
Wanita itu ratunya rumah, yang di dapur pun semua ditata dan disiapkan untuk para wanita, bahkan untuk bagaimana penataan piring juga penggunaan sabun apa nantinya untuk cuci tangan dan piring, semua serba pemikiran wanita.
Ukaisyah tidak bisa menahan senyum sama sekali saat dia kembali dari pekerjaannya di pondok malam ini, ibu mertua dan istrinya sibuk di dapur membuat cemilan, sedangkan ayah mertuanya baru saja kembali dari masjid, senang bisa berjamaah di sana dan mengaji bersama hingga malam, sedang biasanya hanya menonton televisi saja.
"Heh, suamimu udah pulang. Sana salaman dulu, ajak ke kamar!" bisik Arun mengajari anaknya.
"Loh, kenapa ke kamar to, Buk?"
"Yaiya, dia dari luar, banyak setan yang ngintilin, belum lagi kena mata jahat cewek-cewek. Itu obatnya cuman dideketin sama istrinya. Kan, kamu tahu kalau ayahmu pulang kerja, Ibuk selalu begitu, pelukan sebentar biar dia merasa kita selalu ada lagi siap, ayo!" jelas Ajeng kembali mengingatkan Arun pada kisah Wati, banyak yang berpoligami dan merasa istri pertama tak sebaik istri kedua.
Arun pun mencuci kedua tangannya, lalu menghampiri Ukaisyah. Saat tatapan mereka bertemu, yang dilihat Arun, senyuman Ukaisyah. Sedangkan, yang dilihat Ukaisyah itu bibir Arun yang manyun-manyun.
"Gus kok nggak bilang kalau udah pulang?"
"Ya?" balas Ukaisyah bingung, bukannya tadi saat dia masuk dan salam, Arun ikut menjawabnya.
"Kok malah 'ya'! Kasih tahu aku kalau pulang, jadi aku bisa nyamperin Gus, biar nggak dikira mengabaikan suami, terus suami cari istri lagi!"
Jujur, Ukaisyah semakin dibuat bingung, kedua tangannya terbuka lebar di atas pangkuan, harus bilang yang bagaimana, dia tadi benar-benar salam dan Arun menoleh lagi menjawabnya.
"Gini loh Gus maksudnya ..." Arya yang baru saja dari teras rumah pun ikut bergabung, dia melihat ada kesulitan dan takut salah paham diantara dua anak muda ini. "Biasanya, Arun ini dari kecil liat Ayah sama ibuk kalau baru pulang kerja terus ketemu, setelah salam itu, nyari ibuknya buat sekedar meluk sambil bilang 'aku pulang!' begitu, Gus! Paham ndak?"
"Ya?" lagi-lagi Ukaisyah hanya menjawab itu dengan nada tanya, suaranya tercekat dan dia seolah tak bisa berkata banyak.
Arya pun memanggil istrinya untuk memberi contoh, keduanya cengar-cengir dan mewajarkan karena pernikahan Arun itu berbeda dengan mereka dulu yang berdasarkan cinta, sedang Arun dan Ukaisyah membangun cinta selepas menikah.
Arya mempraktekkan dari mulai dia masuk rumah hingga seolah-olah bertanya pada anak-anaknya di mana Arun, lalu saat bertemu, keduanya kembali salam dan melepaskan rindu dengan sebuah pelukan.
"Atau misal dia nggak bisa meluk dan lagi repot, Gus. Dipeluk aja dari belakang sambil nyium pipinya, udah ketawa-tiwi bareng, begitu!" jelasnya.
Tidak ada yang bisa menggambarkan ekspresi Ukaisyah saat ini, yang jelas dia tampak bingung dan malu, pasalnya baru sekali mengecup kening Arun saja dia ketagihan meskipun Arun belum cuci rambut, sekarang apalagi, harus memeluk dan mencium pipi, bisa-bisa nalurinya bermain.
__ADS_1
Ah, Arun sudah mengatakan bahwa ingin seperti itu berlandaskan cinta, Ukaisyah tak mau egois, dia harus mengerti istrinya.
Maka, mulai detik ini akan dia bangun sungguh-sungguh, dia akan membuat tali yang kuat bersama Arun.
