Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 34


__ADS_3

Namun tiba-tiba bayangan wajah Aliza terlintas dimatanya, Garret tersadar mendorong keras tubuh Trisia, perempuan berambut coklat itu terjatuh, meringis kesakitan. Garret hanya terdiam melihatnya, dia memakai bergegas memakai bajunya kembali.


"Trisia, aku tegaskan, pergi dari rumahku, dan jangan coba kembali, kamu telah melanggar peraturan yang ada di Canai!"


Garret mengusir Trisia tanpa memikirkan siapa Trisia itu lagi.


Trisia membangunkan dirinya sendiri, dia memakai bajunya kembali dengan perasaan marah yang terpendam.


"Kau bisa menolakku, tapi aku pastikan kau tidak akan bahagia jika memperlakukan ku seperti ini!" Trisia memukul dada Garret lalu turun dari balkon itu.


Sejenak dia singgah di ruang tamu, memandangi foto Aliza yang terpampang besar.


"Kau manusia sialan! Aku sudah berjuang mati-matian menjadi figur untuk anakmu, tapi kau tak adapun kau masih menganggu pikiran dia!"


Trisia yang emosi melempar foto Aliza dengan vas bunga, kaca foto itu pecah berserakan. Setelah puas menghancurkan foto Aliza, dia keluar dari rumah Garret dengan setumpuk dendam.


Dari atas Garret melihat kepergian Trisia, dia mengusap wajahnya dengan kasar karena hampir saja lalai, melalaikan cinta sejatinya untuk Aliza seorang. Garret tidak peduli dengan tindakan Permaisuri terhadapnya, dia memiliki alasan tepat yaitu menjaga hatinya, itu hak asasi setiap penghuni Canai. Bahkan seorang Raja pun tak boleh mengganggu hak setiap Rakyatnya.


Saat Dominic turun mengunci pintu rumahnya, dia terkejut dengan foto Aliza yang hancur, Garret tahu itu ulah Trisia. Dia mengumpulkan pecahan itu, mengambil gambar Aliza.


"Kau tetap Ratu di rumah ini, Ratu di hatiku, Ratu di hati Dominic," ucapnya.


Garret berharap Bayu dan Arif dapat membuat Aliza kembali ke Desa Kunan, dia ingin melihat Aliza berdiri di Gapura, meskipun hanya melihatnya dari dimensi yang berbeda, cukup baginya dan Dominic mengobati kerinduannya pada Aliza.


****


Sore itu Arif sudah sampai di pelabuhan, mereka terpaksa meninggalkan Bayu karena informasi dari Bayu, dia akan berusaha mencari jalan sendiri untuk kembali ke Canai, Batu takut jika kehadiran Arif di rumahnya malah akan dikurung bersamanya.

__ADS_1


"Kita naik ojek, tapi tumben kok gak ada ojek, Kak?" tanya Arif.


Sudah sejam mereka di pelabuhan, tapi tak ada satupun ojek yang nampak lalu lalang. Ternyata hari itu hari Kamis, tak ada yang mau ngojek di hari keramat Desa Kunan.


"Kalau kita jalan kaki, emang kamu kuat, Rif?", tanya Aliza..


"Yang aku khawatirkan itu Kak Aliza, aku tiga tahun jadi pendaki Kak," shait Arif.


Keduanya pun memutuskan untuk jalan, jarak yang akan mereka tempuh sepanjang dua kilometer, sesekali mereka mampi untuk istirahat di bahwa rimbunnya pohon. Ada banyak rumah warga yang mereka lalui, namun tak ada satupun warga yang terlihat. Seperti keadaan-keadaan sebelumnya.


"Ini kayaknya udah termasuk penduduk Canai deh, Kak. Cuma mereka dibebaskan hidup di dunia kita," bisik Arif.


"Iya, Rif. Kata Garret begitu, mereka melanggar peraturan Canai sehingga di usir dari Canai, mereka hidup di dimensi dunia kita, tapi tidak terlihat," jelas Aliza sesuai apa yang diceritakan Garret padanya dulu.


Maghrib hampir tiba, penginapan Kakek Latua belum juga terlihat. Aliza khawatir jika mereka terjebak dalam kegelapan, sedangkan keduanya hanya membawa senter, tak sebanding dengan gelapnya Desa Kunan.


"Nggak, kita lanjut aja, ini keburu gelap," sahut Aliza was-was.


