
Jantung siapa yang tidak berdebar-debar selama seumur hidup, baru pertama kali ini ke dokter kandungan, Ukaisyah hanya bersama Arun, mereka memutuskan untuk pergi ke dokter kandungan karena pagi itu Arun kembali dirasa rasa kantuk hebat ditambah lagi mual yang berlebih hingga minum teh hangat saja dia tidak bisa.
Sejenak mereka menunggu antrian, jadwal kajian hari ini pun Ukaisyah tinggalkan dan diganti oleh kakaknya agar dia bisa mendampingi Arun, berulang kali dia meminta doa pada ibundanya agar apa pun hasilnya nanti, entah itu kehamilan atau penyakit, supaya mereka diberikan kesabaran atas keduanya. Tangan Arun dia genggam, bahkan tidak membiarkan istrinya itu berjalan mengambil dan membeli apa yang dimau, hanya dirinya saja yang melayani.
"Coba gigit, kalau nggak enak nanti biar saya lanjutkan makan," katanya lembut, tadi Arun ingin membeli kue lemper, begitu ada dan Ukaisyah membelinya, mencium bau lemper yang sebenarnya khas ketan saja sudah membuat keningnya mengerut. "Diisi dikit-dikit ya, biar nggak kosong banget perutnya!"
Arun mengangguk, berhasil tiga kali gigitan dia telan, lalu meneguk air putih yang telah Ukaisyah tambahkan madu, beruntung dia membawa itu dari rumah, setidaknya ada air putih yang bisa melegakan Arun karena membeli air putih dan madu sachet di sini Arun tidak mau.
"Lanjutkan kalau enak!"
"Ndak mau, Gus. Mau yang lumpur itu!" jawab Arun memilih yang lain.
Ukaisyah mengangguk. "Yasudah, kamu makan yang lumpur itu, yang lemper boleh saya lanjutkan?"
"Boleh, Gus."
Seperti itu terus hingga habis lima macam kue, pada akhirnya Ukaisyah yang menghabiskan sisanya semua, setelah dari sini dia akan menambah jadwal olahraganya agar selama mendampingi Arun, tubuhnya tidak mengembang bak adonan kue, dia harus menjaga kesehatan dan kestabilan tubuh.
Nama Ukaisyah pun dipanggil, keduanya berjalan bersama untuk memasuki ruang periksa, Arun melihat ke arah suaminya seolah mencari kekuatan, disaat itu Ukaisyah sontak mencium keningnya agar Arun tenang lagi percaya. Apapun itu mau kehamilan atau semacam penyakit, bukan halangan baginya jatuh cinta dan bersama Arun, sudah Ukaisyah tekankan selalu pada diri Arun tentang arti dan tujuan menikah darinya selama ini agar Arun tidak waswas. Arun pun naik ke bangkar untuk diambil darah dan USG, Ukaisyah ingin banyak hasil di sini sehingga dia bisa mencegahnya lebih dini tentang apa saja yang ada di tubuh Arun.
"Mualnya dari kapan?"
__ADS_1
"Dua hari lalu, Dok."
Dokter itu tersenyum. "Kalau telat haidnya, apa udah cukup lama?"
Arun mengangguk. "Saya nggak tau juga bisa kelupaan, Dok. Baru inget waktu ibu mertua saranin ke sini, jadi baru liat kalau udah lebih hampir tiga minggu," jawabnya terus diperhatikan Ukaisyah, mata laki-laki itu terus saja menatap wajah Arun, padahal perut istrinya dibuka untuk diperiksa, tetapi seakan tak ada yang seindah wajah istrinya itu.
"Ini, kalau dari hasil pemeriksaan, mungkin kalau darah nanti bisa mendeteksi apa saja yang kurang dan dibutuhkan asupan tambahan ya untuk Bu Isya, tapi kalau dari USGnya coba itu udah keliatan posisinya si dedeknya, yang saya lingkarin itu!"
