
Salah satu anak buah Trisia itu malah menciumi pipi Aliza, caranya itu agar membuat gadis itu lebih marah. Aliza yang dilecehkan mengumpat, dia memberontak dengan melempar gelas ke arah anak buah Trisia.
"Akan ku pastikan, suamiku akan membunuh kalian!"
Kedua pria berbadan kekar itu malah tertawa, menganggap perkataan Aliza hanya lelucon.
"Kalau begitu, panggil suamimu, apa dia bisa menyelamatkan saat ini? Hmm?"
"Aku yakin, dia akan tahu aku ada disini, suamiku akan menghukum kalian juga Trisia!"
Anak buah Trisia tak ingin berdebat lama dengan Aliza, mereka mulai menggambar di tembok, gambar yang sesuai dengan yang diminta oleh Trisia. Semakin lama, gambar itu membuat Aliza tercengang, gambar yang sangat tidak layak dilihat bagi seorang perempuan sepertinya.
"Selesai juga, ayo kita pergi dari sini," kata salah satu dari pria itu.
Aliza terdiam, dia memperhatikan gambar itu dengan seksama, sebelumnya dia belum pernah mengenali sosok wanita di gambar itu. Aliza belum mengerti maksud anak buah Trisia menggambar sosok perempuan tanpa sehelai kain di dinding selnya.
Trisia menunggu di restoran istana, dari jauh dia sudah melihat anak buahnya berjalan ke arahnya. Senyum tipis dilayangkan Trisia, dia tahu tugas anak buahnya sudah berhasil mereka lakukan.
"Sudah beres, Bos."
"Kita tunggu untuk sementara waktu, biarkan penjaga bawah tanah yang menemukan gambar itu," sahut Trisia. Dia ingin bersantai sebelum melakukan sandiwaranya lagi.
Ada mobil Garret masuk ke dalam halaman istana, minuman yang ada di mulut Trisia menyembur karena terkejut. Matanya terbelalak dengan kehadiran Garret juga di istana. Trisia tak sampai kepikiran bahwa Garret mungkin saja memiliki agenda berkunjung ke istana hari itu.
"Sial! Ada Garret juga di sini," gerutu Trisia.
Anak buahnya juga ikut panik, mereka sempat mengingat peringatan Aliza kepadanya, bahwa Garrett akan menghukum mereka, Garret akan datang menyelamatkannya.
__ADS_1
"Bos, bagaimana ini? Kami takut jika rencana kita malah ketahuan oleh Garret," ujar pria itu.
Trisia berdiri dari tempat duduknya, dia sangat terlihat panik, bahkan tak sengaja menyenggol gelas minumannya sendiri. Garret terlihat berjalan di lorong istana, ia menuju ke ruang Raja Canai. Trisia merasa sesak nafas, dia takut jika penjaga penjara melihat gambar itu lalu melaporkannya kepada Raja, namun saat itu ada Garret, tentu Garret akan menemukan Aliza lalu membelanya.
"Bos, kami tidak mau kena hukuman," ucap kedua anak buahnya.
"Diam bodoh!"
Trisia berpikir sejenak lalu menemukan cara lain lagi, "Imu aku," pintanya.
Trisia mengajak kedua anak buahnya kembali ke penjara bawah tanah, mereka mengendap-endap agar kepanikan mereka tak terbaca oleh penjaga penjara. Setelah tiba di sel Aliza, mereka duduk untuk sementara waktu, mereka akan melakukan penghapusan gambar bila keadaannya makin terdesak.
Aliza yang berada di dalam sel hanya diam mengamati gelagat Trisia dan anak buahnya. Trisia menatap tajam Aliza dari jauh, kebenciannya kian membuncah terhadap istri Garret itu. Dia menganggap Aliza tidak seharusnya dulu masuk ke dimensi Negeri Canai sehingga tak dapat bertemu dengan Garret.
"Aku akan meracuni mu diam-diam jika sudah tiba waktunya," gumam Trisia.
"Kau kenapa Garret?" taya Raja Canai.
Garret membuyarkan lamunannya, para menteri lain mengerti kondisi Garrett, mereka semuanya menyemangati Ayah satu anak itu.
