
Bukan hanya tidak suka kopi dan tidak kuat menahan rasa kantuknya, sesampainya di pondok Arun menyalami semua keluarga inti Ukaisyah, kecuali kakak ipar laki-lakinya, lalu gadis itu bergegas untuk kembali ke rumah dengan alasan matanya kelilipan.
"Istrimu kenapa, Sya?" tanya sang ibu.
Ukaisyah sedikit bingung dengan pertanyaan ibunya karena memang sejak di kereta ada perubahan dari diri Arun yang sangat-sangat tidak dia kenali dan tidak biasanya meskipun Arun mengatakan hal itu efek karena dia jenuh dan kelelahan, ditambah lagi Arun mengatakan bahwa bukan kelelahan untuk melayani suaminya, melainkan kelelahan karena dia banyak tingkah, tetapi hal itu tidak mudah diterima bagi dirinya sendiri dan sang Ibu yang sudah berpengalaman dalam berumah tangga.
"Coba kalau dia sakit ajak dia ke dokter, lihat dulu keluhannya seperti apa, kalau hampir setiap hari dia merasakan ngantuk yang luar biasa, kamu bisa mengajaknya ke dokter kandungan," ujarnya.
"Kenapa harus ke dokter kandungan, Bunda? Kenapa ndak ke dokter keluarga langganan kita saja? Siapa tahu harus mendapatkan obat di sana karena memang angin di tempat kami berlibur cukup kencang, apalagi waktu kami keluar hotel, Arun jarang sekali memakai jaket, itu bisa saja membuat dia merasa kurang baik atau masuk angin," balas Ukaisyah.
Aisyah tersenyum. "Kamu ini turuti saja ucapan ibumu, Bunda lebih mengetahui kondisi kesehatan wanita dibandingkan kamu!"
Tidak ada alasan baginya untuk menolak lagi, dia pun menyelesaikan tugasnya lebih dulu baru kembali ke rumah menyusul sang istri. Di rumahnya, Arun terduduk letih di samping meja makan, tadinya dia mau makan, tetapi ketika masakan itu jadi bukannya dia bernafsu makan, dia justru tidak suka melihat hasil karyanya sendiri. Arun merasa ada yang salah di sini, apalagi masakan itu sangat ia sukai.
"Assalamualaikum," salam Ukaisyah.
Arun pun berdiri, ternyata suaminya membawa kunci dan dia tidak menyadari kedatangan suaminya sejak tadi di depan pintu walaupun sudah salam. "Gus maaf aku kayaknya nggak konsen banget hari ini, aku kayak kosong gitu"
Ukaisyah tersenyum seperti biasa. "Ndak apa-apa, mungkin kamu kelelahan, kamu bisa istirahat. Sudah makan atau belum?"
"Belum Gus, tadi aku niatnya mau masak, tapi waktu masakannya jadi aku justru enggak nafsu makan. Coba lihat itu masakan yang enak, aku suka, tapi waktu aku mau makan rasanya mual sekali"
__ADS_1
"Ya sudah kamu pengen makan apa, biar itu saya yang makan," kata Ukaisyah mengerti.
"Ndak pengen makan apa-apa, itu rasanya sakit sekali waktu masuk tenggorokan," jawab Arun mengadu, Ukaisyah lantas meminta istrinya itu untuk membuka mulut, lalu dia cek bagian rongga mulut istrinya itu apa kamu sariawan atau mungkin terkena radang.
"Kalau perlu hari ini saja kita ke dokter keluarga," ajak Ukaisyah, tetapi Arum menolaknya.
"Aku punya obat penyegar kok Gus, jadi mungkin nanti kalau sudah diminum dan aku istirahat, tenggorokanku pasti enakan," katanya.
"Baiklah kalau itu maumu.Tapi, kalau besok kamu masih merasa tidak enak badan, lebih baik kita ke dokter!"
Arun mengangguk, lalu dia menyiapkan air minum untuk suaminya, lalu dia bergegas ke kamar seperti yang diminta oleh ukaisyah. Dia meminum penyegar tenggorokan tadi dan istirahat, perutnya terasa lapar dan dia ingin makan, tapi satu jenis makanan pun tidak menarik di matanya termasuk makanan-makanan yang menjadi oleh-oleh yang dia khususkan untuk disimpan di rumah ini sendiri, semua tidak ada yang menarik bagi Arun, padahal kemarin waktu dia membelinya Arun sendiri yang memilih tanpa campur tangan sang suami.
