
Melihat istrinya cemburu, Ukaisyah tidak lantas meninggalkannya begitu saja, memilih meredakan rasa cemburu bercampur curiga milik istrinya itu dengan membawa Arun ke pangkuan dan dia peluk pinggangnya.
"Kalau saya mau, saya harusnya menolak untuk meneruskan pernikahan ini dari dulu dan menikahi dia, tapi ndak saya lakukan itu karena murni saya baru membiarkan hati saya jatuh cinta setelah menikah dan itu hanya pada istri saya saja. Apa kamu masih curiga kalau saya ke sana dengan tujuan lain, bukan hanya membela hak kamu saja yang sudah dibelokkan?" Ukaisyah menatap lekat kedua bola mata Arun, dia tahu istrinya itu tidak keras kepala dan mudah mengerti perasaan orang.
"Ya, masih."
"Baiklah, ndak ada cara lain. Saya akan ajak kamu ke sana supaya kamu bisa melihat dan mendengar langsung pembahasan kami. Bagaimana?"
Mata Arun berbinar, tanpa dia menjawab pun Ukaisyah tahu kalau istrinya mengiyakan hal itu. Dia pun bersiap kembali setelah sebelumnya mendekati Arun dan mencium pipinya lembut dua kali. Wanita memang penuh akan praduga dan tidak ada solusinya selain dimenangkan. Lagipula, Ukaisyah sendiri memang ingin istrinya selalu menang di hatinya itu.
Arun memakai gamis besarnya yang berwarna gelap, tak lupa jilbab panjang yang selaras dengan gamis itu, diambilnya tas selempang kecil untuk menyimpan ponsel dan dompetnya, barulah dia melingkarkan tangan di lengan Ukaisyah.
"Gus beneran ndak nikah lagi loh ya!" katanya manyun-manyun.
"Duuuh ... Kamu menggoda saya sekali ya," balas Ukaisyah tidak fokus karena bibir Arun yang manyun-manyun.
Arun justru terkekeh, lalu keduanya berjalan ke pondok utama dengan tangan yang terus bergandengan. Akan selalu ada ketakutan di hati istri seperti yang Arun rasakan, baik yang baru menikah atau lama, baik yang belum punya anak ataupun sudah, godaan itu ada di mana-mana dan kalau tidak ditegas seperti ini, bisa-bisa lepas, apalagi Ukaisyah kerap didatangi pemilik pondok agar mau menikahi putri mereka, padahal mereka tahu Ukaisyah sudah menikah bersama Arun.
Awalnya, orang tua Ukaisyah terkejut karena Arun ingin ikut, takutnya di sana ada ucapan-ucapan yang tidak pantas Arun dengar, yang namanya orang nekat bisa berucap dan berbuat apa saja. Tetapi, Arun sudah memutuskan untuk ikut, jadi tak ada yang bisa menghalanginya untuk berada di dekat sang suami. Sepanjang perjalanan, tangannya terus melingkar di lengan Ukaisyah, mau suaminya membahas apa saja dengan sang mertua, Arun tetap begitu dan Ukaisyah mengizinkan, bahkan tangan Arun diusap-usap agar cemburunya mereda.
"Ngantuk?"
"Enggak, Gus. Pusing aja."
Ukaisyah mengulurkan tangannya untuk memijat kepala Arun, membuat istrinya senyaman mungkin dan beruntung yang di mobil ini semua keluarganya, jadi tidak perlu malu untuk sedikit memberikan perhatian pada sang istri.
__ADS_1
"Arun pusing ya? Sebentar lagi kita sampai kok, sabar ya!"
"Ya, Mik. Ndak tahu ini kok mendadak pusing, hehehe ..." balas Arun terkekeh, masih menikmati pijatan suaminya, yang lain melihat senang sekali karena hubungan Ukaisyah dan Arun semakin membaik, bahkan menyentuh Arun pun tidak seperti dulu yang kaku. "Itu enak, Gus!"
"Kamu terlalu takut saya menikah lagi sampai pusing begini, ya to?"
"Hehehe ..."
"Saya ndak bisa mencegah kamu berpikir berlebihan, tapi coba liat sejelas apa pancaran perasaan saya ke kamu!" jelas Ukaisyah berbisik, membuat pipi Arun memerah malu.
Berat kalau sudah kena pancaran cinta, matanya gus aja udah terang benderang, juelasss! Jadi, pengen ngajak rebahan, Duh!
