JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
First Day, Pasutri


__ADS_3

 Nyatanya, dia tidak bisa tidur. Sudah memakai baju yang dia mau, kaos dan celana selutut yang menjadi kebiasaannya, ini juga Arun bawa dari rumah, padahal ibunya berpesan memakai daster malam, tapi tidak dia kenakan, lagipula tidak akan terjadi apapun diantara dirinya dan Ukaisyah.


 Dan lagi, ini yang mengganggu pikirannya.


 "Kamu nggak bisa tidur? Apa keberadaan saya di sini mengganggu kamu?" Ukaisyah duduk di sudut kamar di mana ada meja belajar dengan lampu kecil sebagai penerangnya, sedang kamar ini sudah gelap, tapi laki-laki itu tahu Arun belum tidur sejak tadi.


 "Kalau ganggu?"


 "Ya, saya akan ke masjid saja. Kalau saya nunggu kamu di luar kamar, nanti orang rumah pada berpikiran yang tidak-tidak. Jadi, kamu benar-benar nggak bisa tidur karena ada saya?" tanya Ukaisyah kembali, dia pun sebenarnya sama, sulit konsentrasi karena baru kali ini ada seorang gadis di kamarnya, dia sampai tidak berani banyak bergerak karena khawatir Arun terganggu.


 "Iya sih, tapi nggak apa. Kan, cuman malem ini aja, toh nanti kalau udah pindah ke rumah sana, kamu nggak tidur sekamar sama aku. Nggak apa malam ini, cuman aku lagi kepikiran sesuatu," jelasnya mulai banyak bicara meskipun memang dia suka banyak bicara, tapi ini kemajuan bagi Ukaisyah.


 "Apa?" balas Ukaisyah, membiarkan kamar ini tetap gelap dan hanya ada satu penerangan di meja belajarnya.


 Arun lantas berubah duduk, dia menekan tombol lampu yang ada di samping ranjang, seketika kamar ini sedikit terang karena ada satu lampu yang menyala. Jujur saja, kamar ini tidak terlalu besar, tapi lampunya banyak sekali.


 Seperti sebelumnya, Arun mendapati Ukaisyah mengalihkan pandangan darinya ke sisi lain atau laki-laki itu melihat ke bawah. Tapi, hal itu belum penting baginya, dia anggap saja kalau laki-laki itu memang sama dengan dia yang tak ada rasa sehingga malas melihat atau mungkin takut tergoda, sampai-sampai melihatnya hanya sebentar.


 "Yang aku tahu, biasanya orang setelah menikah, mereka akan disuruh foto kecup kening istrinya, kenapa tadi nggak ada? Bukannya, kamu minta aku jadi baik, kok tadi nggak ada. Kamu minta ke orang rumah buat nggak nyuruh gitu?" cerca Arun, sejak tadi itulah yang berisik di kepalanya.


 Ukaisyah tersenyum tipis, pada nyatanya hal seperti ini juga mengganggu Arun.


 "Kamu mau dengarkan penjelasan saya?"


 "Iyalah, kan aku nanya!"

__ADS_1


 "Oke, jadi seperti yang saya katakan sebelum ke luar kamar waktu itu, mereka dan kami sangat menjaga betul, termasuk arti menjaga menampilkan hal-hal seperti itu, boleh kita menunjukkan kemesraan pasangan dengan selalu hadir bersama dan duduk berdekatan, menggandeng tangan bila memang diperlukan, tapi ada beberapa hal seperti mencium istri atau suami, memang termasuk pada hal yang dijaga supaya nggak membuat orang yang melihat terbayang-bayang atau membayangkan seandainya dia ada di posisi itu dan sedang menerima sentuhan kita. Lagipula, mencium pasangan termasuk hal yang bisa menumbuhkan dan bukti cinta pasangan itu sendiri, bukti itu hanya untuk mereka berdua, bukan dibagikan ke orang lain, mereka nggak ada kepentingan di sana, " jelas Ukaisyah, yang mendengarkan ingin membawa cemilan karena saking panjangnya laki-laki itu menjelaskan.


 Arun bisa memahami itu, tapi telinganya berdenging kalau panjang-panjang.


 "Yaudah, aku cuman tanya, bukan berarti minta kamu buat nyium kening aku ya?!"


 "Saya paham, saya hanya menjelaskan saja, semoga membantu kamu," balas Ukaisyah lantas berdiri.


 "Eh, mau ke mana?" lah, ini kan kamar baru, tetap tidak enak kalau sendirian di malam hari.


