
"Demi Allah, Bun ... Nggak ada pikiran Isya ke sana!" katanya duduk di bawah, dekat kaki ibunya. "Nggak ada yang bisa menjamin orang, aku nggak merasa bimbang karena latar belakang gadis itu, sama sekali enggak. Isya cuman memikirkan bagaimana pernikahan itu akan berlangsung hanya karena rasa kasihan atau tanggung jawab? Apa itu nggak akan menyakiti kami ke depannya?"
Aisyah tersenyum, malam-malam putranya meminta izin bertemu dan membangunkannya, dia masih duduk di tepi ranjang, sedang suaminya terjaga di belakangnya. Biasanya, Ukaisyah akan memenuhi malam-malam ini dengan ibadah, tapi malam ini lebih cepat untuk memperjelas semuanya, dia sangat menghargai Aisyah sebagai ibunya.
"Kamu tersakiti hidup di dunia ini?" tanyanya menekan sedikit bahu Ukaisyah.
Ukaisyah menggelengkan kepalanya, menatap lembut wajah ayu sang ibu.
"Kalau bukan karena kasih sayang Allah, kita juga nggak akan bisa menjalani kehidupan ini. Kalau bukan karena Allah kasihan pada kita, nggak mungkin setelah melakukan dosa, kita dibiarkan masih bisa bercanda. Setelah itu, apa kita tersakiti?" Aisyah menjeda sebentar, membiarkan anaknya mengerti. "Allah menciptakan kita, Allah bertanggung jawab atas jalan kita. Apa kita hidup di dunia ini tanpa tanggung jawab?"
Sejenak Ukaisyah hanya bisa terdiam dengan pilihan kata yang dirangkai ibundanya itu, dia memejamkan mata saat Aisyah mengusap wajahnya.
"Bunda tahu kamu nggak takut nantinya kamu bisa mencintai dia atau enggak, tapi kamu lebih takut dia nggak bisa menerima ini dan mencintai kamu sehingga dia tersakiti, benar?" Aisyah tersenyum melihat putranya mengangguk.
"Kamu takut, gadis itu terus menganggap ini bukan murni ketetapan Allah, tapi hanya rasa iba dari seorang hamba?" lagi-lagi Aisyah tersenyum melihat Ukaisyah membenarkannya.
"Kalau begitu, minta sama Allah dari segala rasa yang kamu punya agar dimudahkan nantinya, agar gadis itu nggak merasa malu atau tersakiti. Dia terfitnah sekarang, terlepas dari segala masa lalunya, dia seperti dipenjara saat ini. Memang menyakitkan membayangkan pernikahan tanpa adanya cinta, tapi hanya sebuah rasa kasihan. Tapi, itu hanya bayangan kita saja. Nggak ada kesakitan itu, bahkan kita nggak merasakan sakit dari rasa kasihan Allah menahan hukuman dosa kita yang nantinya karena Allah kasihan lagi, kita diampuni. Mana ada rasa sakit?" Aisyah mengerti ke mana pikiran putranya itu. "Nikahi dia, Nak!"
Jalan setiap orang bertemu jodohnya tak bisa diminta paksa seperti apa, ada yang harus bersama-sama sepanjang tahun, ada yang berpisah lalu bertemu lagi, ada yang terlibat perjanjian, ada juga yang seperti dirinya, dari sebuah kecelakaan yang mengharuskan dia bertanggung jawab, hidup ini misteri, tidak bisa diatur jalannya seperti yang kita mau, sebab kita hidup di dunia ini sesuai maunya Sang Pencipta.
Dari sekian banyak ning-ning, putri kyai. Ujung perjalanan hidupnya berhenti pada satu titik yang tak pernah dia sangka. Entah doa siapa yang terkabul dan bagaimana dia berharap, keesokan harinya, rumah Arun kedatangan keluarga Ukaisyah untuk melamarnya dan menjadikan Arun menantu dari keluarga itu.
__ADS_1
"Ayah cuman mau dapet jabatan lagi dengan biarin aku nikah sama tuh su Gus?!" Arun enggan ke luar kamar.
