
Bu Sarmi kesal dengan jawaban Aliza, berprasangka bahwa Aliza tak memiliki empati terhadap Sania. Surat Sania di rampas kasar oleh Bu Sarmi, merasa salah langkah karena meminta bantuan pada Aliza.
"Tante, sampai kapanpun Sania tidak akan kembali," kata Aliza. Berat mengatakan itu, namun dia tak ingin Bu Sarmi hidup dalam pengharapan yang tak pasti.
Bu Sarmi berdiri dari tempat duduknya, "Jika tak berniat membantu, jangan patahkan semangat saya mencari Sania."
Bu Sarmi keluar dari rumah Aliza, dia membawa kekesalan pada sahabat anaknya itu. Harapannya agar Aliza dapat menjelaskan keberadaan Sania secara jelas, namun Aliza tetap saja menutup rapat rahasia dimensi jin itu.
Aliza turut ke teras, hanya berdiam diri memandangi mobil Bu Sarmi keluar dari halaman rumahnya. Ia menghela nafas, berharap Bu Sarmi akan segera mengerti dengan yang dijelaskan tadi.
"Masa anak itu bilang Sania sudah meninggal? Lah, ini 'kan surat dari anakku," kata Bu Sarmi ngedumel di dalam mobil.
"Sabar, Bu. Kita cari solusi supaya Non Sania dapat kembali," sahut Sopirnya. Dia sudah curiga bahwa anak majikannya telah hidup di dimensi jin.
Aliza ingin kembali masuk ke kamarnya, Ifa dan Ita saat itu mencegat, mereka tak ingin Kakaknya berlarut-larut dalam kesedihan. Ifa mencoba menggali kesusahan Aliza agar berbagi kesedihan dengannya.
"Kak, jangan hidup kayak gini terus, Kak Garret juga akan sedih kalau kakak tidak memiliki semangat hidup," tutur Ifa.
Aliza menatap nanar, lagi-lagi air matanya tak dapat dibendung, meluapkan kesedihan dihadapan kedua adiknya. Dia pikir, berbagi kesedihan pun tak ada gunanya, sakit rindunya hanya terobati dengan kehadiran Garret dan Dominic.
"Kalian tidak akan bisa ngerti, hidup kakak sudah hampa," kata Aliza.
"Kakak masih muda, masa depan Kakak masih panjang, Ibu akan sedih liat kakak kayak gini," Iya menambahkan.
Ifa saat itu mencium tangan Kakaknya, memohon dengan sangat agar Aliza bangkit dari keterpurukan. Dia ingin Kakaknya menjalani kehidupan normal seperti manusia pada umumnya. Namun permohonan adiknya tak mampu diindahkan olehnya, Aliza malah masuk ke kamar, mengabaikan kedua adiknya.
"Sampai kapanpun aku akan hidup dalam penyesalan," lirih Aliza pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Aliza kembali menutup gorden, mengunci rapat pintu kamarnya. Dia bersemayam dalam kegelapan, menghidupkan imajinasinya seolah ada Garret dan Dominic sedang ada di ruangan itu bersamanya.
Aliza bahkan berdialog sendiri, tersenyum sendiri melakukan adegan menggendong boneka, halusinasinya membawa dia di titik kebahagiaan karena melihat Garret dan Dominic di dekatnya.
"Kita akan jadi keluarga bahagia, sayang .." ucapnya pada bayangan Garret.
Ifa dan Ita duduk di sofa berdua, mereka mencari cara agar Kakaknya dapat kembali hidup normal.
"Jika Kakak begini terus, Kakak akan depresi berat dan bisa gila," kata Ita.
Ifa memijit kepalanya, dia udah kelimpungan memikirkan nasib Kakaknya.
"Satu-satunya ialah mempertemukan dia dengan Kak Garret dan anaknya," sahut Ifa.
"Kak, jangan terbawa suasana deh, itu gak mungkin, Kak Garret bukan hidup di luar negeri, dia hidup dimensi berbeda, sulit, dan gak mungkin, lebih baik kita perkenalkan Kak Aliza dengan cowok baru, kali aja dia bisa move on," jelas Ita.
