JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Perasaan Tidak Enak


__ADS_3

 Melihat kedatangan Ukaisyah, tidak bisa Aisyah diam saja, dua hari tak melihat putranya itu tentu saja membuat hatinya tidak tenang meskipun sudah ada Arun yang akan selalu bersama Ukaisyah di sana.


 "Diaremu udah sembuh, Nak?" tanya Aisyah mencium kening putranya yang baru saja bersalaman.


 Diare? Oh, jadi Arun mengatakan itu.


 Ukaisyah tersenyum. "Alhamdulillah, Nda. Sudah berhenti, maaf udah bikin Bunda khawatir," jawabnya.


 "Nggak apa, yang penting sekarang kamu pulih dan bisa aktivitas. Bunda yakin Arun sabar sekali merawat kamu, kemarin saja waktu minta izin, dia sopan sekali, bahkan minta maaf terus ke Bunda loh. Kamu nggak marahin dia'kan?"


 "Marah kenapa to, Bun?" balas Ukaisyah bingung.


 "Sya, istri dan ibu jelas beda mengerti kamu lagi memperlakukan kamu. Kalau Arun ada salah ngerti atau yang kurang, kamu nggak marahin dia'kan? Dia udah mau rawat dan sabar sama kamu itu kamu harus bersyukur, jangan omelin anak orang ya, kamu nggak tahu sekuat apa orang tua Arun selama ini, belum tentu sebelum menikah sama kamu, dia diomelin orang tuanya, jadi yang lembut sama istrinya!" tutur Aisyah mengajak putranya bergabung ke dalam, sudah banyak yang menunggu, mereka akan bersiap berangkat ke pondok desa sebelah karena ada undangan, tapi hanya laki-laki saja.


 "Iya, Isya siap-siap dulu, Bun. Yanda mana?"


 "Udah di depan sana tadi sama Humairah, pengen cari angin, jadi bawa yandanya," jawab Aisyah lantas membawakan bekal dan keperluan orang-orang yang pergi hari ini. "Nanti, anter adikmu ke sini dulu, baru kalian berangkat ya!"


 Ukaisyah mengangguk, adiknya perempuan sendiri karena dia dan kakaknya seorang laki-laki, jadi sejak kecil Humairah sudah diharuskan mendapatkan perhatian dan penjagaan dari ayah dan kedua kakak laki-lakinya dalam hal apapun.


 Karena acara ini nantinya sedikit lama, Ukaisyah ingin memberi kabar pada Arun, dia sendiri baru tahu lebih jelas kegiatan di sana nanti apa saja.


 Tapi,


 Ya Allah, kok bisa aku ndak nyimpen nomor hapenya!


 Setelah mengantarkan adiknya kembali, sebelum pergi, Ukaisyah meminta tolong Wati untuk menyampaikan pesannya pada Arun, sebab bila dia kembali ke rumah akan sedikit lama, sedang rombongan mau berangkat.


"Kok bisa loh, Gus?!" Tejo menekan keningnya lama, dia kira ya selama ini Ukaisyah sudah menyimpan nomor ponsel Arun, ternyata belum sama sekali, yang biasa digunakan untuk menghubungi itu nomornya Arya, ayahnya Arun.


"Saya nggak bilang ke Wati, jadi kamu diem aja!"

__ADS_1


"Iya, Gus." Tejo lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


Sementara itu, setelah mendengar pernyataan Wati bahwa dia datang atas perintah Ukaisyah, Arun pun membuka pintu dan mengajak Wati masuk, tidak mungkin mereka berbicara di ambang pintu begitu.


"Gini, Ning-"


"Jangan, Ning! Kalau gus minta kamu manggil aku gitu, ganti aja jadi 'mbak' ya, kan kemarin udah bener itu manggilnya!" potong Arun tidak nyaman, dia bukan ning-ning pondok itu, memakai jilbab panjang dan besar saja rasanya tidak karuan. "Ada apa gus Isya minta kamu ke sini, Ti?"


Wati berdehem, sekilas rumah ini terlihat biasa saja, tapi begitu masuk dan merasakan hawanya, berbeda, sejuknya pengantin baru bercampur drama.


"Ti!"


"Ya Allah, Mbak! Hahaha, saya lama nggak masuk bangunan ini, diubah jadi bagus ya," katanya terkejut, Arun hanya mengangguk dan tersenyum, dua hari ini dia lagi rajin saja. "Oh iya, jadi tadi gus Isya bilang kalau acara di pondok sebelah itu ternyata lama, belum sempat bilang dan baru tahu jelas kegiatan di sana, biar Mbak Arun nggak cemas kalau gus Isya nggak pulang-pulang, gitu!"


