Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 37


__ADS_3

Aliza duduk di Gapura, sudah sejak ia menunggu dengan Nenek Satia. Berharap pintu dimensi itu terbuka karena kehadiran Garret juga Dominic. Sembari menunggu, sesekali dia Aliza berkomunikasi dengan pihak penjaga Gapura yang baik hati. Aliza melontarkan banyak pertanyaan dengan aturan Canai yang semakin ketat. Dia pun mendapatkan gambaran bahwa Canai telah berubah aturan karena manusia selalu saja tak menepati janjinya terhadap penghuni Canai.


"Kamu yakin Anak dan suami mu akan datang hari ini?" tanya Nenek Satia ragu.


"Yakin, Nek. Sebentar lagi mereka akan datang," sahut Aliza. Dia yakin ini momen yang paling dinantikan oleh Garret dah Dominic. Sekian lama mereka terpisah, mereka telah dipermudah jalannya untuk bertemu, walaupun hanya dapat melihat dari kejauhan.


Tidak lama berselang, pusaran angin hitam muncul di hadapan mereka, terbelahlah hutan itu menjadi kota yang sangat megah. Dibaliknya, ada teriakan Dominic memanggil Ibunya.


"Ibu .."


"Sayang, Ini Ibu .." Aliza melambaikan tangan. Memberikan kecupan jauh untuk anak dan suaminya.


"Ibu, a-aku akan mulai sekolah," papar Dominic.


"Benarkah? Wah, anakku sudah besar, maafkan Ibu ya, belum bisa menemani Dominic," ucap Aliza.


Garret hanya terdiam, dia fokus memandangi Aliza saja. Harapannya tetap sama, menanti keajaiban agar mereka bersatu kembali di Canai. Aliza mengalihkan pandangan kepadanya, istrinya itu melempar senyuman manis.


"Kamu tidak kesulitan merawat Dominic?" tanya Aliza.


"Tidak, dia anak yang baik," sahutnya. Garret canggung mengobrol lebih jauh dengan Aliza sebab ada banyak penjaga Gapura yang menyaksikan mereka.


Nenek Satia malah menepi mengobrol dengan salah atau penjaga Gapura. Dia meminta agar Garret dan Dominic diperkenankan keluar beberapa saat dari dimensi Canai.


"Itu bukan hal sulit, keluarkan mereka, tak ada yang tahu, kasihan anak itu .." pinta Nenek Satia.

__ADS_1


Para Penjaga itu berunding, jika mengeluarkan Garret sesaat, tak ada penghuni yang tahu jika tak ada dari salah satu mereka yang bocorkan. Titik temu ditemukan, kepala penjaga yang peduli dengan Garret membiarkan Ayah dan Anak itu keluar dimensi untuk beberapa menit saja. Tanpa aba-aba darinya, Garret yang menggendong Dominic di dorong perlahan keluar dari dimensi Canai.


"Kepala? Ini ada apa?" tanya Garret terkejut.


"Waktumu hanya dia puluh menit, ini rahasia kita bersama, lindungi jabatan ku, kau juga ku lindungi," sahut kepala penjaga gapura.


Garret tertegun, dia menaruh tangan di dada mengucapkan terimakasih, tak ingin membuang waktu lama, Garret langsung berjalan ke arah Aliza, menarik tubuh istrinya untuk dipeluk. Suara kicauan burung di hutan Canai berbaur dengan tangis Aliza yang melepaskan kerinduan terhadap suaminya.


"Aku minta maaf karena selalu mengusahakan mu .." ucap Aliza.


"Tidak, tidak, aku yang menyulitkan mu, aku yang bertekad menikah mu," sergah Garret.


Kedua mata Nenek Satia sembab, dia kembali menepi di sudut Gapura, membiarkan keluarga kecil itu lebih leluasa bercengkrama. Dominic bercerita tentang kehidupannya bersama Ayahnya, mulai dari Ayahnya yang sulit bangun tidur hingga keberadaan Trisia yang sering mengunjunginya, Aliza pun tercetus untuk menanyakan tentang Trisia.


"Tante Trisia itu siapa?" tanya Aliza heran.


Aliza melirik ke Garret, dia meminta jawaban dari suaminya itu. Ada api cemburu yang mulai menyala di hatinya.


"Oh, jadi Ayahmu sudah memiliki teman perempuan," ketus Aliza dengan nada sindiran kepada Garret.


