JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Panggilan Sayang


__ADS_3

 "Baiklah, ini mengejutkan untuk kamu ya. Kalau begitu, biar saya pikirkan panggilan yang tepat biar kamu ndak kebingungan begitu. Maaf ya," ucap Ukaisyah semakin membuat Arun gelagapan, pasalnya laki-laki itu tidak salah, dirinya saja yang kurang persiapan, mendadak Ukaisyah memanggilnya sayang seperti ayah dan ibunya di rumah, banyak sekali panggilan khususnya. "Kamu ndak mau maafin saya?"


 "Bu-bukan gitu loh, Gus! Ndak apa dipanggil gitu, cuman ya hatiku ini ndak siap loh mendadak Gus manggil kayak tadi, ndak nyangka juga kalau Gus bakal ganti panggilan, kan kayak kejutan di akunya, Gus!"


 "Terus, kenapa masih cemberut?" Ukaisyah semakin tidak karuan saja di mata Arun, semakin lembut dan perhatian, semakin mempesona juga, seperti banyak cahayanya yang tak mampu Arun tampung sendiri, tetapi ya tidak mau kalau bagi-bagi.


 Arun menutup wajahnya ketika posisinya dan Ukaisyah lebih dekat, nanti khawatir dia yang mencium Ukaisyah lebih dulu, lalu sampo di rumah ini akan habis lagi. Perlahan Ukaisyah membuka kedua tangan Arun yang menutupi wajah itu, membiarkan Arun menutup mata, sedang dia memilih mengecup kedua pipi dan kening bergantian, terakhir dia berikan sedikit lebih lama di bibir merah istrinya itu, suka sekali kalau di rumah memakai lipstik merah yang semakin membuat warna bibir Arun semakin terang dan berani.


 "Saya ndak nemu panggilan yang tepat untuk kamu selain yang tadi, jadi maafkan saya kalau setelah ini harus memanggil kamu dengan panggilan itu ya ..." ucapnya lembut dan ramah sekali di telinga Arun.


 Arun perlahan membuka matanya, kemudian mengangguk. "Iya, Gus. Cuman, biarin aku manggil gini aja ya, enak loh dan emang cocok, lagian waktu tempur juga kan udah pas manggilnya gitu G-gus em lagi, enak disitu Gus, auh! Iya to?"


 Astaga, wajah Ukaisyah sontak berubah merah karena malu, memang benar seperti itu saat mereka berada di balik selimut, Arun suka membangkitkan semangatnya dengan terus bersuara dan berkata-kata selain hanya ah uh saja. Tetapi, dibahas begini rasanya gemas sekali, Ukaisyah hampir saja lupa kalau ingin mengajak istrinya mendengarkan hafalannya lebih dulu sebelum tidur.


 "Walah, aku belum tahu dan hafal banget hukum bacaan loh, Gus. Tajwid itu loh, nanti ndak bisa ingetin, gimana?"


 "Ndak apa, sambil kamu dengar, sambil kamu belajar. Saya sangat yakin kamu bisa. Temani saya ya," jawab Ukaisyah seraya mengajak Arun duduk di sudut kamar itu, tempat biasanya Ukaisyah menghabiskan malamnya hingga shubuh tiba, tentu saja setelah kepentingannya dengan Arun selesai. "Duduk agak deketan, Sayang!"

__ADS_1


 Arun mengangguk, dipanggil begitu lagi, kamar yang tadinya dingin berubah jadi panas, sepanas kepala Arun yang sudah menggambar yang tidak-tidak. Dimulainya bacaan Ukaisyah, sungguh Arun mengagumi itu dan bisa belajar cara bacanya dengan mudah, tetapi semakin lama, semakin kabur pandangannya hingga tubuhnya condong ke depan dan terjatuh ke pangkuan Ukaisyah.


 "Gus—"


 "Sssst, tidur saja ndak apa di sini, nanti saya pindahin ke kasur!" balas Ukaisyah lembut sambil mengusap kepala istrinya yang berbalut jilbab. Ukaisyah tersenyum begitu Arun kembali tertidur di pangkuannya, sungguh ini nikmat yang tiada tanding, di mana dia bisa beribadah dari dua jalan sekaligus. "Demi Allah dan Rasul-Nya, saya meridhai kamu sejak hari pertama menikah hingga malam ini dan nanti, semoga Allah memudahkan setiap niat baikmu dan membantumu dalam ketulusanmu berhijrah, aamiin ..."


