
"Umik telpon, Gus?"
Ukaisyah mengangguk, Arun terbiasa memanggil bundanya dengan sebutan umik, sebab sejak awal bertemu dia mendengar sebutan itu dan Arun teruskan, bahkan sampai sekarang masih memanggil Ukaisyah dengan sebutan Gus. Baru saja ibunya menelpon, sekadar ingin tahu kondisi di sini karena Ukaisyah belum memberikan kabar sama sekali sejak tiba kemarin.
"Ngetawain apa?" Arun menekuk kedua alisnya, tiba-tiba saja Ukaisyah tertawa.
"Ndak, tadi bunda negur karena kita belum ada kasih kabar dari kemarin. Terus, bunda asumsi kalau saya ndak kasih kamu waktu lepas, saya jadi ketawa, bunda bisa bercanda gitu ternyata," jawab Ukaisyah, ibunya itu sangat berhati-hati saat berbicara, jadi menurutnya tadi aneh mendadak ibunya menegur karena Ukaisyah tidak memberikan Arun waktu bebas.
Arun manggut-manggut, dia sudah siap untuk pergi ke pantai, bahkan membawa satu ransel berisikan perlengkapannya kalau mungkin nanti bajunya basah. Gadis itu mematuhi setiap ucapan suaminya, bahkan tidak melepaskan kaos kaki sejak tadi, mungkin sampai dia bermain air nanti. Ukaisyah tidak mengajak supir karena dia ingin mengemudi sendiri dan sebagian dirinya ingin sang istri melihat gayanya saat di luar pondok, ngomong-ngomong sarung dan baju taqwanya tidak seharian melekat pada Ukaisyah, hanya saat sholat saja, lainnya dia memakai pakaian pada umumnya. Walaupun penampilannya sederhana, yakinlah semua mata memandang Ukaisyah nanti, terlihat kalau bukan orang asli, ada darah campuran.
"Sayang, sabuknya!" ucapnya mengingatkan Arun.
"Oh iya, lah kemarin sama supirnya Gus. Tapi, ini Gus beneran tau jalannya ya? Bisa nyetir beneran juga kan?"
"Kamu remehin saya?" balas Ukaisyah mencubit pipi Arun.
"Ahahah, ndak gitu, Gus. Hanya memastikan, soalnya baru liat ini!"
"Yasudah, kamu nikmati saja supiran saya. Tapi, bukannya kamu juga bisa, Sayang?"
Duuh, meleleh Arun terus dipanggil spesial begitu.
Arun mengangguk. "Bisa, pake mobilnya ayah dulu. Gus mau aku setirin?"
"Mau, tapi buat sekarang, biar saya saja ya ... Tuan putri duduk saja, serahkan sama suamimu!"
Arun tak bisa berkata-kata, selain mengangguk dan kembali duduk tenang, saat mobil itu melaju, disaat itu juga lantunan sholawat diperdengarkan, sangat menyejukkan, bahkan Arun bisa menghafalkannya seperti Ukaisyah.
__ADS_1
"Gus," panggilnya.
"Iya?"
"Gus dandan gitu, makin keren tau nggak sih?! Itu cewek-cewek di sana nanti liat Gus bisa sampe banjir liurnya, belum lagi kalau bayangin dipeluk gitu, bisa pengen mati dikretek sama ototnya. Ngomong-ngomong Gus ini mau tebar pesona sama siapa?"
"Kamu, laki-laki yang seperti ini bisa didapatkan sama gadis seperti kamu. Otot-ototnya ndak akan bekerja kalau bukan tipe ceweknya itu bukan kamu," jawab Ukaisyah membuat Arun terbang rasanya, bisa dia lihat bagaimana mata Arun mengerjap menerima segala pujiannya itu, tetapi itu ucapan jujur, Ukaisyah memang memuji istrinya, bukan untuk menenangkan saja. "Jangan menggemaskan begitu, saya sudah benar-benar menahan diri dan mengalihkan pikiran saya biar ndak ngurung kamu di kamar!"
Arun membalikkan posisi duduknya, lebih baik dia mencari posisi aman menghadap depan dan berhenti mengagumi suaminya itu daripada mobil mereka berputar dan dia tak akan bisa lepas dari kandang singa. Arun bergidik ngeri, kalau tidak ada waktu sholat, mungkin mereka tidak ada berhentinya, lagi-lagi dia harus menekan keningnya lama agar tak berpikiran yang macam-macam.
