Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 39


__ADS_3

Trisia berjalan menelusuri lorong penjara kerajaan, bersama kedua anak buahnya dia ingin menemui Aliza. Dia berjalan dengan sombongnya melewati para penjaga penjara yang memberi hormat padanya. Mereka turun dipenjara bawah tanah yang teramat rahasia, penjara yang hanya dikhususkan bagi orang yang bersalah. Hanya beberapa manusia yang dapat hidup panjang di penjara bawah tanah itu.


Terlihat ruang sel Aliza dari jauh, perempuan berambut panjang itu masih tak sadarkan diri, Trisia tersenyum miring, dia seember air dari anak buahnya.


Srrrrhhhh!


Dengan teganya, Trisia menyirami Aliza dengan seember air. Ibu Dominic itu tersadar, melihat ruangan disekelilingnya, kemudian tertuju pada Trisia yang berdiri di luar sel, gadis itu menyilangkan kedua tangannya seraya melemparkan senyuman kepada Aliza.


"Kau kaget?" tanya Trisia.


"Kau perlu penjelasan?" lanjutnya lagi.


Aliza tak bergeming, saat itu dia hanya ingin memahami maksud dari gadis yang sudah ia tolong itu. Trisia melangkah lebih mendekat ke jeruji Aliza.


"Kau tidak ingin tahu siapa aku?" tanya Trisia.


.


"Aku tahu, kamu mahluk yang licik!" Aliza menyahut.


Trisia tertawa terbahak-bahak, suaranya menggelegar di penjara bahwa tanah. Mengejek Aliza karena kepolosannya sebagai manusia.


"Manusia memang terlalu bodoh untuk mahluk seperti kami," ujar Trisia.


Aliza tak menyesali perbuatannya, dia telah berniat baik ingin membantu Trisia, meskipun bantuannya hanya dijadikan sarana kejahatan oleh Trisia.


"Kau tahu siapa aku?" tanya Trisia lagi.


Sampai saat itu Aliza tidak mengetahui siapa Trisia sebenarnya, Trisia memperkenalkan dirinya sebagai Emerald.


"Aku Trisia," ucapnya kembali.


Deg!


Nama itu tidak asing di telinga Aliza, dia ingat Dominic pernah menceritakan sosok wanita yang selalu mengunjungi mereka. Dominic menceritakan Trisia teman Ayahnya.

__ADS_1


"Kau melakukan ini karena menginginkan suamiku?" tanya Aliza menebak.


Trisia sakit hati mendengar Aliza meyebut Garret sebagai suaminya, dia melipat bibir menahan kecemburuannya. Mendengar Aliza menyebut Garret suaminya saja dia terbakar api cemburu, terlebih lagi bila melihat kebersamaan Aliza dengan Garret, dia tidak dapat membayangkan betapa hancur harapannya.


"Itu tidak akan lama lagi, kau akan mati perlahan disini," kata Trisia.


Aliza tersenyum, dia yakin bahwa akan bersatu kembali dengan suami dan anaknya. Apapun rintangannya, semua akan dilalui secara bertahap.


"Apa sulitnya kau mencari pria lain, kenapa menginginkan milik orang lain, sedang yang ingin kau miliki tak menginginkan mu?" Aliza membalasnya. Trisia semakin sakit hati, dia ingin memberi pelajaran kepada Aliza, tetapi di cegah oleh anak buahnya.


"Jangan, Nona. Aturan penjara tidak ada yang boleh menyiksa tahanan tanpa melakukan kesalahan yang menyangkut Canai," ucap anak buahnya memeringati.


Trisia menepis tangannya, kali ini dia menahan diri lagi. Matanya mengisyaratkan penuh dendam kepada Aliza.


"Tunggu saja, kau akan perlahan mati disini, ****!"


Trisia kembali lagi naik ke atas istana bersama anak buahnya, meninggalkan Aliza seorang diri bersama tikus-tikus yang lalu lalang. Air mata Aliza bercucuran, begitu sulit ujian pernikahannya dengan Garret, menggapai kebahagiaan hakiki tenyata tidak mudah.


"Bisakah kau mendengar kata hatiku? Aku sudah ada di Canai, tolong cari aku Garret .." lirihnya.