 Arun tidak mendengar ucapan itu sama sekali, matanya sudah sangat lekat, hembusan nafasnya pun sangat teratur sampai Ukaisyah selesai dan menggendongnya ke ranjang.


 ***


Rencana bulan madu mulai Arun pikirkan, lebih tepatnya liburan berdua bersama suami, kalau urusan berbagi madu sudah mereka lakukan dan candu sekali, apalagi kalau suaminya malu-malu, Arun ingin menerjang saja sampai tuntas, ditambah lagi Ukaisyah selesai bekerja setelah seharian pastinya banyak bertemu santriwati dan pengajar lagi abdi perempuan, gemasnya Arun ingin mata suaminya itu hanya memang untuk dirinya meskipun sejak sebelum menikah Ukaisyah sudah menjaga pandangannya itu, bahkan menyentuh wanita selain ibu dan adiknya saja tidak.


"Sudah menemukan tempatnya, Sayang?"


Arun mendongak, dia masih terkejut dengan panggilan itu, tetapi bibirnya sudah menyunggingkan senyuman.


"Udah, Gus. Ada dua tempat yang ndak jauh dari sini, aku lebih condong ke sini sih biar bisa liat laut, gimana menurut Gus?"

__ADS_1


"Apa alasan kamu ingin liat laut?" tanya Ukaisyah lebih dulu. "Kamu punya masalah besar dan ingin dilapangkan? Apa saya yang jadi masalahmu?"


Arun terkekeh. "Ndak, Gus. Tenang aja rasanya di sana, mau cerita banyak sama Gus, terus duduk berdua, minum es kelapa, nempel sama Gus. Lapang sama rasa syukur, Gus!"


"Kamu ini! Saya ikut saja keputusanmu, saya yakin kamu tahu yang terbaik dan cocok buat suamimu ini," balas Ukaisyah membuat Arun senang, diakui sebagai istri yang paling mengerti suami, hati istri mana yang tak suka seakan-akan dia lah yang terbaik dalam mengenal suaminya. "Saya ke pondok ya, Tejo udah nunggu itu. Sayang hati-hati di rumah!"


Meleleh Arun dipanggil seperti itu, kedua kakinya bahkan berubah menjadi jely, apalagi Ukaisyah juga masih terdengar kaku memanggilnya begitu. Arun lantas berdiri, mengambil tangan Ukaisyah dan mengecupnya. Kemudian, keningnya pun menjadi sasaran empuk Ukaisyah, dia suka sekali.


"Kabari saya kalau ada apa-apa, jangan—"


"Jangan ke luar rumah kalau ndak ada izin dari saya!" sambar Arun hafal sekali pesan suaminya itu.


Ukaisyah tertawa. "Nanti, kita jalan-jalan ya, saya tahu ndak mudah berada di rumah sepanjang hari, tapi terima kasih karena kamu mau," ucapnya.


"Walaaah, udah, Gus, udah!" balas Arun menggoyang-goyangkan tubuhnya, malu kalau terus Ukaisyah berbicara menyangjung dan selembut itu.


Setelah Ukaisyah pergi, Arun kembali berkutat dengan rencana bulan madunya, bukan hanya memutuskan tempat, tetapi dia juga menuliskan apa saja yang akan dibawa dan beberapa tujuan wisata, termasuk urusan makan dan oleh-oleh.

__ADS_1


"Aku bawa sendiri apa ya buat makannya, nasi goreng satu aja 30an, lah aku buat sendiri segitu udah kayak makan serumah bareng kembar ... Aku bawa aja, masak di sana!" ucapnya menulis-nulis. "Eh, tapi di hotel kan ndak ada kompornya, mau digoreng di mana?! Walah, kok ya lupa!"


Arun lantas ke kamarnya. "Gus ngasih aku atm itu isinya berapa ya, banyak ndak?"


__ADS_2