JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Rumpik


__ADS_3

 "Udah to, Gus. Nggak apa kalau aku yang bonceng, aku bisa, nggak bakal bawa Gus langsung pindah alam!" kata Arun sambil menggaruk kepalanya.


 Ya, mereka memutuskan untuk kembali ke pondok dengan alasan Ukaisyah ada urusan mendadak, walau yang sebenarnya tidak mungkin ada acara pemeriksaan sampai pijat urat. Ukaisyah mengatakan baik-baik saja dan berusaha berjalan biasa di depan orang tua Arun juga adik kembarnya, tapi sejak tadi mereka perjalanan menuju pondok, sudah terhitung berhenti lima kali.


 Ukaisyah masih menggelengkan kepalanya, walau bagaimanapun ahlinya Arun, gadis itu istrinya, dia tidak ingin istrinya bersusah payah. Tapi, di kondisi seperti ini dia tidak mempunyai banyak pilihan.


 "Aku bisa, Gus. Kan, Gus pernah liat aku balapan terus tawuran. Gimana?"


 "Tapi-"


 "Aku bakal baca Bismillah sebelum jalanin motornya, beneran!" potong Arun sudah gatal saja ingin mengendarai motor itu agar mereka segera sampai di pondok, siapa tahu di tempat mereka, Ukaisyah tak segan lagi. "Baca Bismillah, bakal aku baca kenceng biar nggak Gus kira aku ini bohong, ayo!"


 "Kamu pake gamis, Run."


 Eh, gadis itu lupa, tapi kan dia memakai celana panjang di balik bagian roknya.


 "Walah, jangan kuatir! Dengan menyebut nama Allah, jelas aku bisa, kan mana mungkin setan gangguin, aku kan lagi sama Gus, Gus wiridan aja di belakang ya. Aku bisa, ini nggak bakal kebuka gamisnya, aku udah pake ****** ***** lengan panjang!" Kata Arun panjang lebar, dia tahu pemikiran Ukaisyah itu pasti tidak jauh-jauh dari aturan perempuan yang islami, dia akan menyesuaikan, apalagi sakitnya Ukaisyah ini karena dia. "Pegangan pundakku nggak apa, Gus. Ini aku yang perintah, jadi nggak apa!"


 ****** ***** lengan panjang, apa itu?


 "Run-"


 "Ayo, nanti aja kalau mau kasih aku ceramah panjang, pulang dulu ke pondok!" potong Arun, dia sudah siap.


 Ukaisyah menurut, rasanya ingin berendam air hangat, kemudian berbaring cukup lama agar peredaran darahnya lancar, setidaknya dengan dia tak banyak gerak, bisa meredakan rasa sakitnya perlahan.


 Seperti yang Arun katakan tadi, dia benar-benar berdoa seperti yang diajarkan oleh guru ngajinya dulu, terus sebelum ini dia mendengarnya dari Ukaisyah. Ingatan gadis itu Ukaisyah akui bagus, diam-diam di belakang Arun, laki-laki itu membayangkan alangkah bagusnya ingatan Arun itu bila diterapkan dalam ilmu agama.


 "Gus," panggilnya.


 "Iya?"


 "Yaudah, aku kira pingsan atau jatuh. Sabar, habis ini sampe!"

__ADS_1


 "Iya, saya terima kasih." Ukaisyah tersenyum.


 "Nggak usah ikut ngaji kalau masih sakit, nanti aku bilangin bunda!"


 Ah, ucapannya memang bernada ketus. Tapi, ini terdengar seperti perhatian gadis itu mulai bermain untuk Ukaisyah, dia pun tersenyum sembari mengangguk, ternyata seperti ini mempunyai istri, mereka para istri pasti berkuasa dalam peringatan-peringatan begini pada seorang suami.


 "Gus, dengerin ndak?" tanya Arun, mereka memasuki gerbang pondok.


 "Iya, saya dengar. Memangnya, kamu mau nemuin bunda di pondok utama?"


 "Iya, ya masa aku nelpon. Pelan-pelan aja turunnya ya, tahan dulu sakitnya, nanti mas Tejo curiga!" jawab Arun sembari berkata pelan.


 Ukaisyah mengangguk, dia berpegangan pada bahu Arun lagi, memang tidak menyentuh gadis itu secara langsung seperti larangan Arun. Lagi-lagi, ini bisa dibilang kemajuan.


 "Tunggu, Gus!"


 Ukaisyah yang sudah mencoba tampil baik-baik saja pun terpaksa berhenti, lalu menoleh.


 Sebelum Arun pergi lagi menemui ibu mertuanya, Ukaisyah yang sudah dibantu masuk kamar pun, menahan sejenak gadis itu.


