JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Ya Allah, Istriku


__ADS_3

 Katakan hari itu adalah hari bebas di luar, semua kegiatan mereka lakukan di luar seharian, bahkan mereka mampir ke beberapa masjid untuk sholat berjamaah, Ukaisyah tak segan mengantar istrinya membersihkan diri agar lebih segar meskipun dia harus menyewa penginapan harian, setidaknya saat mereka mau sholat, sudah memakai baju dan badan dalam kondisi bersih. Hal yang Ukaisyah suka dari Arun, saat dia berubah, itu totalitas, tidak setengah-setengah, bahkan bisa dibilang dirinya kalah dengan Arun yang baru hitungan bulan.


 "Gus, ini ke mana lagi?" tanyanya selepas sholat isya', mereka sudah makan malam tadi, tinggal lelahnya saja.


 "Kamu ada tujuan lagi atau mau balik aja ke hotel, hem? Kalau balik, kita lanjut tujuannya besok lagi," balas Ukaisyah.


 "Iya sih, kalau sekarang pasti banyak yang tutup toko oleh-olehnya, Gus. Kan, sehari buat seneng-seneng, sehari buat beli oleh-oleh, sehari buat istirahat dan santai aja kegiatannya, kecuali kalau Gus ndak pengen santai, hehehe ..."


 "Emangnya, kamu pengen santai atau ndak?"


 "Gus, godain aja sih. Jadi, gimana bisa sante, ya maunya goyang—"


 "Hei ..." Ukaisyah menutup lembut mulut Arun dengan telapak tangannya, lalu dia cium puncak kepala istrinya itu. "Kita balik ke hotel aja ya, pake sabuknya!"


 "Iya, Gus. Nanti, mandi lagi ndak ya di hotel sebelum tidur?"


 Ukaisyah yang mulai menghidupkan mesin mobilnya pun mengangguk. "Saya mandinya pasti setelah jam 12 malam, kamu pasti sudah tau itu. Kamu mau ikutan mandi?"


 "Walaaah, bukan ikutan mandi aja Gus ya, arahnya ke mana-mana nanti ini! Hahahaha ..." justru dia tergelak lagi, memang pembahasan mandi bisa menjurus ke mana-mana. "Aku ya mau ikut sholat sunnah malam sama Gus loh, di sini kan bukan buat seneng-seneng masalah dunia, tapi aku juga mau berdua beribadah sama Gus. Jangan capek ajarin aku ya, Gus!"


 Kalau saja boleh berhenti di tengah jalan, Ukaisyah pasti berhenti dan memeluk istrinya yang banyak bicara itu, sekalinya bicara serius, bisa membuat ngilu sekujur tubuh. Siapa yang tidak tersentuh saat istri berkata seperti itu, bahkan mata Ukaisyah mengembun seketika mendengarnya. Kalau saja bukan Arun yang dia nikahi, belum tentu hatinya berdebar seperti ini.


 Alhamdulillah.


 "Kamu ngantuk ya?"


 "Ndak, Gus. Cuman, pengen cuci muka aja, aku lupa ndak bawa sabunku, Gus. Tadi, pake sabunnya Gus malah kering mukaku, jadi buat senyum gini, ketarik semua!"

__ADS_1


 "Loh, ya jangan, Sayang. Kulitmu sama cowok beda, nanti dikasih toner dulu ya!"


 "Waalaah, ngerti toner to, Gus?"


 "Bunda sama Humairah yang menjelaskan ke saya, turun dulu!" jawab Ukaisyah setibanya di depan hotel.


 Semua barang yang dibawa tadi segera mereka turunkan, sudah Arun pilah mana yang bersih dan kotor, beruntung hotel ini masih menjadi satu bagian usaha keluarga, jadi Arun bisa menumpang cuci baju tanpa harus merepotkan pekerjanya, dia akan menunggu bajunya sendiri dan jangan sampai tangan orang lain yang menyentuh ********** bersama Ukaisyah.


 "Sayang, istirahat dulu. Nyucinya besok saja!"


 "Iya, aku sebenarnya ndak sabar nyuci, Gus. Boleh ndak sih diucek aja di kamar mandi sini?"


 "Hah?" Ukaisyah hampir terjungkal mendengarnya, dia pun tertawa. "Ini kamar mandi kering, Sayang. Kemarin kamu yang jelaskan ke saya kalau ndak boleh ini dan itu, kok kamu malah mau cuci, itu gimana?"


 Arun menekan keningnya lama, tapi ngomong-ngomong dia membawa sabun cuci baju di kopernya.


