
Ukaisyah tidak tahan melihat kondisi Arun saat ini, selepas acara syukuran yang diadakan sederhana di pondok bersama keluarga besar, Arun tampak pucat dan lemas, apalagi di pagi hari wanita itu meringkuk di atas ranjang dan tidak bisa berbuat apa-apa, sebagai suami sekaligus calon ayah dari bayi yang dikandung Arun, Ukaisyah sedikit merasa bersalah atas kondisi Arun saat ini, dia kira istrinya tidak akan merasakan sakit di awal kehamilannya dan menjadi pribadi yang kuat seperti sedia kala, tetapi Arun menjadi pucat dan lebih banyak tidur saja dibandingkan beraktivitas, rasa mual dan muntahnya terus semakin intens membuat wanita itu tidak bisa berbuat banyak.
"Kamu mau makan apa?" tanya Ukaisyah.
Arun menggelengkan kepalanya, rasa-rasanya tidak ada makanan yang enak dan cocok dengan lidahnya.
"Kamu harus makan, karena kondisimu sangat lemah, kalau tidak dipaksa makan, nanti kamu semakin lemah," imbuhnya.
Arun pun mengangguk dan duduk, tadinya dia berpikir dia bisa makan, tetapi ketika makanan itu datang, justru dia semakin mual, sampai-sampai Ukaisyah pun melewatkan kajian siang itu. Pagi sampai siang hanya untuk menemani sang istri.
"Gimana kalau kita ke dokter aja, mungkin ada obat untuk mualnya?"
Arun menggelengkan kepalanya. "Ndak Gus, ndak apa, mungkin, ini memang gejala awal kehamilan, aku masih bisa tahan, cuman untuk makan, mungkin, ndak bisa seperti dulu," jawabnya.
Ukaisyah memakluminya, tapi dia juga khawatir Arun akan semakin lemas karena kekurangan asupan dalam dirinya. "Itu dicoba makan sedikit-sedikit ya, mual ndak apa-apa, muntah juga ndak apa-apa asalkan perutmu ada isinya," tuturnya.
Sedikit demi sedikit dia pun mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, hanya satu suap lalu ia dorong dengan air begitu seterusnya, lalu ia muntah lagi dan kembali mengisi perutnya, bahkan untuk salat pun dia tidak bisa berdiri, Arung terpaksa memakai kursi seperti yang Ukaisyah sarankan. Dokter mengatakan hal itu terjadi pada trisemester pertama, tetapi dia menekan keningnya lama, baru beberapa hari saja, dia sudah merasakan tubuhnya seperti orang yang melayang-layang, bahkan seperti tidak memijak di bumi.
"Assalamualaikum," salam Ukaisyah datang setelah salat magrib, dia izin sejenak untuk tidak ikut berjamaah di masjid pada salat Isya nanti, sebab dia ingin memastikan kondisi Arun dan kedua orang tuanya menyetujui hal itu, untuk sementara istrinya yang utama dibandingkan urusan pondok karena dia masih bisa mengerjakan di lain waktu, sedangkan arun hanya memiliki dirinya di pondok ini.
"Gus tumben kok udah pulang? Biasanya kalau pulang setelah sholat isya sekitar jam 9 malam," tanya Arun memandang suaminya.
Ukaisyah tersenyum, ternyata istrinya masih memperhatikan dirinya dan tugas yang diamanahkan. "Nggak apa-apa, kamu lebih membutuhkan saya dibandingkan pondok, saya juga bisa salat berjamaah di sini bersama kamu sekaligus memastikan kondisi kamu. Dan kondisimu lebih utama saat ini untuk saya," jawabnya.
Arun tersenyum, ia pun lantas menunggu waktu Isya untuk salat berjamaah bersama Ukaisyah meskipun dia hanya bisa duduk dalam melaksanakan salatnya, kepalanya terasa sangat berat, bahkan tubuhnya terasa panas-dingin secara bersamaan, setelahnya kembali dengan pelan menyuapkan makanan lagi dan Ukaisyah membuat minuman hangat.
__ADS_1
"Maaf ya Gus aku ndak bisa melayani seperti biasanya, kepalaku berat sekali, bahkan mencium aroma bumbu dapur pun aku ndak bisa," katanya.
"Ndak apa-apa, saya memahami hal itu dan ndak memaksakan, lagi pula saya masih bisa melakukannya untuk kita berdua, kamu tenang saja, jangan merasa bersalah dan jangan terlalu banyak meminta maaf kepada saya." Ukaisyah katakan dari awal agar istrinya tidak terus merasa tidak enak karena tidak bisa melakukan hal yang biasanya.