"Nggak ada yang mau jabatan lagi, Run. Ayah menerima lamaran gus Isya buat kamu, seenggaknya tanpa Ayah mempunyai apapun di desa ini, anak Ayah masih mendapatkan kebahagiaan," jawabnya menggenggam tangan Arun. "Ayah minta maaf tentang banyak hal, membuat kamu berada di posisi yang sulit seperti kemarin, membuat kamu merasakan takut yang luar biasa sejak kecil, bahkan seram membayangkan pernikahan karena ucapan orang-orang. Tapi, Ayah nggak akan minta maaf karena menerima lamaran gus Isya untuk kamu, dia baik, dia bukan hanya tahu, tapi dia benar-benar tahu dan mengamalkannya, Ayah nggak khawatir jalanmu bagaimana ke depannya kalau sama dia!"
Arun menolehkan wajahnya, dia senang akhirnya bisa mempunyai pasangan, setelah sekian lama tidak ada laki-laki yang mau serius dengannya atau barang kali mempunyai rasa sehingga dia bisa merasakan indahnya berpacaran. Tapi, dia harus ingat kalau di pernikahan ini pun dia dan Ukaisyah tak saling mencintai, belum ada rasa diantara keduanya, sebab itu dia pun menjadi tidak percaya bagaimana nantinya, belum lagi dia belum siap tinggal di pondok dan harus melakukan apa saja hal di sana seperti keluarga laki-laki itu.
Pernikahan keduanya akan dilangsungkan bulan depan setelah pengurusan surat-surat selesai. Dan selama itu, tidak pernah sekalipun Arun berjumpa dengan Ukaisyah, dia tidak melihat laki-laki itu ke rumah sama sekali, jadi semua waktu dia gunakan untuk bekerja di peternakan ayahnya, terkadang dia datang ke pabrik.
"Yang mau nikah sama gus Isya, cie ... Habis itu ditinggalin, kan cuman tanggung jawab aja karena kejadian itu ..."
"Eh, iya ya. Kasihan kali, makanya dinikahin, terus nanti dimadu sama yang lain, heheheh."
***
Malam sebelum pernikahan, pengajian diadakan di rumah Arun, walau kemarin sempat melengserkan posisi Arya dan memfitnah Arun, para warga masih berdatangan ikut pengajian. Arya dan Ajeng merasa senang, mereka tak mencampurkan banyak urusan menjadi satu meskipun sebenarnya mereka datang karena akan mendapatkan makanan enak.
"Enak jadi gini, daripada pejabat desa, sekarang mau apa bebas, nggak ada aturan, nggak ada pencitraan, terus yang aku syukuri, anak-anak jadi lebih nurut," kata Arya.
"Nah iya loh, Mas. Emang nggak ada yang salah kalau udah Allah yang pilihin, nggak selamanya jabatan itu mengenakkan. Aku ya lebih seneng gini anak-anak lebih terkontrol!" balas Ajeng seraya menghela nafas, bukan merasa sesak tidak suka, tapi lega saja dan tak menyangka bisa senang tanpa ada jabatan itu.
Sementara itu, di kamarnya, Arun bergelung di balik selimut ditemani kedua adiknya. Jujur saja yang belum siap hidup dan melakukan hal-hal wajib yang terbiasa di pondok, bukan Arun saja, kedua adiknya juga merasakan hal yang sama, mereka belum siap kalau setiap harinya harus ke pondok dan mengisi kepala mereka dengan ilmu di sana, tak akan ada lagi games-games dalam waktu panjang.
__ADS_1
"Mbak, udah deal bener?"
"Iya, Mbak. Udahan? Yakin setelah ini liat adek-adekmu sarungan terus seharian?"
Arun berdecak. "Lah kalian pikir, apa aku ya yakin seharian pake gamis, hah?!"
Aldo dan Aldi terdiam sebentar, kemudian tergelak kencang. Kalau mereka masih bisa bercelana panjang, tapi kakaknya harus memakai baju gamis dan berhijab sepanjang hari, belum lagi ikut majelis sampai tengah malam.
"Ketawa aja kalian ya, awas!" ancam Arun kesal sendiri, baju satu lemari besar itu mau dia apakan sekarang, tidak akan berfungsi lagi karena tak mungkin dia berkeliaran di pondok memakai celana pendek dan kaos kecil.
Satu lagi, mana mungkin dia mengurai rambutnya?
Aarrrrghhhhh!!
"Mbak, di pasar malem banyak yang jual cepolan rambut, mau aku belikan biar bagus pake kerudungnya?"
"Atau itu aja, Do. Beliin Mbak Arun kaos kaki jempol, kan di sana pada nggak keliatan kakinya. Mau motif apa, Mbak?" timpal Aldi.
Prak!
"Pergi, nggak?!" usir Arun mendorong kedua adiknya ke luar kamar.
__ADS_1