
Bruk!
Arun menabrak punggung Ukaisyah, terlalu senangnya menggoda sampai tak melihat suaminya itu sudah berhenti, beruntung dia tidak terjungkal.
"Mana yang sakit?" tanya Ukaisyah berbalik, menarik satu tangan Arun yang menutupi wajahnya.
Tapi,
"Weeeekkk!" ledek Arun menjulurkan lidahnya.
Dasar istri nakal ya seperti ini, rumah tidak ada sepinya. Walau begitu, Ukaisyah bersyukur karena sebenarnya mengatasi Arun itu tak sesulit yang dibicarakan orang-orang, jika benar dia meminta bantuan pada siapa.
Sejujurnya, setiap dia selesai salat yang dipanjatkannya banyak, tapi ada satu hal yang diulang-ulangnya, tidak lain kelembutan hati sang istri untuk bisa bersama selamanya dan menumbuhkan cinta.
Wahai Allah penggenggam hati, Engkau yang membolak-balikkan hati setiap hamba-Mu. Hamba yang lemah ini memohon dari Engka Sang Maha Lembut lagi mencintai kelembutan, lembutkanlah hatiku dan istriku untuk bisa menyatu lagi Kau sempurnakan dalam ibadah kami.
"Gus kenapa senyum gitu?" tanya Arun berkacak pinggang, dia sudah melepaskan jilbabnya, tetap saja kalau di rumah, dia akan tampil pelontosan begini, hanya memakai setelan piyama panjang. "Gus mikir apa?"
Ukaisyah berjalan mendekat. "Saya kangen sama kamu, apa boleh saya meluk kamu?"
Kangen?
Arun mengerjap, lah sejak tadi bukannya mereka bersama terus, hanya berpisah sebentar dia mengganti baju di kamar, lalu kembali lagi. Ini juga suaminya mau ke pondok utama karena ada urusan, setiap hari pasti sibuk di sana sebagaimana tugas Ukaisyah sebelum menikah.
Eh, tapi ... Kalau tidak dia beri pelukan itu, nanti bahaya kalau suaminya mencari pelukan dari nangningnung atau santriwati atau petugas dapur.
Enggak, jangan!
"Yaudah, Gus peluk aja!" katanya maju selangkah.
Ukaisyah tersenyum, salah sendiri mengizinkannya mencium kening dan memeluk, sekarang dia kecanduan. Rasanya ada yang kurang kalau dia ke luar rumah tanpa ada dua hal ini, tadi saja ke luar bersama Arya, rasanya dia ingin segera kembali pulang.
"Gus jangan lama-lama, aku belum mandi!"
Ya Allah ...
Selalu saja ada yang ganjil bersama Arun, yang menggenapkan Ukaisyah di mana dia selalu tepat waktu saat hendak mandi. Ukaisyah mengecup keningnya sekilas lebih dulu, baru berpamitan. Tak lupa, kebiasaan baru yang Arun terapkan, dia bersalaman dengan Ukaisyah, lagi tak lupa mengecup punggung tangan suaminya itu.
__ADS_1
"Gus tadi cuci tangan nggak? Bau terasi!"
"Apa iya?" Ukaisyah memeriksanya. "Kamu sukanya begitu, saya aja nggak pegang terasi. Jangan lupa dikunci ya, kalau mau ke luar kabari saya!"
"Iya, Gus, iya ..." balas Arun membungkuk seperti maid pada tuannya.
Setelah Ukaisyah pergi, Arun meraba dadanya sendiri, berdebar sangat kencang sejak Ukaisyah memeluknya tadi, bahkan semakin kencang saat bibir laki-laki itu ada di keningnya. Tatapan Ukaisyah yang hangat dan teduh itu rasanya menghanyutkan, pantas saja banyak gadis yang ingin mendekatinya, sekali dilihat saja ingin diajak berduaan.
Dia bersyukur, Ukaisyah tidak jelalatan, jangankan begitu, bila ada perempuan selain keluarganya saja, Ukaisyah lebih banyak mengarahkan pandangannya ke bawah.
"Tapi, sekarang Gus udah liatin aku terus kok. Tatapannya kayak penyihir, hiloooo ... Aku kayak kebawa arus jampi-jampi. Pantesan nangningnung itu masih ngejar dia, pasti udah pernah liat gimana bagusnya mata gus itu! Ih, lawan dulu si ratu jalanan, Arunika!" omelnya sembari membersihkan kamar. "Eh, lah nanti kamar depan kan udah kosong ya, gus bakal balik sana atau di sini?"
Waduh!
Tidak ditahan itu dia ingin berdua di kamar, tapi kalau ditahan, nanti alasannya apa, dia juga belum siap untuk nganu ... Ekhem!
"Ya Allah ... Halah, pikiranku ini loh, dewasae!" ucapnya sembari menekan kening lama.
***
Ada beberapa hal yang harus Ukaisyah selesaikan di pondok, baik yang menyangkut keluarganya dan lain, bahkan dia sempat ke luar pondok untuk beberapa urusan bersama Tejo. Pesan izin sudah dia kirimkan pada Arun, semalam dia telah meminta nomor ponsel istrinya itu, jadi dalam hal seperti ini dia tak perlu bingung untuk berpamitan.
