JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Bikin Bingung


__ADS_3

 Bukan hanya di pondok, ternyata Ukaisyah juga mengirimkan aneka barang dan makanan untuk berbagi di sekitar rumah orang tua Arun.


 "Ini dari mana?" tanya Ajeng pada beberapa penjual yang telah habis dagangannya.


 "Dari gus yang di pondok itu, Bu Ajeng," jawab mereka kompak.


 Ajeng terbelalak, ya dia tahu kalau menantunya itu pasti royal sekali dalam hal berbagi, tapi dia tidak diberitahu apapun masalah ini. Memang sedekah itu lebih baik sembunyi-sembunyi masalahnya dia juga butuh alasan kalau ada orang bertanya.


 "Ibu denger'kan udah?! Aldo udah bilang ini dari gus ipar, kok malah nggak percaya. Yaudahlah ya, aku boleh ambil sesuka aku ya, Bu. Urusan beres!" kata Aldo melenggang pergi ingin mengambil apa yang sejak tadi dia incar.


 "Heh, anak ini!" ucap Ajeng, tapi tak dihiraukan.


 Dia pun kembali ke rumah, kebetulan suaminya sedang ingin bermalas ria karena dua hari lalu sibuk di luar kota, jadi masalah ini mungkin bisa dibicarakan baik-baik antar sesama laki-laki.


 Kekhawatiran Ajeng jelas nyata, takutnya setelah baik-baik seperti ini nanti mereka ingin mengembalikan Arun ke rumah dengan status baru. Dia tahulah kualitas anaknya bagaimana, sebagai ibu jelas dia khawatir.


 "Ayo, tanyain to Mas!" pinta Ajeng pada suaminya. "Begini loh tanya yang baik sama gus Isya, ini kenapa kok mendadak ada kiriman hadiah bagi-bagi, kamu sama Arun sehat atau gimana?"


 "Lah, kalau mereka mau sedekah ya nggak apa loh. Kamu mikirnya jangan kejauhan. Gus Isya memang menikahi Arun tanpa cinta, tapi dia telah berjanji ke aku kalau nggak akan memulangkan Arun alias menjaga rumah tangga itu!"


 Tapi, yang namanya wanita dan sudah jadi ibu, pikiran berlebihan itu sudah seperti makanan saja, butuh dan harus. Mau tidak mau Arya pun menghubungi menantunya itu, sedang Ukaisyah di sana cepat menerima.


 Senyum-senyum Arya mendengarnya, hanya berbicara kurang dari lima menit, panggilan itu selesai.


 "Kenapa, Mas?" tanya Ajeng penasaran setengah mati, masak pun dia tinggal.


 "Udah, kamu masak aja, tenang. Kita tunggu aja kapan rumah ini rame sama anak kecil," jawab Arya seketika membuat Ajeng gemetaran.


 "Arun hamil?"


 Walah!


 "Belum, Dear ... Proses, gus Isya minta doa supaya segera," jawabnya.


 Wajah Ajeng berubah sumringah, bahkan dia menari-nari saking senangnya, berputar ke sana-sini, menarik Aldi yang baru saja pulang untuk ikut menari sampai putranya itu kebingungan, pokoknya ikut berputar.


 Tadi, Arya menanyakan seperti yang sang istri sarankan. Alasan apa dan kabar keduanya, dengan singkat Ukaisyah menjawab bahwa hadiah itu sebagai bentuk syukur atas kemajuan hubungannya dengan Arun dan dia mengatakan tentang perasaannya yang telah jatuh pada Arun.

__ADS_1


 Arya langsung paham, tidak ada lagi naik tingkat bagi laki-laki kalau bukan berhubungan dengan ranjang, laki-laki punya kode sendiri dalam hal itu, apalagi sudah menikah, pasti arahnya ke sana.


 "Mas, gimana kalau aku buat bubur jangkep?"


 "Bubur jangkep?" ulang Arya, lalu menekan keningnya. "Nanti aja, nanti kalau udah ada cucunya!"


 "Hahahaha, aku ndak sabar loh. Walah, ya cueeeepeettt gus Isya mepet Arun, langsung ketuk pintu, terus MASOOOKK!"


 Kan, Arya hanya manggut-manggut saja, ini istrinya memang se heboh ini, menantunya nanti harus terbiasa. Dan beruntung menantunya sabar.


 Sementara itu, di rumahnya, Arun yang mondar-mandir menunggu kedatangan Ukaisyah yang tengah dipanggil ke pondok utama.


 Walaaah, ini nanti gus jawab apa sama umik!?


