
"Gus!"
Dalam posisi baru saja salam dan hendak bangun lagi untuk salat, Ukaisyah tersentak mendengar suara itu. Arun tidak akan ke luar rumah tanpa izinnya, tapi tidak mungkin juga kalau suara Arun bisa sampai terdengar di masjid seperti ini.
"Gus, ladalaaaaaahhhh!"
Lagi, kedua telinga Ukaisyah berkedut, bola matanya mulai mencari, tapi saat dia menoleh ke belakang, wajahnya kembali melihat ke depan sambil menutupi bibirnya.
Ya Allah, gimana ini?
Arun menekan keningnya sambil geleng kepala, urusan diomeli karena ke luar rumah tanpa izin nanti saja dulu, yang penting suaminya sadar sedang apa sekarang sampai para abdi di sini bingung.
"Gus, marahnya nanti aja ya, sekarang ikut aku pulang!" ajaknya merangkak di samping Ukaisyah.
"Ndak, saya ndak mau pulang!"
"Loh, kenapa to ndak mau pulang?" Arun menjauhkan wajahnya, lalu duduk bersila. "Gus, Gus itu lagi jadi perhatian umum loh!"
"Tapi, saya ndak mau pulang, Run!"
"Kenapa ndak mau pulang? Di rumah emangnya Gus diapakan kok sampe nggak mau pulang?"
Ukaisyah tak bisa menjawabnya, mau tidak mau, daripada banyak yang semakin bertanya-tanya soal dirinya, lebih baik memang dia pulang saja, menyelesaikan masalah ini di rumah, mungkin dia bisa berdiam di salah satu kamar mereka.
Walaupun tengah galau urusan Arun, tetap saat ke luar masjid, Ukaisyah berjalan di samping istrinya itu, membuat batasan jelas untuk semua mata yang hendak memandangnya atau Arun. Jantungnya kembali berdebar-debar, apalagi saat pintu rumah terbuka, pikirannya sudah ke mana-mana, susah payah dia mengingat apa yang hilang semalam, kini kembali hilang.
Biasanya, dia yang mengintrogasi santri, sekarang dia yang duduk di hadapan Arun untuk diintrogasi.
"Gus!"
"Say-saya takut ketemu kamu," kata Ukaisyah pada akhirnya.
Mata Arun terbelalak, gimana-gimana, takut kenapa? Dia takut salah dengar, tapi ya telinganya ini masih berfungsi dengan baik. Arun menunjuk dirinya sendiri, jelas dia bingung kenapa dia sampai ditakuti.
"Bentar-bentar, Gus! Ini kenapa kok bisa takut, Gus? Bentar to, aku ini kenapa kok bisa sampe Gusnya takut?" Arun semakin terheran-heran. "Gus, aku ya emang nggak pake perawatan wajah yang muahal atau gimana, tapi Gus ... Nggak nakutin loh wajahku!"
Ukaisyah melirik kecil, lalu kembali menunduk.
"Gus takut kenapa?"
"Gus!"
Ukaisyah menjauh, yang ada Arun semakin mendekat sampai punggungnya terpentok tembok. Dia susah payah menahan diri sejak tadi, mengembalikan penjagaan yang selama ini dia pertahankan, tapi Arun mengejarnya tanpa kenal lelah.
"Ruuunn, saya-"
__ADS_1
"Apa?" Arun terus mendesaknya.
Ukaisyah menghela nafas. "Run, saya takut pengen lebih sama kamu karena yang semalam," akunya menahan malu.
"Ya?"
Wajah Arun berubah datar sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak. Jadi, kecupan bibir semalam itu sangat amat berpengaruh pada suaminya, dia kira biasa saja, toh kan katanya mereka pacaran halal, jadi hal seperti itu termasuk biasa, di drama yang dia lihat semuanya biasa.
"Gus-"
"Saya ndak mau memaksa kamu, seperti yang kamu katakan, harus dengan cinta. Saya memegang benar ucapan itu, ndak akan saya lakukan kalau hanya salah satu diantara kita yang suka, saya-"
"Gus suka sama aku?"
Ukaisyah membuka mulutnya, tapi tak bersuara, suaranya tidak ke luar sama sekali.
"Saya-"
"Gus suka sama aku?" potong Arun semakin mendesak, suka sekali menggoda Ukaisyah seperti ini. "Guuuusss!"
"Iya."
Gusti!
Loh, ditinggal!
***
Entah dari mana perasaan itu muncul dan sejak kapan, yang dia tahu sejak menikah, hatinya telah dia serahkan seluruh kuasa hatinya pada Sang Pencipta, dengan itu adapun rasa lebih pada Arun tidak lain karena kehendak terbaik-Nya.
