Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 49


__ADS_3

Ifa dan Ita di biarkan di dalam penjara, mereka akan dibawa diam-diam ke luar daerah di tempat terpencil Canai sebagai pekerja di salah satu pusat perbelanjaan. Ifa dan Ita di naikan di kereta terbang. Dari atas, mereka menyaksikan kemegahan Canai, kendaraan canggih melintas rapi dengan jalurnya masing-masing. Di perjalanan mereka menuju ke pusat perbelanjaan, Ita dan Ifa melihat istana Megah kerajaan Canai memiliki seratus pilar emas dan perak.


"Ini bukan simulasi 'kan, Kak?" tanya Ita tidak yakin dengan kemegahan yang di lihat.


"Ini beneran, Dek. Ini adalah bagian universe yang tidak dapat dilihat secara langsung dari dunia kita, ternyata ada banyak misteri di semesta ini belum banyak manusia ketahui," sahut Ifa yang sangat menyukai ilmu filsafat.


Jajaran bangunan berlapis emas begitu kokoh, tatanan pemerintahan Canai apik, kemajuannya yang mungkin di peradaban dunia manusia di masa modern seolah abad-30.


Tiba di tujuan, Ifa dan Ita di turunkan dari kereta terbang, mereka di bawah ke asrama pekerja khusus wanita. Tak ada kata penolakan pada mereka, berharap dengan menjadi pekerja, mereka akan bertemu dengan Aliza dan Garret.


Ifa dan Ita diberikan kamar yang sama, mereka telah dilengkapi beberapa baju juga beberapa kebutuhan hidup. Bahkan tersedia alat kecantikan untuk menunjang pekerjaan mereka nantinya. Ada Ibu asrama bertubuh gempal yang menghampiri mereka, senyum ramah dilemparkan ke Ifa dan Ita.


"Kalian akan menjadi pekerja di pusat perbelanjaan besar di Kota ini, jika kalian berperilaku baik, kalian akan mendapatkan kebahagiaan," tutur kepala asrama itu. Dia wanita yang bertugas mengurus perempuan manusia yang terjebak di Canai.


"Iya, Bu. Kami mengerti," sahut Ifa. Ita saat itu tak ingin banyak bicara, takut jika perkataannya adalah sebuah pantangan di Canai.


Sebelum Ibu asrama itu pergi, Ifa dan Ita diberikan ponsel masing-masing, cukup diperlakukan istimewa, mungkinkah karena bentuk di hati mereka tak ada dendam ataupun niat buruk? Batin Ifa menilik. Bahkan di kamar asrama mereka dengan fasilitas yan lengkap, seperti kamar-kamar kaum konglomerat di dunia manusia.


"Setidaknya kita mendapatkan kelayakan, tidak diperlakukan buruk seperti cerita-cerita simpang siur," ketus Ita merebahkan dirinya di atas kasur empuk.


Ifa melihat ke luar jendela, hamparan taman Kota Canai sangat indah, dja membayangkan kebahagiaan kakaknya saat itu setelah berkumpul kembali dengan anak dan suaminya, Ifa yakin Aliza sudah bahagia dengan Garret dan Dominic.


"Kak Aliza pasti hidup bahagia di Kota Canai, dia hidup dengan kemegahan dan dikelilingi orang-orang tercinta," ujar Ifa membayangkan itu.

__ADS_1


"Semoga aja, Kak. Lebih baik aku hidup di sini bareng Kak Aliza, pengen banget ketemu Kakak lagi, kita tuh kayak gak punya tempat bertumpu ketika tak ada Kak Aliza," kata Ita.


Dia menyesali karena telah menghalangi Kakaknya untuk tidak ikut bersama Garret ke Canai. Ita sempat berpikir jika Negeri Canai hanya kamuflase jin yang menjebak manusia. Cerita simpang-siur di dunia manusia malah mengatakan dunia metafisika tak ada, tidak nyata, padahal sebagian manusia meyakini dan membuktikan, bahwa jin juga hidup seperti manusia, bahkan memiliki kemegahan yang lebih dari dunia manusia.


Di ponsel itu Ita mencoba mencari informasi digital tentang pemerintahan Canai, ada gambar Raja Canai dan Permaisurinya terpampang. Ita terperangah melihat wibawa Raja Canai. Di bawah daftar nama Raja dan Permaisuri ada nama-nama manteri di parlemen Canai.


