JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Nakal


__ADS_3

 "Ya Allah ... Ini indah banget, Gus! Aku ndak nyangka loh bakal tepat milih hotelnya, ngomong-ngomong Gus dapat refrensi dari mana?"


 Ukaisyah membuka pintu balkon yang menghadap langsung ke pantai, tidak terlalu dekat dan mereka harus membawa mobil atau motor ke sana, tetapi bisa dikatakan sekali membuka pintu itu bebas melihat pantai lepas.


 "Gus, dengerin aku ndak?"


 "Dengar," jawab Ukaisyah yang tak habis pikir, sepanjang perjalanan Arun tidak tidur sama sekali, gadis itu sibuk berbicara ini dan itu, lalu mengikuti Ukaisyah salat dan mengaji, kemudian bercerita lagi sampai mereka batal membeli kopi karena ocehan Arun sudah seperti kopi bagi Ukaisyah. Ternyata benar yang dikatakan orang-orang alim tentang wanita, mereka butuh waktu menyegarkan diri seperti ini terlepas dari semua kewajiban yang ada, tidak harus ke hotel atau tempat mahal, setidaknya aja duduk berdua meskipun itu hanya di depan rumah tanpa melibatkan tuntutan kewajiban, mendengarkan semua keluh kesah mereka yang pasti satu hari saja tidak akan cukup, sebab mereka yang ada di rumah lebih berat dibandingkan yang ada di luar. "Ke sini sebentar, Sayang!'


 Arun bergegas mendekat meskipun dia masih penasaran dari mana Ukaisyah mendapatkan info tentang hotel ini, tubuhnya dipenjara diantara kedua tangan Ukaisyah, dagu Ukaisyah pun berada di bahu kirinya.


 " Besok kita ke sana ya," katanya melirik wajah indah Arun, selain menarik, wajah Arun itu tidak membosankan, apalagi kalau sudah mengomel ria. "Saya pengen sekali ambil beberapa foto sama kamu, tapi ndak lama-lama, nanti orangnya liatin kamu!"


 "Walah, Gus! Gimana kalau hasil fotonya jelek?"


 "Mana ada jelek kalau itu kamu!" balas Ukaisyah membuat Arun merasa di atas langit. "Gus bisa aja, oiya tadi belum dijawab loh aku!"


 Ukaisyah memutar tubuh istrinya itu sehingga mereka berhadapan, dia sedikit menunduk karena memang tinggi badan Arun lebih pendek darinya, sebelum menjawab dia tidak bisa menahan diri untuk tidak mencium kening Arun lebih dulu, ngomong-ngomong Arun masih memakai baju panjang dan jilbabnya, tidak akan dia lepas sebelum suaminya menyuruh lepas, apalagi pintu balkon terbuka, takut orang melihat meskipun kemungkinannya kecil.


 "Beberapa hotel yang kamu liat kemarin, itu hotel yang dikelolah perusahaan keluarga—"


 Arun melongo. "Walah, aku nikah sama miliader beneran apa Gus?!"


 "Itu keluarga, bukan saya loh!"

__ADS_1


 "Ya, tapi kan nanti jelas diteruskan amanahnya. Ngomong-ngomong Gus ... Aku harus belajar apa ini biar anaknya cerdas-cerdas kayak Gus dan saudaranya? Soalnya ya Gus, bayangin aja kepalaku udah mau pecah loh, itu—" Arun terbungkam oleh ciuman Ukaisyah, banyak bicara sejak tadi dan pastinya banyak merendah tanpa menyadari kalau Arun itu mempunyai bakat banyak membuat Ukaisyah gemas, istrinya itu tidak pandai membesarkan diri sendiri.


 Ukaisyah memutar lagi tubuh itu, membawanya masuk dengan sebelah tangan dan kaki yang kompak menutup pintu balkon sekali dorong. Dia tidak melepaskan bibirnya dari bibir Arun, terus memagut dan membelit, hanya terlepas sebentar saat mereka harus mengisi udara di rongga dada, lalu menempel lagi. Perlahan Ukaisyah membuka jilbab itu, tangan-tangannya merayap ke punggung Arun untuk melepaskan kancing dan resleting baju panjangnya, tetapi sebelum bibir Ukaisyah turun dari lehernya, Arun secepat mungkin menangkap wajah tampan itu.


