JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Tendangan Mendadak


__ADS_3

"Kamu nungguin siapa, Jo?" Rasyah baru saja kembali dari masjid, sengaja memang malam ini dia berlama-lama di masjid pondok. Akan tetapi, ada pemandangan yang cukup mengganggunya sehingga memutuskan selesai lebih cepat dan ke luar.


Ternyata Tejo sejak tadi mondar-mandir di sekitaran masjid sambil melihat ke depan pintu gerbang pondok ini, sesekali Tejo duduk, lalu bila mendengar suara motor, maka dia akan berdiri dan kemudian berlari ke depan gerbang memastikan siapa yang datang.


"Anu, Gus Rasyah ... Itu loh gus Isya kok belum keliatan pulang ya, kan mata saya ini belum bisa merem kalau belum liat gus Isya di pondok, ke mana ya kalau boleh tahu?" Tejo mengucek mata merahnya, kalau ada kajian pagi seperti tadi, otomatis orang-orang seperti Tejo ini juga andil kurang tidur, mereka harus mempersiapkan segala sesuatunya lebih awal dibandingkan yang lain.


Rasyah tersenyum, sebenarnya dia juga tidak nyaman dipanggil dengan sebutan Gus, tapi mau melarang Tejo bagaimana, sedang sudah menjadi kebiasaan, begitu pun dengan semua orang yang ada di pondok ini. Walau begitu, disetiap ada pertemuan antar pengurus pondok, Rasyah dan adik-adiknya selalu menjelaskan status mereka supaya tidak ada salah paham. Mereka memang yang mempunyai gagasan pondok ini, membangun dan bertanggung jawab, tapi bukan berarti mereka putra-putri kyai besar dengan pendalaman ilmu agama yang luar biasa, mereka hanya dari keluarga biasa yang baru belajar.


"Kamu nggak perlu nungguin atau nyari dia, udah balik aja, tidur!" katanya.


"Lah, tapi Gus, mana bisa saya tidur kalau gus Isya belum keliatan. Mana gus ganteng itu kalau lepas, udah banyak yang antri ngintilin!"


"Nggak mungkin sekarang, kan udah ada pawangnya. Dia lagi ke luar sama istrinya, boncengan naik motor biasanya sama kamu, biarin aja mereka kencan," jelas Rasyah memantik kilatan di mata Tejo.


"Waduh, mbok ya bilang dari tadi, Gus! Kalau saya tahu kan ya nggak mungkin nungguin orang lagi kencan, bikin hati jomblo saya berontak aja kayak tahu berontak, hahahaha ..."


"Yaudah, kamu istirahat aja, sana!" balas Rasyah yang juga hendak kembali ke pondok utama di mana semua keluarganya berkumpul.


Sebenarnya, mereka bisa berkumpul bersama di satu bangunan yang besar, akan tetapi di awal menikah, Ukaisyah meminta agar dipisahkan demi kenyamanan Arun, lagipula tidak enak bila Arun kerap bertemu dengan Rasyah, hubungan ipar punya batasan tebal dan jangan sampai menimbulkan fitnah atau permasalahan meskipun tidak semua orang begitu, tapi lebih baik bila bisa, hidup terpisah.


"Dari masjid, Bang?"


"Iya, bercanda sebentar sama Tejo. Dia nungguin Isya pulang, nggak tahu dia kalau Isya dari pagi dapet izin bunda buat ke luar sama Arun, untung ketemu kan, kalau enggak, bisa sampe pagi dia nungguin di depan sana," jawab Rasyah sebelum mencium kening istrinya.


Wanita itu tersenyum. "Mas Tejo setia banget itu, yaudah Abang jadi mau dengerin aku setoran?"

__ADS_1


"Ya, Sayang. Masih belum ngantuk, enak juga malam, lebih tenang dan kamu bisa fokus, yuk!"


Rasyah mengambil al-qur'an di tangannya, duduk berhadapan dengan sang istri, saling mendengar dan membenarkan satu sama lain.