Setelah Arun berlari, nyatanya mereka memang tidur di kamar yang berbeda. Bukan tanpa sengaja, Arun berlari untuk sembunyi sejenak, tapi ternyata dia ketiduran dan saat dia bangun, Ukaisyah berbaring di kamar depan.
"Gus, maaf loh, beneran aku itu salting terus ketiduran!"
"Iya, saya nggak marah kok, kenapa kamu se takut itu?"
"Ya, yang aku tahu kalau dulu ayah udah di kamar lain, itu artinya lagi pengen sendiri-sendiri, ibu lagi marah. Gus, jangan marah sampe pindah kamar ya, kasihan kalau tidur sendiri," katanya mengingat dulu ayahnya menangis karena disuruh tidur di kamar lain, dia merasa hal itu menyedihkan, jadi dia tidak mau menyedihkan juga.
Ukaisyah tersenyum, untuk sejenak biarlah perasaan itu menjadi satu, yang terpenting dia sudah menjawab pertanyaan Arun dengan jujur.
"Kamu mau nonton balapan?"
"Tapi, tandingnya nggak sekarang, Gus. Di rumah aja lah-"
"Nggak apa, daripada bosen di rumah, kita nonton aja ya. Gimana kalau anggap ini kencan?" Ukaisyah menangkup wajah Arun, tersenyum saat gadis itu mengangguk.
__ADS_1
"Beneran Gus nggak marah karena tadi kekunci?"
"Mana bisa saya marah ke kamu?" balas Ukaisyah membuat Arun salah tingkah, hampir saja memutar roknya hingga terbang tinggi. "Hei!"
"Kelepasan, Gus!" katanya terkekeh.
Arun melingkarkan sebelah tangannya ke lengan Ukaisyah, tapi sebelum itu dia beranikan diri mencium pipi Ukaisyah sehingga langkahnya terhenti, laki-laki itu menoleh dengan bola mata gentar.
"Makasi udah suka sama aku, Gus. Kebayang disukai sama cowok yang bahkan cuman hafal dan lihat penuh wajahku, nggak liat gadis lain dan nggak berminat, kayak ratu. Ak-"
Tidak, sumpah dia tidak bisa menahannya lagi. Hafalannya sudah melayang ke mana-mana, mau dia tangkap rasanya percuma saat ini karena yang paling menonjol sekarang hanyalah Arun.
Ukaisyah mendorong dirinya jauh lebih dekat, kedua tangannya menangkup dan menahan lembut pipi Arun, sedang bibirnya mengecup bergantian bibir atas dan bawah Arun, lalu sedikit dia sesap.
Nalurinya bermain sejenak, membatasi arus yang sempat membuat keduanya menutup mata.
"Ciuman saya kaku ya? Maaf, saya baru kali ini ciuman," kata Ukaisyah dengan nafas memburu.
"Aku juga baru pertama loh, Gus. Sama-sama kakunya, Gus mau latihan aja apa sekarang?"
"Bukannya mau nonton temenmu latihan balapan besok?" Ukaisyah akan selalu menomorsatukan Arun.
"Loh, ya biarin mereka latihan to, Gus. Kan, kita ya butuh latihan. Ngomong-ngomong, Gus nolak latihan ciuman sama aku? Yaudah sih, aku bi-"
"Endak, say-saya mau latihan sama kamu!"
Hehehe
Arun menyeringai tipis, padahal walaupun Ukaisyah berkata kaku, tapi yang Arun rasakan sebaliknya, kakunya Ukaisyah itu masih bisa merobek hatinya sampai ingin rasanya nempel terus.
Tapi, para gadis memang lebih suka kalau lelakinya yang banyak menunjukkan rasa cinta, daripada dia yang tergila-gila.
"Gus nggak lagi ada janji di pondok utama?"
"Ndak ada," jawab Ukaisyah berkeringat dingin, tadi dia bisa berani, giliran dikurung dalam satu kamar, kok justru mencari cangkang. "Run, kamu beneran mengizinkan saya dan kamu latihan ciuman?"
"Iya, kenapa? Gus takut kebablasan?"
Jelas!
Ukaisyah tidak menampik sisi aslinya sebagai laki-laki yang akan terpancing lebih dari sekadar ini.
"Iy-iya," jawabnya gagap.
"Nggak apa, kan Gus yang kebablasan, bukan cowok lain. Ayo, Gus ... Latihan dimulai!" kata Arun mendekatkan wajahnya.
__ADS_1