
"Iya," jawab Arun sambil melipat bibirnya ke dalam.
Sebenarnya, dia itu bisa patuh kalau memang tahu cara berbicara dan mengerti saat itu perasaannya bagaimana, lebih tepatnya memahami bagaimana Arun dan segudang persoalan yang dia simpan sendiri di dalam hatinya.
Namun, tak banyak orang yang bisa melakukan itu semua meskipun kedua orang tuanya. Akan selalu ada batasan antara anak dan orang tua, sedekat apapun itu, pasti ada sesuatu hal yang ditutupi demi kebaikan.
"Udah, Gus." Arun berdiri susah payah di samping Ukaisyah yang menunggunya di depan pintu sambil membaca rangkuman kitab yang harus dia bagikan esok hari.
Ukaisyah menyimpan ponselnya lebih dulu, sedikit dia menyimpan senyum memperhatikan kecil bagaimana susahnya Arun beradaptasi dengan gamis yang dikenakannya, belum lagi jilbab panjang yang selama ini tak pernah Arun sentuh. Lagipula, tidak mungkin juga kalau gadis itu tawuran dan balapan memakai gamis.
"Tanganmu bisa ke lengan saya?" Ukaisyah menyikukan lengannya.
"Kenapa gitu?"
"Jangan salah paham dulu! Nanti, saat kita ke luar, keluarga akan melihat kita dan mengajak berfoto. Untuk pagi ini saja, kamu hanya perlu menggandeng saya di lengan ini, boleh?"
Arun mengangguk, toh ini hanya sebentar, dia juga tidak mau kalau orang tuanya jadi malu karena tingkahnya itu. Tangannya pun dia simpan di lengan Ukaisyah, lalu keduanya ke depan bersama.
Wajah senang dan penuh syukur, jelas terlihat dari para orang tua dan keluarga. Sungguh, hal itu membuat Arun malu lagi terharu, dia sempat mundur sedikit ke balik bahu Ukaisyah supaya buliran lancang itu tak terlihat oleh sang ayah.
Haruskah dia menikah seperti ini? Berubah ratusan derajat dari dirinya yang dulu?
"Kita foto bersama mereka sebentar, tenang saja nggak akan disebarkan atau dibuat status, mereka dan kami benar-benar saling menjaga, ayo!" ajak Ukaisyah berbicara pelan.
Bibir Arun meliuk. "Udah tahu, tadi kan udah dibilangin, bawel!" gerutunya.
Ukaisyah diam saja, memang seperti itu Arun, dari awal bertemu, ucapan dan balasan ketus seperti ini sudah didengarkan Ukaisyah, jadi bisa dikatakan biasa. Baginya, tak bisa menilai orang dari cara bicaranya saja, dia masih punya banyak waktu untuk mengenal Arun nantinya.
Walaupun panas dan berkeringat, tapi dia senang melihat ayah dan ibunya dihargai di sini. Terlepas dari masalah dan jabatan yang tak lagi disandang, keluarga dari Ukaisyah benar-benar memperlakukan orang tuanya dengan baik, dengan adik-adiknya pun sampai mereka sungkan sendiri.
"Mas, boleh ngerokok nggak di sini?" tanya Aldo mendekati Ukaisyah, dia langsung mengubah sebutan untuk suami kakaknya ini setelah akad nikah.
"Boleh, tapi di sana. Kamu tahu ada gardu yang biasanya Tejo ngisi laporan'kan, bisa di sana!" jawab Ukaisyah seraya menunjuk.
__ADS_1
"Oke, Mas." Aldo menarik Aldi untuk merokok bersama.
Mau dilarang juga bagaimana, nanti akan Ukaisyah perlahan bantu beri pengertian, mereka masih sekolah, tapi terlihat sedikit lebih tua dari usianya.
Mendengar kedua adiknya sudah mengubah panggilan pada Ukaisyah, telinga Arun gatal rasanya. Dia saja masih memanggil 'Gus', bingung juga mau diubah apa. Kebingungan membuat Arun semakin berkeringat dan panas, belum lagi ikut salat berjamaah dan dzikir lama, dia seperti terbakar. Setelahnya, dia kira istirahat, dia masih harus menemui tamu dari pesantren lain dan kerabat yang datang ke rumah itu, berbincang dengan mertua dan ipar. Dan itu semua harus memakai gamis dan jilbab panjang, rasanya ketombe dan kutu rambut berdemo.
Ukaisyah sebentar-sebentar mencuri pandang, terlepas dari hati yang belum menumbuhkan rasa, Arun tetaplah istrinya, berhak diperlakukan baik dan dia perhatikan meskipun gadis itu akan galak padanya.
