JODOH JATUH DARI LANGIT

JODOH JATUH DARI LANGIT
Bibir Bertemu Bibir


__ADS_3

 Ini gimana to, liat Gus pake kaos hijau gitu kayak liat rumput, pengen makan modelan sapi!


 "Gus!" panggilnya mengejutkan Ukaisyah yang tengah duduk merangkum materi untuk hari esok.


 "Iya?"


 Arun melirik ranjang mereka. "Kok nggak tidur, takut kalau aku tendang lagi?"


 Ukaisyah terkekeh. "Iya, saya takut. Tapi, kemarin sudah saya antisipasi pake bantal di bagian itu, jadi terhalang kaki kamu. Yang sekarang, bukan takut itu, ada yang harus saya kerjakan," jawabnya menunjukkan lempar rangkuman.


 "Tapi, aku ngantuk loh, Gus!"


 Lah, memangnya sejak kapan Arun tidak bisa tidur kalau Ukaisyah belum tidur, seingatnya dia selalu mengerjakan tugas malam, sedangkan Arun sudah pasti mendengkur hebat di sebelahnya.


 Iya, itu yang Ukaisyah lihat selama mereka di kamar yang sama. Lalu, malam ini mendadak Arun protes.


 "Kamu ndak bisa tidur karena saya masih kerja?" Ukaisyah memastikan saya, ini terkena ajian apa sampai istrinya tidak bisa tidur, atau karena kepikiran lamaran kyai Saleh yang dia tolak, tapi sudah dia tolak dan jelas memilih Arun, seharusnya Arun tidak waswas.


 "Iya, sini aja, Gus!"


 Ah, mungkin karena pengaruh lamaran itu, Ukaisyah mengerti sekali perasaan wanita dalam hal ini, dia pun mengakhiri tugasnya, lalu menuju ranjang.


 Ukaisyah berbaring di samping kiri Arun, yang kemarin ada guling sebagai batasan, malam ini tidak ada sehingga sedikit bergerak saja tangan . mereka bisa bertemu, seperti ini, keduanya saling menatap saat punggung tangan mereka bergesekan.


 Arun berinisiatif mengubah posisinya lebih dulu, baru Ukaisyah ikuti. Bukan karena dia tidak ingin bersama, melainkan menjaga diri Arun seperti yang gadis itu minta, dia tak akan mendekat atau mendahului Arun.


 "Gus pernah liat cewek cantik?"


 Kedua alis Ukaisyah terangkat.


 "Bukan bunda atau Humairah!" kata Arun memberi batasan. "Bukan juga kakak ipar!"

__ADS_1


 "Saya ndak terlalu melihat kakak ipar, berbicara saja jarang sekali, kak Rasyah juga ndak terlalu sering mengajak istrinya terlibat, kecuali memang bunda butuh didampingi. Ada apa?"


"Ya itu, aku itu nanya. Gus pernah liat cewek cantik?" ulang Arun berdebar, dia takut saja kalau nanti jawaban Ukaisyah semacam kembang api yang mengejutkan dirinya.


Ukaisyah tersenyum. "Yang saya liat hanya kamu, jadi yang saya tahu soal perempuan cantik itu hanya kamu juga," jawabnya.


Kan, apa kata hati Arun, benar. Pasti kalau ditanya tentang semua kelebihan wanita akan dijawab semua ada pada diri Arun, sedang bila keburukan, maka Ukaisyah akan menjawab semua manusia pasti ada kurangnya.


"Gus dulu bukannya mau menolak pernikahan ini? Terus, kenapa Gus bisa se tenang ini? Kenapa Gus nggak ada niatan pisah atau apa, kan Gus nggak suka! Terus loh ya, modelan kayak aku gini, bukannya nggak pantes sama Gus?" entahlah, malam ini dia ingin banyak berbicara dengan Ukaisyah.


"Yang ndak saya suka itu cara diawalnya, pemaksaan dari warga sambil merendahkan keluargamu, saya khawatir ada sisi berontak dan terpaksamu yang nanti nggak bisa dibayangkan bagaimana jadinya. Mungkin bagi orang kami yang dari kecil sudah di lingkungan pesantren, menikah dari perjodohan itu hal wajar, tapi bagi orang luar, belum tentu. Saya hanya memikirkan apa benar kamu ndak akan tertekan, bisa senang menjalani proses pernikahan itu karena ... Karena saya ndak terpikirkan berpisah, saya takut kamu menginginkan itu setelah menikah," jelas Ukaisyah menatap Arun lekat. "Apa kamu ingin berpisah dari saya?"


Arun terdiam, hanya matanya saja yang berkedip-kedip dan bibirnya manyun-manyun, dia seperti berpikir keras. Awalnya, dia pun menerima pernikahan ini juga dengan terpaksa, demi kedua orang tuanya. Tapi, seiring berjalannya waktu, Arun rasa akan sulit menemukan laki-laki se lembut ini, bahkan pernikahan dianggap sangat penting seperti permata, begitu pun caranya memuliakan wanita, lantas menemukan seperti Ukaisyah pastilah seperti orang gila.


