JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Prasangka Buruk


__ADS_3

 Lihat-lihat!


 Bener nggak bawa hal baik ke pondok, malah ajakin gus Isya ke area balap.


 Percuman pake baju besar dan jilbab panjang, dia cuman bawa pengaruh buruk. Membutakan gus Isya sama dunia, jadi nggak fokus lagi ngajar pondok.


 Gimana dia bisa melahirkan penerus penanggung jawab pondok ini, wong ketuanya udah dibikin berubah cinta dunia sampai mau ke area balap, di sana kan banyak yang judi.


 Kita harus mikir lagi kalau mau nitipin anak-anak ke pondok ini kayaknya, atau kalau enggak, biar dia dibawa pergi aja, biar nggak bawa pengaruh buruk.


 Baru saja Arun dan Ukaisyah ke luar pondok untuk pergi menonton balapan yang menjadi kebiasaan Arun, hanya saja sekarang dia menonton untuk meluapkan rindu pada teman dan sekaligus mendukung keinginan Ukaisyah untuk mengajak teman Arun mengalihkan uang judi menjadi bagian sedekah.


 Namun, prasangka-prasangka buruk sudah menyebar ke mana-mana, bahkan hampir satu desa ini, termasuk lingkungan pondok tersebar kabar tidak benar akan tujuan mereka.


 Cewek kayak gitu nggak pantes dinikahin, harusnya waktu orang kampung nyerang dia dulu, gus Isya menolak, biarin dia jadi perawan tua!


 Iya, malah dinikahin. Jangan-jangan dipelet sama Arun dan keluarganya. Satu keluarga nggak ada yang bener.


 Iya, kenapa gus Isya malah mau nikahin. Kalau aku ya males, siapa tahu dia udah bekas, terus jebak gus Isya!


 Ukaisyah menutup telinganya sejenak, dia tidak mau membuat Arun merasa buruk disaat bahagia seperti ini, apalagi tuduhan itu tidak benar. Dia telah mengetahui kabar ini dari pesan yang Tejo kirimkan, di pondok sedang ramai dan tidak tahu siapa yang memulai.


 "Gus, kenapa?" tanya Arun berlari mendekatinya.


 "Ndak apa. Udah nyapa temen cewek kamu?"


 "Udah, aku nggak bawa mereka ke sini, nanti Gus liatin mereka!" kata Arun cemberut.


 Ukaisyah mengusap jemarinya di pipi Arun. "Sudah saya bilang kalau saya hanya melihat kamu saja, mau mereka di sana atau di sini, kalau mau, saya bisa ke sana sama kamu, tapi saya pilih di sini. Kamu tahu artinya, kan?"


 Arun mengangguk dan menyembunyikan wajah merahnya, lalu mengambil tangan Ukaisyah untuk dia genggam.


 "Gus," panggilnya lagi.


 "Iya?"

__ADS_1


 "Gus pake topeng aja ya, habisnya memancar pesonanya!"


 "Harusnya, saya yang bilang begitu. Dari tadi saya pengen nutupin wajah kamu, biar mereka nggak terheran-heran liat kamu, panas saya denger pujian mereka!" balas Ukaisyah menarik Arun lebih dekat.


 Biarlah urusan di pondok sejenak dibantu oleh keluarganya, dia fokus memberikan waktu bagi Arun dan tujuan baik mereka di sini. Arun mempunyai pengaruh besar, tubuhnya memang kecil, tapi ucapan Arun di sini mampu didengarkan banyak orang dan dia dipercaya.


 Ukaisyah semakin yakin, Allah akan memberikan dia kemudahan untuk mengajak orang-orang ini ke tujuan yang lebih baik, memanfaatkan dan mengelolah uang lebih tepat lagi dari sebelumnya.


 "Jadi, udah nikah beneran?"


 "Iyalah, ini gus Isya, suamiku!" jawab Arun membuat Ukaisyah berdebar, diakui suami.


 "Ukaisyah saja," tambah Ukaisyah tidak enak kalau mereka memanggil itu, sebab itu panggilan biasa para santri.


 Mereka semua tersenyum, sangat-sangat menghargai Arun tentunya. Balapan pun dimulai, Ukaisyah melihat saat motor mereka melintas, mengabaikan seruan dan gerakan para wanita di sana, fokusnya pada wajah Arun yang sumringah dari kening sampai dagu.


 "Gus!"


 "Iya?"


 "Saya ndak ngelamun, saya liatin wajah kamu. Kamu cantik sekali waktu senyum lebar gitu, bisa ndak kalau di rumah terus senyum gitu?"


