JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Di Satu Kamar


__ADS_3

Ini bukan mimpi atau sesuatu yang Ukaisyah paksakan, sebab malam ini Arun dan dirinya ada di kamar yang sama setelah gadis itu memutuskan untuk saling membuka pintu kamar yang berhadapan agar tahu kondisinya, sekarang gadis itu berpindah kamar, menjadikan guling dan bantal sebagai pembatas di ranjang besar Ukaisyah.


Ini tidak lain karena Arun tidak berhenti melihat Ukaisyah terbangun dan duduk di tepi ranjang, lalu hendak bergerak melakukan hal-hal yang menurutnya akan semakin membuat rasa sakit itu tidak mereda.


"Diem gitu loh, Gus! Ini bukan salat wajib, kan bisa libur dulu, nggak akan dosa juga. Nanti, kalau udah sembuh, baru terserah Gus mau salat sampe ribuan rakaat ya boleh!" omelnya kesekian kali karena Ukaisyah tidak ingin meninggalkan kebiasaan malamnya, hanya dua sampai tiga jam di sepertiga malam, tapi bagi Arun sekarang kurang tepat. "Aku iket loh kalau nggak bisa dibilangin!"


Ah, seharusnya Ukaisyah ini bisa menjawab dengan ilmu yang dia punya, tapi entah kenapa di hadapan istrinya, dia seperti ceramah yang selama ini sering dia dengarkan tentang bagaimana posisi kerja dan isi otak suami saat berhadapan dengan istri mereka, kosong.


Ukaisyah kembali meluruskan kedua kakinya, ngomong-ngomong dia memakai sarung sejak tragedi tendangan itu sampai tertindih tadi, biasanya di malam hari dia bisa memakai celana, sekarang terus memakai sarung, tentu saja menjadi canggung di depan Arun.


"Mau ke mana lagi?" hish! Punya suami satu kok ya susah diatur to!


Arun lantas ikut bangkit, mengambil duduk ke samping Ukaisyah.


"Saya mau buang air kecil," kata Ukaisyah mengejutkan Arun, yang satu ini dia mau absen, tapi takut juga kalau Ukaisyah mendadak jatuh karena nyeri.


"Yaudah, aku cuman anter sampe depan, ayo!"


Daripada Arun mengomel lagi meskipun dia suka mendengarkan omelan gadis ini, lebih baik menyimpan energi mereka agar besok bila dia belum sehat, setidaknya tidak membuat Arun terlalu lelah.


Arun menunggu di depan, dia tidak mengizinkan Ukaisyah menutup pintunya rapat agar dia bisa masuk bila terjadi sesuatu.


Waduh, kalau masuk, buka atau tutup mata? Hehehe ... Ya Allah, pikiranku udah ke mana-mana loh! Apa ya aku ini udah layak eksekusi biar gus Isya nggak nikah lagi? Eh, tapi gimana mau eksekusi, wong anu nya sakit, hahaha ... Kita juga belum saling cinta, ya kalau gus Isya mau, lah kalau enggak, aku ya malu!


Ukaisyah melambaikan tangannya ke depan wajah Arun, telapak tangan yang sangat putih lagi lembut sempat Arun rasakan saat membantu Ukaisyah berdiri tadi, tangannya saja kalah lembut meskipun dia perempuan.


"Udah, Gus?"

__ADS_1


"Sudah, saya di sini hampir lima menit. Kamu mikir apa?" jawab Ukaisyah penasaran, pasalnya Arun senyum-senyum sendiri.


Arun menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak mikir apa-apa, kita balik aja!"


Ukaisyah patuh, entah ini pertanda apa, tapi malam ini siapapun tak ada yang bisa menghentikan keduanya untuk berada dalam satu kamar. Kamar yang diawal sangat tidak ingin Arun masuki, seperti dapur untuk memasak, hari ini seakan berubah semua. Arun ke dapur dan juga ke kamarnya.


"Kamu tidur saja, saya nggak ngantuk. Mau didinginkan lagi AC nya?"


"Kenapa nggak ngantuk? Gus keganggu ada aku di sini?" alih-alih menjawab, dia justru memberondong Ukaisyah dengan pertanyaan. "Gus mau ke mana kalau aku tidur? Awas ya, aku bakalan muarah dan nggak mau ngomong sama Gus ya kalau selangkah aja pergi dari ranjang!"


