku, pertemukan kami ..huhuhuh" tangisan Aliza tumpah ruah di kamar hotel itu.


Bagaimana tidak, kebahagiaannya seketika direnggut oleh takdir karena perpisahan dimensi. Tak mudah seorang Ibu yang menahan rindu pada buah hatinya, tak mudah seorang istri yang menahan rindu pada suaminya. Kelemahan seorang perempuan adalah ketika berpisah dari anaknya, dan itu yang pula dirasakan Aliza. Takdir begitu kejam, pikirnya.


"Berikan aku kesempatan sekali lagi, ku mohon ..ku mohon," lirihnya.


Aliza memukul-mukul bantal, nafasnya sesak lagi-lagi menghadapi kenyataan bahwa keinginannya tidak diwujudkan oleh dimensi Canai. Dia yakin pintu dimensi Canai dari berbagai arah, ada penjaga yang selalu setia memantaunya pula bila dia memohon. Dia seorang Ibu yang telah melahirkan penghuni Canai masa depan.


"Aku tidak pernah menyesali takdir ku, aku hanya menyesali karena aku banyak menyia-nyiakan waktuku dulu, aku terlambat mencintai suamiku, aku bersikap acuh padanya," lirih Aliza menyesali sikapnya dulu saat masih mencintai Fuad.


Aliza turun dari ranjang, dia mendongak keatas langit sembari bertekuk lutut. Air mata telah membanjiri pipinya. Dia memohon sembari menangkupkan kedua tangannya.


Namun menunggu beberapa menit, keajaiban itu tak kunjung ia dapatkan.


"Garret, Dominic," teriaknya menggelar, seolah ingin menembus dimensi Canai.


Deg!


Getaran itu sampai pada Garret, dua mendengar Aliza sedang memanggilnya, dimensi Canai bak bekerjasama pada kedua hati insan yang tulus mencintai. Garret yang sedang mengemudi mobil mengerem mendadak.


"Aku merasakan panggilan Aliza," gumamnya.


Garret keluar dari mobil, mencari asal suara itu, dia yakin celah dimensi yang terbuka, Garret melihat disekelilingnya.

__ADS_1


"Buka, buka! Ku mohon buka, aku ingin melihat keadaan istriku," pintanya memohon pada penjaga dimensi.


Para penjaga dimensi tidak menampakkan dirinya. Suasana itu kembali hening, tak terdengar lagi suara Aliza.


"Ku mohon, buka pintunya. Ku mohon .." pinta Garret.


Garret menoleh ke kiri dan kanan, dia mencari celah dimensi itu. Berusaha menggunakan kekuatan dalamnya, tetap saja ia gagal membuka pintu dimensi. Para penjaga melawannya dengan menutup rapat celah pintu itu.


Garret lunglai, dia menyandarkan tubuhnya di mobil. Dia khawatir Jiak Aliza tak dapat hidup baik karena merindukan dirinya dan Dominic. Garret rela berkorban agar Aliza hidup bahagia dengan keluarganya, tetapi jika Aliza menderita karena keputusan itu, dia akan menjadi pria yang tak henti menyalahkan dirinya sendiri.


"Ku mohon ..aku ingin melihat keadaan istriku, tolong .." pintanya sekali lagi.


Tiba-tiba suara angin bergemuruh, bersama cahaya yang berbentuk lingkaran, Garret berlari agar lebih dekat ke cahaya itu. Cukup lama cahaya lingkaran berputar di tempat hingga suara alarm dimensi ke dunia manusia berbunyi lagi. Garret terkejut dengan gambaran yang ada di lingkaran cahaya ittu.


"Aliza, Aliza," Garret melihat Aliza dengan jelas. Namun Aliza tak dapat mendengarnya, Aliza tetap saja menangis berdoa meminta keajaiban.


"Aliza, aku ada disini," rupanya penjaga dimensi hanya memberikan kesempatan buat Garret melihat keadaan Aliza, mereka sama sekali tak diizinkan berkomunikasi, bahkan Aliza tak diperbolehkan melihat keadaan itu. Dimensi manusia tak boleh menembus Canai.


Hati Garret bagi tersayat melihat keadaan istrinya yang begitu terlihat menderita. Ternyata keputusannya pergi tanpa pamit adalah kesalahan terbesar. Setelah beberapa detik, gambaran Aliza menghilang, lingkaran cahaya itu perlahan meredup lalu lenyap bersama tiupan angin.


"Ternyata kamu sangat merindukan kami," lirih Garret.


Dia tak ingin tinggal diam begitu saja, rencananya kali ini harus berhasil, Bayu dan Arif harus bisa ia manfaatkan untuk membantunya. Garret tak mampu bila harus menahan kerinduannya. Dia tak sanggup membuat Aliza menderita karena jauh dari Dominic.


"Tunggu aku, Aliza. Aku akan pertemukan engkau dengan anak kita kembali," tuturnya berjanji.


Garret melanjutkan perjalanannya ke restoran. Dia akan menjemput Bayu dan Arif. Garret akan meminta tolong dengan sangat kepada dua anak manusia itu. Wajah, tangis, dan kesedihan Aliza tetap membayanginya. Garret harus bertemu Aliza kembali, apapun resikonya, semua jalan itu akan ia tempuh.

__ADS_1


__ADS_2