
Tejo melihat langit sekitar, tidak ada hujan membasahi bumi sejak semalam, tapi Ukaisyah tiba di masjid lebih awal dengan harum semerbak, wajah lembab lagi bercahaya dan rambutnya basah masih meneteskan air.
"Aku nggak ngerti ini," gumamnya.
Kalau jarum jam bergerak satu detik, Ukaisyah mungkin sudah tersenyum beberapa kali mengalahkan detik yang terlewati. Tersenyum, mengusap wajah, lalu geleng kepala, begitu terus berulang kali.
Bagian imam sudah kosong, sholawatan pun sudah, waktunya salat berjamaah, tapi yang ditunjuk menjadi imam justru terbengong sambil senyum salah tingkah sendiri.
"Maaf, Gus ... Silahkan ke depan, udah bisa dimulai salatnya, Gus!" kata Tejo mempersilahkan.
"Iya?"
"Loh, ya iya to Gus. Barusan iqomah, silahkan!" Tejo tersenyum meminta kewajaran dan pemahaman dari para pengajar dan santri, sebab pagi ini memang ada yang berbeda dari Ukaisyah, biasanya saja dia sudah melotot pada santri yang telat, sedang hari ini diberi senyum dan diajak bersalaman. "Gus, silahkan maju!"
"Iya," jawab Ukaisyah menepuk bahu Tejo.
Walah, ini kenapa kok aneh? Kayaknya, dari kemarin itu ada yang nggak beres sama gus Isya, tapi mau julid ya nanti salah, kan dilarang julid!
Salat subuh berjamaah pun dilaksanakan, Ukaisyah yang memimpin seperti biasanya, tapi setelah salat, dzikir yang biasanya cepat dan disambung kajian, kali ini lebih lama, bahkan sangat menyentuh hati hingga banyak santri yang menitihkan air mata. Selain itu, kajian pagi yang biasanya Ukaisyah hanya membantu pengajar, pagi ini dia menyampaikan sendiri, ada tambahan tentang bagaimana jiwa-jiwa muda bisa menjaga diri hingga ikatan yang sah mengikat mereka, terhindar dan menghindari aneka godaan kenikmatan yang tak seharusnya dirasakan sebelum menikah karena banyak sekali di luar sana yang terjerumus pada kenikmatan sesaat.
Tejo terenyuh mendengarkan itu, dia sampai menitihkan air mata, pun membawa kakinya ke luar dengan langkah lemah.
"Kenapa kamu kok melas gitu?" tanya Wati menghampiri teman sejawatnya.
"Aku lagi meratapi nasib, Ti. Tadi, gus Isya lagi bahas problema menjadi anak muda, yang menjaga diri akan mendapatkan yang terjaga juga. Aku cuman mikir, selama ini aku menjaga diri, Ti. Bayangin bidadari kayak apa yang nanti diberikan Allah ke aku, Ti! Aku nggak bisa bayangin, orang-orang nanti ngomongin aku gimana, mereka nggak akan percaya kalau aku punya istri bidadari karena-"
"Halah! Kamu itu ketinggian ngomongnya, Jo. Menjaga gimana, kamu aja nggak kedip nonton yang jualan jamu sama gorengan, terus mau bayangin bidadari kayangan, yang ada bidadari sawah!" potong Wati mendorong bahu Tejo gemas.
"Tapi, gus Isya udah jelasin semua tadi, Ti. Jadi-"
"Ya itu buat yang bener-bener, kalau setengah-setengah kayak kamu ya nggak bisa!" potong Wati lagi. "Eh, pagi ini tumbenan gus Isya murah senyum ya, Jo?! Aku aja yang biasanya cuman dilewati dan diajak ngomong kalau perlu, ini tadi sempat liat gus Isya senyum loh, kira-kira kenapa?"
"Kamu ngerasa gitu? Aku udah dari awal dateng, curiga!" jawab Tejo sampai melotot-melotot.
Belum selesai mereka membahas, tidak jauh dari posisi mereka duduk, tampak Ukaisyah mengajak beberapa penjual masuk ke area pondok untuk membagikan dagangan mereka di sini, dia yang akan membayar semuanya, sedang para santri dan abdi pondok boleh memilih sesukanya.
__ADS_1
"Gus, Gus, ini ada apa?" tanya Tejo berlari sambil memegangi pecinya. "Apa ini, Gus? Umik yang minta?"