Seharusnya, Ukaisyah bisa menjawab, bukan? Tapi, lidahnya tidak bisa diajak berkompromi sama sekali.


Dia patuh pada Arun, duduk bersandar dengan kaki lurus sejajar ke depan dibalut selimut, di pangkuannya ada ponsel dan buku yang biasa dia baca lagi pelajari. Dia tidak akan ke mana-mana sampai adzan shubuh terdengar.


Ukaisyah tersenyum tipis melihat pada Arun, tidak disangka saja mereka akan di posisi yang sangat dekat seperti ini.


***


Selepas shubuh, dia tidak kembali tidur, Arun ke dapur membuatkan minuman hangat karena memang dia melarang Ukaisyah berpuasa sunnah hari ini sampai sehat.


"Gus mau makan apa pagi ini?"


Ukaisyah meneguk teh hangatnya sebentar. "Di dapur apa masih ada bahan yang bisa kamu masak? Kalau-"


"Kalau apa? Kalau nggak ada, terus Gus mau boncengan sama aku ke pasar gitu? Nggak ya, biarin istirahat sehari lagi, kata bunda boleh!" potongnya.


Ukaisyah tersenyum. "Saya bisa meminta Tejo untuk belanja, ndak mungkin minta kamu kalau pergi tanpa saya," jelasnya.

__ADS_1


Waduh!


Arun sedikit menunduk setelah memalingkan wajahnya, jawaban Ukaisyah ini membuat dia salah tingkah saja, perhatiannya itu tidak terlalu terlihat, tapi mengena di hati. Yang dikatakannya itu berarti Ukaisyah tidak mau Arun sendirian dan dianggap single oleh orang-orang, posisinya sebagai istri sangat amat dijaga. Dan yang lebih penting lagi, Ukaisyah tidak ingin Arun banyak dilihat oleh mata laki-laki lain, apalagi sudah berubah menutup diri yang tentunya jauh lebih indah.


Indah? Ah, Ukaisyah merasa dadanya bergetar.


"Ya, nanti aku catet, terus bisa kasih ke mas Tejo!"


"Kamu kasih tahu saya, nanti kirim pesen ke hape Tejo lewat hape saya saja-"


"Kenapa gitu? Kan, aku punya hape, Gus!"


"Iya, tapi saya masih ada di sini dan hape saya bisa kamu pake untuk menghubungi Tejo. Kecuali, darurat, kamu boleh hubungi Tejo tanpa hape saya-"


"Gus takut aku naksir mas Tejo?" Arun tertawa, bahkan dia nyaris terjungkal, beruntung Ukaisyah menarik tangannya.


Biasanya akan Ukaisyah lepas langsung, tapi kali ini dia tahan dan memberanikan diri menggenggamnya.


"Ketakutan saya wajar karena kamu istri saya, sebisa mungkin tidak banyak bergantung pada laki-laki selain saya dalam hal apapun, kecuali darurat dan ndak ada saya. Kamu bisa mengerti ini?" Ukaisyah berbicara sangat lembut, sampai-sampai menatapnya Arun tidak bisa, takut ngompol. "Terima kasih ya, saya ndak tahu harus bagaimana dan apa-apa kalau kamu ndak bantu, maaf kalau merepotkan sampai kamu susah tidur malam. Maaf juga sering menolak waktu kamu menawarkan diri untuk melihat atau memberikan salep dan sejenisnya," imbuhnya memberanikan diri menatap wajah Arun.


Arun tidak memakai jilbab saja dalam mode kalem setengah galak ini cantik dan manis, wajahnya tak membosankan, apalagi memakai jilbabnya, karena itu meskipun Arun memakai jilbab, rasanya tak rela berbagi dengan mata lain kecuali ke luar bersamanya.


"Nah itu, kenapa nggak pernah mau kalau aku periksa? Kan, penglihatannya Gus bisa jadi beda sama saya. Lagian, aku pasti hati-hati," tanya Arun berbalas.


Ukaisyah terdiam sejenak, tangannya masih dibiarkan menggenggam tangan Arun.


"Memangnya, kamu nggak apa-apa kalau melihat? Kam-kamu terima resikonya?"

__ADS_1


Eh!


__ADS_2