Hal ini sempat Ukaisyah bayangkan, ya, sekarang di kamar Arun pun dia membayangkan saling setor hafalan bersama gadis itu, tapi setiap bahtera rumah tangga itu berbeda-beda, lengkap dengan ujian yang memang sejatinya dinilai cocok dengan penduduknya. Bila menekan Arun harus seperti bayangannya, itu akan sakit, begitu juga sebaliknya bila dia ada di posisi Arun.


Namun, sejak tadi Arun diam di kamar menungguinya mandi sampai selesai salat isya', di tangan gadis itu hanya memegang ponsel dan memainkannya, sesekali berguling di ranjang, lalu duduk lagi.


"Kamu nggak tidur?" tanya Ukaisyah yang masih duduk di sudut kamar Arun, ada laptop di sini, jadi dia bisa menyelesaikan pekerjaannya juga.


Arun lantas duduk lagi, baru saja dia berguling. "Gimana tidurnya, kan di sini nggak ada kasur cadangan? Lagian, Gus kalau mau setuju sama ayah-ibu, tanya aku dulu, kan nggak ada kasur bawahnya, terus mau tidur di mana?"


Oh, jadi Arun memikirkan hal itu.


"Kamu tidur aja di kasur, biar saya di sini. Ibu sama ayah nggak akan tahu kalau saya terjaga, ada yang harus saya kerjakan juga, kamu tidur saja!" balasnya lembut, memang se lembut itu kalau Ukaisyah berbicara dengan Arun.


Ukaisyah menoleh lagi. "Kenapa belum tidur?"


"Ih, gimana bisa tidur sih?!"


"Maksudnya bagaimana?" Ukaisyah tak mengerti, tapi istrinya juga tak menjelaskan, wanita selalu penuh kode dan misteri. Beberapa menit dia diam, lalu berdiri dan berjalan menuju ranjang Arun, gadis itu pun menoleh dan menatapnya. "Begini saja, guling dua ini jadi pembatas saya dan kamu, saya di kiri dan kamu di kanan, bagaimana?"


Nah, itu yang Arun mau, pastinya wanita akan kesulitan menjelaskan apa maunya pada laki-laki, mereka selalu meminta laki-laki peka.


Arun mengangguk, detik berikutnya, gadis itu lantas berselimut dan membelakangi Ukaisyah. Sedang, demi menjaga kenyamanan Arun, diambilnya laptop itu, Ukaisyah kerjakan sembari meluruskan kaki di kasur samping Arun. Gadis itu terlelap, setidaknya Ukaisyah bisa bernafas lega, jujur saja duduk di ranjang yang sama seperti ini membuat dia berkeringat banyak, dia gugup, tapi ditutupi.

__ADS_1


"Eeeumm ..." Arun bergumam, Ukaisyah yang baru saja mematikan laptopnya pun menoleh, memastikan Arun masih tidur.


Dia pun mulai menarik selimutnya, malam ini mereka di ranjang yang sama dan satu selimut meskipun ada guling pembatas. Ukaisyah berusaha memejamkan matanya, walau dia tahu itu sulit sekali, bibirnya sibuk berdzikir berharap menjadi penghantar tidur.


Namun,


Bugh!


Kaki Arun mendarat di perutnya, masih bisa Ukaisyah tahan, dia perbaiki posisi kaki Arun, lalu kembali berbaring.


Beberapa menit kemudian, terdengar suara gesekan, kantuknya sudah datang, Ukaisyah abaikan dan memilih memejamkan mata.


Tapi,


Bugh!


"Allahu Akbar!" teriaknya memegangi kepala.


Bugh!


"Ya Allah!" lagi, tapi kali ini lebih parah.


Satu kaki Arun ke wajahnya, satu lagi menindih bagian bawah perutnya, sedang kepala gadis itu hampir berada di ujung bawah samping ranjang.


"Ya Allah ..." Ukaisyah membalikkan tubuhnya, merintih, kepala atasnya bisa dia atasi, tapi yang bawah, astaga, seperti dilempar bom. "Ssh ... Ya Allah ..."

__ADS_1


Arun terganggu dengan suara merintih berulang kali itu, matanya pun terbuka. "Kenapa?" tanyanya polos.


__ADS_2