 "Gus, aku ya pengen, tapi kita dari perjalanan jauh, belum mandi. Aku ndak enak kalau diciumi, terus bau, Gus!" katanya sudah setengah jalan, bahkan bisa merasakan aura gelap Ukaisyah beserta milik mereka yang sudah sama-sama siap.


 "Kalau gitu, kita mandi bersama saja. Gimana?"


 "Buener itu, Gus! Sini, aku bantu lepasin bajunya!" Arun bergegas lagi bersemangat melepaskan bajunya dan Ukaisyah, sampai-sampai Ukaisyah kalah cepat, lalu kembali berdiri melilitkan selimut tipis yang dia sambar asal. "Baca doa di sini aja, Gus. Takutnya di dalem ndak kuat, tinggal masuk!"


 Ukaisyah mengangguk, ah entahlah, dia sudah terpancing panas. Usai membaca doa biasanya, mereka bergegas mandi bersama.


 Rencananya, datang terus mandi dan siap-siap makan bersama romantis, setelahnya beradu kasih semalam, tetapi yang terjadi tidak begitu, di luar rencana.


Masih belum selesai dengan kegiatan panas mereka, usai di kamar mandi, salat berjamaah, berlanjut lagi di ranjang yang awalnya ada taburan kelopak bunga mawar dan handuk berbentuk angsa sepasang.


Ukaisyah gelap mata melihat Arun, apalagi istrinya itu tak berhenti menggoda sampai berdiri saja sekarang Arun kesulitan, kedua kakinya masih gemetaran karena ulahnya sendiri memancing singa tidur, dia yang masih muda, tetapi sudah kesulitan mengimbangi Ukaisyah, Arun bertekad rajin olahraga setelah ini agar dia mempunyai stamina yang bagus.


"Gus, ndak bisa bangun aku," katanya tergolek pasrah, rambutnya yang basah dia biarkan terburai di atas bantal yang berbalut selimut, tidak kuat berdiri lama-lama, mandi saja tadi cepat sekali.


Berbeda dengan Ukaisyah, laki-laki itu hanya memejamkan mata sebentar, lalu seperti orang yang sudah tidur lama dan makan banyak, tidak tampak lelah sama sekali. Bahkan, tadi Ukaisyah yang membantu Arun untuk segera mandi setelah pergulatan panjang mereka yang kesekian kalinya.


"Jadi, ndak pake gamis bagus?"

__ADS_1


"Puengen, Gus. Tapi, ini ya kakiku aja masih gerak sendiri loh, belum bisa diem. Ndak bisa ini, Gus. Nanti, aku jatuh loh!" jawabnya menyingkap selimut, dia hanya memakai daster tidur, jelas terlihat bagaimana kakinya gemetaran.


"Itu akibatnya kalau godain suami, hehehe ..."


"Heheheh, gimana to, Gus?! Malah ketawa, tanggung jawab, makannya di sini aja, Gus. Bisa dibilang orang sakit aku kalau turun," balasnya manyun-manyun.


"Iya, saya minta makanannya dikirim ke sini kok. Ini saya bawa buku menunya, kamu pilih dulu!" Ukaisyah menyerahkan lembar menu ke depan Arun. "Mau yang mana?"


"Minumnya yang ada susunya—"


"Kan, godain saya lagi urusan susu!" sambar Ukaisyah sudah melirik nakal.


Arun menyilangkan kedua tangannya ke depan dada. "Bentar-bentar, jangan dulu, Guuuuuuss!!"


Ukaisyah tergelak kencang, seindah ini ternyata menjaga diri dan meraih kenikmatan usai menikah, ada saja yang mereka bahas tanpa merasa waktu berjalan begitu lama, bagi mereka selalu kurang.


Setelah memesan menu makanan, hanya menunggu sebentar saja, pesanan sudah tersaji di meja makan kamar hotel itu. Arun dibantu Ukaisyah untuk bisa duduk di sana meskipun sebenarnya dia bisa, hanya saja Ukaisyah merasa tidak tega karena Arun harus berjalan pelan.


"Besok, kalau belum bisa jalan-jalan ke pantai, kita—"


"Bisa, Gus, Bisa! Lebih baik ke luar kamar, Gus. Kalau di dalem kayaknya bakal lebih bahaya!" potong Arun kembali membuat Ukaisyah tertawa. "Makan dulu, tambah daya!"


Ukaisyah kembali melirik nakal, tetapi cepat-cepat Arun menutup bagian depannya karena dia hanya memakai daster tanpa dalaman.

__ADS_1


__ADS_2