JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Menikah


__ADS_3

 Hari suci itu ditunggu banyak pihak, setelah salat shubuh berjama'ah, semua berkumpul untuk menjadi saksi pernikahan Ukaisyah dan Arunika.


 Walaupun matanya mengantuk luar biasa, Arun harus bertahan agar bisa bersiap dan mendengarkan bagaimana Ukaisyah mengucapkan janji setia bersamanya itu. Dia dilarang meminum kopi, tapi kantuknya tidak tertahankan, bahkan tadi dia sampai ketiduran saat semua salat shubuh rakaat kedua, Arun justru tidak bangun-bangun dari sujudnya.


 "Bu, panas pake ini. Dilepas aja ya!"


 "Heh, terus kamu mau gundulan gitu ke luar. Ya, bisa diarak keliling kampung. Lama-lama nanti kebiasa!" balas Ajeng menahan tangan Arun yang hendak melepaskan jilbab panjang yang telah terpasang, belum lagi gamis tebal nan panjang beserta dalaman yang membuat tubuhnya berkeringat basah kuyup, pendingin di kamar ini seakan tidak berfungsi. "Udah pol ini AC nya, kamu sabar!"


 "Masih lama apa, Bu, gus itu ngucapnya, hem? Lama loh, tinggal sah gitu aja lama!"


 "Heh, ini masih ngaji, tunggu! Habis itu masih ada tausiah, kamu kira orang nikahan itu kayak orang beli gorengan apa?!"


 "Tapi, ini udah keringetan aku, Bu. Lama banget, pengen lepas!" Arun mencak-mencak.


 Astaga, Ajeng bingung harus berbuat apa, anaknya ini kalau bukan Arya yang berbicara, rasanya sia-sia.


 Sudahlah, dia berikan makanan saja, ikut menegak kopi supaya dia memiliki kekuatan untuk tidak marah lagi, percuma marah pada Arun, toh yang Arun lewati sampai hari ini tidaklah mudah.


 Ajeng ambilkan robekan kardus untuk mengipasi putrinya, mereka berbincang sejenak, lalu mengajak anaknya berdoa, selanjutnya mereka terdiam bersama dengan nafas yang teratur.


 Klek!


 "Ya Allah ..." Arya meraup wajahnya, ditunggu tidak kunjung datang, ternyata dua bidadarinya ini tertidur dengan gaya lucu sekali.


 Arya mendekat, mengecup pipi kedua perempuan tersayangnya itu, sedikit mengusik sang istri agar terbangun lebih dulu. Urusan Arun nanti bisa mereka urus berdua.


 "Mas-"


 "Ssst ... Udah selesai nikahnya, daritadi dicariin."


 "Terus, Mas ... Ini anak-"

__ADS_1


 "Biarin aja, kita ke depan dulu. Biar gus Isya yang ke sini nanti, kan mereka udah nikah, ayo!"


 Ajeng mengangguk, dia bergegas menuju meja rias, merapihkan riasannya lebih dulu beserta jilbab panjang yang dia kenakan. Melihat istrinya berpenampilan seperti ini, sungguh hati Arya tersentuh, dia menengadahkan wajahnya agar tak menangis, sebelum ke luar kamar, dia kecup kening putrinya lebih dulu.


 Keduanya bergandengan tangan, begitu mesra dan mengundang rasa iri dari semua mata yang memandang. Dijatuhkan bukannya mengenaskan, mereka justru melejit dengan hadiah dari langit yang tak terduga, anak mereka menjadi menantu dari keluarga pesantren yang tentunya bukan orang sembarangan di kota.


 "Gus,-"


 "Pak, jangan memanggil saya begitu, saya menantu Pak Arya, bukan orang lain!" kata Ukaisyah cepat-cepat, dia sedikit membungkuk dan bersalaman pada kedua mertua barunya itu.


 Ya, katakan dia menikah dengan Arun dengan jalan yang tak terduga, bahkan terkesan mendadak dan terpaksa. Tapi, kedua orang ini tetap telah menjadi mertua dan otomatis dua orang yang berhak dia junjung tinggi lagi sayangi.


 "Heh, ndak apa. Kamu pantes dipanggil gitu, heheheh ... Ohya, Arun di kamar, dia ketiduran, kamu aja yang bangunin ya, Gus!"


 Eh!


 Ukaisyah masih canggung, apalagi hubungannya dengan Arun sebelum ini tidak sedang baik-baik saja. Hanya saja, menolak juga bukan solusi, Ukaisyah pun mengangguk, kebetulan dia juga belum meminta Arun tanda tangan pada surat nikah keduanya.


 Ajeng terkekeh mencubit perut suaminya, ada saja idenya untuk menggoda pengantin baru.


