JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Cara Jalannya Beda


__ADS_3

 "Gus!" pekik Arun menendang selimutnya, gadis itu duduk menghadap Ukaisyah yang meringkuk sambil mengeluh. "Gus! Gus kenapa?"


 Pikiran Arun sudah ke sana, tepat pada kemungkinan yang Ukaisyah terima dari ulahnya waktu tidur, tapi menanyakan hal itu pada Ukaisyah juga malu, sudah dia ketahuan menyakiti, ditambah lagi nanti dikiranya dia suka berpikiran kotor.


 Ukaisyah hanya menggelengkan kepalanya dengan wajah sedikit memerah, bibirnya terus merintih kesakitan meskipun tidak keras, hanya mereka berdua yang mendengarnya. Ini mengalahkan patah tulang saja, hampir-hampir Ukaisyah merasa nyawanya dicabut.


 "Ini, Gus minum dulu!" kata Arun setelah Ukaisyah bisa duduk, laki-laki itu pun langsung menyambar gelas yang diberikan Arun padanya, sakit ya?.


 Arun masih menunggu sampai Ukaisyah menoleh sedikit padanya, baru gadis itu menerima gelas kosong dan bisa melihat betapa sengsaranya Ukaisyah di sini, baru tidur sebentar sudah sepertui ikut siksa kubur.


 "Gus, mau ke mana?" tanya Arun bergegas, Ukaisyah sudah seperti mau berdiri, tapi sedikit susah.


 "Ke kamar mandi sebentar, saya bisa kok, kamu di sini aja!"


 "Nggak, nggak, nanti kalau kepeleset malah bahaya. Orang jatuh di kamar mandi itu kebanyakan mati, nggak maulah aku jadi janda mendadak!" kata Arun bergegas menelusup ke tengah tangan dan tubuh Ukaisyah, dia memapahnya pelan.


 Ukaisyah tercengang, bukan karena takut menjadi janda yang dikatakan Arun, melainkan sikap gadis yang melarang dirinya untuk saling bersentuhan itu, sekarang Arun sangat dekat dengannya, bahkan dia bisa mencium aroma sampo yang gadis itu gunakan karena Arun tidak memakai jilbab dan mengurai rambutnya.


 Sembari berjalan, sembari melihat kecil gadis di dekatnya ini. Ukaisyah tersenyum tipis, semudah itu ternyata melepaskan rasa sakit, pilihan dari Sang Pencipta memang tak pernah salah meskipun dia dan Arun akan melewati proses yang panjang, sejatinya mereka telah menjadi satu rasa.


 "Aku nggak ikut masuk ya, tapi pintunya dibuka sedikit aja, biar kalau ada apa-apa aku bisa bantu!" kata Arun.


 Ukaisyah mengangguk, gadis itu memang keras kepala lagi susah diatur, tapi bila mengerti cara berbicara dengannya, sungguh dia memiliki hati yang baik lagi perhatian.


 Ukaisyah menuntaskan kepentingannya dulu, sebisa mungkin dia tidak memancing Arun untuk menoleh padanya, tapi saat ini rasa sakit itu kembali terasa meskipun sedikit, dia sempat merintih.


 "Sakit banget ya, Gus?" tanya Arun tanpa menoleh, dia ingat dulu pernah tidak sengaja menendang milik adiknya, dua hari adiknya tidak masuk sekolah karena nyeri berkepanjangan, apalagi kalau sedang buang air kecil.


 "Sudah, nanti pasti sembuh sendiri. Terima kasih ya," kata Ukaisyah menjawab, dia pun berjalan ke luar, tapi lagi-lagi Arun memaksa membantunya hingga Ukaisyah duduk di tepi ranjang.

__ADS_1


 "Gus tidur di sini aja, aku biar ambil karpet-"


 "Jangan, kamu yang di atas, biar saya yang di karpet. Sudah, nggak apa. Mana mungkin saya tidur nyaman, tapi istri saya nggak. Ayo, kamu tidur di atas lagi, sini!" potong Ukaisyah tanpa sadar memancing debaran di dada Arun hingga sudut matanya juga berkedut.


 Keduanya saling membuang muka ke arah lain, mulai dari rasa sakit, bantuan ke kamar mandi sampai membagi ruang tidur, tanpa sadar benih-benih perhatian telah muncul pada keduanya.


 Karpet itu Ukaisyah bentangkan, dua bantal dan satu guling, Arun letakkan di bawah, sedang dia berada di atas.


