JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Cemas dan Cemburu


__ADS_3

 "Mik, itu gus Isya masih lama atau ndak ya?" Arun kembali bertanya tidak tenang pada mertuanya, tadi dibilang hanya beberapa menit atau sebentar, tapi yang ada dia sudah menunggu sampai beberapa jam, belum juga kembali. "Mik, masalahnya serius atau gimana?"


 Aisyah tersenyum, lalu mengusap lengan menantunya itu. "Kamu di sini dulu ya, doakan saja lancar. Kalau memberikan penjelasan dan meluruskan masalah memang sedikit lama, tapi percaya pada Allah akan membantu suamimu selama tujuannya memang baik!"


 Mau tidak mau Arun pun mengangguk, memilih menunggu di pondok utama bersama mertua dan ipar kecilnya, ikut salat juga mengaji di sana meskipun dia waswas sekali dan ingin menghubungi suaminya, memastikan kondisi di sana benar baik. Hati Arun semakin tidak tenang saja saat mendengar dari sang adik ipar bahwa di sana Ukaisyah tidak sendiri, melainkan bersama kedua orang tua Arun, masalahnya pasti semakin serius kalau sudah melibatkan kedua orang tuanya, orang kampung pasti melebarkan masalah hingga ke mana-mana.


 Ya Allah, lindungi suami dan semua orang yang tengah berkumpul di sana dalam membela kebenaran. Jauhkan mereka dari perdebatan panjang yang berujung saling menyakiti, maafkan Arun yang bikin suami Arun di posisi sulit, aamiin ...


 Klek!


 Arun membuka matanya dan kedua tangan yang baru mengusap wajah tertahan. Dia sedang berada di kamar lama sang suami dan tidak mungkin ada yang berani masuk ke sini, kecuali ibunda atau suaminya sendiri karena tahu sedang ada dia di dalam. Tetapi, pintu kamar itu terbuka, sedang dia masih di posisi baru selesai salat dengan kedua tangan menengadah memanjatkan doa dan mimik wajah memelas.


 Cup!


 Loh, main cium pipi sekarang?!


 Arun mendongak sempurna melihat siapa yang datang. "Gus, Ya Allah!" ucapnya lantas berdiri dan memeluk Ukaisyah lebih berani.


 "Gus, hilo ... di depan diapain aja kok aku nggak boleh ke sana? Pada ngomong apa aja sampe ayah dateng, Gus? Mereka apa menjelekkan Gus di sini karena aku? Maafin ya Gus, aku dari awal nikah udah bikin nama pondok jadi taruhan, dihina dan jadi bahan gosip, harusnya Gus ndak nikahin aku aja, biar dapet keturunan yang setara, kalau sama aku yang ada rusak, Gus, aku cuman anak desa biasa, ndak punya ilmu dan hafalan kayak di sini, harusnya—"


 "Saya jadi pengen sesuatu," potong Ukaisyah mengejutkan Arun.


 Arun mendongak, mengambil sedikit jarak. "Pengen apa, Gus?"


 Ukaisyah tersenyum, lalu berbisik. "Pengen olahraga karena kamu banyak bicara," jawab Ukaisyah ambigu di telinga Arun.


 "Olahraga sekarang, Gus?" tanya Arun, melihat suaminya mengangguk membuatnya berpikir. "Apa ya di lemari Gus yang ini masih banyak bajunya? Jadi, biasanya kalau Gus olahraga itu pake baju apa? Masa iya pake baju taqwa, kan—"

__ADS_1


 "Ndak pake baju, kamu lupa?" potong Ukaisyah lagi.


 Deg!


 Arun segera berbalik begitu menyadari apa yang dimaksud suaminya itu, daritadi dia sibuk memikirkan apa yang terjadi pada Ukaisyah di depan sana, datang-datang yang dipikirkan justru memikirkan yang lain, wajahnya berubah merah memikirkan hal itu.


 "Gus ada-ada aja!" katanya malu.


 "Ada-ada aja gimana?"


 "Ya itu, wong pada mikir Gus di depan itu kayak gimana hadepin orang-orang kok, yang dipikirin mlaah minta anu!" kata Arun membuat Ukaisyah semakin gemas. "Tap-tapi, ya kalau mau anu ya jangan di sini loh Gus! Aku ndak ada baju ganti, terus kalau ke luar kamar lama jadi ndak enak sama umik ... Bisa nahan ndak sampe rumah sana?"


