JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Tuduhan


__ADS_3

 Keluarga besar pondok pesantren Nurul Jannah dibuat gempar mendengar kabar ini, bukan hanya itu, banyak warga yang datang ke rumah keluarga Arun untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang baru saja terjadi.


 Ajeng memijat kepalanya, dia ini sudah paling tua sendiri di rumah, ujiannya tidak habis-habis, mulai masih sendiri sampai punya suami dan anak, tidak pernah habis menjadi titik pusat heboh di kampung ini.


 "Mas, ini ya nggak masuk akal loh. Kalau mereka ngomong Arun berantem atau ngerokok, yaudahlah aku percaya, nakalnya anak muda emang begitu, modelan Arun bisa jadi ikut. Tapi, masa iya dia sengaja godain orang pondok, hah? Se mampu apa dia sampe berani godain gus Isya? Pemuda di kampung ini aja diajak berantem sama dia, mau goda gimana, kalau dia gulat sama gus Isya, aku baru percaya, ini gimana kok-"


"Udah, kita ke sana aja. Aku pengen liat Arun gimana, Aldo sama Aldi udah pergi ke sana. Dan ..." Arya terdiam sebentar, lalu dia memeluk Ajeng dengan helaan nafas yang berat.


 "Kenapa, Mas? Kamu percaya sama omongan orang-orang?"


 "Bukan itu, kalau nanti seandainya mereka minta aki diganti, nggak apa ya, Dear?" Arya tahu ini akan terjadi, sekali saja kesalahan muncul, jabatannya di desa ini menjadi taruhannya. "Kamu dan anak-anak nggak apa kan kalau aku bukan lagi orang penting di desa ini?"


 Ajeng menepuk keningnya. "Walah, aku kira apa, Mas-mas! Ya nggak masalah, nggak jadi pejabat desa juga kita masih punya kerjaan, urusin ternak sama pabrik aja yang ditinggalin mama papa, nggak repot, Mas!"


 Arya merasa lega, mungkin ini peringatan baginya yang dulu pernah juga menyusahkan kedua orang tuanya di masa muda, sekarang dia tahu rasanya, bersyukur bisa berbesar hati.


 Mereka berangkat ke balai desa dengan hati yang sudah dibesarkan, entah apapun nanti keputusan warga untuknya akan dia terima, toh sepertinya memang warga sudah tidak menginginkannya lagi, tidak apa.


 Sementara itu, di pondok pesantren, kedua orang tua Ukaisyah pun bergegas pergi ke balai desa. Aisyah tampak sangat cemas, bahkan tidak mau ditinggalkan di pondok saja sampai masalah selesai, dia harus melihatnya.


 "Bunda percaya kalau ada gadis mau godain Isya sampe segitunya?"

__ADS_1


 "Ya Allah, Yanda ... Bukannya aku terlalu positif ya, tapi aku percaya nggak akan semudah itu menjebak orang. Hujan dan Ukaisyah jatuh, mana bisa diatur, siapa yang atur hujan, terus mau salahin orang yang niat neduh? Kalau gitu konsepnya, semua orang yang neduh kalau hujan dateng di pinggir jalan, deketan gitu, salah semua, iya?" Aisyah berpikir lebih luas, jauh dari prasangka buruk seperti yang warga katakan.


 "Aku juga percaya nggak akan semudah itu, tapi melawan warga bukanlah hal mudah, apalagi anak perempuan itu kata Tejo udah dimaki-maki warga, Nda ... nggak tega, gimana perasaannya," kata Baskara menggenggam tangan Aisyah, mereka naik mobil ke balai desa karena masih hujan.


 Bukan soal pondok atau bagaimana Ukaisyah, pikiran mereka justru lebih pada kondisi mental Arun. Datangnya hujan tak bisa disalahkan, siapa saja boleh berteduh di gubuk itu atau di tempat yang dirasa aman, hanya saja momennya yang kurang tepat.


 Sesampainya di sana, terlihat jelas bagaimana aksi warga menyambut orang tua Arun dan melemparkan banyak pernyataan kasar. Bahkan, mereka mengatakan hal itu dengan memaksa Arya tak menjabat lagi karena anak-anaknya meresahkan dan merusak citra.


