Jin Tampan Penghuni Canai

Jin Tampan Penghuni Canai
Bab 59


__ADS_3

Khael tetap menyodorkan cincin itu kepada Aliza, berat rasanya menolak, namun di sisi lain, hatinya tak terpaut sedikitpun kenapa dokter muda itu, padahal Khael sangat tampan. Aliza menunduk, memikirkan keputusan besar itu, sampai saat ini ia belum mengetahui siapa dirinya, apakah memang ia harus membuka kehidupan baru bersama Khael? Aliza bertarung dengan batinnya.


"Miracle.." Lirih Khael.


Aliza yang ingin menyenangkan Khael mengambil cincin itu dari kotaknya, dengan tangan yang gemetaran, Aliza memakai cincin itu di jari manisnya.


"Cincin ini sangat bagus.. sayang bila tidak di pakai," ujarnya. Walapun perasaannya saat itu tak karuankaruan, namun ia tetap ingin menyenangkan Khael.


Senyum Khael sumringah, dia memeluk Aliza dengan keharuan, langkah pertama memiliki Aliza telah berjalan lancar. Dia akan mengenalkan Aliza kepada Kakek dan Neneknya yang berada di pinggiran Kota Canai.


"Terimakasih ya, kamu sangat cantik hari ini.. kamu minta apa yang kamu inginkan, Miracle?"


Aliza tak mengingat lagi hal apa yang disukainya, kininia menjadi wanita yang harus memulai semuanya dari awal, bak seorang anak kecil yang baru diperkenalkan dunia.


"Aku tidak ingin apa-apa," sahutnya.


Khael merencanakan sesuatu terhadap Aliza, "Sepertinya kamu cukup sehat, aku akan membawa mu ke perawatan wanita," kata Khael.


Lagi-lagi Aliza tak dapat menolak, Khael membawa Aliza ke salah satu salon terkenal di Canai. Membelikannya gaun indah yang mahal, melihat keindahan Canai, hati Aliza berdebar, seolah dia merasakan ada ketertarikan. Gambar-gambar Raja Garret terpampang di setiap gedung-gedung pemerintahan.


'Kenapa setiap melihat Raja aku merasa tenang,' tanyanya dalam hati.


Khael menggenggam tangan kiri Aliza, senyumnya tak pernah lepas, berharap segala urusannya dengan Aliza di perlancar.


Khael melakukan berbagai perawatan dengan Aliza, namun saat itu ada salah satu karyawan salon mengenalinya. Aliza yang sedang melakukan facial wajah terkejut dengan penuturan karyawan salon itu.


"Sepertinya saya pernah melihat Anada, Bu." Kata karyawan wanita itu, dia juguduku seorang manusia sebelum terjebak di Canai.


Aliza tertegun, dia melirik Khael yang berada di ruangan perawatan pria, Aliza mencoba mengorek informasi kebenaran itu.

__ADS_1


"Benarkah? Kau melihat ku dimana?" tanyanya.


"Sepertinya Anda pernah terlihat di pusat perbelanjaan bersama seorang pria, tiga tahun yang lalu, tapi saya juga tidak yakin dengan hal itu, apakah itu Anda atau bukan," jelas wanita itu yang juga meragukan ingatannya.


Aliza membangunkn diri dari perbaringannya. "Kau yakin? pria yang kau maksud apakah yang bersama ku tadi?"


Wanita itu menyipitkan mata mengingat-ingat momen saat melihat Aliza sedang bersama pria. Sebelum bekerja di salon kecantikan, wanita itu sbelumnya bekerja di pusat perbelanjaan megah di Canai. Garret seringkali membawa Aliza berjalan-jalan sehingga para karyawan itu cukup familiar dengan wajah Aliza yang ayu.


"Duh, Bu. Saya lupa.. pokoknya dia pria tanpam, sangat tampan, sekilas mirip dengan Baginda Raja Garret, yang aku ingat seperti itu sih," lapar wanita itu lagi. Karena sudah terlalu lama, dia tak mengingat jelas perawakan Garret.


Aliza terhenyak, dia pun beranggapan bahwa penyebab hatinya tenang ketika melihat gambar Raja karena pria di masa lalunya memiliki kemiripan dengan Raja Garret.


"Oh begitu, mungkin pria itu dulu teman dekatku," tutur Aliza tak ingin banyak berharap dengan masa lalunya.