***


Dominic dan Garret tiba di pintu dimensi, dari jauh dia belum ada Aliza menunggunya di gapura. Para penjaga semuanya mengunci mulut, tak ada yang berani mengatakan perihal kebenaran itu kepada Garret.


"Ibu belum ada Ayah," ujar Dominic.


"Kita tunggu saja, mungkin Ibu lambat datang," sahut Garret.


Dominic duduk di bangku, sementara Garret ke pos penjagaan. Dia ingin banyak mengobrol-ngobrol dengan kepala penjaga. Namun kepala penjaga itu malah deg-degan, dia takut jika Garret sampai tahu hal yang mereka sembunyikan.


"Apa istriku belum pernah datang di pagi ini?" tanya Garret.


Bola mata birunya memandang kepala penjaga dengan serius. Kepala penjaga itu gelagapan, tidak seperti biasanya dia yang selalu berucap tegas.


"Pak? Ada terjadi sesuatu?" tanya Garret.

__ADS_1


"Ti-tidak Garret, tidak ada yang terjadi, istri mu bum datang saja," sahut kepala penjaga gapura.


Garret angguk-angguk kepala, dia mengalihkan pembicaraan tentang kehidupan Canai harus memiliki tujuan baru untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Selama Garret membicarakan aspirasinya, kepala penjaga hanya memikirkan nasib Aliza, ingin rasanya mengatakan pada Garret, tetapi di sisi lain, jabatannya akan terancam.


Dua jam berselang, Dominic lelah menunggu, dia berlari ke arah Ayahnya.


"Kenapa Ibu belum datang sih," protes Dominic.


Garret menghampiri anaknya, para penjaga di sekitar mereka hanya sesaat saling berpandangan, mereka tahu isi hati masing-masing, kebohongan mereka melukai hati anak kecil itu.


"Mungkin Ibu ada halangan, jadi kamu mau tetap menunggu atau kita pulang saja?" tanya Garret.


Dominic kesal, dia memasang wajah cemberut, padahal semalaman dia membuatkan Ibunya kalung permata. Susah payah ia mendesainnya sendiri, Ayahnya hanya mengarahkannya cara menggunakan mesin.


"Kita tunggu lagi, Ayah .." sahut Dominic. Dia memutuskan untuk menunggu Ibunya lagi. Memilih duduk di bangku sembari menghitung detik jam tangannya.


Perasaan Garret gelisah, dia sudah sangat mengenali istrinya, Aliza akan menepati setiap janjinya, terlebih lagi itu kepada Dominic, namun sampai saat itu Aliza belum kunjung datang ke gapura. Garret merasa sudah ada yang aneh.


"Sepertinya telah terjadi sesuatu lagi," gumam Garret.


Garret melihat di sekelilingnya, para penjaga semua terdiam, tak seperti biasanya mereka mengobrol banyak satu sama lain. Garret tak ingin gegabah mengambil kesimpulan, dia akan tetap menanti Aliza.


Sejam berselang, waktu pertemuan mereka hampir habis, Dominic menggerutu, bahkan dia berteriak memanggil nama Ibunya.


"Sudahlah Dominic, kita pulang Nak ..mungkin Ibu sedang tidak enak badan, tidak bisa melewati hutan Canai sendiri, besok saja ya," ucap Garret menenangkan anaknya. Walaupun dia juga turut kecewa karena tak dapat bertemu istrinya hari itu.


Garret pamit ke kepala penjaga, dia meminta agar kepala penjaga memberitahu Aliza Bhawa dia dan Dominic telah pulang.


"Jika istriku datang, tolong beritahu, ii.sufah pulang esok saja dia harus pagi-pagi bertemu Dominic" pinta Garret.


"Iya, akan saya sampaikan," sahut kepala penjaga itu.


Dominic masuk ke dalam mobil sambil marah-marah, bukan marah pada Ibunya, tetapi keadaan dirinya dengan anak yang lain sangat berbeda. Ingin bertemu Ibunya saja begitu sulit, sedangkan teman-temannya yang lain tinggal bersama Ibunya.


Setelah kepergian Garret, kepala penjaga bernafas lega, namun ia tak tahu sampai kapan dapat menyimpan rahasia Trisia itu.

__ADS_1


"Maafkan aku Garret, aku sudah munafik .." gumamnya.


__ADS_2