
Trisia di obati oleh Kakek Latua, dia di bawa masuk ke dalam salah satu kamar penginapan. Aliza tetap ada di sampingnya, menunggu penjelasan Trisia yang menyebabkan dia dapat keluar dari dimensi Canai.
"Apakah kau bisa menjaganya Aliza? Kakek mau keluar dulu," pinta Kakek Latua.
Aliza mengiyakan, setelah Kakek Latua keluar dari kamar itu, Trisia membuka kedua matanya, dia sengaja meringis kesakitan ingin mengecoh Aliza.
"Pakai ini lagi, supaya lukanya tidak nyeri," kata Aliza. Dia menaruhkan ramuan dedaunan pada tangan Trisia.
Trisia memandangi Aliza secara seksama, 'Ternyata wanita ini yang membuat Garret tak dapat berpaling,' ucap Trisia dalam hati.
Kecantikan Trisia memanglah sebanding dengan Aliza, namun aura kecantikan hati Aliza lebih terpancar menyejukkan hati bila memandangnya. Trisia tak dapat berpikir saat itu, dia malah tertegun dengan cara Aliza menangani luka ditangannya.
"Kamu penghuni Canai, kenapa bisa keluar dari dimensi?" tanya Aliza membuka topik. Dia ingin berbagi cerita dengan Trisia.
"Aku sengaja ingin keluar untuk sekedar menikmati dunia manusia, tetapi aku malah di kejar binatang buas," jawab Trisia dengan kebohongannya.
Aliza menganggukkan kepala, dia masih sibuk memakaikan Trisia ramuan yang dibuat oleh Kakek Latua.
"Kamu hebat ya, bisa leluasa keluar masuk dai dimensi Canai, pasti kamu bukan orang sembarangan di Canai," kata Aliza menyindir halus Trisia.
Aliza merasa Canai tidak adil dengan beberapa penghuninya, sebab sebagian aturan itu hanya diberikan pada orang-orang tertentu saja. Trisia Tao menyangka secerdas itu Aliza menelaah semuanya, dia pun harus memutar rencana agar sandiwaranya lebih meyakinkan Aliza.
"Aku hanya memiliki satu kesempatan saja, tetapi ternyata tidak semudah yang aku bayangkan," ujar Trisia berkelit.
"Manfaatkan kesempatan ini sebaik-baiknya, karena ada penghuni lain yang ingin merasakan di posisi mu," ketus Aliza. Dia tahu perasaan Garret yang ingin berlama-lama dengannya, tetapi aturan Canai begitu ketat bagi hubungan mereka berdua.
Aliza ingin keluar dari kamar itu, tetapi di halau oleh Trisia. Dia mengatakan takut bila berada di ruangan itu seorang diri.
"Kamu takut? Kamu ini bangsa jin," sergah Aliza.
__ADS_1
Bukan tak ingin menemani Trisia, tetapi Aliza memiliki firasat tidak enak yang berhubungan dengan wanita muda dihadapannya. Namun tetap saja Trisia memaksa, dia memperlihatkan mimik dan suara yang ketakutan.
"Baiklah, aku temani kamu," Aliza mengalah.
Dia kembali duduk di samping Trisia. Melihat luka Trsia yang masih mengeluarkan darah hijau. Baru kali ini dia melihat darah penghuni Canai, ternyata warnanya berbeda dengan darah manusia yang berwarna merah.
"Aku takut jika terlalu lama di dunia manusia, aku ingin kembali ke Canai," kata Trisia.
Aliza mengerutkan alisnya, "Secepat itu kau ingin masuk ke Canai? Apa tidak terlalu gegabah? Ini hanya kesempatan sekali," tanyanya.
Trisia tidak akan membuang waktu lama, dia harus memanfaatkan kelengahan para penjaga gapura. Trisia berinisiatif meminta bantuan kepada Aliza. Dia berbisik agar keinginannya tak di dengar oleh Kakek Latua dan Nenek Satia. Cukup lama Aliza terdiam, keinginan Trisia cukup menguntungkannya, tetapi ada kegelisahan yang ia rasakan bila berbicara dengan Trisia. Seolah kata hati Aliza sudah tahu rencana jahat Trisia terhadapnya.
"Aku akan membantu kamu, tapi aku meminta izin terlebih dulu dengan Kakek Latua,".ucap Aliza.
Tetapi Trisia langsung mencegahnya, "Jangan, biarkan kita pergi bersama saja," kata Trisia.