 Mendengar itu, sebagai wanita dan ibu, Aisyah bergegas mengajak suaminya ke depan.


 "Jangan berbicara soal jodoh seolah kita Tuhan!" katanya diawal, Aisyah memandang warga yang berkumpul. "Tolong tenang dan dengarkan penjelasan mereka! Jangan campurkan kebencian kalian dalam masalah ini! Kalau kalian tidak suka dengan keluarganya, urus itu nanti, masalah keluarga dan kasus ini berbeda!"


 Baskara meminta orang-orangnya untuk merapikan semua warga, mereka duduk berbaris. Disaat itu, Arun baru tahu kalau keluarga Ukaisyah bukanlah sembarang orang, mereka orang kota dengan kuasa yang besar, terbukti dari banyaknya orang-orang berbaju serba hitam itu.


 "Maaf, Ibu ... Saya kurang setuju untuk itu," ucap Baskara sangat serius. "Memalukan itu kalau benar dia menggoda, dia hanya berteduh dan segera ke luar saat tahu ada Ukaisyah, anak saya pun bersumpah membenarkannya, jadi kalau Ibu dan warga di sini ingin anaknya pak Arya ini diusir, sangat berlebihan saya rasa," katanya.


 "Ya, terus mau diapakan di desa ini, Pak? Semua orang di kampung ini udah tahu kelakuannya, lebih baik apa nggak diusir aja, siapa tahu di desa lain dia bisa nikah, kalau di sini, siapa yang mau sama cewek gampangan!"


 Semua warga berseru, ternyata lengsernya posisi Arya tak membuat mereka puas. Air matanya sebagai seorang ayah menetes deras, dia rengkuh putrinya itu dan memeluknya rapat, mengatakan bahwa dia akan selalu ada bersamanya.


 "Nggak apa kalau nggak ada yang mau dengan Arun, saya dan suami saya bisa merawat dia, menemani dia sampai tua. Kalian nggak perlu mikir itu, terus buat kalian yang udah nggak mau kerja lagi di tempat kami, nggak apa, kami akan bagi hak kalian besok. Kalau udah, biarkan kami pulang," ucap Ajeng dengan hatinya yang sudah dia besarkan, melawan warga yang tengah gelap mata, tidak akan mudah, dijelaskan seperti apa, bila sudah tidak suka pun percuma.

__ADS_1


 Aldo dan Aldi ingin sekali memukuli warga yang mengejek keluarganya, bahkan mereka seakan tak ingat selama ini bekerja di mana. Namanya kesalahan, sekali saja, sudah membakar semua kebaikan.


 Sejak tadi Ukaisyah hanya diam saja, tapi laki-laki itu berdiri saat Arun dibawa pergi oleh kedua orang tuanya. Dia tahu arti tatapan kedua orang tuanya, tapi dikenalkan dengan para anak kyai saja dia tidak berkeinginan, apalagi sekarang harus mengiyakan masa depan Arun, hanya karena kesalahpahaman.


 Para warga pun bubar, mereka sudah mendapatkan apa yang mereka mau yang entah itu bisa dibenarkan atau tidak.


 "Nda-"


 "Kita bicara di rumah, Yanda nggak ngerti hati kamu bisa sekeras itu!" potong Baskara menatap tajam putranya.


 Aisyah memilih menurut pada sang suami, sebagai ibu jelas dia tahu apa yang Ajeng rasakan, anaknya ingin diusir dan dijamin tak ada yang menerima, hatinya terpanggil untuk melihat tanggung jawab dan pembelaan Ukaisyah, tapi anaknya itu diam saja sejak tadi.


 ***


 Rasyah berdecih, melihat keheranan bagaimana Ukaisyah menolak saran ibu mereka.


 "Apa lagi yang kamu cari?" tanya Rasyah.


 "Kakak, jangan ikut campur ya!" Ukaisyah memperingati Rasyah lagi, kakaknya itu setuju dengan saran ibu mereka untuk menikahkan Ukaisyah dengan Arun.


 "Dia bukan tipemu? Dia nakal?Atau dia yang gimana? Anak kyai aja buka tipemu, anggap saja ini pertanda dari Allah untuk jodohmu!"

__ADS_1


 "Kak!" Ukaisyah semakin pusing dibuatnya.


__ADS_2