 Ukaisyah menunjuk jam dinding di kamarnya. "Ini sudah pagi, sudah jam 3, saya mau salat dulu. Kamu mau ikut?"


 "Nggak, aku ngantuk!"


 "Yasudah, silakan tidur. Nanti, saya bangunkan waktu shubuh!" balas Ukaisyah beranjak dari kamar itu, biasanya dia salat di kamar, tapi lebih baik malam ini di masjid saja sambil menunggu shubuh, Arun perlu waktu untuk membiasakan diri.


 Laki-laki itu tersenyum seraya bersyukur, tidak terlalu dalam yang ada di dunia ini, pikirannya tetap pada kehidupan kekal nantinya.


 ***


Satu bulan sebelum menikah, bangunan yang dulunya digunakan untuk orang tua santri bila ingin menginap, salah satunya diubah menjadi istana Ukaisyah dan Arun sekarang, renovasinya mengejar waktu dan selesai tepat disaat mereka akan akad nikah.


Ukaisyah memastikan lagi barang-barang dan perlengkapan di dalam rumah itu, tidak besar, hanya ada dua kamar dan dua kamar mandi, satu di dalam kamar utama, satu lagi di luar yang ukurannya tidak besar juga. Bagian dapur dan lemari pakaian yang Ukaisyah perhatikan lebih detail, berencana membelikan Arun lebih lengkap lagi, mengingat dapur dan lemari baju merupakan istana utama seorang wanita, itu daerah kekuasaan penuh mereka.


Sedangkan, Arun menganga dan tidak percaya dibuatnya. Sudah mereka menikah mendadak, terus mereka belum terlibat rasa, sekarang yang dia lihat seolah-olah dijadikan ratu oleh Ukaisyah.

__ADS_1


Apa laki-laki itu bertujuan mencintainya?


"Kacanya kenapa gelap semua?" tanya Arun ingin tahu.


"Kemarin saya bilang kamu bisa bebas memakai baju kesukaan kamu saat saya ndak ada di rumah, kaca seperti ini bantu ngejaga kamu dari pandangan orang luar. Dan ingat, jangan menerima tamu tanpa izin saya, sekalipun itu adik kamu ya ..." jawabnya sembari memberi pesan.


Arun mengangguk, sebab di sini bila ada tamu meskipun itu keluarganya sendiri, mereka wajib dihormati dengan memakai baju yang tertutup, tidak asal keluarga, lantas bisa memakai kaos dan celana pendek, kecuali sudah mendapatkan izin Ukaisyah.


"Aku harus selalu izin kamu?" ini yang tidak terlalu dia suka, biasanya dia hanya izin sekali ke ayahnya, lalu yang lain terserah dia.


"Iya, bukan saya mengekang kamu. Tapi, ada apa-apanya kamu itu tanggung jawab saya," jawab Ukaisyah tanpa sadar membuat getaran di dada Arun, tapi segera gadis itu tepis. "Coba kamu liat isian dapurnya, apa ada yang kurang? Saya antar ke tokonya kalau ada yang kurang," pintanya mengajak Arun ke dapur.


Arun berjalan sambil menggaruk kepalanya yang mulai gatal, dia belum terbiasa dengan jilbab seperti ini, tapi karena masih ada beberapa orang yang memindahkan barang, jadi harus dia kenakan.


"Aku nggak tahu dapur, nggak biasa masak di rumah, nggak bisa masak juga!" Arun mencondongkan tubuhnya sedikit, ingin tahu respon Ukaisyah, pasti seorang suami ada kecewanya kalau istri mereka tak bisa masak, apalagi ini pasutri baru, inginnya dimasakkan oleh istri.


Namun,


"Bukan kewajiban kamu memasak, dapur ini istananya perempuan, bisa atau tidak pasti suka menata dapur," balasnya.


"Terus, kamu mau makan apa? Jangan suruh aku masak ya!"


Ukaisyah tersenyum. "Di pondok ini ada dapur umum, pengajar dan santri bisa makan di sana. Kamu jangan khawatir, kamu bebas di istanamu ini," jawab Ukaisyah, kemudian mengajak ke tempat lainnya.


Tapi, namanya perempuan, pasti bertengkar dengan ucapannya sendiri. Terkadang lidah dan hati tidak sama, sulit dipahami, apalagi laki-laki kepekaannya tipis.

__ADS_1


Ih, jawabnya tuh harusnya 'iya, nanti kamu belajar masak, atau kita buat bersama atau aku yang masak terus kita makan bareng. Bukannya, malah mau makan di dapur pondok, nyebelin!'


__ADS_2