JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Gara-Gara Dapur Umum


__ADS_3

 "Gus, kenapa balik ke luar lagi?" Tejo bingung sendiri, sudah benar tadi Ukaisyah selesai bekerja langsung pulang, tapi kembali ke luar lagi dengan wajah sedikit gusar, seperti ingin sesuatu yang tidak bisa dia lakukan. "Ada apa sih, Gus?"


 Ukaisyah menggeleng kecil, lalu kembali tersenyum sembari menurunkan kedua bahunya. Tidak mungkin dia mengatakan pada Tejo tentang kejadian di dalam, Arun mendadak marah padanya dan tidak mau bertemu dengan dia di rumah ini, bahkan Arun mengunci pintu kamarnya.


 Dia, Ukaisyah tidak tahu salah apa pada Arun.


 "Gus!" Tejo sedikit meninggikan suaranya.


 "Eh, apa, Jo?"


 "Kok apa loh, Gus! Daritadi itu bengong, kenapa?" Tejo jadi bingung sendiri.


 "Oo, nggak apa. Saya mau ke masjid saja, kamu selesaikan yang dari saya tadi ya!" jawab Ukaisyah bergegas.


 Ini kenapa coba pengantin baru?!


 Tejo lantas meninggalkan pekarangan rumah baru yang kini menjadi tempat tinggal Ukaisyah dan Arun, laki-laki ini sempat berbalik ingin memastikan apa ada yang terlewat, tapi namanya rumah berkaca gelap, tidak terlihat meskipun ada Arun mengintip di sana.


 Sepanjang langkah yang memanjang ke masjid besar pondok ini, Ukaisyah mencoba mencari titik salahnya di mana. Dia memiliki daya ingat yang tinggi, seingatnya sejak pagi pindahan ke rumah baru, tidak ada masalah diantara dirinya dan Arun.


 Dan, kenapa tadi saat dia pulang, Arun tidak menjawab salamnya dan menatapnya tajam. Bahkan, gadis itu mengatakan tidak mau melihat dirinya ada di rumah.


 "Kok bisa ya, aku nurut disuruh nggak di rumah, padahal itu ya rumah untuk kami berdua? Ya Allah, dahsyat sekali kekuatan hambamu itu," ucapnya sambil menaiki tangga masjid, sekadar membalas sapaan dan senyum santri yang berpapasan dengannya.


 Karena tidak ada kegiatan yang harus dia lakukan bersama santri atau pengajar di masjid saat ini, waktu itu Ukaisyah gunakan untuk kembali merangkum materi sembari menyempatkan diri mengaji. Tapi, pikirannya terus dipenuhi oleh bagaimana Arun marah padanya tanpa sebab. Sungguh, dia tidak melakukan salah tadi pagi, semua yang Arun inginkan sangat dia pahami dan iyakan.


 Tapi, kenapa?


 Ukaisyah membalikkan lembar al-qur'an, kembali membacanya dengan konsentrasi yang dia pertahankan kuat-kuat. Selama ini, dia tak pernah menjamah pikiran wanita, ternyata seperti ini pusingnya mempunyai istri, memahami wanita sesulit itu.


 Selepas maghrib, Ukaisyah kembali lagi pulang. Dia tidak bisa melakukan kegiatan rutin setelah isya nanti, kalau pikirannya dipenuhi tanda tanya soal Arun.


 "Saya mau bicara sama kamu," kata Ukaisyah membuka kunci rumah dengan kunci cadangan yang dia punya. "Kalau saya ada salah, beritahu saya, insyaallah segera saya perbaiki. Katakan salah saya di mana?"


 "Di rumah pak kades!" jawab Arun melengos, dia mengambil nasi goreng buatannya, sengaja membuat dan itu hanya sedikit.

__ADS_1


 Ukaisyah menghela nafasnya sebentar. "Saya serius bertanya salah saya apa sampai kamu keliatan semarah ini, coba katakan!"


 "Apa pedulinya? Anggep aja Arun nggak ada!"


 "Nggak bisa begitu loh, saya suami kamu, segala sikap kamu pasti saya pikirkan. Setelah isya, masih ada kajian, tolong kamu jelaskan salah saya di mana supaya saya bisa fokus kajian nanti!" jelas Ukaisyah, dia sendiri bingung mau mengatakan apa, intinya dia kacau.


 Alih-alih menjawab, Arun justru masuk ke kamarnya mengabaikan Ukaisyah, gadis itu nenatap nasi goreng di tangannya, selera makannya hilang.


 Dapur umum pondok, hish!


 ***


 "Kamu nggak selera makan, Sya?"


 Ukaisyah menoleh, dia pun meletakkan sendoknya yang sejak tadi menggantung, makannya menjadi tak berselera. Di hari pertama setelah dia menikah, selera makannya menurun mendadak, pikirannya kacau dan dia menjadi orang yang terlalu banyak bicara tadi.


 "Eh, Kak ... Tumben ke sini, nyari aku?"


 "Nggak, hahaha ... tadi, aku sama istriku lagi jalan di sana, terus liat Tejo kebingungan, katanya kamu nggak bisa diajak ngomong. Kenapa? Apa ada masalah?" Rasyah mengambil teh hangat dan duduk di depan adiknya.


