
"Iya, jangan!" Ukaisyah menahan kedua bahu Arun. "Tadi, saya kira hantu. Saya terbiasa tidur dengan lampu mati, jadi kaget mendadak ada kamu. Sekarang, tidur aja di sini ya ..."
Sabar, harus sabar menghadapi kaum hawa, apalagi mereka mempunyai hati yang mudah sekali tersentuh dalam hal apapun, bisa terpancing iba, bisa juga marah. Sekali lagi, Ukaisyah sangat ingat pesan ibunya dan hal ini yang selalu dia bahas bersama pengajar lain saat kajian umum, betapa harus indahnya sikap suami pada istri, sebab kondisi rumah pun tergantung si jantung hati ini.
Jujur, sejak dia sakit waktu itu dan banyak berbicara lagi berinteraksi dengan Arun, rumah ini udaranya seakan berubah, tak penuh kecanggungan apalagi sesak, segar mendadak.
"Gus salat terus sampai shubuh?" tanyanya sembari menghitung berapa kali Ukaisyah salam, lalu bangun lagi.
Ukaisyah menggelengkan kepala. "Biasanya hanya lima kali saja, terus saja mengaji. Ini baru berapa?"
"Empat, kurang satu ya. Aku hitung loh!" jawabnya mengangkat empat jari, tidak salah kalau sejatinya Arun ini menarik, berinteraksi dengan Arun itu tak membosankan, asal kenal sekali bagaimana cara mengajaknya berbicara dan menjaga sikap.
Lagi, setelah salam kelima, Ukaisyah melambaikan tangannya, mengajak Arun mendekat, gadis itu pun yang biasanya molor sampai ayam berkokok, bisa-bisanya terjaga dan ikut duduk di samping Ukaisyah. Ditempatkannya Arun pada alas yang lebih tebal, sedang Ukaisyah pada sisi tepi yang lebih tipis.
"Kamu bisa ikuti dzikir setelah salat sama saya?" tanya menatap Arun lekat, sungguh indah.
Arun berkedip beberapa kali, lalu berdiri dan berlari ke kamarnya, mengambil jilbab besar yang sudah sekaligus ada lengan, sebab dia memakai piyama lengan pendek. Senyum Ukaisyah jelas mengembang sempurna di sini, tiba-tiba saja dia ingin membaca dzikir pagi bersama gadis ini.
Keduanya pun duduk saling berhadapan, Ukaisyah membuka tangan dan meletakkannya di lutut, begitu juga dengan Arun. Setiap yang terucap dari belah bibir Ukaisyah, diikuti oleh Arun. Dan disaat Ukaisyah menengadahkan kedua tangannya seraya menghadap kiblat untuk melangitkan doa, kata aamiin pun terdengar sayup-sayup dari Arun yang mengaminkan doanya.
"Gus, jangan ke masjid hari ini!"
"Kamu masih marah karena surat itu?" tanya Ukaisyah kembali duduk, sebentar lagi adzan shubuh.
Arun melirik kecil sambil meremat jemarinya. "Emm, cuman mau salat berdua aja sama Gus!"
Deg!
Keduanya sama-sama malu, tidak salah tadi disembur. Ukaisyah pun mengiyakannya, menunggu Arun selesai wudhu sembari adzan berkumandang, setelah siap, keduanya salat bersama mulai sunnah hingga wajibnya dan kembali mengulang dzikir tadi.
Arun tidak bisa? Salah bagi mereka yang berpikir begitu, Arun bisa, hanya saja lama tidak dilatih, jadi begitu hatinya tergerak, kemampuannya bagai petir yang menyambar, bacaannya pun bagus.
"Run ..." panggil Ukaisyah setelah selesai semua, Arun pun hendak melepaskan mukenah yang dia kenakan.
__ADS_1
"Hem?" balas Arun sekenanya, begitu tubuhnya berbalik, kedua tangan Ukaisyah menangkup kedua sisi wajahnya dan perlahan kecupan lembab itu dia rasakan mampir di keningnya dua kali, pertama cepat dan yang kedua sedikit lebih lama.
Lohlohloh ... Hop!
Loh ... Gimana ini kalau Gus'e pengen nganu?!
Namun, pikiran yang iya-iya nya itu terjawab dari senyum Ukaisyah yang berada tepat di depan wajahnya.
"Semoga Allah senantiasa mengelilingi dengan banyak karunia-Nya," ucap Ukaisyah.
"Aamiin ..." balas Arun mengerjap. "Gus kalau mau doa, apa memang harus nyium kepalanya dulu?" Arun pernah melihat ayah dan ibunya begini, sekarang dia mengalami.
