JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Ide Bulan Madu


__ADS_3

 "Udah mandi kok, Gus. Aku ke sana sekarang?"


 "Iya, bunda sama Humairah nunggu kamu. Tapi, kalau kamu ngerasa pengen rebahan aja karena capek, ndak apa, biar aku kasih tahu mereka—"


 "Kasih tahu apa, Gus? Masa iya mau kasih tahu kalau habis anu!"


 Astaga, Ukaisyah mengusap dadanya, begini kalau istrinya Arun, ramai selalu ada saja yang dibahas dan dijadikan candaan, padahal tahu tidak mungkin Ukaisyah mengatakan yang sebenarnya, apalagi soal kenikmatan dalam rumah tangga. Dia hanya gemas sekali dan ingin mencubit pipi Arun, tetapi di acara ini dia tidak bisa selalu menemani Arun karena tugasnya banyak sebagai pengawas dan penanggung jawab, mungkin hanya memperhatikan sesekali.


 "Yaudah, aku nunggu Wati ini, Gus. Sampe ketemu di sana ya Gus gantengku, assalamualaikum!"


 "Ya Allah, waalaikumsalam." Ukaisyah kembali mengusap dadanya, setiap kali dipuji istri, rasanya itu dada bergemuruh seperti ada angin besar yang siap menerjang dirinya hingga porak poranda.


 Acara akan segera dimulai, sebagai panitia pun dia harus segera bersiap, Ukaisyah lantas memanggil Tejo untuk ke depan bersamanya dan abdi yang lain. Beberapa kali Ukaisyah melihat ke luar, barang kali istrinya sudah hadir bersama Wati, tetapi yang dia lihat selalu orang lain yang membuatnya harus menurunkan pandangannya sampai pada gadis heboh yang datang bergandengan bersama Wati itu membuat senyumnya melebar sempurna, ternyata istrinya masih kuat untuk memgikuti serangkaian acara di sisa hari ini, bahkan terbilang bisa berjalan dengan benar.


 Ah, Ukaisyah jadi mengingat proses ganti baju tadi, segila itu ternyata sifat laki-laki pada wanita yang dia syukuri sebagai istri, bukan pasangan yang belum halal, melakukan apa saja hingga sama-sama lelah dan merasakan kenikmatan.


 "Gus, udah waktunya Gus Isya ngasih sambutan, maju, Gus!" bisik Tejo tidak habis pikir gusnya itu melamun.


 Ukaisyah tersadar, kemudian menepuk bahu Tejo dan berdiri memberikan sambutan pada semua yang hadir di kajian ini, tak lupa sesekali matanya melirik ke arah sang istri yang menurutnya sangat cantik meskipun Arun menurutinya untuk tak memakai riasan selain di depannya saja, gadis itu selain menarik juga cantik natural.


 "Gus, dimulai to!" bisik Tejo lagi sampai ke depan, baru saja salam sudah berhenti lama.


 "Iya, saya lagi kurang fokus."


 "Mau minum dulu, Gus?" Tejo bersiap meminta pada abdi yang lain karena posisinya jauh dari konsumsi.


 Ukaisyah menggelengkan kepalanya, kejadian ini membuat anggota keluarga yang lain pun saling bertatapan, Ukaisyah tidak pernah sampai melamun dan salah tingkah, sedangkan akhir-akhir ini menjadi sering seperti itu.

__ADS_1


 "Yanda, apa anak kita kena sindrom jatuh cinta?"


 "Sepertinya, hehe, alhamdulillah dia bisa jatuh cinta pada titik dan waktu yang tepat ya ... Semoga keluarga kecilnya senantiasa dinaungi rahmat dan ridha Allah," jawab Baskara.


 "Aamiin," ucap Aisyah sembari menengadahkan kedua tangannya.


 Mereka kembali melihat bagaimana Ukaisyah memberikan sambutan di depan, bahkan ikut tersenyum sendiri saat tahu ke arah mana mata Ukaisyah kerap melihat, tidak lain pada seorang wanita yang telah dinikahinya.


 "Nda, kasih tahu Isya untuk ajak istrinya bulan madu atau liburan berdua, ndak melulu mengurusi pondok saja!"