 "Apa ini soal istrimu?" tebak Rasyah, kemudian diangguki oleh Ukaisyah samar. "Kalian terakhir kali membahas apa?"


Ingatan itu kembali pada proses pindahan pagi tadi, setelah salat shubuh, hubungan mereka masih baik-baik saja. Walaupun Arun menjawabnya singkat, tapi gadis itu biasa saja, tidak melotot atau terlihat marah. Lalu, perdebatan kecil mulai muncul saat Ukaisyah menunjukkan dapur dan lemari, di sana Arun mengatakan soal masakan, gadis itu tidak bisa dan tidak akan memasak.


Dan,


"Kamu jawab apa?"


Ukaisyah dengan tenangnya menjawab. "Aku mengatakan kalau di sini ada dapur umum pondok, biasanya pengajar dan santri bisa makan di sana-"


"Nah!" Rasyah memukul meja makan sampai sendok di depannya melayang.


Apa!


Beruntung saat mereka ada di sini, tidak banyak petugas dan santri, yakinlah mereka tidak mau belajar lagi karena takut melihat betapa kerasnya penanggung jawab pondok pesantren kesatu ini.

__ADS_1


Rasyah mendekatkan sedikit wajahnya, ini rahasia dan harus dimengerti para suami meskipun mereka belum dekat dengan istri mereka, ada sikap-sikap yang membuat mood istri baik dan memudahkannya menjalani kehidupan berumah tangga.


"Dengarkan aku!" titah Rasyah membuat adiknya konsentrasi. "Pernah tahu yanda nggak boleh masuk kamar sama bunda karena pulang kerja nggak ngomong kalau mampir makan di luar?"


Deg!


Hanya satu baris kalimat saja, otak Ukaisyah langsung paham. Rasyah manggut-manggut, memberi kode pada adiknya untuk langsung ke rumah menemui Arun. Walaupun mereka menikah tanpa cinta, yang namanya perempuan, mereka suka sekali dilibatkan dan hal seperti ini membuat mereka merasa dibutuhkan kehadirannya, dirasa penting agar juga benih cinta bisa tumbuh dengan cepat.


Dapur umum pondok!


...****************...


"Run, saya mau bicara sama kamu, tolong buka pintunya!" pinta Ukaisyah berdiri lima menit di depan pintu kamar gadis itu, mereka hampir seperti suami istri yang menikah lama saja.


"Bicara aja sendiri, aku nggak mau bicara!"


"Nggak bisa loh kalau saya bicara sendiri, saya butuh kamu buat ngobrol. Ayo, ke luar kamar dulu ... Pulang kajian tadi, ada yang jualan kacang tanah lewat, belum habis, jadi saya beli. Saya pengen makan anget-anget yang berair gitu, kamu bisa bantu saya, kan?" Ukaisyah bersyukur bertemu penjual kacang di depan pondok tadi.


"Minta tolong aja sama petugas di dapur umum pondok!"


Kan, benar, ini masalahnya. Tidak salah kalau dulu ayahnya pernah dikunci lama karena wanita memang seperti ini, sensitif terhadap tugas di rumah dan kewajibannya meskipun diantara mereka masih belum saling mencintai. Hebatnya perempuan, mereka bisa langsung berperan, berbeda dengan laki-laki.


Sekarang, dia harus mencari alasan yang tepat agar gadis itu mau ke luar kamar dan membantunya. Alasan yang tidak terdengar berlebihan sehingga Arun menuduhnya merayu, gadis itu akan sangat detail.


"Tapi, saya sekalian mau print foto pernikahan kemarin, ada video yang mulai kamu make up, mau diedit juga biar bagus," kata Ukaisyah menempelkan telinganya lagi, mulai terdengar ada pergerakan di dalam sana, sepertinya Arun berdiri dan melangkah mendekati pintu, Ukaisyah pun mengatur mimik wajahnya sedemikian mungkin, sewajarnya dia.


Klek!


Arun mengurai rambut panjangnya malam ini, mata Ukaisyah lantas berputar sedikit ke bawah agar tak melihat lama. Laki-laki sangat rawan dengan mata mereka, dari mata bisa membayangkan yang tidak-tidak, mau sekuat apa ilmunya, selalu kalah dengan pandangan, untuk itu laki-laki harus menjaga pandangannya. Sekalipun dia seorang penanggung jawab pondok dan pengajar, dia tetap laki-laki normal, otomatis nalurinya tahu dengan posisinya sebagai suami.


Gadis itu melipat kedua tangannya ke depan dada, dia memakai piyama lengan panjang dengan celana sedikit di bawah lutut. Lagi-lagi, dia tidak bisa mengerti kenapa Ukaisyah enggan memandangnya.


"Aku nggak bisa masak ya, jadi jangan ngomel kalau nggak sesuai!"


"Iya, kacangnya ada di meja dapur, saya siapkan alat print foto dan laptopnya dulu di ruang tamu ya," balas Ukaisyah bergegas ke ruang tamu lebih dulu, lega, akhirnya gadis itu mau ke luar.

__ADS_1


Alhamdulillah, Ya Allah ... Fiuhh, pusingnya setengah mati seharian.


__ADS_2