"Sebentar!" kata Ukaisyah pada kakaknya. Dia beranjak mendekati Arun yang baru selesai berbincang dan makan kue bersama adik juga ibunya.
Ukaisyah mengambil duduk di depan Arun, dia sedikit condong ke depan.
"Hanya hari ini, sabar ya ... Besok pagi, kita sudah pindah ke bangunan yang lain khusus untuk kamu dan saya, di sana selama saya nggak ada, kamu bebas mau memakai baju yang kamu mau. Memakai pakaian ini bila memang harus ke luar rumah, ya," tuturnya lembut.
Mata Arun sedikit melebar, darimana laki-laki ini tahu kalau dia sudah gusar ingin melepas semuanya.
"Ke luar harus pake ginian?" tanyanya dan mendapatkan anggukan. "Ssshh ... Terus, kalau aku nggak betah, mau ke rumah ayah? Nggak boleh ke sana? Dilarang-larang? Nggak boleh tidur di rumah aku sendiri? Harus mengabdi langsung? Kan-"
Degdeg,
Hish, tidak bisa. Gus satu ini seharusnya kesal padanya yang terus saja mencari bahan debat, tapi entah kenapa Ukaisyah menanggapinya dengan tenang.
***
Sedih harus ditinggal oleh keluarganya dan menetap dengan keluarga baru meskipun Ukaisyah tak melarangnya pergi ke rumah sana, tapi ditinggalkan setelah menikah itu rasanya tidak enak, sepi langsung menyerangnya begitu saja.
"Sudah larut, kamu istirahat ya, Run. Bunda ingetin Isya dulu, dia suka nyiapin materi sampe nggak tidur, tunggu ya!"
Arun mengangguk, apalagi ibu mertuanya ini, lembutnya bukan main, mau menjawab saja, Arun harus memainkan nada doremi di dalam hati, mencari nada yang pas.
"Sya ... Isya," panggilnya ke ruang tamu, sedang Arun menunggunya di ruang tengah.
"Ya, Bun, iya?" Ukaisyah melepaskan kaca matanya.
__ADS_1
"Sudah, pergi sana istirahat. Kamu apa tega biarin istrimu terjaga gitu, hem? Hari ini, kalian udah repot dari dini hari, ayo ajak dia istirahat! Besok saja kamu lanjutkan buat materi itu!" pinta Aisyah lantas diangguki oleh putranya.
Sebenarnya, sejak tadi Arun ingin ke kamar dan meluruskan punggungnya. Tapi, namanya bukan di rumah sendiri dan dilihat keluarga suami, mana mungkin dia seenaknya begitu, jadilah dia duduk terus di sini menunggu Ukaisyah yang sibuk di depan.
Ukaisyah tidak menanyakan 'kenapa', dia cukup mengerti bila seorang menantu akan merasa canggung di rumah mertuanya.
"Maaf ya, ayo ke atas!" ajaknya lantas mendapatkan lirikan tajam dari Arun, laki-laki ini mengerti. "Saya hanya membantu kamu biar bisa rebahan, jangan salah paham!" imbuhnya bersuara pelan.
Barulah Arun berkedip membuang mata tajamnya itu, bukan belum mau disentuh suaminya, tapi mereka belum mempunyai rasa itu, Arun rasa akan menyakitkan bila berjalan dan melampauinya tanpa ada cinta diantara keduanya.
Aisyah menggelengkan kepalanya gemas, anak muda memang begitu, dia pun dulu juga seperti itu malu-malu dan canggung, apalagi menikah mendadak.
Di kamarnya, Ukaisyah memahami betul, tidak mungkin mereka tidur satu ranjang, Arun pasti mengomelinya. Maka itu, dia tunjukkan kasur tambahan yang ada di bawah kolong ranjang.
"Aku nggak mau di bawah ya, aku yang di kasur atas!" ucap Arun melototi Ukaisyah.
"Iya, saya yang di kasur bawah."
"Terus, aku mau ganti baju, nggak mau tidur pake gamis. Jangan ngintip!" ucapnya lagi.
"Iya, silakan ganti di sana. Jangan lupa ambil wudhu sebelum tidur!"
ish, marah dong!
Arun seakan dibuat kehabisan kata-kata. "Terus, kamu mau apa itu? Kamu nggak tidur, mau liatin aku tidur? Awas ya berani tidur di atas!"
Ukaisyah mengangkat buku tebalnya. "Kamu tenang saja, saya harus mengerjakan ini dan insyaallah nggak ingkari ucapan saya," jawab laki-laki itu seraya tersenyum.
Ish!
Arun menjejakkan kakinya, lalu ke ruang ganti.
Diserang nggak nanti? Ish!
__ADS_1