Ukaisyah tersenyum. "Itu tandanya suami ridha sama istrinya, dari suami itu tadi bisa membuat hari istrinya dapat banyak kebaikan. Dan ... Setelah ini, apa boleh saya lebih dekat sama kamu?"
Eh, Gusti .... gimana ini? Ahay!
"De-deket gimana?" tanya Arun agar tak salah paham, arti dekat kan banyak.
"Eh, tapi kalau pacaran kok Gus udah berani pegang tangan sama cium keningnya aku?" potongnya melirik kecil.
"Karena kita pacarannya setelah menikah, halal untuk mencium kamu dan lebih," jawab Ukaisyah dengan pipi memerah, ini masih pagi, tapi sudah dibuat sakit perut.
***
Hem ... Katanya jadi pacar, tapi tebar pesona sampe santri ngiler semua!
Arun duduk bersama Wati setelah kajian santri selesai, mereka mendapatkan waktu istirahat sambil diperbolehkan bermain di lapangan. Sejak tadi, bukan hanya pandangan Arun saja, melainkan santriwati rela makan sambil panas-panasan di dekat lapangan demi melihat santri laki-laki bermain bola.
Dan itu, Arun jamin si kang masak di dapur umum pun bisa salah mencampurkan bumbu kalau Ukaisyah terus berada di lapangan.
Untung udah nggak makan di dapur umum lagi, udah tahu ya aku kelakuannya pada ngelirik sampe ngiler!
Wati saja susah payah ingin menutup mata, bahkan tidak sekali dia memperingati santriwati untuk pindah ke tempat lain, tidak melihat atau terlalu dilihat santri laki-laki.
__ADS_1
"Gus!" panggil Arun berdiri, jantungnya berdebar tidak karuan saat Ukaisyah menoleh dengan rambut basah dan keringat yang berjatuhan, rasanya ingin sekali jadi handuk kecil.
Ukaisyah memberi tanda pada santri lainnya, dia istirahat sejenak dan mereka boleh melanjutkan bermain sepak bola lagi.
"Kok kamu di sini? Bunda sama Humairah di mana?" tanya Ukaisyah sambil menyugar rambutnya.
Tanpa berbicara apapun, Arun menurunkan lengan kemeja yang dilipat di siku Ukaisyah hingga menutup sempurna, kulitnya itu bersinar dan membuat mata perempuan silau.
"Udah balik, aku lagi bosen di rumah, jadi ke sini. Gus malah tebar pesona!" omelnya menjawab.
Ukaisyah mengerjap bingung. "Tebar pesona sama siapa? Saya-"
"Tuh, Wati aja sampe butuh ember buat nampung ilernya, terus orang dapur, belum lagi santriwati ya, mereka rela panas-panasan tadi biar bisa liat sebentar. Gus itu kalau jadi orang ganteng ya yang sadar, pake dilipet lagi, kan jadi keliatan kulitnya mulus!" lagi, dia mengomel terus, sedang Ukaisyah sibuk memperhatikan garis wajah Arun. "Gus nggak tahu apa kalau dalam istilah pemuda pacaran itu, cemburu namanya, bikin cemburu pacarnya!"
"Saya belum pernah pacaran," kata Ukaisyah. "Kamu cemburu?"
"Hish! Terserah lah mau apa, aku pulang aja!" balas Arun menjejakkan kedua kakinya kesal, ya bagaimana, tidak bisa disamakan dengan teman-temannya yang sudah ganti-ganti pasangan, hubungan ini baru bukan untuknya saja, tapi Ukaisyah juga.
Namun, sebelum Ukaisyah menahan dan Arun melangkah lebih, Tejo lebih dulu datang dan hampir menabrak Ukaisyah.
"Gus, Gus ... Di depan, ada mertuanya Gus!"
"Hah?" jawab Arun menoleh kaget.
Tejo menolehkan wajahnya pada Ukaisyah lagi, tidak boleh sembarang enak melihat wajah Arun.
"Mertua saya?"
"Iya, Gus. Katanya, mau akhir pekan nginep sini, rumahnya Gus!" jelas Tejo seraya menunjuk depan.
"Yang bener?!" sahut Arun lantas saling bertatapan dengan Ukaisyah, ngomong-ngomong bisa ketahuan kalau mereka tidur di kamar berbeda, terpisah. "Ayo loh, Gus, pulang dulu!" ucapnya menarik tangan Ukaisyah segera ke rumah.
Tejo melongo, tamunya kan ada di depan, kok malah mau pulang. Apa ya mereka mau iya-iya dulu, hem? Heheheh.
__ADS_1