 Arun berkedip bingung beberapa kali, harusnya dia berontak seperti tahu berontak, tapi saat telapak tangan hangat Ukaisyah menyentuh keningnya, dia justru diam saja.


 "Jilbabmu berantakan, nilai rambutmu yang terlihat itu jauh lebih berharga dari apapun," katanya sambil merapihkan jilbab Arun, walau dia sendiri gemetaran, setidaknya sedikit demi sedikit dia pun harus mulai menunjukkan perhatian pada gadis ini.


 "Emangnya, keliatan dikit aja apa nggak boleh? Kan, nggak sengaja keluar sendiri," tanya Arun menoleh ke kanan dan kiri agar Ukaisyah bisa memastikan tak ada rambut lagi.


 "1 helai rambut sama dengan tujuh puluh ribu tahun di neraka, saya nggak mau diam saja dan membuat kamu berdosa. Lagipula, saya juga nggak mau ada mata lelaki lain yang melihat rambut kamu," jawabnya dengan pipi memerah.


 Waduh!


 Arun memalingkan wajahnya, ini lagi main drama apa to?, gadis itu bergegas ke luar kamar untuk menemui sang ibu mertua di pondok utama. Sepanjang perjalanan, dia sering kali memelankan langkahnya.


 Ya, masa aku bilang gus Isya belum bisa ngajar hari ini soalnya 'itunya' sakit, mik. Lah, nanti apa kata dunia loh, aku dikira ngapain nanti. Tapi, aku alasan apa? Di sini kan anti kebohongan, waduh!

__ADS_1


 ***


 Aisyah menepuk dadanya pelan mendengar kabar Ukaisyah dari Arun, izinnya pun tak menunggu lama, dia memberikan izin agar Ukaisyah istirahat selama dua hari, kalau butuh lebih boleh, selama memang dibutuhkan dan Arun bersamanya.


 "Bantuin dia salat ya, Run. Jangan sampai ketinggalan salatnya meskipun nggak jama'ah di masjid, bisa berdua sama kamu! Kamu sabar ya, Bunda titip Isya ya," kata Aisyah memeluk menantunya.


 Jujur, bagi Arun, ibunya itu sudah sosok yang luar biasa, tidak akan bisa dia temukan di manapun. Tapi, dia mendapatkan ibu mertua yang baik juga, sungguh keberuntungan mempunyai dua ibu yang baik, apalagi sangat memikirkan urusan akhirat.


 "Kalau begitu, Arun balik ke rumah dulu ya, Bun," balas Arun menyalami ibu mertuanya.


 Aisyah mengangguk. "Iya, biasanya Isya ngaji jam segini. Sekali lagi, Bunda minta tolong bantuin dia ya, Isya itu seperti yang kamu tahu, dia tertata setiap harinya mau apa, nggak pernah dia tinggal kalau enggak darurat!"


 "Iya, Bun."


 Ah, seperti yang kamu tahu apa, dia bahkan tidak mengenali suaminya dengan baik, tapi ibu mertuanya tidak menyudutkan dia sama sekali, justru menganggap dia telah sangat baik mengenal Ukaisyah hingga meminta tolong.


Arun bergegas kembali ke rumahnya bersama Ukaisyah, tapi setengah perjalanan, ada satu hal yang menarik perhatian gadis itu sehingga memilih berhenti dan duduk di teras depan kantor disiplin, Wati dan salah satu abdi yang lain tengah berbicara serius lagi menarik.


"Loohh, jadi ning Halimah itu niatnya mau nikah sama gus lain waktu gus Isya udah siap to? Terus, baru tahu kalau gus itu udah punya istri, jadi dia nggak terima jadi yang kedua?"


"Ho.oh!"


"Heeem, makanya to kalau udah satu ya satu aja, terus sekarang dia nyesel tahu-tahu pas balik si gus Isya dah nikah sama mbak Arun, dia mau ngeyel gitu?"


"Kayaknya, tapi loh yang aku pernah denger ya, orang alim itu kan jaga pandangan terus ya, jadi peranan istri itu kuat banget, apalagi urusan biologis. Nah, kamu tahu gus Safar desa sebelah, nikah lagi loh, lah istrinya galak, jadi cari lagi yang bikin nyaman!"


"Waduh, itu yang dijodohkan juga ya? Walah ... Aku kok jadi kepikiran gus Isya sama mbak Arun ya?"


"Duh, iya loh ..."


Arun menarik telinga menjauh, gaswat!


Dia pun bukan lagi berlari, tapi seperti dikejar orang sekampung untuk kembali ke rumah Ukaisyah.

__ADS_1


__ADS_2