
Walaupun berkata tidak terlalu bisa memasak, tapi sudah menjadi karakter perempuan selalu memastikan apa yang dia buat itu bisa dinikmati, layak atau tidak.
Arun membuka satu kacang kulit yang sudah dia kukus itu, mengunyahnya perlahan sambil merasakan empuk atau tidak.
"Keren sih emang aku, sekali coba langsung berhasil. Kayaknya, nggak ada nampan bambu, besok aku beli aja!" gumamnya sembari memindahkan kacang itu ke wadah lebih besar, lalu dia antarkan ke depan.
Melihat kedatangan Arun dengan satu baskom kacangnya, hampir saja tangan Ukaisyah salah tekan tombol. Dia memang sudah menikahi Arun, tapi segalanya bersama Arun ini kali pertama, jantungnya terkadang tak bisa diajak kerjasama, bisa berdebar dan gemetaran sendiri seakan bingung mau apa.
Arun simpan di ujung meja, cukup jauh dan aman, tidak khawatir Ukaisyah akan menyenggolnya saat sedang mencetak foto mereka.
"Bukannya, nggak ada yang diabadikan fotonya?"
Ukaisyah menoleh sekilas, selalu sebentar saja memandang Arun.
"Bukan dibagikan, tapi dicetak untuk disimpan sendiri, jadi kenang-kenangan," jawab Ukaisyah menggeser sedikit laptopnya menghadap Arun. "Sekarang, kamu pilih foto mana yang mau dicetak!"
"Kenapa harus aku? Kenapa nggak Gus aja?"
Biarkan, istrimu merasa dibutuhkan dan selalu dilibatkan, wanita suka sekali hal itu!
Ukaisyah tersenyum simpul, tidak apa mereka masih se canggung ini dalam menyebut satu sama lain, setidaknya Arun sudah mau berbicara lagi dengannya.
"Di mata saya, semuanya bagus. Perempuan lebih jeli dan pintar memilih, makanya saya serahkan ke kamu saja. Videonya juga, kamu liat efeknya, nanti bisa saya bantu edit!" jawabnya dirasa masuk akal, bisa dia lihat Arun sedikit menarik senyuman membanggakan diri bahwa dia dipercaya bisa memilih. "Enak kacangnya," imbuh Ukaisyah mengambil banyak.
Arun melirik kecil, dia tidak menjawab, tapi tidak bisa dia tutupi rona merah di pipi itu. Pujian kecil untuk pertama kalinya, bahkan dari sini dia bisa melihat betapa lahapnya Ukaisyah memakan kacang itu.
"Bilang aja kalau laper, makan kacang kayak nggak makan setahun!" celetuknya meledek Ukaisyah, lagi-lagi melirik kecil.
Mendengar itu, cepat-cepat Ukaisyah mengunyah dan menelan kacang di mulutnya. Dia kumpulkan kulit-kulit itu dalam satu tangan, lalu berdiri.
"Ya, saya lapar. Kamu sudah makan? Kalau belum, mau beli makan di luar barengan?" Ukaisyah meraba dadanya, detak jantungnya tak terkontrol sama sekali.
Pipi Arun semakin memerah, bisa-bisanya seharian ini dia dibuat nano-nano oleh gus jadi-jadian yang selalu dia remehkan itu, padahal tadi bendera perang sudah dia tinggikan dan sejak awal dia selalu saja berbicara tak sopan. Tapi, Ukaisyah terus menghantamnya dengan ucapan lembut.
"Nggak, aku makan mie aja, mie goreng buat sendiri. Kamu makan aja di dapur pondok, kan mau makan di sana!" balas Arun ketus, dia kembali melihat video pernikahannya meskipun lebih banyak Ukaisyah di sana. Suaranya bagus banget, mana dia ganteng banget lagi waktu nikahan, ish!.
Masih tentang dapur pondok, wanita dengan semua memori yang dipunya, tidak bisa dikalahkan para laki-laki.