 "Masih sakit, Gus?" tanyanya takut, besok ibunya pasti heboh kalau tahu.


 Ukaisyah mendongak sembari tersenyum. "Sudah enggak kok, kamu tidur saja, jangan khawatir!"


 Bohong, masih sakit, tapi Ukaisyah menahannya agar Arun tidak terus merasa bersalah lagi tidak nyaman.


 ***


Aldi pun meletakkan kembali tasnya, lalu menoleh melihat di mana Ukaisyah tengah berada, ada yang aneh dengan cara berjalan kakak iparnya itu. Ini bukan kali pertama mereka melihat Ukaisyah memakai sarung, bahkan lebih sering memakai sarung daripada celana, hanya saja cara berjalan laki-laki itu sedikit berbeda.


"Iya, kenapa ya?"


Apa iya, kalau udah nikah sampe separah itu?


Dua anak kembar ini masih berpikir keras, sedangkan di sana Ukaisyah yang merasa diperhatikan, lantas melambaikan tangan dan tersenyum pada keduanya. Sungguh, memang tidak se sakit semalam, tapi rasanya masih berdenyut sakit saat dia berjalan dan selepas buang air kecil.


Arun menawarkan diri mengantar Ukaisyah ke dokter, tapi Ukaisyah menolak dengan alasan nanti sakitnya bisa hilang sendiri, lagipula dia juga malu bila bagian itu dibuka di depan mata orang lain, sekalipun laki-laki.


"Bu, udah tahu belum kalau jalannya mas ipar beda? Ada yang aneh!" Aldo menghampiri Ajeng.


Ajeng mengerutkan keningnya, tadi sih mereka bertemu, menurutnya biasa saja atau dia yang tidak terlalu memperhatikan. Mendengar penjelasan Aldo, Ajeng tidak bisa diam saja. Walau bagaimanapun juga di rumah ini Ukaisyah telah menjadi anaknya sendiri, sama seperti Arun dan si kembar.

__ADS_1


Dari balik tembok pembatas, Arun ditemani Aldo mengintip keberadaan Ukaisyah. Matanya sontak melebar begitu sadar memang ada yang aneh dengan menantunya itu, cara berjalan dan bagaimana Ukaisyah saat hendak duduk lagi berdiri, seperti menahan sesuatu.


Lah, seingatku masalah kayak gini, pengantin baru itu yang nyeri sedep si cewek loh, ini kok malah gus Isya nya, gimana to?


Ajeng perhatikan lagi, mana mungkin dia membahas ini dengan si kembar, walau mereka sudah besar, tapi tidak pantas juga. Ajeng memilih mencari putrinya saja, kalau ada apa-apa sama pasangan suami istri, tentu yang ditanya juga pasangannya, mana mungkin orang lain.


Kebetulan, Arun ada di kamarnya, gadis itu mengemasi barang yang hendak dibawa ke pondok, termasuk beberapa baju yang dia suka dan buku bacaannya.


"Ibu ngomong apa?" tanya Arun waswas.


"Ini awalnya, Ibu ya nggak percaya. Tapi, senakal-nakalnya adekmu, kalau ngadu itu mesti bener. Ibu udah liat sama mata kepalanya Ibu sendiri, suamimu kayaknya kesakitan. Coba kamu tanya dia, kalau emang ada yang sakit, misal kakinya keseleo atau gimana, pijitin, Run! Kalau yang sakit lainnya, coba kamu obatin!" jawab Ajeng sembari memberikan saran.


Arun bergegas ke bawah, dua adik dan ibunya sudah gempar melihat perbedaan Ukaisyah, mau bagaimana lagi, ditahan pun tetap sakit, itu bagian terpenting dari seorang laki-laki.


"Gus!" panggil Arun sudah ada di belakang Ukaisyah.


Ukaisyah berbalik utuh. "Iya, kamu butuh sesuatu?"


"Ke kamar aja, biar Arun periksa!"


"Pe-periksa ap-apanya?" Ukaisyah panik, ke dokter sesama laki-laki saja dia malu, apalagi ini Arun. Ya boleh nanti, kalau cinta sudah bersemi, bukan sekarang, dia tidak mau menjadi beban Arun.


"Ya 'itu'nya, biar aku liat kenapa. Nanti, aku pijitin kalau ada yang salah urat!"


waduh!


Dengan cepat Ukaisyah menggelengkan kepalanya, mana ada yang begitu dipijat karena salah urat?!


"S-saya udah seh-sehat!" kata Ukaisyah tergagap.

__ADS_1


__ADS_2