Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 25


__ADS_3

Sania terenyuh mendengar cerita pernikahan Garret dan Aliza, dia tak menyangka pernikahan beda dunia sahabatnya itu berakhir tanpa kepastian. Selain mengasihani Garret, Sania pun berempati pada nasib Dominic. Ia yakin, rindu balita itu selalu diungkapkan lewat tangisan.


"Aku sangat mencintainya, jadi aku ingin dia bahagia bersama Ibu dan adik-adiknya," lirih Garret.


"Aku sudah lama mengenal Aliza, pasti Aliza juga sangat menderita merindukan kalian," kata Sania yang sangat yakin.


Garret menundukkan wajahnya, dia tersenyum merangkai harapan itu lagi, meskipun harapan itu tidak akan mungkin terjadi. Namun dia ingin hidup dengan harapannya, agar lebih kuat bersama Dominic.


"Bisakah kau menunggu keajaiban? Aku yakin Aliza juga sangat tersiksa dengan pilihannya, tolong carilah solusinya," pinta Sania.


Garret memandang ke atas langit, terlihat tak ada masa depan untuk mendapatkan keajaiban itu. Sania mendesak lagi.


"Kau percaya dia wanita baik-baik, kamu tahu 'kan itu?" tanya Sania lagi.


"Kau begitu tulus, sehingga berkorban demi keluarganya," timpal Rio. Jika berada di posisi Garret, dia tak sanggup melakukan itu, Sania akan tetap di bawanya ke Canai meskipun keadaan keluarga Sania membutuhkannya.


Sania menghela nafas, pertemuan mereka dan Garret terlambat, akses untuk keluar sementara sudah di tutup untuknya, jika tidak, tentu Sania akan menemui Aliza mengajaknya kembali ke Canai.


"Sepulang dari acara penyambutan ini, kami boleh bertemu dengan Dominic? Aku dan Aliza sudah seperti saudara, tentu anaknya seperti keponakanku sendiri," pinta Sania.


Garret pun mengindahkan permintaan Sania, sebelum mereka berpisah, Garret memberikan alamat rumahnya pada Sania dan Rio. Ayah Dominic itu kembali lagi dalam rombongan kerajaan, sementara Sania dan Rio masih termangu.


"Pria setampan dia akankah tidak akan menikah lagi?" gumam Rio.


"Aku rasa keduanya akan setia, meskipun tidak bertemu selamanya," timpal Sania.


Rio menggeleng-gelengkan kepalanya, dia ragu dengan kesetiaan pria bila sudah lama tak bersama kekasihnya.


"Jangan terlalu optimis, aku laki-laki dari kaum jin, jadi tahulah," ketusnya.


Sania memasang wajah cemberut, suaminya memang sedikit berbeda dengan prinsip jin lainnya, Rio termasuk pria yang sangat mencintai selama wanita itu mau bertahan dengannya.

__ADS_1


"Makanya teruslah di sisiku, Sampai dunia nanti ini berakhir," sambung Rio.


"Aku sudah membuktikannya, tapi aku harap kau mengizinkan surat balasan Ibuku bisa sampai kepadaku," ucap Sania penuh harap.


Rio terdiam, dia belum bisa menjawab. Rio hanya tak ingin surat dari Ibu mertuanya akan mempengaruhi keputusan Sania.


"Sudahlah, jangan di bahas lagi, aku tidak ingin ada pertengkaran," kata Sania memutuskan pembahasan itu.


Sania telah berkorban banyak, dia memilih tinggal di Canai bersama keluarga kecilnya ketimbang kembali ke dunianya. Rio sudah tahu, jika Sania kembali ke keluarganya, maka istrinya itu akan mengabaikan dirinya di Canai, meskipun terkesan egois, Rio hanya tak ingin kehilangan cintanya lagi.


Garret kembali ke jajaran kerajaan, mata Raja Canai meliriknya kala itu. Dia tahu, Garret sedang berjuang kuat menghadapi kenyataan dalam hidupnya. Raja Canai menyesali karena telah setuju menikahkan Garret dengan seorang manusia. Sebelum Garret bertemu Aliza, Raja Canai selalu menawarkan perempuan Canai agar dinikahi oleh Garret, tetapi anak angkatnya itu selalu menolak, selalu saja ingin menikahi sesama manusia sesuai dengan jari dirinya dulu.