Sesampainya di pondok kyai Saleh, kedatangan keluarga Ukaisyah dengan tujuan meluruskan masalah seperti dianggap lain, bahkan ada sambutan beraneka hidangan selayaknya orang mau meminang.
"Gus!"
Oh, Gusti! Gimana ini to, kok malah pengen?!
***
Pembahasannya cukup rumit karena pihak Halimah tidak mau mengakuinya meskipun bukti dan saksi sudah mengaku di depan kyai Saleh. Sebagai putri seorang kyai besar yang mempunyai pondok pesantren, hal itu dianggap tuduhan yang sangat hina untuk Halimah, karenanya mereka memutuskan enggan lagi bekerja sama dengan pondok keluarga Ukaisyah.
Arun memberikan isyarat pada Halimah agar mengikutinya karena sejak tadi seperti ingin sekali mengajak Arun berbicara berdua, hanya saja dia yang sudah mendapatkan nama baik rasanya tidak layak kalau mengajak orang kampung biasa seperti Arun.
"Kamu mau bicara apa sama dia?" tanya Ukaisyah menahan tangan istrinya, bukan takut Arun terluka karena dia tahu bagaimana Arun, tapi dia takut Halimah tidak akan bisa membayangkan bagaimana sepak terjang istrinya itu.
__ADS_1
"Gus, sebentar aja. Aku janji nggak akan jambak-jambakan!"
Lah!
Mau tidak mau Ukaisyah lepaskan tangan Arun, mungkin tidak akan saling menarik rambut karena mereka memakai hijab, tapi bisa jadi Arun adu jotos seperti jaman tawuran. Ukaisyah tampak tidak tenang, apalagi baru sebentar ditinggal istrinya sudah seperti satu abad saja.
Di luar ruangan,
Arun duduk berhadapan dengan Halimah yang jelas lebih tua darinya, tetapi sama sekali tidak menunjukkan kedewasaan dalam berpikir sehingga ilmu yang dia punya seakan tak ada apa-apanya.
"Sebenarnya, apa tujuan kamu berbuat seperti itu? Aku sama sekali ndak pernah mengusik kehidupanmu dan pondok ini, seujung kuku pun ndak pernah, coba kamu jelaskan di sini!" kata Arun memulai.
Halimah tersenyum, pertanyaannya sederhana. "Kamu tahu siapa aku bagi gus Isya?" tak lupa seringai remehnya.
Arun terkekeh. "Ya jelas tahu, wong kita berdua udah klop banget, udah buka-bukaan dan insyaAllah suamiku itu jujur seperti yang orang tahu, termasuk kamu, ya kan?!" kali ini, wajah Arun berubah serius begitu melihat keterkejutan di wajah Halimah. "Kalau kamu ndak terima sama kenyataan ini, salah kalau kamu mengganggu kehidupan gus Isya. Kenapa? Ya, karena yang meninggalkan pernikahan itu bukan gus Isya, tapi kamu. Cuman, pada dasarnya manusia itu ndak mau ngaku salah atau disalahkan. Kalau gus Isya mau, dia bisa memaki kamu yang ndak tahu malu ini, dia udah kamu tinggalkan dan masih bisa ndak stres itu ya bagus, sekarang malah seolah-olah dia yang ninggal kamu, kan kebalik to, Nangningnung Halimah!"
Halimah tercengang, sudah sejauh itu penjelasan tentang dirinya dari Ukaisyah pada Arun, mereka sudah sangat dekat jauh dari perkiraannya. Tetapi, dia yang sudah terbiasa di atas tidak akan menerima yang namanya meminta maaf, Halimah tetap mempertahankan eksistensinya.
"Ck! Jangan kesombongan kalau gus Isya mau jujur sama kamu, toh belum tentu kamu bisa melahirkan anak buat dia, banyak gus yang kawin lagi karena istrinya mandul. Dan kalau itu benar, aku siap gantikan posisimu, gus Isya pasti butuh penerus yang pastinya berbobot, ndak dari penduduk biasa yang ndak pernah mondok kayak kamu, SDM rendah!"
Sakit hati?
Ah!
Arun menyengir kuda mendengarnya. "Walah, kok kejauhan to ngomongmu! Kan kamu ndak jelas bisa hamil atau endak, kamu aja belum nikah, gimana to kok pede banget mau jadi ganti ... Buktinya mana kalau kamu bisa kasih anak, hayo!"
__ADS_1
Halimah meremat ujung bajunya. Sontoloyo, lawan anak ini!