Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 58


__ADS_3

Tetap saja istri Tuan Paul enggan menjelaskan perihal kejahatan suaminya, nampaknya dia akan tetap membungkam mulutnya walaupun akan disiksa. Kenras tak habis pikir, keberanian keluarga Tuan Paul luar biasa, hanya yang memiliki kemampuan khusus berani menentang kerajaan, dan itu ternyata Tuan Paul.


"Siksa mereka," pinta Kenras kepada pihak penjaga Algojo.


Kenras keluar dari tahanan itu, suara istri dan anak Tuan Paul menggelegar karena kesakitan. Dia berharap ketiganta dapat mengakui kesalahan lalu menceritakan sejujurnya, apa saja hanya dilakukan Tuan Paul selama menjabat sebagai kepala penjaga gapura.


Berjalan menuju ke Istana, rombongan Kenras berpapasan dengan rombongan pelayan istana bersama Ifa. Sesaat mereka saling berpandangan, Ifa merunduk memberi penghormatan, meskipun ia termasuk keluarga kerajaan, tetapi bagi Ifa dia berhak menghormati para pengawal pribadi Kakak iparnya.


"Jangan lagi seperti itu, Nona. Seharusnya saya yang memberi hormat," ujar Kenras.


Ifa hanya membalas senyuman lalu berlalu bersama kelima pelayan. Kenras memegang dadanya, selain merasa bersalah karena menerim penghormatan, senyuman Ifa juga mengubah suasana perasaannya.


"Jangan sampai Raja tau hal ini, aku bisa malu," ucapnya pada pengawal lain.


Pengawal lain itu hanya tersenyum kecil, mereka tahu Kenras sedang kasmaran kepada adik ipar Raja Garret.


"Tidak apa, itu persoalan hati, tetapi fokus dulu membantu yang mulia Raja menemukan Permaisurinya," timpal salah satu pengawal itu.


Kenras malu, ia melanjutkan perjalanan menuju ke ruang pribadi Raja. Ia akan mencari jejak Tuan Paul ke piggiran kota yang terdapat hutan pinus. Terakhir agenda Tuan Paul yang ada dilayar laptopnya adalah hutan Pinus perbatasan antara wandara dan Canai. Wandara dimensi kerajaan ini yang di pimpin oleh Raja tampan pula bernama Arlesa.


"Kami berpikir jika Tuan Paul akan masuk ke Wandara atau Sarajana," kata Kenras menebak.


"Dia tidak akan bisa masuk ke dimensi Wandara, negeri jin Wandara lebih ketat daripada kita, Raja Arlesa juga pemimpin tegas," sahut Garret. Di sbelum pernah bertemu dengan Raja Arlesa pemimpin kerajaan Wandara, berada di Sulawesi Tengah, dan Raja Sean pemimpin Sarajana, berada di Kalimantan Selatan.


Kenras percaya itu, "Berarti Taun Paul masih ada di sekitar Canai," lirihnya.


Garret menatap Kenras, "Tentu, jika sulit ditemukan, berarti dia tidak menopang dirinya sendiri, ada seseorang yang mencoba melindunginya."


Kenras mengangguk, ia mengerti yang dimaksud oleh Raja Garret. Sejenak mereka berdua saling berbisik, tak memberikan celah pengawal lain mendengar percakapan mereka. Setelah itu Raja Garret meminta penasehatnya masuk ke ruangan.

__ADS_1


"Ada apa yang mulia?" tanyanya.


"Rombak semua tatanan kabinet, kita akan memulainya dari awal, suka tidak suka, ini keputusan ku, dan jika ada yang membantahnya, maka akan dijatuhi hukuman." Garret bertindak tegas untuk menjadikan kerajaan Canai lebih damai lagi, tentram dari tikus berkepala kelinci.


Garret yang cerdas tahu cara agar para penghianat itu menampakkan dirinya. Mereka akan memunculkan dirinya dengan memberontak dengan keputusan Raja Garret.


"Lakukanlah, aku ingin pamit untuk menemani Dominic," ujar Garret kepada Kentas dan Penasehat kerajaan.


Garret tak ingin di kawal secara dekat, kali ini Garret hanya di pantau dari kejauhan. Dia berjalan menuju kamar Dominic, saat itu putranya berada di dalam kamar. Dominic berbarin menikmati alunan music.


"Ayah masuk," kata Garret tanpa menunggu persetujuan dari anaknya.


Dominic hanya menyahut dengan berdehem, putranya itu memang memiliki pribadi yang dingin dan tertutup, sulit menembus keakraban dengan Dominic, sebab dia trauma kehilangan Ibunya sejak kecil.