***
Trisia menyediakan makan siang untuk Garret, selama sebulan ini dia mencurahkan kasih sayangnya untuk Garret dan Dominic, meskipun saat itu Garret hanya menanggapinya sebagai teman, namun Trisia tak patah semangat. Ambisinya memiliki Garret telah di tukar oleh ketulusan merawat Dominic. Anak Aliza itu sudah pandai berjalan, pertumbuhannya begtu pesat karena usia anak jin memang jauh berbeda dengan anak manusia.
"Kita makan siang, aku sudah menyiapkan," ucap Trisia, Garret saat itu baru saja pulang dari pabrik emasnya.
Dia melemparkan senyuman pada Trisia, sejenak dia berkhayal, andaikan saat itu Trisia adalah Aliza, dia akan menjadi pria yang paling bahagia di semesta ini.
"Hei, kok diam? Ayo, kita makan, biar aku yang pangku Dominic," ujar Trisia membuyarkan lamunannya.
Sesekali Trisia melirik ke Garret yang menikmati masakannya, dia berharap pengorbanannya dapat membuahkan hasil, Trisia ingin menjadi istri Garret juga sekaligus Ibu untuk Dominic, dia ingin menjadi alasan tepat agar Garret melupakan Aliza yang tak mungkin kembali lagi.
__ADS_1
"Apakah aku sudah pantas untuk jadi seorang istri?" tanya Trisia memancing Garret.
Garret tertegun, dia tersenyum lalu berkata, "Kamu wanita yang baik, tentu sudah pantas menjadi istri," jawab sekenanya.
Trisia perlahan mengangkat tangannya, dia menggenggam tangan Garret dengan lembut. Garret tetap saja menghindar, tak membalas sentuhan Trisia.
"Sampai kapanpun aku akan berusaha untuk pantas di mata mu," ujar Trisia. Lagi-lagi di kecewa dengan sikap Garret yang menghindarinya.
Garret tak berani memandang ke Trisia, dia tahu gadis cantik itu kecewa lagi dengan sikapnya. Garret pikir itu lebih baik, ketimbang harus memberikan harapan palsu ke Trisia. Ratu yang dapat bertahta di hatinya hanya Aliza seorang, sampai kapanpun dia tidak akan menggantikan Aliza dengan perempuan manapun.
"Garret, jangan merasa tidak nyaman, aku akan tetap disini, anggap saja tadi itu tidak pernah terjadi."
"Kamu wanita baik dan pantas dapat pria biak juga, di Canai banyak pria yang lajang," ujar Garret. Dia ingin Trisia mendapatkan yang terbaik, yang mencintai Trisia secara tulus.
Garret terburu-buru makan untuk ke suatu tempat, ada tugas kerajaan yang harus ia lakukan. Garret menitipkan Dominic ke pelayan Istana. Hari itu Garret diangkat sebagai salah satu bagian kerajaan Canai sebagai sosok yang berpengaruh.
Ada banyak Desa-desa yang akan ia kunjungi dengan Raja Canai. Setiap tahun, Raja Canai ingin mengontrol rakyatnya, seberapa banyak manusia yang sudah memutuskan untuk tinggal di dimensi Canai.
Garret melihat sosok perempuan yang berdiri menyambut kedatangan Raja Canai. Wajah perempuan itu tidak asing, foto-fotonya pernah terpampang di ponsel Aliza. Garret yakin, perempuan itu adalah Sania, sahabat Aliza yang juga hilang di dimensi Canai. Garret keluar dari rombongan kerajaan, dia menghampiri Rio dan Sania yang masih berdiri di barisan masyarakat Desa.
"Apa boleh kita bicara sebentar?" tanya Garret ke Sania dan Rio.
Rio mengiyakan permintaan Garret, mereka keluar dari kerumunan masyarakat Desa. Mereka duduk di warung terdekat.
"Kau bernama Sania?" tanya Garret.
Sania dan Rio terheran, untuk pertama kalinya ada yang mengetahui identitas asli Sania, padahal semenjak tinggal di Canai, Rio mengubah identitas Sania menjadi Lelita. Semua itu Rio lakukan agar istrinya menetap di Canai selamanya.
__ADS_1