 "Oh iya, belum ya. Kebetulan cinta sudah dianugrahkan ke mereka, akan lebih dalam kalau bisa menghabiskan waktu berdua. Nanti, aku kasih tahu Isya nya," Balas Aisyah menyadari kebutuhan anak dan menantunya itu, setidaknya mereka ada waktu berdua saja tanpa ada urusan pondok yang selalu datang tiba-tiba dan mengikat Ukaisyah. "Isya pasti mikir dulu itu, Yanda tahu anaknya gimana!"


 Baskara tertawa, tahu benar bagaimana Ukaisyah bertanggung jawab di sini.


 ***


 Aisyah sudah menduga respon putranya akan seperti itu, bagi Ukaisyah berdua di rumah yang ada di lingkungan pondok pun sudah dianggap cukup, tetapi ada sisi wanita yang membutuhkan itu karena selalu berada di rumah butuh asupan segar selain hanya bersepeda di luar pondok atau sekitaran desa.


 "Kalau kamu ndak kepikiran berdua aja, kamu bisa ajak orang tuanya Arun. Tapi, Bunda sarankan untuk kalian berlibur berdua, nikmati waktu berdua dengan versi terbaik, ada cinta di hati dan sudah halal, insyaAllah berkah, Nak!" Aisyah mengusap lengan putranya yang tampak senang lagi bingung. "Arun pasti suka diajak liburan meskipun ndak lama dan deket-deket sini, yang penting ke luar dari desa ini. Kuatkan cinta kamu sama dia, tanpa kamu bilang ke Bunda pun tahu kalau hatimu udah diikat sama dia, iyakan?"


Ukaisyah menunduk malu, dia tidak mungkin bisa menyembunyikan itu pada sang bunda, sejak kecil mereka sangat dekat dan suka sekali berbagi cerita atau mungkin bundanya sudah tahu kalau dia dan Arun tak lagi ada batas, mereka telah menyatu untuk menghadirkan generasi baru, insyaAllah. Laki-laki itu pulang dengan senyum yang merekah, mengalahkan sinar rembulan yang terang di atas sana, tangannya menggantung diatas bimbang mau mengetuk atau memanggil saja istri kesayangannya itu, tetapi belum sempat keduanya dia lakukan, Arun sudah lebih dulu membuka pintu dan menyambutnya santun lagi manja.


"Assalamualaikum, Gus. Masuk!"


Ukaisyah tersenyum. "Waalaikumsalam," jawabnya memberikan kecupan di kening istrinya itu. "Kamu nunggu saya pulang?"


"Iya loh, aku baru selesai masak juga, makan bareng malam yuk, Gus!"

__ADS_1


"Iya, kamu tumben laper malam gini? Tadi, ndak makan di kajian?"


"Makan sih, tapi pengen makan berdua sama Gus juga. Ayo!"


Ukaisyah menurut, lalu mencuci tangannya dan duduk di kursi yang sudah Arun tarik ke luar. Pasti ini ada hubungannya dengan kajian tadi karena membahas adab terbaik seorang wanita, jadi ada sedikit perubahan sikap Arun sesuai dengan apa yang gadis itu dengar lagi pelajari. Sungguh, dia beruntung mendapatkan istri yang senang belajar dan mau diajak belajar, haus akan ilmu.


Kalau Arun berubah begitu, maka dia pun juga harus mengubahnya sesuai dengan yang dia pelajari dan betapa senangnya hati istri bila suami mempunyai panggilan khusus.


"Sayang, mau bulan madu?"


Uhuk!


Hampir saja gorengan yang baru Arun kunyah itu ke luar lagi, ngomong-ngomong baru kali ini ada yang memanggilnya seperti itu, bahkan Ukaisyah juga baru ini, sebelumnya terus nama, seperti dirinya yang memanggil Ukaisyah dengan sebutan Gus.


"Pelan-pelan kunyahnya, ini minum dulu!" kata Ukaisyah menepuk pelan punggung Arun.


Arun melirik kecil. "Gus kesambet apa to sampe manggil gitu? Latihan teater?"


Lah, malah dikira latihan teater!


"Saya ndak lagi kesambet atau latihan teater, Sayang—"


"Itu, itu, kenapa itu manggil Arun gitu? Gus demam atau gimana? Jangan nakutin aku!"


"Kamu yang nakutin saya, Sayang—"


"Gus, stop! Jangan manggil gitu, aku ngompol nanti!"

__ADS_1


__ADS_2