"Jadi, kamu mengizinkan saya memeluk seperti tadi?" tanya Ukaisyah dengan suara lirih, Arun pun segera menunduk, dia malu, astaga.
"Ya nggak apa, tapi Gus nggak ngira aku ini cewek gatel kan?"
"Ya?" balas Ukaisyah tidak mengerti lagi, Yang gatel apa?
***
Tutorial memeluk istri agar hatinya tenang dan merasa nyaman.
Klik, Cari!
Bukan foto atau video yang dia buka, tapi halaman berisi huruf semua yang membentuk kata-kata dan kalimat, tips-tips untuk meluluhkan istri dalam sebuah dekapan anti canggung.
Namun, aksinya dilihat oleh sang ibu mertua, malam hari saatnya orang tidur, suka sekali perutnya itu berbunyi minta diisi. Sedang asik berjalan hendak ke dapur, matanya ternoda dengan aksi aneh sang menantu.
Loh, ini dia lagi ngelindur atau gimana? Bukannya tadi Arun bilang mantuku ada perlu di masjid, jadi balik lagi. Lah ini, malah peluk-pelukan sama tiang, salah urat atau gimana dia?
Ajeng tidak bisa menahan diri, memang dia tipe orang yang langsung saja berbicara bila ada yang mengganggunya, apalagi ini menantunya sendiri, laki-laki yang nantinya hidup menua bersama sang putri.
Semakin dekat, semakin aneh saja tingkah menantunya itu, terlalu serius, sampai tidak sadar ada yang mengawasi lagi mendekat.
"Anu, Gus ..."
Deg!
Loh!
__ADS_1
Ukaisyah membuka matanya, mendorong diri menjauh dari tiang hingga dia terjungkal ke belakang, bergegas bangkit begitu melihat ada ibu mertua.
"Bu-"
"Tunggu, Gus, tunggu!" Ajeng mengedepankan kedua tangannya. "Jangan malu, Gus! Udah biasa orang ngelindur, udah biasa, bahkan ada yang bangun-bangun nyemplung sawah. Tenang, Gus!"
Wajah Ukaisyah memerah karena malu, kok bisa lupa kalau ada mertuanya di sini, sejak tadi pikirannya hanya izin memeluk Arun saja, biasanya dia bisa mengoreksi tugas santri, malam ini kacau.
"Bu, saya-"
"Nggak apa, Gus, beneran nggak apa! Mau dipanggilkan Arun?"
Terpaksa Ukaisyah mengangguk, berhubung ibu mertuanya mengira dia sedang bermimpi tadi, jadi dia ikut saja daripada malu membahas yang sejujurnya.
Ajeng memasuki kamar di mana anaknya sudah berada di balik selimut, mata Arun yang merah itu lantas terbuka lebar, Ukaisyah tadi mengizinkannya tidur lebih dulu karena kemungkinan bisa sampai dini hari. Tapi, ini sebaliknya, Ukaisyah sudah di rumah.
Tanpa mengatakan apapun, Arun berlari ke depan, semakin terkejut melihat pakaian suaminya.
Bagaimana bisa dibilang terbawa mimpi, sedang Ukaisyah tak mungkin tidur dengan memakai baju untuk salat.
"Gus, ini kenapa?" tanya berbisik, dia berjongkok di depan Ukaisyah yang terduduk dan menyembunyikan wajahnya.
"Nanti, saya jelaskan. Bisa bawa saya ke dalam tanpa Ibu curiga?" balas Ukaisyah ikut berbisik.
Ajeng menajamkan indra pendengarannya, tapi tidak terdengar sama sekali.
Perlahan Arun bantu suaminya itu berdiri, beruntung Arun bisa diajak kerjasama dan paham dengan cepat, jadi Ajeng tidak sampai berpikiran yang aneh-aneh dan menganggap ini benar efek tidur.
Klek!
Arun mengunci pintu kamarnya, mendorong Ukaisyah duduk ke tepi ranjang.
__ADS_1
"Gimana bisa katanya ibuk itu Gus ngelindur, heh? Kan, ini masih pake baju buat salat ke masjid, nggak mungkin dipake tidur. Gus ngelindur gimana?" tanyanya mengintrogasi, Ukaisyah ingin sekali punya cangkang kura sekarang.