Ukaisyah lantas menoleh, menatap layar monitor itu sangat serius, antara percaya dan tidak, dia selalu meredakan ketakutan dan kecemasan istrinya tentang rejeki anak, dia pasrahkan seluruhnya pada Sang Pencipta. Dan sekarang, amanah itu ada di depan mata seolah-olah Sang Pencipta ingin membungkam orang-orang yang meragukan istrinya itu. Air matanya pun menetes tanpa sadar, di sana ada calon anaknya, buah cinta yang dirintis dari sebuah kata halal, disempurnakan begitu indah oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Ya Allah, aku ndak percaya ini.
"Gus—"
"Berarti sebelum bulan madu, dedeknya udah ada, aku aja yang nggak tau. Jadi, dia ikut liburan loh!"
Ukaisyah mengangguk, dia yang lebih parah, bukannya di sana tenang, karena dia tidak tahu, dia bahkan mengurung Arun di kamar hingga tak bisa jalan, beruntung anaknya kuat.
"Selamat ya, Ibu dan Bapak ...."
Arun mengangguk, meminta Ukaisyah membantunya duduk. "Bapak Isya begitu?"
__ADS_1
"Hahaha ..." tawa Ukaisyah sembari memeluk Arun. "Alhamdulillah, terima kasih, Sayang."
"Sama-sama, Gus. Juago nembak berarti ini!"
"Hei, sstt!" Ukaisyah memberi kode ada dokter di sini, kemudian Arun terkekeh.
***
Arun tidak menyangka kalau orang tuanya sudah ada di pondok saat dia kembali dari rumah sakit, kedua adiknya pun sepulangnya sekolah langsung berlari ke pondok untuk menemuinya. Bukan hanya diistimewakan oleh suaminya saja, melainkan seluruh anggota keluarga sangat mengistimewakan Arun di sini.
Di pondok sudah dibagikan makanan sebagai ucapan syukur, Aisyah yang mengaturnya bersama menantunya yang pertama dan Humairah. Saat Arun tiba, tubuh itu langsung dipeluk dengan suka cita.
"Alhamdilillah, MasyaAllah ... Bunda seneng dengernya," kata wanita itu. "Tetap sabar, ikhlas dan rendah hati ya," imbuhnya berpesan karena biasanya setelah seseorang mendapatkan nikmat, dia menjadi lupa, lantas membanggakan diri dengan tak semestinya hingga membuat hati orang lain hasad padanya.
"Bun," sapa Ukaisyah lantas mencium tangan ibunya itu. "Istri Isya hamil," katanya dengan mata merebak.
Aisyah mengangguk. "Alhamdulillah, Allah meridhai kalian menjadi satu dan beramanah. Jangan tinggalkan sholat, lebih giat lagi, harus lebih-lebih karena perjuanganmu dimulai lagi ditingkat yang berbeda. Apa-apa libatkan Allah, ya Nak ya ... Sabar sama istri, dia hamil itu lelah, jangan sekali-kali kamu menyepelehkan lelahnya, denger Bunda!"
Ukaisyah tidak kuasa menahan tangisnya meskipun hanya lelehan air mata, tidak menyangka bahwa pernikahannya dengan Arun akan sampai di tahap itu, semula dia tidak tahu akankah ada cinta diantara mereka, takut bila Arun tidak betah dan menyerah, semua itu seakan sirna hari ini. Ukaisyah tak lupa mendatangi kedua mertuanya yang bahkan bu Ajeng nyaris pingsan dua kali karena senang dan tak bisa mengontrol diri.
"Ibu titip Arun ya, kalau dia bikin kamu kesel, sabar ya ... Orang hamil biasanya ada yang ngeselin, banyak maunya, kamu sabar ya, tanya ke Ibu kalau ada yang kamu nggak ngerti dari maunya Arun, tanya aja, Ibu pasti bantu. Ada ayahmu juga, mau kapan aja kamu butuh kami, siap pokoknya. Terus, adek-adeknya mu itu, mereka udah janji kok, kamu jangan sungkan ya, Gus!"
__ADS_1
"Iya, Bu. Terima kasih sudah perhatian sama Isya dan Arun, mohon bantu saya kalau ada yang ndak saya tau dari Arun, sekali lagi terima kasih doanya selama ini," balas Ukaisyah lantas memeluk ayahnya dan ayah mertuanya bergantian. Lalu, dia kembali duduk di samping Arun. "Mau makan jajan ndak?"
"Lah, aku pengen kikil, Gus!" jawab Arun mengejutkan.