JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
OTW


__ADS_3

Haloo, pada nungguin ya ... othor baru enakan ini, semoga bisa rutin nulis lagi ya, semoga sehat selalu.


***


 Berat sebenarnya Ukaisyah harus meninggalkan urusan pondok, tetapi menyenangkan hati istrinya juga bagian dari tugasnya sebagai suami, apalagi Arun sudah sangat semangat sampai-sampai membawa tiga koper berisi baju semua dan beberapa perlengkapan yang mungkin mereka butuhkan. Malam sebelum mereka pergi, Ukaisyah memutuskan menginap di rumah kedua orang tua Arun sekaligus pamit hendak membawa Arun bulan madu. Arun semakin antusias karena di sana dia masih bisa membongkar koper dan memilih baju mana yang pas untuk dia bawa bulan madu.


 "Mas, kalau Mas di sini ya, ayah sama ibu nggak bolehin kita ngerokok. Emangnya, Mas punya asma?"


 Ukaisyah terkekeh, bisa-bisanya dua adik kembar yang kini menjadi adiknya juga itu melucu.


 "Bukan, saya ndak punya asma. Cuman, mereka pengen kalian lebih jaga kesehatan, terus di sini kan ada mbak kalian, bahaya rokok kalau asapnya dia hirup—"


 "Tapi, Mas ... Mbak Arun kan ya ngerokok dulunya. Kenapa bahayanya baru sekarang?" sahut Aldi, tidak kalah pintar bicaranya sama dengan Aldo.


 Ah, Ukaisyah hampir saja bingung.


 "Bukan baru sekarang bahayanya, sejak dulu udah bahaya, tapi baru peduli akan kesehatan, sebaiknya juga kalian hindari itu!"


 "Kalau kita nggak ngerokok, miskin nanti Mas negara ini, kan pajak gede dari rokok. Kita ikut membangun negara ini loh!" balas Aldo.


 Oke, tarik nafas dalam lalu buang perlahan, harus sabar menghadapi dua adik kembarnya itu.


 "Banyak hal yang bisa kalian lakukan, usahakan jangan yang menyakiti diri kalian baik di masa ini atau nanti ya ..." tuturnya.


 Aldo dan Aldi manggut-manggut. "Entar aja kalau mbak Arun hamil, aku ndak akan ngerokok lagi!" ucap Aldo.


 Aldi menoleh, lalu ikut mengangguk. "Iya, aku juga. Tapi, Mas ... Kapan mbak Arun hamil?"


 Mata Ukaisyah melebar, dia jelas tidak tahu kapan istrinya itu akan hamil, tetapi juga tak pantas membahas masalah proses membuatnya pada mereka.


 "Doakan saja semoga diberi cepat ya," kata Ukaisyah menepuk kedua bahu adik-adiknya.

__ADS_1


 "Iya, Mas. Aldi ini biasanya tahu tanggal datang bulannya mbak Arun, udah lewat belum?"


 Deg!


 Ukaisyah menoleh pada Aldi, sekelas adiknya saja tahu loh, sedangkan dia yang berstatus suami belum pernah bertanya sudah apa belum Arun datang bulan dan kapan tepatnya, fokusnya benar-benar tidak ke sana karena itu akan membuat Arun semakin kepikiran, namanya juga wanita yang sudah menikah, pasti terbayang-bayang dan letih memikirkan kapan mereka hamil.


 Ukaisyah mendatangi Arun di kamar istrinya itu usai berbincang dengan kedua adik-adiknya, ternyata masih sibuk berkemas dan menimang barang mana yang akan dibawa.


 "Kamu masih repot ya?" tanya Ukaisyah duduk di belakang Arun.


 "Eh, kurang sedikit lagi, Gus. Kenapa? Gus pengen?"


 Hem, selalu tebakannya gitu!


 Pipi Ukaisyah sontak memerah, dia sampai tidak tahu harus menjawab apa.


 "Memangnya, kalau saya tanya begitu, menjurus ke pengen itu?"


 Arun mengangguk. "Iya, emangnya lagi ndak pengen?"


 "Saya selalu pengen sama kamu, tapi ya ndak selalu begitu, nanti kamu malah sakit. Maksudnya, kalau udah ndak repot, kamu bisa temuin ayah sama ibu, ngobrol sama mereka," jawabnya bertutur lembut.