"Kau memiliki usulan?" tanya Raja Canai.
Garret menarik nafas panjang, dia berdiri untuk mengajukan usulannya. Ada banyak penghuni Canai yang mengeluh tentang hal itu, salah satunya ialah dirinya sendiri. Keluhan- keluhan Dati beberapa penghuni Canai yang ua kumpulkan untuk disampaikan kepada Raja Canai.
"Izinkan saya mengajukan aspirasi masyarakat di Canai yang mulia, ini ada beberapa video yang mereka ingin yang mulia lihat," ucap Garret.
Garret memutar video mayarakat Canai di layar besar, masyarakat Canai saat itu mengatakan, Apa gunanya mereka dinikahkan dengan manusia bila pada akhirnya mereka dipisahkan oleh aturan Canai, justru manusialah yang merasa beruntung karena telah menemukan kebahagiaan sesaat dari Canai, tetapi bila sudah pergi, masyarakat Canai menderita karena telah kehilangan pasangan.
__ADS_1
Mereka juga mengatakan bahwa aturan Cabai teramat berat, mereka juga ingin menikmati kehidupan bebas layaknya penghuni dimensi Uwentira, Wandara, dan Sarajana, ketiga Negeri jin itu membebaskan para penghuninya untuk melakukan hal positif yang berhubungan dengan dimensi manusia. Tidak seperti Canai yang sangat ketat bahkan penghuninya tidak memiliki hak-hak yang dapat mensejahterakan mereka.
Raja Canai tertampar dengan aspirasi Rakyatnya, baru kali ini Raja mendengar hal itu. Selama ini dia pikir Rakyatnya bahagia dan sejahtera dibawah kepemimpinannya, ternyata dia tak sehebat yang dipikirkan olehnya. Bisa saja para Rakyatnya bangga memiliki Raja seperti dirinya, ternyata bayangannya salah, batin Raja Canai.
"Maaf yang mulia, saya hanya bisa menyampaikan ini, terimakasih atas waktunya," ucap Garret yang kembali duduk di jajaran kursi para menteri.
Raja Canai menutup pertemuan itu, dia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun untuk menanggapi video dari Rakyatnya. Tangan Garret basah, tegang karena baru kali ini ada menteri yang berani menyampaikan hal itu kepada Raja Canai.
"Setidaknya kamu telah berusaha Garret, kamu pria pemberani," ucap salah satu menteri itu sembari menepuk-nepuk pundak Garret.
Dari atas kaca jendela, Garret melihat beberapa prajurit berlarian ke lokasi penjara, namun perhatiannya segera teralihkan karena rapat itu dilanjutkan oleh mereka. Keributan di lokasi penjara terdengar oleh mereka.
"Pasti ada salah satu tahanan istana yang membuat keributan lagi," ketus salah satu menteri itu.
Benar saja, Trisia dan Aliza saat itu sedang bertengkar hebat, Aliza kehilangan kesabaran karena Trisia selalu saja berkata kotor terhadapnya. Meskipun dengan kaki satunya di rantai, Aliza melukai Trisia dengan menarik rambutnya hingga sebagian tercabut. Kepala Trisia merah bahkan mengeluarkan darah di bekas cabutan rambutnya, dia merintih kesakitan, sementara kedua anak buahnya sudah mencambuk Aliza tanpa henti.
"Cambuk dia, huhuh brengsek! Sakit Mama .." keluh Trisia menahan ngilu di kepalanya.
Para prajurit istana datang merelai kegaduhan itu. Mereka mengecam perbuatan kedua anak buah Trisia.
"Kalian berdua tidak berhak menyiksa tahanan!" Salah satu prajurit itu memberikan peringatan.
Seluruh tubuh Aliza memerah karena bekas cambukan, teramat kesakitan, bahkan untuk mengeluarkan suara pun Aliza tak sanggup lagi. Dia hanya berbaring di lantai menyebut dalam hati nama Garret dan Dominic.
"Kalian pergi dari sini!" Prajurit itu mengusir anak buah Trisia.
Sementara Trisia masih tersungkur di lantai menahan sakit di kepalanya.
__ADS_1