Setelah melakukan berbagai kunjungan dari Desa ke Desa, Raja Canai memanggil Garret ke dalam ruangannya. Garret duduk dengan wajah tertunduk, pria berbadan kekar itu memang sangat memiliki adab yang sangat tinggi, meskipun dia dulunya seorang prajurit yang tegas.


"Apa kesusahan mu saat ini?" tanya Raja Canai.


"Tidak ada yang mulia," sahutnya.


"Tidak ada yang mulia, saya hanya kecapekan," sahutnya berkelit lagi.


Raja Canai melirik ke permaisurinya, dia seolah memberikan isyarat agar suaminya jujur saja pada Garret.


"Apa Trisia selalu datang ke tempat mu?" tanya Raja Canai.


Garret mendongakkan wajahnya ke Raja Canai, ia terkejut karena Raja Canai mengetahui itu semua.


"Kami tidak melakukan apapun, tolong jangan hukum saya untuk menikahinya," ucap Garret.


Aturan Canai sangat ketat, bila mendapati pria dan wanita yang sering bersama tanpa ikatan pernikahan, maka mereka akan dinikahkan secara paksa. Garret tidak ingin menikahi wanita manapun lagi.


"Trisia itu keluarga dari permaisuri, kau harus menghargai dia, dia juga keluarga kerajaan," papar Raja Canai.

__ADS_1


Garret dihadapkan dengan pilihan yang sulit, ingin rasanya ia berkata agar Trisia saja yang berhenti mengusik hidupnya, kehadiran Trisia membuat Garret tidak nyaman. Garret tidak mau utang budinya ditukar oleh perasaannya cinta terhadap Trisia.


"Maaf yang mulia, aku .." Garret segan melanjutkan pembelaannya.


"Kau ingin dia berhenti menyukai mu?" tanya Permaisuri.


Garret tertunduk, dia tak sanggup menjawab itu, tak ingin melukai hati Trisia lebih dalam lagi. Permaisuri menghela nafas. Cara Garret menunduk sudah jawaban pasti bahwa Garret mengiyakan itu.


"Garret, perlakukan dia dengan baik, dia anak yatim piatu, orangtuanya musnah saat berperang seratus tahun yang lalu," jelas Permaisuri.


Garret hanya menganggukkan kepala, tak memberi jawab pasti, dia pikir urusan pribadinya tak boleh ada yang ikut campur selama ia tak melanggar aturan. Teguran Raja Canai dan Permaisuri membuat Garret akan semakin menjaga jarak dengan Trisia.


Di balik tirai, ada Trisia yang diam-diam menguping, dia yang meminta Permaisuri untuk menyudutkan Garret agar memperlakukan dirinya dengan baik. Namun tetap saja cara itu tak sesuai yang diharapkan, Garret tetap saja teguh untuk tidak ingin mencintai lagi setelah Aliza.


"Kamu benar-benar pria langka," gumam Aliza.


Garret keluar dari ruang kebesaran Raja Canai, dia memutuskan untuk kembali ke rumahnya. Di perjalanan, dia melihat ada dua sosok manusia yang sedang di tawan oleh beberapa prajurit kerajaan. Garret memberhentikan mobilnya. Doa menghampiri prajurit penjaga Gapura itu.


"Dia manusia lagi?" tanyanya.


"Mereka melanggar aturan Gapura, mereka adalah Mahasiswa yang berani melakukan eksperimen di Gapura," jawab penjaga Gapura itu.


Dua manusia itu hanya diam ketakutan, menyesali perbuatannya. Garret memikirkan cara agar menyelematkan kedua pemuda itu, setelah di bawa ke istana, tentu keduanya akan di hukum sesuai ketentuan yang berlaku di Canai.


"Bisakah berikan waktu mereka sebentar untuk menjelaskan? Aku akan menanganinya," pinta Garret.


Penjaga Gapura diam, mereka saling berpandangan untuk mengindahkan permintaan Garret.


"Saya juga bagian dari kerajaan, jadi sedikit berhak untuk mengintrogasi keduanya," sergah Garret.


Kedua pemuda itu di serahkan pada Garret, hati kemanusiaan Garret selalu terpanggil bila mendapatkan manusia yang tertangkap di Canai. Seberapa besar bagaimanapun kesalahan manusia itu, Garret pikir berhak untuk diperlakukan dengan baik sebelum menjalani hukuman.

__ADS_1


__ADS_2