Dengan nalurinya yang memang masih muda, Arun bukannya menjawab, dia mengikuti dorongan dari dalam dirinya untuk mendekatkan wajahnya dengan wajah Ukaisyah.


Sebentar, bibir merah muda yang tak pernah tersentuh rokok itu Arun kecup sehingga bibir keduanya bertemu. Mata Ukaisyah pun melebar, nafasnya mendadak terburu-buru, dia menatap Arun penuh tanda tanya.


Ukaisyah menggelengkan kepalanya, dia masih syok.


"Oh ya aku lupa, orang Gus aja baru liat cewek itu aku. Hahaha, ya kayak gini, nanti yang sampe kepalanya muter kanan kiri, setelah ini ya Gus, pemanasan dulu sama pemulanya. Ngomong-ngomong, aku udah sikat gigi kok, jadi nggak akan bau di bibirnya Gus itu!" kata Arun sesantai isi kepalanya, tidak tahu suaminya sudah mau pingsan dikecup mendadak begitu.


"Gus!"


"Walah, wong baru dicup-cup aja loh kok udah jadi batu. Gus!"


Ukaisyah mengerjap, kemudian duduk sambil menyentuh bibirnya.


"Kenapa, Gus? Kaget kalau bibirmu diperawani cewek?" tanya Arun ikut duduk.


Dengan kaku, Ukaisyah mengangguk. Dalam sekejap, hilang hafalannya, mendadak kosong.

__ADS_1


***


Ini entah yang keberapa, yang pasti sudah hampir dua jam diwaktu senggang, Tejo menunggu Ukaisyah salat sunnah di masjid tidak berhenti-henti.


Sebenernya, Gus ini salat sebanyak itu, mau perang di mana?


Tejo mondar-mandir, menoleh lagi ke masjid. Saat salam, bibirnya tersenyum hendak menyapa Ukaisyah. Tapi, lagi-lagi Ukaisyah bangkit untuk salat sunnah kembali, begitu seterusnya sampai waktu mengajar dan pemeriksaan dimulai. Setelahnya, kembali lagi ke masjid untuk salat fardhu dan sunnah lagi.


"Gus, ini sebenernya Gus ini mau jadi panglima perang di mana kok sampe salat sunnah sebanyak itu? Ini saya yang liat loh Gus, ngitung sampe jarinya muter, Gus salat nggak berhenti-henti. Atau Gus lagi minta ampunan dosa, hem? Dosa yang model gimana to Gus kok sampe jungkat-jungkit salat nggak selesai-selesai?!" omel Tejo duduk di belakang Ukaisyah, setelah selesai salam, dia langsung menyerbu Ukaisyah dengan omelannya. "Loh, sekarang diem aja. Gus ... Ada masalah apa? Siapa tahu saya bisa bantu!"


"Kamu nggak akan bisa bantu, kamu belum pernah!" kata Ukaisyah pada akhirnya.


"Tapi, siapa tahu saya punya wawasannya Gus. Daripada Gus jungkitan gitu salat sampe yang liat mumet, ini kenapa? Gus lagi saat taubat?"


Alih-alih menjawab, Ukaisyah hanya membuang nafas panjang dan sedikit kasar, seperti orang sedang banyak pikiran. Sejak semalam dia susah tidur meskipun Arun sudah terlelap, sebab sentuhan di bibirnya membangkitkan sesuatu yang selalu Ukaisyah jaga sebagai seorang laki-laki normal dan dewasa.


Dia, dia hanya takut saat ada waktu senggang, keinginan itu meninggi dan membuatnya pulang untuk menyerang Arun.


Ndak, saya ndak mau kalau Arun terpaksa dan nanti terluka karena sentuhan itu!


Ukaisyah menggelengkan kepalanya, diikuti Tejo. Lalu, saat dia hendak berdiri untuk menunaikan salat lagi, Tejo menahan kedua kakinya.


"Udah, Gus, udah! Malaikat cuapek Gus nyatetnya, udah!"


Tapi, Ukaisyah tidak mendengarkan itu. Tejo pun angkat tangan, dia memilih menemui Wati untuk menyampaikan ini pada Arun, siapa tahu kedatangan istrinya bisa sedikit melegakan hati Ukaisyah dan mau berbagi ada masalah besar apa sampai salat tidak selesai-selesai.


Wati bergegas ke rumah Arun, dia sudah tidak tenang saja, hebohnya melebihi Tejo, bisa-bisa kabar biasa menjadi dahsyat kalau Wati yang bicara.


"Walah yang bener, Ti?!" Arun menjinjing roknya.


"Bueneeerrrr, Mbak Arun. Gus Isya salat ruiiiiiiiiibuan kali, Mbak Arun ke sana aja, hentikan Mbak. Sebelum beneran gus Isya jadi panglima perang!"

__ADS_1


"Waduh, iya-iya, aku ke masjid, Ti!" kata Arun menyambar jilbabnya, lalu bergegas ke masjid. "Ini kenapa to guuuuusss .... Masa iya tanda-tanda kematian? Waduh, ya jangan! Aku ndak mau dadi janda kembang!" gumamnya sembari berlari diikuti Wati.


__ADS_2