 "Oo, iya, Gus. Ini juga aku lagi ngobrol sama mereka kok, kan aku lagi videocall ini!" Arun mengangkat ponselnya yang sejak tadi tergeletak di lantai, videocall beda kamar.


Ya!


 "Astaghfirullah!" Ukaisyah menyentuh dadanya, yang bahas pengen-pengen tadi terdengar mertuanya berarti, bahkan mereka di layar itu sedang menyengir kuda.


 ***


Mereka pergi naik kereta api, nanti di stasiun sudah ada yang menunggu, itu yang Arun tahu karena keluarga suaminya itu bukan orang sembarangan di kota, mereka termasuk jajaran orang kaya yang rendah hati hingga dikira tak punya apa-apa atau hanya pengajar biasa. Arun pun baru tahu, selain mengabdi di pondok, ada pekerjaan suaminya yang lain lagi di mana Ukaisyah pun menjabat sebagai seorang CEO.

__ADS_1


Duh, nggak bayangin kalau aku ke kota jadi bu CEO, hahahaha ... gimana nanti aku?


Ekhem!


"Kamu senyum-senyum begitu, lagi mikir apa?" tanya Ukaisyah menyenggol lengan Arun, mereka masih di perjalanan kereta api.


"Aku ini masih syok karena tahu Gus itu CEO di kota, pengennya aku marah karena baru tahu, takutnya ada rahasia lain yang ndak aku tahu, cewek atau gimana di sana, tapi aku lebih sibuk bayangin gimana aku ke kota terus jadi istri CEO, Gus? Gimana?"


Astaga!


Ukaisyah memejamkan matanya sembari tertawa kecil, ada orang mau marah seperti Arun, tetapi batal marah karena lebih memikirkan penampilannya nanti di depan orang. Sungguh, Ukaisyah menemukan istri yang unik, dia semakin jatuh cinta saja, sesederhana itu pemikiran Arun, lebih memilih sumber bahagia daripada yang membuat hati cenut-cenut.


"Saya mau jawab dulu yang pertama, saya ndak pernah merahasiakannya, tapi terlalu fokus menjalani hubungan sama kamu, jadi saya lupa. Dan sebenarnya itu sampingan saya karena utamanya di pondok. Kedua, ndak ada wanita lain yang dekat dan menikah dengan saya selain kamu, jadi kamu satu-satunya. Ketiga, saya ndak berniat menunjukkan kamu di depan pekerja saya di sana, itu karena saya cemburu kalau mereka yang laki-laki melihat kamu," jelas Ukaisyah nyaris membuat jantung Arun meledak.


Arun menekan dadanya. "Walah, Gus cemburu?"


"Iya."


"Lah, tapi kalau aku ndak dikenalkan, nanti Gus dikira bohong, dikira masih single. Terus, ada yang nempel-nempel, ada yang mau kenalan, jodoh-jodohan, nasibku gimana kalau ndak diakui?"


Hish!


Memang salah Ukaisyah kalau beradu debat dengan istrinya, sebab dengan alasan Arun itu membuatnya berpikir harus membawa Arun ke depan umum, memperkenalkan istrinya itu.


"Gus tega loh, ndak ngenalin aku! Apa ya aku ini jelek makanya ndak mau dikenalin, hem? Gus malu punya istri orang desa?" serang Arun berwajah melas. "Yauda ndak apa sih kalau malu, aku sih kuat aja kalau ndak diakui. Tapi, Gus inget loh, di perutku ini tabungannya Gus banyak, apa ndak kasihan kalau dikira bukan anaknya Gus sama orang-orang? Aku ya ndak tega kalau anakku digitukan Gus! Apa ya Gus ndak mau akui juga kalau nanti itu yang di perutku anak Gus juga, anak kita?"


Ya Allah ...


Ukaisyah mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. "Sayang, cium dulu sini tangannya!" dia mengambil tangan Arun dan mengecup punggung tangannya, lalu Ukaisyah tarik dan didekap sepanjang perjalanan. "Tidur aja ya, sini!"


"Em, diakui ndak sama Gus?"

__ADS_1


Ya Allah ...


"Diakui, Sayang ..." jawabnya sembari mengusap tangan Arun yang ada di dadanya. Subhanallah, Alhamdulillah, Laailahaillalah, Allahu Akbar!


__ADS_2