 ***


Masih saja nyaman dengan mimpi indahnya, gadis yang baru saja menjadi istri orang itu pun tidak menyadari kalau di kamar yang dia tempati sejak dini hari, sudah ada orang lain selain ibunya.


Ukaisyah mematung di balik pintu, dia menggeser kuncinya agar tak ada yang sembarang masuk dan melihat bagaimana Arun tidur. Memang benar memakai baju yang serba tertutup sampai kepala, tapi tidurnya seperti baru menang lomba lari maraton saja.


Sekarang, di ranjang itu bukan hanya dia yang tidur, melainkan bertambah satu orang yang akan menemani hidupnya hingga menutup mata. Cinta tidak cinta, inilah masa depan yang harus dia arungi. Dan mulai hari ini, setelah akad itu terucap, dia serahkan hatinya pada pemilik hati agar mengaturnya untuk dimiliki lagi memiliki gadis itu.


"Run, minta tolong bangun, boleh?" Ukaisyah bersuara pelan, menepuk lengan gadis itu lembut, mengusik sedikit agar gadis yang telah menjadi istrinya itu bangun. "Bangun ya, masih banyak tamu yang menunggu kamu!"


Arun mengerutkan keningnya, lalu menjawab. "Ayah aja yang temuin ya, salah sendiri gus itu lama nikahnya, ribet dia!"

__ADS_1


Oke,


Ukaisyah bersyukur berteman dengan yang namanya sabar, orang tidur mana bisa disalahkan, lagipula tadi sebenarnya tidak lama, hanya Arun yang tak pernah mengikuti tata cara di sini saja, jadi menganggapnya lama.


Dan semua yang di sini akan menjadi baru untuk Arun, dialah yang harus membantu.


"Gus itu sudah nikahi kamu, kita sekarang udah nikah. Boleh, kamu bangun?"


Kening Arun mengerut lagi, dia menggeleng kecil.


"Nikah? Kita?" gumamnya berulang, detik berikutnya gadis itu membuka mata dan langsung berubah posisi menjadi duduk, melihat wajah Ukaisyah dengan lamat, sebelum berputar membelakanginya.


Heh, lah ini kalau aku ileran kan ya malu. Ada nggak ya? Eh, nggak ada, untungnya!


Arun menoleh sedikit, Ukaisyah masih berdiri di samping ranjang, dia pun mencoba merapikan posisi jilbabnya, tapi rambut-rambut nakal itu mencuat ke depan lagi dan lagi.


"Sini, saya bantu!"


"Heh, nggak ya! Modus kamu mau pegang-pegang aku?!" balas Arun mendekap kedua tangannya, dia menatap tajam Ukaisyah. "Nikah itu cuman status ya, aku belum nerima, jadi jangan deket-deket ke aku, apalagi mau pegang-pegang!"


"Yasudah, kamu betulin di depan cermin saja!" kata Ukaisyah berlalu, tidak ada nada tinggi dari laki-laki itu, dia menghargai dan mengerti kondisi ini, dia pun juga tidak akan melakukan hal yang istrinya tidak ingin, tapi pikiran Arun yang sudah ke mana-mana.


Keduanya sibuk dengan urusan masing-masing, Ukaisyah membagi lemari besarnya menjadi dua bagian, untuknya dan Arun, lalu mengambil satu set baju untuk ke luar bersama Arun nanti menemui keluarga yang mungkin mau mengambil foto bersama.


Sebelum dia ke luar kamar, Ukaisyah berhenti sejenak, menoleh pada gadis yang baru saja selesai memperbaiki jilbabnya, Arun yang menyadari itu pun ikut menoleh, Ukaisyah seperti menundukkan pandangannya saat mereka bertatapan, kebiasaan laki-laki itu sejak mereka pertama bertemu dulu.


"Saya tunggu kamu di depan, kalau boleh ... tolong jangan tunjukkan yang terjadi di kamar ini kepada keluarga, untuk hubungan kita, biarlah kita yang tahu! Kamu mengerti maksud saya'kan?"


Arun mengangguk, dari bayangannya Ukaisyah bisa mengerti jawaban itu. Dia hanya ingin para orang tua yang tengah berbahagia ini, tetaplah bahagia. Dan Arun memahami susunan kata yang Ukaisyah ucapkan, dia pun juga tidak mau ayah dan ibunya menjadi malu karena tahu bagaimana dirinya ke Ukaisyah.


"Kalau begitu, saya tunggu kamu di depan. Kita ketemu keluarga, bersama-sama," ucapnya lantas menggeser kunci dan ke luar.

__ADS_1


Keduanya lantas bernafas besar.


__ADS_2