Jujur pagi itu, mata Arun masih sangat berat. Dia yang biasanya bangun sebelum shubuh, semalam matanya sudah terbuka sejak jam 1 pagi hingga sekarang, rasanya kaki menapak saja tidak bisa, mata dan kepalanya terasa sangat berat. Berbeda dengan Ukaisyah yang sudah terbiasa bertahun-tahun itu, masih tampak segar, bahkan masih sempat meringkas materi untuk beberapa hari ke depan usai cutinya, tidak ada wajah lelah di sana, semakin sibuk, semakin tampan.


"Gus, ini nanti beli oleh-olehnya agak nantian boleh ndak? Aku kok mau pingsan rasanya," kata Arun membuat Ukaisyah tertawa kecil, niat Arun sudah bagus, tetapi perlu dibiasakan saja, semalam tak terhitung berapa kali Arun menguap hingga hampir terjungkal karena mengantuk, sekarang pun semakin terlihat betapa berat matanya.


"Boleh, Sayang. Kamu istirahat saja dulu, sudah lewat jauh dari shubuh, matahari juga sudah naik itu, istirahat sebentar ndak apa. Buang air kecil dulu!"


Hal sepele sih memang diingatkan oleh Ukaisyah, tetapi ada benarnya kalau tidak begitu, bisa saja badan yang lelah membuat diri sulit mengendalikan alam bawah sadar, bahaya kalau sampai bocor di ranjang, besok masih ada agenda iya-iya bersama suaminya itu. Setelah rapih semua, Arun menarik selimut dan tak sampai satu menit, matanya sudah terpejam rapat, bahkan dia mendengkur seperti orang baru selesai bekerja seharian.


"Ya Allah, istriku ..." Ukaisyah letakkan lebih dulu ponselnya, lalu mendekati ranjang dan menciumi wajah Arun, bahkan dengan sentuhan Ukaisyah saja, Arun tidak terganggu sama sekali, aktivitas barunya benar-benar membuat dia letih. "Ndak apa ya, sabar dan dibiasakan ya, Sayang. InsyaAllah, jalan kamu dimudahkan oleh Allah. Terima kasih sudah mau membantu saya belajar ya," bisiknya sebelum mencium bibir Arun, tetap saja tidak membangunkan Arun sama sekali.


Sementara itu, di rumah Arun, kedua adik kembarnya dikejutkan dengan mimpi sang ibu yang mendadak gempar. Ajeng bermimpi anaknya membawa pulang dua bayi sekaligus, padahal dia ingat betul Arun dan Ukaisyah baru bulan madu.

__ADS_1


"Ibu jangan aneh-aneh, itu bunga tidur. Doakan saja!" kata Aldo yang lebih dulu mendapati ibunya heboh.


"Ya, doakan saja, Dear ... Anakmu masih bulan madu, kalaupun dia hamil, ya ndak mungkin langsung lahir, kan nunggu 9 bulan. Tapi, kalau dua artinya kembar lagi gitu?" Arya mengembangkan senyum sempurna. "Bayangin kalau Aldo sama Aldi nanti juga punya anak kembar, ruame rumah!"


Aldo dan Aldi saling pandang. "Udah cukup kita aja ya yang kembar, Yah! Ribet mulu jadi kembaran, kena jeleknya doang! Mana kalau ada cewek protes, aku juga kena gampar lagi!" omel Aldi.


"Heh, kamu ya yang sering bikin onar!" timpal Aldo. "Muantanmu bawa pasukan, aku dihajar, kurang asem, mana depan belakang nggak ada busanya!"


"Heleh!" Ajeng raup kedua wajah anaknya itu. "Ini, mbakmu telpon. Diam!"


Mereka bertiga seperti anak-anak Ajeng, bahkan Ajeng sempat berpikir Arya juga anaknya, jadi punya anak kembar tiga, mereka sangat mirip, apalagi kalau sudah kepo seperti itu.


Assalamu'alaikum, Bu, Yah, Dek!


Ah, Ukaisyah yang tampil lebih dulu, sedangkan Arun sudah segar bugar membawa keranjang.


"Loh, ini kalian di mana?"


Di pusat oleh-oleh, Arun bingung mau beli apa aja, tapi udah bawa dua keranjang besar. Heheh, Ayah, Ibu sama adek-adek mungkin ada pese apa, biar kami carikan di sini.


"Mas, Aldo dong belanjain baju di sana, yang ada gambar khas sana, atau tempat wisatanya—"


"Jangan, Mas! Beliin aja dia kontrasepsi!" sambar Aldi.


Loh!


Wajah Ukaisyah berubah bingung, kontrasepsi?

__ADS_1


__ADS_2