"Maaf, Kyai ... Tapi, saya tidak ada niat untuk menikah lagi, satu istri sudah cukup untuk saya meskipun banyak omongan di luar pondok tentang bagaimana Arun, selama dia di sini akan saya bimbing sebisa saya," kata Ukaisyah menolak halus.
Jadi, mereka datang ke sini untuk menawarkan pernikahan ning Halimah dengan Ukaisyah, gadis itu tidak masalah kalau harus menjadi istri kedua Ukaisyah. Melihat putrinya yang jatuh hati setelah peristiwa itu, kyai Saleh mencoba melamarkan diri.
"Kyai Saleh, kami segenap keluarga mendukung apa yang menjadi keputusan Isya. Poligami memang tidak dilarang, hanya saja itu bukan hal sembarangan, seperti yang Kyai tahu. Dan pastinya, untuk pelakunya harus sama-sama mau, sedangkan anak kami tidak berkenan. Kami mohon maaf," kata Baskara mewakili putranya.
"Apa tidak ada kesempatan lagi? Saya terpikirkan tidak ada laki-laki baik untuk Halimah," kata Kyai Saleh.
Ukaisyah tersenyum. "Insyaallah masih ada, Kyai. Jodoh akan datang kalau sudah waktunya, saya yakin nanti pasti akan ada yang datang dan bisa diterima oleh putri Kyai," katanya masih dengan rendah hati menolak.
"Bagaimana kalau saya jatuh cinta ke kamu?" Halimah tidak bisa menahan diri.
Tok, tok, tok ..
Semua orang menoleh, alangkah terkejutnya yang datang siapa, di sana ada Arun bersama Wati yang bertugas membersamainya kalau ke luar rumah. Melihat itu, Ukaisyah lantas berdiri, tentu saja ini istrinya yang datang.
__ADS_1
"Kamu kok ke sini, ada apa?"
Arun merengut. "Mau anterin kue ke Bunda, kakak ipar sama Humairah, Gus," jawabnya.
Yang di dalam rumah, selain kyai Saleh dan Halimah, semuanya menahan senyum, sebisa mungkin tampil biasa saja meskipun ingin sekali menertawakan Ukaisyah. Pasti kedatangan Halimah sudah sampai ke telinga Arun dan membuat gadis itu kelabakan, takut suaminya diambil gadis lain.
"Makasi ya, Run. Kamu mau makan masakan Bunda?"
"Em, Arun baru aja makan, Nda. Arun pamit saja balik ya, cuman mau anter ini," jawab Arun melirik kecil Halimah.
Belum tahu aku, kamu ya, ih!
Ukaisyah lantas kembali berdiri, dia menghadap semua keluarganya, termasuk Kyai Saleh.
"Saya mohon izin pulang lebih dulu, Wati juga harus istirahat, biar saya temani Arun. Assalamu'alaikum," katanya mendapatkan anggukan dari semua orang, mau tidak mau diizinkan meskipun kyai Saleh berharap lain.
Akhlak terbaik laki-laki itu tidak akan membiarkan istrinya berjalan sendirian, dia akan menjadi perisainya, seperti yang dilakukan Ukaisyah saat ini, dia berlari kecil ke depan agar bisa mengantar Arun pulang.
"Jangan deket-deket ya! Aku marah sama Gus, harusnya Gus pulang daritadi, bukan malah duduk di depannya nangningnung gitu, sana aja kalau masih mau lama-lama, aku bisa pulang sendiri!" kata Arun menepis tangan Ukaisyah.
"Tapi, saya maunya sama kamu," kata Ukaisyah memaksa menautkan jemarinya dengan Arun.
Jalan berdua ke rumah, bergandengan tangan dan dekat, dilihati para santri dan abdi pondok, Biyuh! Rasanya sudah seperti wanita tercantik nomor satu di dunia ini.
"Kenapa pulang, sana aja nikah sama ning Halimah!"
"Menikah itu buat yang belum, saya sudah, jadi nggak perlu menikah lagi. Masuk dulu, saya buatin teh, ayo!" balas Ukaisyah merengkuh bahu Arun agar masuk rumah, lalu dia kunci pintunya.
Setelah itu, yang dilakukannya sungguh tak pernah Arun bayangkan sebelumnya. Ukaisyah memeluknya dari belakang sembari berkata. "Terima kasih ya, kalau saja kamu nggak datang tadi, mungkin saya terus didesak dan kyai Saleh nggak akan mau pulang ..."
"Gim-gimana itu kalau dipaksa-paksa?!"
"Saya tolak, saya sudah punya istri," jawab Ukaisyah membuat Arun merona.
"Yaudah buatin tehnya, aku mau rapihin kamar lagi. Ngomong-ngomong, Gus mau pindah kamar atau sekamar aja sama aku?" tanya Arun menaikkan dagunya.
"Sama kamu," jawabnya.
__ADS_1
Eh!