Hari demi hari pun berlalu, tiba saatnya 10 hari setelah kontrol pertama mereka kembali lagi ke rumah sakit dan dokter kandungan yang disarankan oleh Aisyah. Mereka harus memeriksa kembali kondisi janin yang melekat di rahim Arun, betapa bahagianya dan rasanya semua sakit itu hilang ketika mendengar calon buah hati mereka tumbuh dengan baik di dalam sana, terlebih lagi Ukaisyah merasa sangat-sangat beruntung, sebab istrinya mengandung dua bayi sekaligus. Keturunan kembar itu turun pada Arun seperti yang didapatkan oleh ibunya dulu ketika hamil kedua adiknya. Ukaisyah tidak berhenti-hentinya merasa bersyukur, sampai dia pun menangis karena bisa melihat dua kantong sekaligus, padahal di awal tidak terlalu terlihat, ternyata sekarang sudah sangat jelas.
"Tolong dijaga pikiran, pola makan, moodnya karena ibu hamil itu pasti berantakan, sebagai suami harus mendukung penuh ya, pak!"
Ukaisyah mengusapkan telapak tangannya ke perut itu, sebisa mungkin dirinya lebih baik bersikap karena itu berbeda dengan kehamilan biasa, pasti intensitas mual dan muntahnya lebih tinggi, dia harus menjaga mood Arun agar tetap stabil dan Ukaisyah siap untuk menjaga ucapannya. Mungkin baginya biasa, tetapi tetap saja sangat sensitif, jadi dia harus benar-benar menjaga semuanya.
"Senang ndak kalau aku punya anak kembar?"
"Ini anak kita, Sayang. Saya merasa sangat senang ... Katakan saja apa yang kamu supaya saya bisa memenuhinya, janganmenyimpan perasaan sendiri, kalau kamu merasa aneh, silakan adukan kepada saya, sebisa mungkin akan saya bantu mencari solusinya dan akan saya perbaiki bila itu menyangkut sikap saya kepada kamu!"
Ukaisyah menciumi puncak kepalanya. "Maaf kalau saya membuat kamu merasa sakit, tetapi tolong bersabarlah dan sebutkan rasa ikhlas atas kandungan ini, insyaAllah keduanya menjadi investasi kita di akhirat nanti ...."
"Aamiin, Iya Gus. Maaf kalau aku juga merepotkan—"
"Jangan berkata seperti itu, saya nggak merasa kerepotan sama sekali!"
"Gus," panggil Arun begitu suaminya berdiri.
"Kamu mau sesuatu? Biar saya ambilkan," tanyanya.
"Bukan-bukan mau apa-apa!"
__ADS_1
"Lalu, kamu mau apa?"
Arun mengeluarkan tangannya hingga menunjuk tepat di bagian pusar Ukaisyah.
"Kenapa dengan perut saya?" tanyanya.
"Bukan perut, tapi bawah perut"
"Kenapa? Ada apa? Apa ada yang aneh saya?" Ukaisyah tidak bisa melanjutkan ucapannya, sebab Arun menunjuknya sekali lagi. "Ada apa, Sayang? Katakan, ada apa?"
Arun diam dan tersenyum malu-malu.
"Kamu menginginkan ini?" tanyanya, kemudian Arun pun mengangguk. "Ya Allah, kenapa ndak berkata langsung? Saya pun juga menginginkannya, tapi saya ndam mungkin memaksa kamu. Apa dokter mengatakan itu boleh?"
"Boleh, tapi ndak boleh terlalu keras, Gus pelan-pelan aja!"
"Baiklah kalau begitu, saya bersihkan diri saya dulu, sebentar!" kata Ukaisyah merona.
Arun pun mengangguk secara malu-malu, entah kenapa dia malam ini menginginkan suaminya lebih dari biasanya dan tentu saja Ukaisyah pun membalas semua itu, siapa yang bisa menolak ajakan istri, sedangkan dia juga laki-laki yang normal.
"Bismillah ya, saya mau mau ketemu sama calon anak-anak saya," bisik Ukaisyah mencari posisi benar.
Arun mengangguk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangan, sungguh dia malu, bisa-bisanya di saat kondisinya yang sangat lemah dan banyak mual dan muntah dia menginginkan hal itu.
Heheh ...
__ADS_1