 Ah!


 Kalau saja istrinya itu bukan Arun, pasti dia tidak akan merasakan berdebar-debar seperti ini, akan terasa datar dan kurang geregetan. Ukaisyah tidak berhenti bersyukur karena ditemukan dan dinikahkan dengan Arun, selain mereka bisa belajar bersama, dia bisa menjadi pengajar bagi Arun, ada rasa yang tak biasa yang mungkin jarang dirasakan para lelaki pada wanitanya, seperti geregetan ini.


 Ukaisyah tersenyum. "Sebenarnya, ndak bisa. Tapi, kita masih ada urusan sama keluarga di depan, jadi ditahan sebentar juga ndak masalah. Kamu lipat dulu mukenahnya, terus ikut ke depan ya, bunda sama yanda mau ngobrol!"


 "Aku dimarahin ndak Gus?"


 "Ndak ada yang mau marahin kamu, justru mereka senang karena tadi sempat bertemu teman-teman balapan, mereka punya keinginan positif untuk belajar bersama dan memakai uang ke tujuan lebih baik lagi, yanda juga pengen ajakin mereka kerja yang lebih tepat supaya ndak judi terus, mereka mau loh!"


 "Apa iya, Gus? Kok bisa mau?"


 Di sini wajah Ukaisyah sedikit cemberut sebelum dia tersenyum lagi. "Karena mereka kagum liat kamu, berubah ndak bikin mereka jadi terlihat buruk selama dibimbing yang benar, bukan diajak berubah aja, giliran mau, terus dibiarkan dan hanya jadi pajangan pamer!"


 "Terus, kok Gus jutek gitu kenapa?"

__ADS_1


 "Saya cemburu kamu diliat mereka," jawab Ukaisyah menunduk malu.


 Arun terkekeh, bukannya menjauh, dia justru memeluk suaminya itu membuat tubuh mereka menempel. "Masih bisa ditunda atau udah ndak tahan Gus?" tanyanya cengar-cengir. "Biasanya kalau orang cemburu itu, pengen nabrak aja!"


 Loh! Itu istrinya membaca di mana masalah itu?!


 "Bi-bisa, nanti di rumah sendiri saja kita tabrak-tabrakan!" jawab Ukaisyah menggandeng Arun untuk segera ke luar kamar, tapi sebelum itu dia berbisik. "Yang lama ya, lebih dari sekali!"


 Waduh!


 ***


Arun sedikit takut duduk di hadapan kedua mertuanya, biasanya dia ketua di medan perang, tapi sekarang dia bingung mencari cangkang untuk bersembunyi, apalagi ditatap begitu dalam oleh kedua mertuanya meskipun ya memang boleh mereka saling tatap.


"Run, saya sebenarnya sempat berdebat dengan suamimu dalam urusan ini, tapi saya rasa kalau bukan kamu yang ikut serta, maka mereka ndak akan semudah itu mau ikut, mereka mau karena pun melihat kamu. Jadi, dalam proses bimbingan bisakah kamu yang menjadi pendamping, mereka ada semangat tersendiri karena melihat langsung dari orang yang sama, ndak hanya dianggap omong kosong, mengingat berat bagi orang awam langsung belajar. Apa kamu berkenan?" tanya Baskara selaku ayah mertua pun yang punya gagasan ini.


Arun menoleh pada suaminya yang sudah berubah masam, tahu sendiri tadi sudah mengajak lebih dari sekali karena cemburu, tapi Arun rasa cemburu itu wajar karena perasaan mereka dan memang hak suami cemburu pada istrinya.


"Saya apa kata suami saja, Yanda. Tapi, kalau suami saya mengizinkan, saya pengennya selama saya nugas di situ, beliau ikut dampingi saya, ndak sendiri meskipun ada Wati, lebih nyaman kalau suami saya ikut, apa boleh, Yanda?" balas Arun membuat Ukaisyah terperangah, lalu dia menunduk malu, dibutuhkan dan dilibatkan oleh istri sungguh membuatnya merasa bangga tersendiri.


"Gimana, Sya?"


Ukaisyah berdehem. "Nda, besok pagi Isya kasih jawabannya ..." jemarinya menaut pada Arun memberi isyarat, sedang istrinya langsung paham.


Olahraga dulu kan ya Gus?


Eh!

__ADS_1


__ADS_2