"Bukan, saya ingin berbagi pagi ini. Kamu ambil yang kamu mau, yang bermanfaat ya!" jawab Ukaisyah lagi-lagi menepuk bahu Tejo dan senyum-senyum.
Kan,
"Gus, ini beneran Gus nggak lagi ada masalah kan?" tanya Tejo ingin tahu sekali.
Alih-alih menjawab, Ukaisyah justru tertawa dan mengusap dagunya, lalu melangkah pergi setelah menitipkan kantong uangnya pada Tejo, biar Tejo saja yang membayar.
"Gus!" panggil Tejo. "Walaaah, ini terus gimana to, kok malah ketawa nggak jelas! Gus, kok pergi to, Gus!?"
Ukaisyah tak mendengarnya, dia tetap melangkah lurus menuju rumah, sebentar lagi ada pekerjaan yang harus dia kerjakan, tapi hatinya ingin pulang.
"Jo, dipanggil umik!"
"Ada apa?" Tejo merapatkan lagi kantong uang itu. "Bentar ya, aku lagi bayarin ini!"
"Loh, umik mau minta penjelasan soal ini dari kamu kok!"
"Ya, justru itu. Kamu kan yang tanggung jawab soal gus Isya, Jo!"
Hilih!
Tejo membayar sejenak, sebelum berlari kencang ke pondok utama.
***
Tok, tok, tok ...
Arun perlahan duduk, sejak tadi dia di kamar setelah Ukaisyah pergi dan dia salat. Biasanya, pintu rumah akan terketuk setelah petang tiba karena pekerjaan Ukaisyah selesai diwaktu itu. Tapi, ini sudah ada suara ketukan pintu, Arun mengambil ponselnya, lalu mencoba menghubungi Ukaisyah sambil memakai jilbab.
"Gus-"
"Saya di depan," kata Ukaisyah salah tingkah, pipinya saja sudah merah.
__ADS_1
"Oalah, iya, Gus. Sebentar, aku bukain pintunya. Gus ndak bawa kunci?"
"Iya, lupa. Pelan-pelan saja, saya tahu kondisimu!" jawab Ukaisyah meraup wajahnya, pasti sakit kaki Arun untuk melangkah cepat, dia masih ingat bekas merah dan desisan perih Arun semalam.
Arun mengangguk, langkahnya memang pelan, dia pun merasa malu sekali saat ini, apalagi ingat betul bagaimana tatapan Ukaisyah saat mereka bersama.
Klek!
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam, Gus. Maaf, lama ya ... Aku tadi ndak pake jilbab, aku kira siapa yang dateng, biasanya Gus minta Wati buat ke sini, kok-" Arun menghentikan ucapannya saat tubuh kecilnya justru didekap kuat.
"Saya ada kegiatan setelah ini, tapi batrei saya habis dan dipeluk kamu bikin semangat," bisiknya.
Arun tersenyum, dia pun mencubit perut Ukaisyah.
"Gus jangan ngerayu gitu, nanti kulitku berubah merah semua loh!"
"Iyakah?" Ukaisyah menjauhkan tubuhnya sedikit guna memastikan wajah Arun, tapi saat mata mereka bertemu, mereka justru sama-sama malu.
Namun, sebagai perempuan yang pastinya jeli, mata Arun menangkap bekas tetesan air di kerah baju Ukaisyah dan bagian bahu, seperti masih baru, padahal seingatnya mereka sudah cuci rambut sebelum subuh, ini sudah lama, tapi masih bertahan basah.
"Gus, ini kenapa kok bekas air? Terus, kenapa rambut Gus basah lagi, habis apa?"
Ukaisyah menutup wajahnya, lalu dia menurunkan kedua tangannya perlahan sambil menatap lekat Arun.
"Sa-saya basuh air lagi dan lagi biar ndak terlalu panas, saya keingat terus indahnya keramas bersama kamu," jawabnya sudah seperti orang kebakaran.
"Ya Allah, Gus ... Ini gimana ini, Gus beneran bisa ngajar ini?"
"Bis-bisa, hari ini saya juga bagi-bagi makanan dan barang ke santri-santri," jawabnya memeluk Arun lagi, yang dipeluk gelagapan.
"Bagi-bagi apa?" balasnya, lalu melepas pelukan dan berjalan ke teras rumah.
Lah, udah kayak bazar!
__ADS_1
"Gus, ini umik udah tahu belum?!" ucap Arun. "Kalau umik tanya, aku jawab apa, Gus? Masa dijawab habis nganu, mik. Walah!"