Ukaisyah berbalik, lalu dia berjalan ke dekat Arun, niatnya ingin mengajak Arun membeli makanan di luar pondok, mencari waktu damai untuk keduanya. Tapi, pandangannya terhenti saat dia melihat video pernikahan yang sedang Arun perhatikan itu, ada seseorang yang menyatakan tidak bisa hadir, nyatanya tertangkap ada.
"Ning Kyai Saleh," ucap Ukaisyah, maksudnya putri kyai Saleh yang sempat akan dijodohkan dengan dia karena menuntut ilmu di tempat yang sama dulunya, tapi gadis itu menolak dihari di mana Ukaisyah memutuskan setuju.
__ADS_1
Ini kisah kelamnya dalam lingkup perjodohan sehingga Ukaisyah berpikir ulang bila harus menerima saran dari orang tua, takut hatinya sudah menerima, mendadak gadis yang akan disatukan dengannya justru berubah pikiran.
"Siapa?" Arun menghentikan video itu, dia menarik ulang di mana ada seorang gadis berjilbab cantik yang sempat tersorot kamera lama. "Ini? Kamu kenal? Mantan kamu?"
"Bukan, saya nggak punya mantan sama sekali," jawab Ukaisyah cepat. "Kalau sudah milih efeknya, biar saya bantu nanti. Kamu makan dulu saja!"
Ukaisyah lantas pergi ke kamar tanpa mengatakan apapun, kepergiannya itu membuat Arun bertanya-tanya, lalu tatapannya berganti pada gadis tadi.
Siapa dia? Gus itu suka?
Bibirnya pun maju mundur, Arun ambil gambar gadis itu ke ponselnya, lalu membereskan meja depan sebelum membuat mie. Semua pilihannya sudah disendirikan, nanti Ukaisyah tinggal mencetak sendiri lagi tambahannya sekalian memasang di album. Arun berganti ke dapur, tangannya bingung, mau membuat mie satu atau dua.
"Gus, kamu makan mie ndak?" tanya berdiri di depan pintu kamar Ukaisyah, ngomong-ngomong sesuai permintaan Arun, mereka tidur di kamar berbeda, kedua kamar itu berhadapan. "Gus!"
Klek!
Arun mundur, dia mengerjap kecil, seperti ini kalau Ukaisyah memakai kaos dan celana, bukan baju koko dan sarung. Keren sih!
"Iya?"
"Em, kam-kamu mau mie ndak? Aku mau buat soalnya, sekalian," kata Arun sedikit gagap.
Ish, takut sama sambel ternyata!
***
Siapa si Ning kyai Saleh?
Dia tidak bisa berpikir pagi ini, ada undangan kajian di mana ibu mertua, adik dan kakak iparnya datang, otomatis Arun pun ikut hadir. Cukup lama dia memilih baju gamis dan pasangan jilbab yang sesuai, lalu memakainya susah payah agar terlihat bagus, sedang Ukaisyah sudah pergi lebih dulu karena persiapan ini menjadi tanggung jawabnya.
Semula Arun duduk di dekat adik iparnya, tapi saat pembacaan ayat al-qur'an, dia sendirian, adik iparnya maju menjadi wakil di sana. Dia pun mulai merasa bosan, Arun berjalan ke luar ke tempat penerimaan tamu atau daftar hadir santri.
"Loh, Mbak Arun kok di sini, kenapa nggak di dalam saja?" tanya Wati, sekelas dengan Tejo, hanya saja dia mengikuti ibu mertua dan adik iparnya Arun. Ukaisyah mengatakan bahwa dia juga akan mempunyai orang dalam yang selalu mengikutinya, tapi nanti disaat Arun sudah nyaman dengan pondok ini.
Arun meluruskan kedua kakinya. "Bosen di dalem, Ti," jawabnya akrab.
Wati tersenyum. "Gimana bisa bosen sih, Mbak, kan di dalem sana ada gus Isya duduk di depan, bisa Mbak Arun liat, santriwati di sini kalau di depannyan itu duo gus ganteng, senengnya minta ampun, vitamin mata katanya!"