Ada hati Khael yang harus ia jaga, memikirkan masa lalu yang tak dapat diingat sungguh melelahkan baginya. Terdenger suara Khael masuk ke ruangan itu, raut wajah Aliza seketika sumringah, seolah tak terjadi percakapan dengan karyawan wanita itu.


"Kau masih ingin melakukan perawatan lain?" tanya Khael.


"Kita akan mampir di suatu tempat, karena esok aku akan mengajakmu keluar kota," jelasnya Khael.


Mereka keluar dari salon itu, menuju ke suatu tempat yang ditujukan Khael. Menyita waktu setengah jam, mereka kini melawati gedung-gedung dengan pilar emas, dari jauh mata Aliza tertuju dengan bangunan mewah berbentuk istana. Ada banyak mobil yang berjejer di sekitar parkiran gedung.


"Itu istana kerajaan Canai, ada acara disana, kita parkir mobil disini saja ya," ujar Khael.


Aliza mengangguk, seketika ia bahagia karena memiliki kesempatan melihat Raja Garret secara langsung. Saat itu Aliza sudah berambut pendek sebahu, rambutnya tak lagi berwarna hitam, melainkan coklat keabu-abuan, Khael merubah penampilan Aliza di salon dengan tampilan wanita Canai pada umumnya, glamor dan elegan.


Memasuki gerbang istana, Aliza lebih banya menunduk, ia mlai karena ada banyak orang-orang penting hadir di acara yang diselenggarakan Dominic.


"Kita duduk di bagian meja ujung saja, kamu pasti tidak nyaman jika berada di tengah-tengah mereka," kata Khael. Dia memilih meja paling sudut yang sepi.

__ADS_1


Aliza duduk memperhatikan orang-orang oenting kerajaan sibuk mengobrol, satu sama lain, sedang Khael sejenak menyapa teman-temannya yang saat itu menghadiri acara kerajaan.


"Kau datang bersama siapa?" tanya pria itu yang mengetahui Khael sedang membawa seorang wanita.


Sembari tersipu malu Khael menjawab, "Aku bersama calon istriku, dia masih kaku, jadi aku biarkan menepi."


Dari jauh Khael melihat Raja Garret sedang mengobrol dengan beberapa tamunya, igun rasanya Khael menyapa, tetapi waktunya belum pas. Alhasil Khael kembali ke Aliza.


"Kamu mau ikut aku ke toilet, atau menunggu disini saja?" taya Khael.


"Aku menunggu disini saja, aku malu Khael lewat di hadapan mereka," sahut Aliza yang teramat minder. Siapapun yang berada di posisinya akan merasakan hal yang sama, di dalam ruangan megah utu diisi ratusan orang-orang penting di Canai.


Khaek ke toilet, sementara acara pembukaan itu akan berlangsung. Ada banyak kamera yang meliput pesta Dominic, sesekali wajah-waah tamu terpampang di layar kaca besar.


"Sangat sunyi ya, Kak. Andaikan ada Kak Aliza disini," kata Ita kepada Ifa yang berada di jajaran kursi keluarga kerajaan.


"Aku berharap Kak Aliza dapat melihat liputan kita di TV," timpa Ifa.


Raja Garret dan Dominic duduk berdampingan, kamera tak henti menyorot keduanya. Dari jauh Aliza terkagum-kagum terhadap Ayah dan anak itu. Akhirnya Aliza dapat melihat Garret secara jelas, walaupun dari kejauhan. Aliza terus-menerus memandangi Garret dan Dominic, berharap agar lebih dekat memandangi pria yang menarik perhatiannya itu.


"Aku merasa dekat dengan Ibu, Ayah.." Ucap Dominic berbisik kepada Ayahnya.


Garret tertegun, anaknya memang memiliki kedekatan batin dengan Aliza, tapi di sisi lain, jika Aliza memang dekat dengan mereka, mengapa Aliza tidak menyapa? Batin Garret.


Kamera meliput pengunjung setiap sudut, tiba saatnya kamera itu menyorot Aliza yang sedang duduk seorang diri. Terpampang di layar kaca wajah Aliza dengan tampilan style yang berbeda, Garret dan Dominic terperangah ketika melihat beberapa detik Aliza tampil di layar istana.


"Ayah, apa tadi itu Ibu?!"


Garret bediri dari tetap duduknya, berusaha mencari dari mana tempat duduk Aliza. Namun tiba-tiba suara ledakan terdengar dari dapur istana.

__ADS_1


Durrr!!


__ADS_2