"Dia hanya kasihan pada Dominic, tidak lebih. Lagipula kami tidak memiliki hubungan apa-apa, percaya padaku .."


Aliza percaya itu, tetapi entah mengapa hati gusar mendengar nama Trisia, seolah dia menemukan satu tantangan baru dalam biduk rumah tangganya. Ia rasa tak ada perempuan yang mau setiap hari datang ke rumah pria yang memiliki anak bika tak memiliki niat tertentu. ia


***

__ADS_1


Trisia mendapatkan informasi dari pihak penjaga yang berkhianat. Dia mengatakan tentang keberadaan Garret bersama Aliza di hutan Canai. Trisia mengumpat, dia memukul-mukul kemudi mobilnya. Tak terima dengan kebahagiaan Garret dan Aliza. Sekian lama ia berjuang menggaet hati Garret, tetapi yang ia dapatkan hanya penolakan dan penolakan, Trisia merasa itu tidak adil, dia tidak boleh kecewa sementara Garret bahagia bersama Aliza.


"Ok, baiklah ..kau akan mendapatkan hukuman itu!"


Trisia akan menjalankan rencananya, dia akan mengawali dengan mengelabui para penjaga Gapura. Namun sebelum itu ia harus menyiapkan orang-orang yang dapat membantunya.


Dia dan para anak buahnya melancong ke gapura, setiba di sana, ada Garret yang sudah memasuki dimensi Canai bersama Dominic, rupanya waktu dia bertemu Aliza telah habis hari itu. Trisia tak menampakkan diri, dia membiarkan Garret dan Dominic terlebih dulu meninggalkan Gapura. Setelah itu barulah ia ke kepala penjaga.


Trisia memulai sandiwaranya, dia menangis sesenggukan karena merindukan sosok manusia. Trisi bersandiwara bahwa dia sedang mencintai sosok manusia yang sudah lama ia tak temui. Kepala penjaga yang tahu Trisia keponakan permaisuri Canai, dia pun meluaskan Trisia untuk keluarga dari dimensi Canai sejenak.


"Tapi kembalilah sebelum malam tiba, kami tidak ingin kau mendapatkan bahaya di dunia manusia," kata kepala penjaga itu.


Trisia tidak peduli itu, rencananya harus berhasil kali ini. Dia keluar dari dimensi Canai seorang diri, anak buahnya dibiarkan menunggu di pintu dimensi. Mereka benar-benar menyiapkan rencana dengan matang agar penjaga gapura tak mencurigainya.


Trisia tiba di hutan Cabai, ini kali ketiga ia menyebrang dimensi, terakhir kalinya ketika dia mencari manusia yang ingin dijadikan suami, tetapi tak ada satupun manusia yang membuatnya jatuh cinta.


Trisia menyusul Aliza, dia berlari kencang agar tak kehilangan jejak istri Garret itu. Aliza tiba di penginapan Kakek Latua, dia dan Nenek Satia ke kamar masing-masing untuk istirahat. Tampak di wajah cantik Aliza ada senyum bahagia, karena baru saja bertemu anak dan suaminya. Trisia melihat itu tersenyum sinis, dia tak suka melihat kebahagiaan Aliza.


Trisia berpura-pura mengiris tangan kirinya, merobek bajunya. Dia pun melangkah gontai ke penginapan Kakek Latua. Meminta tolong dengan nafas yang tersengal-sengal. Kakek Latua bergegas mengecek keadaan luar rumahnya. Dia melihat Trisia yang berjalan dengan tangan yang terluka.


"Gadis itu seperti penghuni Canai .." gumam Kakek Latua.


Kakek Latua keluar menolong Trisia, "Apa kau penghuni Canai?"


Trisia tak menjawab, dia bersandiwara meringis kesakitan. Kakek Latua memangil Aliza juga istrinya. Istri Garret itu terkejut dengan keberadaan gadis cantik di depan penginapan.

__ADS_1


"Ambilkan obatku di laci," pinta Kakek Latua pada istrinya.


Aliza menghampiri pula Trisia, dia mengamati wajah Trisia, tidak ada garis bibir di bawah hidungnya, Aliza pun tahu bahwa Trisia juga penghuni Canai. Para penghuni Canai tidak memiliki garis bibir di bawah hidungnya, sangat mudah untuk Aliza membedakannya.


__ADS_2