Sayangnya, pikiran Arun tidak kesana, dia sering melihat Ukaisyah di satu tempat, tapi karena Ukaisyah sering menghindari tatapannya, jadi dia juga tidak bisa melihat dengan begitu jelas. Apalagi, kebanyakan mereka tidak sejalan kalau mau ini dan itu.
Cukup lama terdiam, Arun gatal sekali ingin bertanya pada Wati, pasti gadis ini tahu siapa yang disebut suaminya semalam, Wati sudah lama mengabdi di keluarga ini, rasa-rasanya tidak sabar Arun ingin tahu, walaupun belum ada rasa, lagi-lagi itu alasannya, tetap saja nama gadis lain itu mengganggunya.
__ADS_1
"Siapa?" ulang Wati memastikan.
"Itu loh yang dateng nikah kemarin, yang disebut gus Isya itu ning kyai Saleh!" jawab Arun mengatur mimik wajahnya agar Wati tidak curiga.
Wati terkekeh. "Walah, itu masa lalunya gus Isya, Mbak!"
"Masa lalu? Istrinya?"
"Bukan, gus Isya nggak pernah menikah sebelum sama Mbak Arun, nggak pernah pacaran juga. Cuman, pernah banget dijodohin sama umik. Itu namanya ning Halimah, kalem dan cantik orangnya, pinter urusan ilmu agama, hafalannya joss. Susah, awalnya gus Isya nggak mau karena masih fokus belajar, tapi keluarga terus memberikan arahan karena usia muda itu rawan godaan, nah gus Isya pernah ketemu sekali sama keluarga, tertarik sama hafalannya, gus Isya salatlah buat nentuin pilihan, seminggu kemudian gus Isya mau. Nah, giliran mau dipinang sekalian nikah, eh ning Halimah ngilang, nggak mau ... Karena itu loh, sampe berakhir nikah sama Mbak Arun, gus Isya nggak pernah mau dikenalin sama ning-ning anak kyai, nggak mau dijodohkan. Keren Mbak Arun pokoknya, udah bisa bikin gus Isya mau!" jelas Wati begitu antusias.
Harusnya dia bangga sih menjadi gadis yang bisa mengalahkan Ukaisyah, tapi dibandingkan dengan ning Halimah, apalah dirinya. Jangankan hafalan, membaca al-qur'an saja jarang.
Wati mundur tanpa mengatakan apapun, meninggalkan Arun sendirian dengan wajah bingung, apalagi saat Arun cegah, Wati hanya cengar-cengir saja.
"Ih, kan aku jadi bosen lagi kalau ditinggalin!" omelnya menjejakkan kedua kaki ke depan.
"Kenapa nggak di dalam?"
Waduh!
Arun mendongak, lalu membalikkan tubuhnya, laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya sembari membawa buku.
"Saya liat kamu nggak ada di dalam, kenapa?" ulangnya.
"Bosen," jawab Arun membelakangi Ukaisyah lagi.
"Yasudah, ikut saya aja!"
"Ke mana?"
Ukaisyah menunjuk motornya. "Sepedaan ke peternakan ayah, mau ndak?"
Arun menunjuk ke dalam, maksudnya kajian itu, Ukaisyah kan penanggung jawabnya.
"Ndak apa-apa, udah mau selesai, ada kak Rasyah juga. Ayo, saya juga mau cari angin!"
Arun bergegas berdiri, memakai sandalnya mengekor pada Ukaisyah. Dari dalam aula, Aisyah dan Humairah tersenyum, melihat bagaimana dua sisi berlawanan itu berusaha menjadi satu.
"Bunda bisa aja ngasih izinnya," kata Humairah menyenggol sang ibu.
"Nggak apa, kalau nggak dibantu gitu, seharian dia bakal kerja di pondok, terus istrinya bukan semakin senang dengan situasi baru ini, justru semakin bosan. Kalau begini kan, bisa senang keduanya," balas Aisyah memeluk putrinya itu.
__ADS_1