"Pondok sebelah? Yang ada-" tatapan Arun bertemu dengan Wati, seperti memahami isyarat itu, Wati pun mengangguk. "Udah nikah dua kali gus di sana?"


"Iya, buener." tanpa bertanya Arun tahu dari mana, Wati terpancing. "Nanti, ini acaranya sekalian sama semacam resepsi gitu loh, Mbak. Jadi lama, terus ya, ning Halimah katanya juga ada di sana loh, Mbak!"


"Loh, bukannya khusus cowok? Tadi, aku dilarang ikut soalnya urusan cowok, wong gus Isya cuman sama Tejo!" Arun meremat sisi kursi.


Mata Wati terbelalak lebar, seperti kang gosip yang siap meluberkan semua berita hangat hari ini.


"Buener, ning Halimah itu satu-satunya undangan wanita, Mbak. Soalnya, saudara laki-lakinya nggak ada di sini, jadi dia mewakili, tapi bawa pengawal gitu, kayak Wati gini, katanya sih cuman sebentar," jelasnya semakin membakar dada Arun.


Jadi, dia tidak boleh ikut karena di sana ada laki-laki saja atau karena ada nangningnung yang dulunya batal nikah? Hish, biar aja belum ada cinta, tapi kan dia tetap istrinya.


***


Sepanjang kegiatan di pondok ini, entah kenapa perasaan Ukaisyah tidak enak, dia sudah memastikan dari Tejo bahwa Wati telah mengabarkan pada Arun soal padatnya kegiatan hari ini, tapi masih saja dia merasa kurang nyaman.


"Gus, mbok dimakan hidangannya, daritadi diliatin terus. Ndak nafsu makan apa mau yang lain? Biar saya ambilkan, gimana?" Tejo menerima piring Ukaisyah. "Sakit perut lagi, Gus?"

__ADS_1


Pertanyaan itu terdengar di telinga Rasyah, laki-laki itu pun menoleh, memperhatikan wajah adiknya.


"Kalau kamu sakit, pulang dulu nggak apa, nanti aku izinkan!" katanya menepuk bahu Ukaisyah.


"Iya, Kak. Tapi, ini nggak sakit kok, cuman perasaanku nggak enak aja," katanya, kemudian meneguk jahe hangat. "Tadi, Wati beneran udah-"


Belum selesai Ukaisyah berbicara, seseorang datang ke hadapannya sembari memberikan selembar kertas, sepertinya surat.


"Dari siapa?" tanyanya.


"Maaf, Gus. Saya cuman dititipin sama putrinya kyai Saleh, buat Gus!" jawabnya sebelum mundur.


Tidak ada lagi selain ning Halimah, semua orang di undangan ini tahu siapa putri satu-satunya kyai Saleh yang terkenal itu. Walau begitu, bukan berarti Ukaisyah memperhatikan Halimah, sama sekali tidak, dia tidak tahu, sekalipun dia tahu Halimah datang, dia sendiri pun tidak akan menemui Halimah, dia selalu menjaga batasannya dengan baik.


Selembar surat itu Ukaisyah lipat dan simpan di sakunya, dia tidak mau membaca sendiri, akan dia bawa pulang agar dibaca oleh Arun, sebab dia selalu menjaga agar tak salah paham.


"Jadi, kalian sudah saling menerima?" tanya Rasyah membaca niat adiknya meskipun Ukaisyah tak mengatakan apapun.


"Hem, aku dan dia baru memulai, Kak. Sebisa mungkin dia tahu apa yang terjadi sama aku setiap harinya, aku juga mau sebaliknya, jadi seperti yang bunda bilang biar menjadi pasangan yang saling kenal, bukan sok kenal," jelas Ukaisyah menahan rona di pipinya.


Ah, dia jadi ingat betapa menjengkelkannya wajah Arun saat menurunkan sarungnya itu, bisa-bisanya ada gadis begitu.


Setelah acara ini selesai, Ukaisyah dan rombongan kembali ke pondok, biasanya dia selesaikan dulu tugas dan beberapa rangkaian kebiasaannya, baru dia kembali ke rumah. Tapi, sekarang dia ingin segera di rumah, maka itu rangkaian kebiasaannya seperti mengaji akan dia lakukan di rumah.


Namun,


"Aku nggak mau liat Gus ya!" kata Arun marah, lucunya masih berdiri di belakang pintu menyambut Ukaisyah pulang, dia pun berbalik.


"Loh ... Saya salah apa? Saya ada salah sama kamu?"


"Nggak tahu! Ngomong sama tangan, wekwek!" balas Arun berlari ke kamar.

__ADS_1


Ukaisyah memandang ke atas. Ya Allah, gimana to?


__ADS_2