Keesokan harinya, selesai salat subuh berjamaah bergegas kembali ke rumah, entah kenapa perasaannya tidak enak melihat Arun bangun tidur tadi bibirnya berubah pucat, bukan hanya itu Arun kerap memegang kepalanya dan merasa pusing. Dua hari sudah Arun seperti ini, Arun mengatakan kondisinya akan membaik setelah lelahnya pergi dan gadis itu masih ingin di rumah belum dibawa ke dokter keluarga.
"Apa aku katakan saja yang disampaikan sama Bunda ke Arun supaya dia bisa mempertimbangkan?" tanya ukaisyah dalam hati, dia mulai paham kenapa Ibunya menyarankan untuk pergi ke dokter kandungan, tidak lain karena indikasi kemungkinan penyakit, satu-satunya perempuan yang harus datang ke dokter kandungan, dan paling besar kemungkinannya adalah kalau tidak sakit pada bagian tertentu, kemungkinan kedua adalah sedang mengandung. Sebenarnya Ukaisyah takut membahas hal ini karena bisa saja Arun terganggu dan berpikiran lebih, apalagi mengira dirinya terlalu terburu-buru menginginkan anak, sedangkan sampai detik ini belum ada tanda-tanda telat datang bulan dari Arun sendiri. Soal datang bulan, dia belum pernah membahasnya dengan Arun, yang justru dia pernah mendengar dari kedua adiknya, kalau dari Arun sendiri, belum ada penjelasan sama sekali, dan dia pun belum bertanya, tidak pernah dia mendengar Arum membahas itu.
"Gus udah pulang?" sambutan begitu melihat suaminya berdiri di ambang pintu kamar.
Ukaisyah mengangguk. "Kamu masih lemas? Sudah makan atau belum?"
"Sudah Gus, tadi aku buat sereal dan bisa aku makan, tapi hanya beberapa sendok, perasaanku ndak enak, dadaku terasa penuh, seperti banyak anginnya, perutku juga seperti mengular, ada yang bergerak-gerak."
__ADS_1
Oke, Ukaisyah lebih takut pada kemungkinan pertama yaitu ada penyakit di tubuh istrinya, dengan hati-hati dia pun memberikan saran pada Arun.
"Sayang, tolong jangan salah paham dengan arahanku. Aku hanya ingin memberikan yang terbaik buat kamu dan kalaupun ada sesuatu yang salah, kita bisa memperbaikinya lebih cepat atau mencegah," ujarnya.
"Kenapa emangnya Gus?"
Ukaisyah mengambil tangan Arun dan menggenggamnya. "Tolong ikut saya ke dokter kandungan, bunda menyarankan saya membawa kamu ke sana, wanita memiliki penyakit pada dalam dirinya yang bisa dibantu oleh dokter kandungan, kemungkinan kedua bisa jadi kamu saat ini tengah berbadan dua," jawabnya.
Arun tersentak mendengarnya, tiba-tiba dia ingat bahwa sudah terlewat jauh dari tanggal periodenya, sudah hampir jalan 3 minggu lebih dia tidak menyadari bahwa tanggal merahnya sudah berlalu dari dia bulan madu dan dari sejak dia berhubungan dengan Ukaisyah.
"Kenapa kamu berkeringat dingin seperti itu?"
"Aku mau ganti baju dulu Gus, setelah itu kita berangkat ke dokter yang disarankan umik saja. Aku rasa memang ada yang salah di tubuhku!"
"Salah bagaimana? Apa kamu ndak mau mengatakan kepada saya rasa sakit yang kamu rasakan? Saya ndak mau kamu merasakannya seorang diri dan akan jadi kesalahan besar saya kalau saya membiarkan istri saya merasa sakit—"
"Bukan Gus, bukan sakit yang itu!"
"Apa?"
"Pokoknya, antar aku dulu ke sana, biar diperiksa!" Arun menegaskan kembali, mau tidak mau Ukaisyah menahan diri untuk rasa penasarannya dan mengantarkan Arun ke dokter yang disarankan oleh sang Ibunda.
__ADS_1