Ita membaca sembari meneliti satu per satu wajah itu, dia terhenti setelah melihat wajah yang tidak asing baginya. Sontak Ita terkesiap lalu membungkam mulutnya sendiri.


"Kak, sini deh, cepetan," Ita memanggil Ifa.


"Apa sih?"


Ita memperlihatkan gambar menteri sosial yang membuatnya tercengang, Ifa ikut mendelik, dia merenggut ponsel itu dari tangan Ita.


"Iya, itu Kak Garret, nama dan wajahnya juga sama, ini suami Kak Aliza, Kak."


Ita menelusuri profil Garret, tapi menteri sosial itu memang tidak terlalu ingin kehidupannya di ekspos sehingga tak ada satupun berita terpampang. Hari itu mulai gelap, di ponsel mereka masing-masing ada pesan peringatan untuk istirahat karena akan ada kegiatan esok hari. Karena tak ingin melanggar aturan, Ifa dan Ita bergegas tidur.


***


Garret menemani Dominic belajar, anak itu sudah menempuh sekolah, pertumbuhannya semakin pesat, bahkan bentuk badannya seperti seorang anak remaja. Dominic enggan serius belajar karena mendengar cerita teman-temannya. Garret kebingungan dengan sikap malas anaknya, dia bahkan dobel-dobel lelah karena menjadi peran Ayah sekaligus Ibu.


"Dominic, bilang sama Ayah apa yang kau inginkan?"

__ADS_1


Dominic tak bergeming, dia hanya menatap bukunya menahan kesal. Dia mengabaikan Ayahnya yang menanti jawaban. Garret yang memiliki sisi jiwa tegas mencoba memutar badan anaknya agar menghadap ke arahnya.


"Katakan pada Ayah, apa masalah mu? Ayah lelah jika kau seperti itu!" Garret kelepasan membentak anaknya.


Dominic menatap tajam ke Ayahnya, matanya berkaca-kaca dengan nafas yang tersengal-sengal, dia marah bukan kepada Ayahnya, namun terhadap keadaan yang mereka.


"Hanya aku disekolah yang tidak bersama Ibu sejak kecil, teman-teman ku membicarakan tentang Ibunya, mereka sarapan disiapkan Ibunya, aku tidak selalu butuh Ayah, aku butuh Ibuku!" Jelas Dominic dari hati yang paling dalam.


Garret tertampar dengan penuturan hati anaknya, Ayah mana yang sanggup mendengar keluh kesah seperti itu? Bahkan dia sendiri tak dapat mengelak bahwa dia dan anaknya menyedihkan.


"Aku juga butuh Ibu mengajariku, segalanya bukan tentang Ayah terus, aku rindu Ibu .." Dominic menutupi wajahnya karena sudah menangis.


Dominic menangis sesenggukan, seorang anak laki-laki merindukan kasih sayang seorang Ibu. Meskipun bergelimang kemewahan, tetap saja Dominic hanya membutuhkan Ibu di sampingnya. Hidup seperti teman-temannya yang memiliki orang tua lengkap.


Garret meraih tubuh anaknya untuk dipeluk, "Ayah juga rindu, tapi bersabarlah, kita akan segera bersama Ibu, Ayah janji akan lebih berusaha lagi."


Garret tahu Aliza bukan tidak ingin bertemu dengan anaknya, melainkan ada halangan yang membuat mereka sulit bertemu. Garret akan mengerahkan prajurit segera, malam ini dia akan menemui Raja Canai, akan ada keputusan yang sudah ia bulatkan malam itu.


"Jika kamu ingin bertemu Ibu berperilaku baiklah sejak sekarang, jaga itikad baikmu, kita akan mendapatkan sorotan banyak dari Rakyat Canai, esok Ayah menjelaskan setel semuanya di putuskan, tapi sebelum itu berjanjilah beritikad baik jika kau ingin bertemu Ibumu," pinta Garret.


Dominic di biarkan sendiri belajar dalam kamarnya, Garret kembali menghubungi managernya untuk mengadakan pertemuan secara tertutup dengan Raja Canai.Dminic saya itu turun dari lantai dua menghampiri Ayahnya.


"Ayah ingin melakukan apa?"

__ADS_1


"Jangan tanya dulu, esok kamu akan tahu, ingatlah perkataan Ayah tadi," sahut Garret.


__ADS_2