"Kau tidak latihan kuda?" tanya Ayahnya.


"Aku sudah kemarin, hari ini menikmati istirahat saja, Ayah.." Garret mengangguk, dia melirik ke samping Dominic, seharusnya saat itu ada Aliza yang juga menyapa putranya.


"Ayah.. Jangan bersedih seperti itu." Dominic mengusap pundak Ayahnya.


Sembari sesenggukan Garret berucap, "Ayah gagal membahagiakan kalian, Ayah gagal menjaga Ibumu, Ayah dapat meminpin perusahaan besar, tapi Ayah gagal melindungi keluarga kecil."


Dominic yang tadinya bersedih ikut menguatkan Ayahnya, dia memeluk Ayahnya seraya mengucapkan kata-kata penenang.


"Ayah gagal Dominic, Ayah tidak bisa melindungi Ibumu, Ayah tidak tahu apakah dia baik-baik saja sekarang? Ibumu sudah banyak berkorban untuk Ayah," lirih Garret.


Bila mengingat cerita Ifa tentang perjuangan Aliza untuk kembali ke Canai, Garret diliputi kesedihan. Sedalam itu perjuangan Aliza hingga memberanikan diri menembus hutan Canai lagi.


"Ayah, Ayah yang luar biasa, setia pada Ibu, sejak kecil merawat aku dengan baik, maafkan aku yang selalu mengeluh Ayah.." Ucap Dominic. Anak berperawakan 13 tahun itu teramat dewasa menanggapi kesedihan Ayahnya.

__ADS_1


Garret tetap saja menutupi wajahnya, suara sesenggukan menangis masih terdengar, Dominic tahu bagaimana Ayahnya berusaha terlihat kuat, tetapi pria juga memiliki batas kekuatan, ada kalanya butuh penenang dengan segala problematika menimpanya.


"Ayah hanya rindu, khawatir, Ibumu wanita polos, Ayah takut jika dia dimanfaatkan," kata Garret.


"Tapi sampai saat ini Ayah belum merasakan apa-ap 'kan?"


Garret mengingat momen dirinya belakangan ini,


"Hanya sekali, dibagian kepala Ayah teramat sakit, tapi hanya bagian kepala, itulah mengapa Ayah khawatir."


Garret dapat merasakan sakit yang Aliza juga rasakan, sebab jiwa jin mereka telah menyatu sewaktu dinikahkan oleh sesepuh di Canai.


Dominic menggela nafas, dia juga khawatir dengan Ibunya, tapi tidak untuk ditunjukkan kepada Ayahnya.


Setelah Ayahnya lebih tenang, Dominic mengutarakan untuk membuat pesta keluarga kerajaan, itu menyambut kedatangan Ifa dan Ita, Dominic berharap dengan kehadiran kakak beradik itu di TV, Ibunya dapat ditemukan.


"Bolehkah?" tanya Dominic meminta izin kepada Ayahnya.


"Sejak kapan kau menyukai pesta?"


"Aku hanya ingin menghilangkan rasa sepi Ayah, penyambutan Bibi Ifa dan Ita."


"Baiklah putraku, kau katakan ini pada pihak penyelenggara, buat seperti yang kau mau, dan undang orang-orang terpenting saja," ujar Garret.


Malam itu berita undangan pesta kerajaan masuk ke email khusus orang-orang penting di Canai, undangan itu juga masuk ke e-mail dokter Khael. Khael tersenyum karena Garret teramat memperhatikannya sebagai teman lama. Saat itu ada Aliza yang berbaring di ranjang, Khael sedang mengajaknya mengobrol santai.


"Ku harap kau bisa cepat sembuh, aku akan mengajak mu ke suatu tempat," ujar Khael.


Aliza hanya tersenyum tipis, perasaannya gelisah, di hadapan pria tampan itu ia tak menemukan ketenangan jiwa. Sementara Khael menyiapkan kotak cingin di tangannya. Dia ingin bergerak cepat untuk mengikat Aliza sebagai tunangan.

__ADS_1


"Miracle, untuk saat ini aku ingin mengikat mu sebagai tunangan, aku akan melamar ku secara pribadi, setelah itu aku akan mengumumkan pertunangan kita di hadapan para pekerja rumah sakit sakit dan kolega ku, aku harap kamu bisa menerima cincin ini terlebih dulu.."


Aliza diam mematung, menatap kosong cincin dipegang oleh Khael.


__ADS_2