Lagi-lagi hati nurani Aliza tersentuh, dia mengiyakan permintaan Trisia, dia pikir mungkin gadis itu memiliki alasan baik agar kepergiannya tak diketahui Kakek Latua dan Nenek Satia. Trisia mengajak Aliza menuju ke hutan Canai, ada banyak cerita yang Trisia lontarkan agar menjalin keakraban dengan istri Garret itu.
Trisia terhenti, dia memandangi Aliza dengan wajah sendu.
"Aku tidak tahu, aku terlalu rajut masuk kembali, aku butuh bantuan kamu, Kak .." pinta Trisia dengan segala rencana jahatnya.
Aliza berbaik hati mengiyakan itu lagi, dia tak ingin setengah-setengah ketika menolong. Trisia mengajak Aliza ke gapura, setelah tiba di pintu gerbang dimensi itu, Trisia bersiul berulang kali. Aliza hanya berdiam diri dibelakangnya.
"Kak kita masuk ke Candi bersama-sama, nanti kita kembali lagi," bisik Trisia.
Mendengar itu Aliza seketika panik, bukan tak ingin masuk dimensi Canai, tetapi aturan di Canai sangat ketat, sangat membahayakan dirinya bila ikut masuk tanpa izin dari pihak kerajaan. Dia tak ingin menyulitkan Garret dalam hal ini.
"Tidak, aku tidak mau, kamu saja yang kembali ke Canai," ucapnya menolak.
__ADS_1
"Kak, aku butuh bantuan Kak Aliza, lagipula Kakak juga 'kan memiliki anak dan suami di Canai, ayo .." Trisia memaksanya. Tangan Aliza di genggam erat.
Aliza tetap menolak, dia memukul-mukul tangan Trisia agar melepaskan genggamannya.
"Lepaskan aku, di dalam sangat berbahaya pada manusia yang tidak diizinkan masuk, aku masih ingin hidup untuk suami dan anakku," pinta Aliza memohon. Dia memberontak ingin pergi dari hutan Canai.
Pintu dimensi terbuka lebar, beberapa anak buah Trisia keluar dari dimensi Canai. Para penjaga Canai terkejut dengan aksi gila yang dilakukan Trisia terhadap istri Garret. Kedua tangan Aliza di ikat, Trisia yang tak ingin rahasianya terbongkar meneriaki para penjaga Canai.
"Ini perintah dari permaisuri, kalian telah melanggar aturan permaisuri mempertemukan Garret dengan wanita ini lagi, kalian akan di hukum bila menyebar luaskan dan menentang aturan permaisuri Raja," kata Trisia memperingatkan.
Para anak buah Trisia membawa Aliza masuk ke dimensi Canai. Untuk meyakinkan dirinya lagi perbuatan aman dari publik Canai, Trisia menemui kepala penjaga Canai.
"Apa yang telah kau lakukan, Trisia?!" tanya kepa penjaga itu.
Trisia tersenyum miring, obsesi cintanya terhadap Garret telah membutakan mata hatinya.
"Rahasia mu telah aku ketahui, jika kau menginginkan jabatanmu aman, tutuplah mulut mu itu," kata Trisia.
Kepala penjaga mengepalkan tangan, dia menahan diri untuk tidak murka terhadap gadis yang kurang ajar itu, selama ini dirinya selalu dihormati sebagai kepala penjaga, tetapi dengan sikap Trisia wibawanya runtuh.
"Lebih baik diam daripada kau terlibat, wanita itu hanya akan menjalani hukuman pasung dari permaisuri, dia akan dipenjara tanpa sepengetahuan siapapun, termasuk Garret," papar Trisia.
Aliza di bawa ke penjara Istana, Trisia mengikuti dari arah belakang, para penjaga penjara istana tidak mengetahui bahwa wanita di dala karung itu adalah istri dari Garret, Menteri perdagangan.
"Ini manusia?" tanya kepala penjara itu.
"Dia salah satu tawanan permaisuri, kata Nona Trisia, wanita ini melakukan kesalahan di pintu dimensi," sahut Naka buah Trisia.
Para penjaga penjara Canai percaya itu, dipikiran mereka tak ada kecurigaan sedikitpun tentang manipulasi Trisia yang mengatasnamakan Permaisuri Canai. Aliza masih pingsang, kakinya dirantai agar hanya dapat bergerak disekitar ruangan sempit itu saja.
__ADS_1
"Selesai sudah, kau tidak akan bisa menemui Garret dan Dominic di gapura lagi hahahah," ucap Trisia yang puas melihat keadaan Aliza begitu menyedihkan.