Mereka semakin mempercepat langkahnya, dari kejauhan mereka sudah melihat cahaya lampu minyak penginapan Kakek Latua, Aliza mengusap dadanya, lega karena telah melewati rintangan di Desa Kunan. Rumah Kakek Latua memang titik pusat keamanan di Desa Kunan.


Saat Kakek Latua keluar rumah, dia terkejut dengan kehadiran Aliza lagi di rumahnya, Kakek Latua bergegas menghampirinya.


"Kamu Mbak Aliza?" tanyanya memastikan.


"Iya, Kek."


Aliza pun diajak masuk ke penginapan, Nenek Satia menyambutnya dengan hangat. Aliza menceritakan awal mulanya tersesat di selamatkan oleh Garre lalu menikah, tak lupa dia menceritakan akhir dia sampai di penginapan Kakek Latua lagi.

__ADS_1


"Sedih sekali kamu, Nak .." Nenek Satia mengusap kepala Aliza.


Kakek Latua akan kembali untuk ke Gapura. Arif pun akan menjadi tamengnya. Ketika diberikan kamar masing-masing, Aliza kembali meminta di kamar nomor enam, kamar sebelumnya saat dia menginap bersama Sania. Aliza kembali mengingat momennya bersama Sania, sahabat paling bawelnya.


"Aku kangen banget sama kamu, Sania ..semoga kita dapat bertemu lagi," lirihnya.


Aliza pun melihat jendela yang terbuka lebar, dia mengingat saat pertama kali melihat Garret, di jendela itu, dia melihat Garret dari jauh sedang memperhatikannya. Wajah tampan Garret menyorotnya dengan tajam, tetapi saat itu Aliza malah ketakutan sehingga menutup jendela kamarnya.


"Andaikan kamu ada di sana lagi, melihatku, menantiku, ternyata kamu sudah tahu bahwa kita akan menikah," gumamnya.


Dia baru menyadari bahwa saat pertama kali menginjak Desa Kunan, Garret diam-diam mengikutinya dengan Sania. Hingga di penginapan pun Garret masih tetap mengawasinya, rupanya Garret sudah tahu Aliza adalah jodoh yang selalu terbayang di pelupuk matanya.


***


Mereka bersiap-siap untuk ke Gapura, sepagi itu Kakek Latua membawa beberapa kuncen yang juga temannya. Mereka akan mengkawal Aliza dan Arif hingga tiba di Gapura. Mereka takut jika ada jin lain yang malah mencoba mengelabuinya.


"Kalian jangan sampai melanggar dulu, nanti setelah saya berbicara dengan penjaga Gapura, barulah kalian bisa bertindak selanjutnya," kata Kakek Latua.


Setiba di Gapura, Kakek Latua dan beberapa kuncen lainnya memulai ritual, mereka berkomunikasi dengan penjaga Gapura yang tak terlihat itu. Aliza dan Arif cemas jika ada sesuatu buruk yang terjadi, mereka tahu tidak semudah itu pihak Gapura mengizinkan penghuninya menemui manusia di luar dimensi.


Kakek Latua keringat dingin, dari raut wajahnya terlihat sedang merasakan emosi dari energi Canai. Begitupula dengan kuncen lainnya, sampai pada akhirnya Kakek Latua membuka matanya, dia menghembuskan nafas panjang karena lega.


Aliza dan Arif menunggu Kakek Latua stabil terlebih dulu, mereka bum berani menanyakan perihal hasil mediasi dengan penjaga Gapura.


Sementara penjaga Gapura melaporkan itu kepada pihak kerajaan. Permaisuri yang mendengar itu diam-diam langsung mengutus pihak prajuritnya ke rumah Garret.


"Sampaikan ini secara diam-diam pada Garret, kalian tidak boleh ada yang tahu bahwa pesan ini dariku, sampaikan bahwa istrinya ada di Gapura," titah Permaisuri Canai.

__ADS_1


Dia merasakan bagaimana menjadi seorang istri, menjadi seorang Ibu, dia tahu perasaan Aliza yang cukup berat berpisah dari suami serta anaknya. Bahkan permaisuri diam-diam ke dunia Manusia hanya untuk mengirimkan gambar-gambar Garret dan Dominic saat Aliza menginap di hotel. Meskipun kelakuannya itu akan mengecewakan Trisia, tetapi dia pikir kebenaran adalah hal utama dipertahankan di kerajaan suaminya, tak ada yang boleh berpihak dengan keluarga manapun.


__ADS_2