Sesampainya di pantai indah itu, Arun kembali memperhatikan penampilan suaminya, bajunya santai hanya kaos biasa, bahkan Ukaisyah memakai celana panjang, tidak yang memakai bahan pendek sehingga kakinya terlihat, tertutup begitu, baru turun mobil sudah banyak yang menganga melihatnya.
"Gus, awas ya jalan duluan, aku digandeng!" kata Arun posesif.
Ukaisyah mengangguk, sungguh pembawaan Ukaisyah di sini dan di pondok berbeda, saat ini seperti aliran badboy yang sedang siap mencari mangsa, padahal kalau sudah menatap Arun, seperti anak kecil yang siap bermanja. Tangan Arun berada di genggaman Ukaisyah, tidak peduli banyaknya mata memandang, satu hal yang pasti istrinya yang telah menang. Mereka duduk menyewa tikar dan payung, setidaknya di sana bisa mengeluarkan semua yang Arun bawa sebagai perbekalan, gadis itu mulai menatanya, sedangkan Ukaisyah berpindah-pindah posisi berdiri agar sinar matahari terik tak langsung mengenai istrinya itu.
"Sayang," panggilnya membuat Arun merinding.
Arun menoleh, di tangannya ada sebotol minuman jeruk. "Iya, Gus Sayang. Ada apa?"
Biar, aku bales, biar sama-sama geter pengen keluar!
Ukaisyah diam sebentar, seakan-akan ada otot jantungnya yang berhenti berkerja.
"Ada apa, Gus?"
eh!
__ADS_1
"Emm, tinggalkan saja itu di sini. Kita turun ke sana saja, ndak bakalan hilang, ada yang pantau!'
Arun menoleh ke sekitar. " Gus bawa pengawal?" baru ingat kalau keluarga suaminya bukan orang sembarangan.
Ukaisyah tak menjawab, tetapi dari gelagatnya sudah bisa Arun pastikan ada orang yang mengikuti mereka, kalaupun itu bukan suruhan suaminya, yang pasti itu bentuk pelayanan dari pekerja di keluarga mereka. Terlintas ide di pikiran Arun, membuat para pekerja suaminya itu ingin cepat menikah dengan menempel terus pada Ukaisyah, tetapi gelagatnya lebih dulu diketahui sang suami, membuat Arun malu.
"Bukan orang lain saja yang senang melihat kamu, saya juga senang sampai saya pengen pulang loh!"
"Ya Allah, Gus ... Yauda, aku ndak terlalu deket, nanti ayamnya bangun!"
Ukaisyah tergelak, miliknya dijuluki ayam oleh Arun, ngomong-ngomong sudah sekian lama diperjumpaan mereka kala itu, Arun kerap main ayam dan menjaga peternakan keluarga yang memang kebetulan berhubungan dengan ayam. Dia pun mengejar Arun yang berlari menghindarinya, bahkan melepaskan tangannya yang sejak tadi digandeng, gadis bergamis itu berlari terus, sesekali berbalik meledek Ukaisyah tanpa menghentikan laju kakinya.
Bruk!
"RUN!" teriak Ukaisyah menyadari batu di belakang kaki istrinya, belum sempat menarik Arun, gadis itu sudah jatuh lebih dulu.
Arun menutup wajahnya dengan kedua tangan, diminta bangun pun tidak bangun-bangun sampai Ukaisyah mendekatkan wajahnya ke depan wajah Arun.
"Sakitnya ndak seberapa, Gus. Malunya!" bisiknya membuat Ukaisyah tak bisa menahan tawa, setelah melihat sekitar, Ukaisyah lantas menggendong istrinya itu, lalu kembali ke tempat duduk awal. "Boleh buka ndak, Gus?"
"Boleh," jawab Ukaisyah dengan jailnya berada di dekat wajah Arun, saat kedua tangan itu terbuka, Ukaisyah mencuri kesempatan untuk mencium hidung Arun.
"Gus, aaaaaa!" rengeknya ditipu.
Foto-foto gemas mereka pun yang diambil diam-diam oleh orang suruhan keluarga sampai ke tangan kedua orang tua Arun dan keluarga inti di pondok.
Arya terkekeh melihatnya. "Lihat anakmu, Dear! Dulunya males banget sama gus Isya, bilang gus jadi-jadian, suebel, sekarang modelannya kayak ibuknya!"
__ADS_1
"Apa to, Mas! Itu ya Arun itu niru kamu, sok jual mahal, padahal doyan!"
Lah!