 ***


"Masyaallah, Nak ... Bunda kira kamu ini ada apa, Tejo juga jawabnya ndak jelas. Yasudah kalau memang alasan yang kamu buat tepat, Bunda ndak masalah. Berbagi memang sangat diperbolehkan, tapi ingat kamu sedang ada di lingkungan pesantren di mana urusan dunia ditekan habis di sini. Bunda doakan hubungan kamu dan Arun semakin hari semakin penuh dengan cinta yang DIA berikan," kata Aisyah mengusap kepala putranya yang bersimpuh.


Sama seperti saat dia menjawab pada ayah mertua, di sini Ukaisyah pun mengatakan bahwa ini sebagai bentuk syukur karena telah dititipkan cinta dari Allah untuk keluarga kecilnya bersama Arun. Tentu saja apra orang tua senang, sebab cinta setelah menikah bersama orang yang tepat adalah anugerah besar dari Sang Maha Besar.


"Sudah tugas Bunda, Nak. Sudah, kamu pulang dulu. Bunda yakin istrimu waswas itu ditinggal di rumah sendiri, tahu kamu mendadak dipanggil ke sini!"


Ukaisyah patuh, tapi baru saja dia membalikkan badan, Wati sudah berlari main masuk saja ke pondok utama, beruntung tidak menabrak Ukaisyah yang masih baru berputar dan hendak berdiri.


"Ti, Ya Allah, ada apa?" Aisyah lantas berdiri.


Wati cengar-cengir. "Anu, Mik ... Tadi, kan katanya Umik pengen pukis, lah saya udah antri, kehabisan, Mik. Ini gimana? Umik udah kepengen!"


Ukaisyah menoleh pada ibunya. "Bunda pengen pukis?"


"Hehehe, denger tadi Tejo bilang, jadi pengen. Tapi, udah habis, nggak-"


"Isya mintakan lagi, dia pasti punya stok, biar yang belum kebagian bisa tetap dapat, Nda!" potongnya segera berlari.


Aisyah tersenyum tak menghalangi putranya itu, sesukanya selama melakukan hal baik dan bentuk syukur, biarlah. Toh, Ukaisyah mengetahui batasan yang ada.


Setelah memastikan semua orang dapat dan yang berjualan bisa benar-benar habis. Barulah dia pulang menemui sang istri.

__ADS_1


"Ddduuhhhh, wa'alaikumsalam, Gus!" balas Arun berjalan sedikit cepat, membuka pintu rumah. "Dari mana aja to Gus? Tadi disidang apa aja di sana? Kamu jawab apa?"


Alih-alih menjawab, Ukaisyah justru cengar-cengir mendorong tubuh istrinya lebih masuk lagi dan dia kunci pintu rumah itu. Yang didorong gelagapan, apalagi mata Ukaisyah tertuju pada baju Arun.


Wah, bahaya ini. Sampo bisa abis!


Arun menahan kedua sisi bajunya dengan kedua tangan yang dia rapatkan, lalu menggeleng kecil. Sudah, jangan basah-basah lagi, dia baru saja ingin makan mie kuah dan baru selesai dimasak, bisa habis kuahnya, terus jadi mie kembung.


"G-gus, ini ma-mau apa?"


"Menurut kamu, saya mau apa?"


Waduh, apa ya bener yang dulu pernah dibilang Wati? Gus sebelah sampai nikah lagi karena ini pengenan, Gus ku sama ndak?


"Nganu!"


Purrfft!!


Ukaisyah mendekatkan wajahnya, menempelkan pipi mereka sejenak sambil terus tertawa kecil.


"Gus!"


Ukaisyah masih tertawa. "Hal seperti itu memang ingin, tapi saya punya hajat lain," ucapnya.


"Ooo bukan, apa terus, Gus? Hajat apa?"


Ternyata Arun lupa kalau hari ini mereka akan menonton balap motor seperti yang Ukaisyah janjikan dan izinkan.


"Nonton balapan," bisiknya.


Arun menganga, dia pun melompat dan langsung menjerit.


"Saya bilang pelan dan hati-hati," katanya. "Begitu kamu mau nantangin saya lagi, hem? Apa ndak-" Ukaisyah bungkam dibekap tangan Arun.


"Gus ini lama-lama ngomongnya jadi ngelantur, kita pergi aja habis ini!" katanya menarik Ukaisyah untuk bergegas ganti baju.


Di luar sana, kebahagiaan seisi pondok tetap saja ada ulatnya, ada bahagia, ada juga yang tidak suka. Halimah berusaha menghasut beberapa orang baik di luar maupun di dalam pondok.

__ADS_1


__ADS_2