 "Ya Allah, Gus ... perutku sakit dibilang gitu!" balas Arun malu. "Gus nggak apa nonton begini?"


 "Saya ndak nonton mereka, daritadi saya ndak liat balapannya, saya liat kamu. Jadi, ndak masalah, iya kan?"


 Ya Allah!


 Arun ingin jungkir balik sekarang kalau lupa dia sedang memakai gamis panjang nan lebar. Kepalanya sudah mau meledak, berulang kali menjadi bahan pujian sang suami, apalagi setelah mereka menjadi satu malam itu, sudah seperti tak ada batas lagi.


 "Itu Gus yang biasa aku kalahin, sekarang dia udah bisa menang soalnya aku udah nggak balapan, terus dia seneng kan gitu, hih orang biasanya kalahan loh, sombong sekarang. Awas ya kalau nggak nurut nanti waktu ngobrol-ngobrol, bisa aku geplak kepalanya, Gus!"


 Loh!


 Ukaisyah terbelalak. "Janganlah, nanti tanganmu menyentuh dia dan saya ndak suka kamu pegang-pegang lelaki lain!"

__ADS_1


 "Eeummm, Gus ... Yawis, geplak pake kayu!"


 Lah, tambah parah.


 Ukaisyah berkenalan pada beberapa yang lain, lalu mereka duduk bersama, pertama-tama Ukaisyah ikuti dulu bagaimana mereka berbicara dan apa yang dibahas, setelahnya perlahan dia masuki pelan-pelan tentang yang seharusnya mereka lakukan pada hal balapan dan hadiahnya.


 Tidak mudah mengubah kebiasaan yang sudah menahun itu, apalagi baru pertama kali duduk. Ukaisyah hanya berbicara sebentar, tidak mau membuat mereka bosan dan lebih pada mencari kenyamanan, yang terpenting mereka mau mendengarkan dan menerima hadirnya dulu, itu sudah bagus.


 "Gus, itu pada mau ke mana?"


 "Kurang tahu, kita coba jalan aja ya, ndak perlu terlalu ingin tahu, kalau memang kamu ndak termasuk!" jawab Ukaisyah bertutur lembut.


 Arun mengangguk, hatinya sudah sangat senang ini tadi, berharap hingga


 ***


Sudah ramai sekali di area pondok, orang-orang berkumpul dengan banyak gumaman sembari mendengarkan penjelasan orang tua Ukaisyah dari pondok utama.


Ukaisyah menggandeng tangan Arun agar tetap berjalan bersamanya, seperti biasa dia menyapa dan mengucap salam meskipun mereka tidak membalas secara utuh. Ukaisyah tetap berlaku seperti biasa hingga dia sampai di teras pondok utama, tangannya masih menggandeng Arun.


"Sya, kamu dari mana?" tanya Aisyah pada sang putra, dia bukan tipe gegabah yang langsung menyalahkan, harus ada beberapa alasan dulu.


"Dari tempat balap motor temannya Arun, Nda. Di sana aku sekalian ajakin mereka ikut ngaji di sini, Nda. Arun berpengaruh sekali di sana, banyak yang mendengar dan terpikirkan ikut kegiatan sosial," jelas Ukaisyah sambil memandang Arun yang ketakutan, dia mengerti orang-orang ke sini pasti mengira ada pengaruh buruk yang dia bawa untuk Ukaisyah.


Aisyah tersenyum, seketika membuat Arun merasa aneh, bukannya dimarahi, dia malah dipeluk oleh ibu mertua, dibawa masuk penuh rasa bangga.


"Gus!"


Ukaisyah mengangguk dan memberi isyarat agar Arun mengikuti ibunya saja, dia yang akan meneruskan penjelasan di sini dan mencari tahu dari mana sumbernya sampai semua orang berpikiran ke arah buruk, bahkan baru saja Tejo mengatakan bahwa banyak yang menyarankan Ukaisyah menikah lagi agar mendapatkan keturunan dengan kualitas yang tepat.


"Bunda, aku bikin masalah ya?"


"Enggak, mana ada masalah yang mengajak orang lain berbuat baik, hem? Itu bukan masalah, hanya aja nggak semua orang bisa paham, mereka harus diberi penjelasan dengan sabar, kamu di sini aja ya," tutur Aisyah terus mendampingi menantunya.


Namun, Arun masih waswas, apalagi suaminya masih tertinggal di depan sana sendiri.

__ADS_1


Gus, kamu ndak apa kan ya?


__ADS_2